Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Neraka Hijau
Jika Lyra mengira turbulensi di udara adalah hal terburuk malam itu, ia salah besar. Pendaratan taktis pesawat angkut C-130 Hercules tidak dirancang untuk kenyamanan; itu murni tentang bagaimana menjatuhkan puluhan ton baja dari langit ke tanah beralas tanah liat sesingkat mungkin tanpa meledak.
Lampu kabin yang semula merah redup tiba-tiba padam total. Pesawat menukik tajam dalam kegelapan gulita. Lyra menahan napas, perutnya terasa tertinggal di langit-langit kabin. Jantungnya berdebar sangat keras hingga ia yakin suara detaknya bisa menyaingi deru mesin turboprop di luar sana.
Gedebuk!
Roda pendaratan menghantam tanah kasar dengan brutal. Tubuh Lyra tersentak ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman empat titik yang sebelumnya dikencangkan oleh Rayyan. Ransel berat di pangkuannya menghantam tulang keringnya. Suara decit rem dan pembalik daya dorong meraung memekakkan telinga, membuat pesawat bergetar hebat seolah hendak rontok menjadi kepingan sekrup.
Ketika burung besi raksasa itu akhirnya berhenti bergerak, Lyra merasa seluruh organ dalamnya baru saja dimasukkan ke dalam mesin cuci. Ia terengah-engah, memejamkan mata di balik kacamatanya yang sudah miring.
“Ramp turun! Posisi siap!” Suara Letnan Jati menggema mengalahkan bising mesin yang mulai mereda.
Pintu hidrolik raksasa di bagian belakang pesawat mulai terbuka perlahan. Udara malam yang lembap, tebal, dan berbau lumut basah, tanah gembur, serta sisa hujan seketika menyapu aroma avtur di kabin. Itu adalah aroma hutan hujan tropis prasejarah—liar, tak tersentuh, dan mengancam.
Dalam hitungan detik, belasan prajurit Black Ops Aplha melepaskan sabuk pengaman mereka secara serempak. Mereka bergerak layaknya bayangan mematikan, senapan serbu terangkat rapat di dada, meluncur keluar dari perut pesawat ke dalam kegelapan malam tanpa suara.
Lyra dengan tangan gemetar meraba gesper sabuk pengamannya. Jari-jarinya berkeringat dingin, licin dan kaku.
Sebuah bayangan besar menutupi sisa cahaya bulan dari pintu ramp. Kolonel Rayyan Aksara berdiri menjulang di depannya. Tidak ada tanda-tanda pria itu baru saja melewati pendaratan mengerikan. Napasnya teratur, posturnya kokoh.
“Kita bergerak sekarang, Dokter,” ucap Rayyan, suaranya datar. Tangan bersarung tangan nomex-nya terulur, menekan pelat baja di perut Lyra hingga sabuk pengaman gadis itu terlepas dengan bunyi klik yang keras.
Lyra mencoba berdiri, tetapi kakinya terasa seperti agar-agar. Ransel di punggungnya mendadak terasa seberat jangkar kapal. Ia melangkah tertatih menuju ramp baja yang menurun. Matanya mencoba menyesuaikan diri dengan pekatnya malam di hutan, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang mengintip di sela kanopi pohon raksasa.
“Tetap di belakang saya. Jangan—“
Ucapan Rayyan terpotong oleh suara yang sangat tajam.
CRACK!
Bunyinya tidak seperti petir. Itu adalah suara cambuk kasat mata yang merobek udara. Sedetik kemudian, percikan bunga api meledak tepat di dinding badan pesawat baja, hanya berjarak beberapa jengkal dari kepala Lyra.
“Kontak senjata! Jam dua! Penembak runduk di atas kanopi!” Teriakan Letnan Jati pecah melalui earpiece komunikasi, disusul oleh rentetan balasan tembakan senapan mesin dari tim yang sudah menyebar di landasan tanah.
Otak sipil Lyra berhenti berfungsi. Fight or Flight response-nya membeku. Matanya melebar menatap kegelapan hutan yang kini berkedip-kedip oleh kilatan cahaya tembakan. Udara dipenuhi suara desingan logam panas yang mematikan. Seseorang sedang mencoba membunuhnya. Ini bukan sekedar teori di atas perkamen tua; ini adalah realitas yang berdarah.
Ia berdiri mematung di tengah ramp pesawat yang terbuka lebar, menjadi target paling terang dan paling mudah bagi penembak jitu di luar sana.
“Merunduk!”
Raungan Rayyan mengalahkan suara tembakan. Sebelum Lyra bisa memproses instruksi tersebut, sebuah kekuatan masif menghantam tubuhnya.
Rayyan menerjangnya dari samping. Tubuh kekar berlapis pelindung baja itu membungkus Lyra sepenuhnya, menjatuhkan mereka berdua dari ramp pesawat ke atas tanah berlumpur di samping roda pendaratan Hercules.
Lyra memekik tertahan saat udara terhempas keluar dari paru-parunya. Wajahnya terbenam di dada bidang Rayyan yang keras bagai papan beton. Bau lumpur, bubuk mesiu, dan aroma maskulin Rayyan memenuhi indra penciumannya. Tangan kiri Rayyan memeluk erat belakang kepala Lyra, menekan wajah gadis itu ke dadanya untuk melindunginya dari serpihan batu dan peluru yang memantul, sementara lengan kanannya menahan berat tubuhnya sendiri agar tidak meremukkan tulang rusuk Lyra.
ZING! PANG! Dua peluru menghantam roda pesawat tepat di atas mereka, menjatuhkan serpihan karet panas ke punggung Rayyan. Pria itu bahkan tidak mengaduh.
“Tutup telingamu dan buka mulutmu sedikit,” perintah Rayyan tepat di telinga Lyra. Suaranya rendah, menggetarkan dada bidangnya tempat Lyra bersandar.
Lyra tidak sempat bertanya alasannya. Sedetik kemudian, moncong senapan serbu Rayyan—yang tersandar tepat di atas kepala Lyra—memuntahkan api. Suara tembakan balasan Rayyan sangat memekakkan telinga, membuat telinga Lyra berdenging hebat meski ia sudah menutup telinganya.
“Jati, tembakan penekan ke arah pohon beringin raksasa di sektor C! Saya akan memindahkan paket ke batas hutan!” Rayyan berbicara melalui radio taktisnya, suaranya masih sedingin es di tengah kekacauan baku tembak.
Rayyan berhenti menembak. Ia menatap ke bawah, ke arah Lyra yang masih meringkuk di bawahnya, gemetar hebat dengan mata terpejam rapat. Kacamata bulatnya di penuhi bercak lumpur.
“Lihat saya Dr. Andini.”
Lyra membuka matanya dengan susah payah. Di tengah hiruk pikuk kematian yang mengitari mereka, tatapan obsidian Rayyan yang sangat tenang, pekat, dan tak tergoyahkan, entah bagaimana menjadi satu-satunya jangkar kewarasan Lyra.
“Kita akan berlari ke barisan pepohonan itu,” Rayyan menunjuk ke arah rimbunan gelap sekitar dua puluh meter dari tempat mereka bersembunyi. “Kakimu harus bekerja sekarang. Jika kau jatuh, aku akan menyeretmu. Mengerti?”
Lyra menelan ludah yang terasa berpasir, lalu mengangguk patah-patah. “M-mengerti.”
“Hitungan ketiga,” Rayyan melepaskan pelukannya dari kepala Lyra, menarik punggung senapannya, dan bersiap setengah berdiri. “Satu… dua… tiga! Lari!”
Rayyan menarik kerah rompi taktis Lyra dengan kasar, memaksanya berdiri. Lyra memaksakan kakinya berlari menembus lumpur licin. Desingan peluru melesat di udara bagai lebah-lebah mematikan. Rayyan berlari tepat di sisi terbuka Lyra, memosisikan tubuhnya yang lebih besar sebagai perisai hidup antara peluru musuh dan tubuh mungil sang arkeolog.
Dua puluh meter terasa seperti maraton paling menyiksa dalam hidup Lyra. Ranselnya berayun liar. Paru-parunya terbakar. Saat mereka akhirnya menembus batas kanopi hutan dan melompat ke balik akar pohon raksasa yang menonjol dari tanah, Lyra langsung merosot, bersandar pada akar kayu berlumut itu sambil terengah-engah hebat.
Di sekeliling mereka, Tim Alpha mulai mengendalikan situasi. Tembakan dari pihak musuh mulai mereda, terdesak oleh taktik superior pasukan khusus.
Rayyan berlutut dengan satu kaki di depan Lyra, senapannya masih siaga, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tetap keras tanpa ekspresi. Tangan kirinya yang mengenakan sarung tangan kasar tiba-tiba bergerak meraba lengan, bahu, dan menyentuh sisi wajah Lyra dengan gerakan cepat.
Lyra tersentak kaget oleh sentuhan yang cepat dan menyeluruh itu. “A-apa yang Anda lakukan?”
“Mengecek lubang peluru,” jawab Rayyan datar, menurunkan tangannya setelah memastikan Lyra hanya kotor oleh lumpur, tanpa ada darah. “Adrenalin bisa membuatmu tidak sadar kalau kau sudah berlubang.”
“Saya… saya tidak tertembak,” bisik Lyra, berusaha menstabilkan napasnya. Ia mengusap kacamatanya yang kotor dengan ujung kemejanya. Tangannya masih bergetar.
Rayyan menatap gadis mungil di depannya. Wajah Lyra pucat pasi, rambutnya berantakan penuh dedaunan kering, dan lututnya gemetar. Ia sama sekali tidak pantas berada di sini. Gadis ini seharusnya berada di dalam museum yang aman, meminum kopi hangatnya—bukan menumpahkannya ke sepatu militer—dan membaca buku-buku tebal.
Namun, di sinilah mereka.
Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang lengannya di atas senapan serbu, sehingga wajah mereka kini sejajar. Udara dingin hutan berbaur dengan panasnya napas mereka.
“Selamat datang di zona perang, Dokter,” ucap Rayyan pelan, namun intensitas di matanya membuat bulu roma Lyra kembali berdiri. “Mulai detik ini, lepaskan semua teori yang Anda baca di buku. Di sini, sejarah tidak akan menyelamatkan Andaa. Saya yang akan menyelamatkan Anda.”
Rayyan memberi jeda sebentar, memastikan Lyra mendengar setiap suku katanya dengan jelas.
“Mulai sekarang, bayangan saya adalah satu-satunya tempat Anda bernapas. Anda melangkah dari bayangan saya, Anda mati. Paham?”
Lyra menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata tajam pria arogan yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Di bawah rasa takutnya, Lyra menyadari satu hal: Kolonel Rayyan Aksara mungkin kejam, sangat dingin, dan menyebalkan. Namun, ia adalah pria yang menepati janjinya.
“Paham,” jawab Lyra pada akhirnya, suaranya lebih mantap dari sebelumnya.
Rayyan mengangguk singkat, puas dengan jawaban itu. Ia berdiri, menjulang kembali sebagai malaikat maut tanpa ampun yang ditugaskan negara, dan memberikan sinyal tangan kepada pasukannya untuk bergerak lebih dalam ke jantung kegelapan hutan. Misi baru saja dimulai.