"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Sidang Mediasi yang Dingin
"Semua salinan dokumen aset dan surat pelepasan tuntutan gono-gini sudah ada di dalam map ini. Kita hanya tinggal menunggu panggilan masuk ke ruang mediasi." Suara berat Harris memecah kebisingan lorong Pengadilan Negeri yang padat oleh pengunjung.
Keysa mengangguk pelan. Perempuan itu duduk bersilang kaki di kursi besi ruang tunggu dengan punggung tegak lurus.
Penampilannya luar biasa memukau. Kemeja sutra putih berpadu dengan setelan jas abu-abu terang rancangan desainer papan atas, Valerien, membalut tubuh rampingnya.
Tiga minggu hidup bebas merdeka di penthouse mewahnya sendiri di kawasan pusat bisnis ibukota telah mengembalikan aura kekuasaan dan ketajamannya secara penuh. Tembok es di wajahnya sama sekali tidak bergetar melihat keramaian di sekelilingnya.
"Keysa."
Panggilan serak itu membuat Harris menoleh, sementara Keysa tetap menatap lurus ke depan seolah panggilan itu hanyalah angin lalu yang tidak penting.
Arga Dirgantara berdiri hanya dua langkah dari tempat Keysa duduk. Laki-laki itu mengenakan setelan jas hitam pekat yang disetrika sangat rapi, namun kemewahan pakaiannya berbanding terbalik dengan kondisi fisiknya. Kantung matanya terlihat sangat gelap dan menebal. Tulang pipinya menonjol tajam akibat bobot tubuh yang merosot drastis selama tiga minggu terakhir. Sorot mata elangnya yang dulu selalu memancarkan dominasi mutlak, kini terlihat sangat kosong, redup, dan kurang tidur parah.
"Kita bisa bicara berdua sebentar? Tolong," pinta Arga dengan suara yang nyaris terdengar seperti sebuah permohonan putus asa. Sangat berbeda dengan gaya bicara CEO arogan yang selalu memerintah bawahannya.
Keysa melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu mengangkat wajahnya menatap mantan bos sekaligus laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.
Tidak ada sorot kebencian sedikit pun. Tidak ada kilat kemarahan atau kesedihan. Tatapan Keysa benar-benar kosong, seolah ia sedang menatap layar kosong di ruang rapat.
"Waktuku sangat terbatas. Jika ada poin kesepakatan pembagian aset yang ingin kamu revisi, bicarakan langsung melalui pengacaraku," balas Keysa dengan nada suara sangat datar, murni merespons layaknya klien korporat yang tidak saling kenal.
Arga menelan ludah kasar. Penolakan emosional dari Keysa terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. "Aku tidak peduli dengan aset atau saham sialan itu. Aku hanya ingin bertanya... bagaimana kabarmu? Kamu bisa tidur nyenyak di tempat barumu?"
"Kesehatanku dan privasiku bukan lagi urusanmu, Bapak Arga," potong Keysa tanpa ampun. "Mari kita bersikap profesional. Kita berada di gedung ini untuk mengurus pembubaran kerja sama hukum kita, bukan untuk reuni masa lalu. Simpan energimu untuk sesi mediasi di dalam ruang sidang nanti."
Rahang Arga mengeras, namun ia tidak membentak atau meledak marah seperti biasanya. Tiga minggu hidup dalam kesunyian mematikan di apartemen tanpa Keysa telah mengajarkan Arga sebuah pelajaran sangat kejam.
Kekerasan dan arogansinya di masa lalu telah membunuh setiap jengkal perasaan perempuan ini. Arga mundur satu langkah, menerima hukuman penolakan dingin itu dalam diam tanpa perlawanan.
Suara petugas pengadilan dari pelantang suara mengakhiri kecanggungan yang mencekik leher tersebut. "Panggilan kepada pihak penggugat, Saudari Keysa, dan tergugat, Saudara Arga Dirgantara. Silakan memasuki ruang mediasi nomor empat sekarang juga."
Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa sangat dingin. Seorang hakim mediator pria paruh baya duduk di ujung meja bundar, memegang map berisi berkas gugatan mereka.
Keysa duduk di sebelah kiri didampingi Harris, sementara Arga duduk di sisi kanan, bersikeras menolak ditemani oleh tim kuasa hukum perusahaannya sendiri. Laki-laki itu ingin menghadapi kehancurannya seorang diri.
"Selamat pagi. Saya melihat di sini bahwa pihak penggugat, Ibu Keysa, mengajukan permohonan perceraian dengan alasan ketidakcocokan yang sudah tidak bisa disatukan lagi, tanpa ada sengketa harta gono-gini," buka hakim mediator tersebut sambil membetulkan letak kacamatanya. Ia menatap kedua belah pihak secara bergantian. "Tugas saya di ruangan ini adalah menjembatani perdamaian. Pernikahan bukanlah kontrak bisnis yang bisa diputus begitu saja. Apakah Saudari Penggugat memiliki niat untuk mencabut gugatan dan mencoba memperbaiki rumah tangga ini bersama suami Anda?"
Keysa menatap lurus ke arah hakim mediator tersebut. Suaranya mengudara dengan sangat tegas, lugas, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk keraguan sedikitpun. Ia menolak luluh.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, Yang Mulia. Keputusan saya sudah bulat dan final. Saya menolak segala bentuk perdamaian, rujuk, atau penundaan waktu sidang. Saya hanya ingin ikatan hukum perkawinan ini diputus secepat mungkin secara resmi hari ini juga."
Jawaban tajam dan sedingin bongkahan es itu membuat ruang mediasi menjadi sangat hening. Harris bahkan menahan napasnya diam-diam, khawatir Arga akan mengamuk dan membalikkan meja seperti watak aslinya jika egonya dilukai sedemikian rupa di depan pejabat hukum publik.
Namun, Arga hanya diam mematung menatap kosong meja bundar di depannya. Tidak ada perlawanan.
Hakim mediator itu menghela napas pelan, lalu memutar pandangannya ke arah laki-laki tinggi besar yang duduk kaku di seberang Keysa.
"Bagaimana dengan Saudara Tergugat?" tanya hakim itu dengan nada formal. "Proses mediasi ini sangat bergantung pada itikad kedua belah pihak. Apakah pihak suami bersedia memperbaiki pernikahan ini dan menolak gugatan cerai dari pihak istri?"
Pertanyaan krusial itu menggantung sangat berat di udara. Ini adalah kesempatan terakhir Arga. Tim legal perusahaannya sebenarnya sudah menyiapkan puluhan berkas bantahan hukum jika Arga ingin mengulur waktu perceraian ini hingga bertahun-tahun lamanya. Laki-laki itu punya semua uang, kekuasaan mutlak, dan akses tak terbatas untuk membuat Keysa terjebak bersamanya seumur hidup.
Arga perlahan memutar kepalanya ke arah kiri. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata cokelat Keysa yang sangat indah. Ia mencari secercah harapan di sana. Setitik keraguan, kerinduan, atau mungkin sebulir air mata kesedihan karena perpisahan ini.
Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang sangat dingin, kosong, dan kebal. Wajah perempuan itu terlihat sangat damai, teguh, dan merdeka tanpa kehadirannya. Kengerian di masa lalu saat ia merobek pipi Keysa menggunakan pecahan vas kristal kembali menghantam otak Arga dengan sangat kejam. Pukulan realita itu menyadarkan egonya yang buta.
Ia akhirnya sadar, menahan Keysa secara paksa di sisinya saat ini hanya akan menambah panjang daftar luka bernanah yang ia torehkan. Ego lelakinya mungkin berteriak untuk tidak melepaskan istrinya, tapi rasa bersalahnya jauh lebih besar mendominasi kewarasannya. Mencintai wanita baja ini berarti ia harus rela melepaskannya pergi dari neraka yang ia ciptakan sendiri.
Mediator kembali bertanya untuk memastikan kepastian jawaban karena durasi keheningan yang cukup lama. "Sekali lagi, apakah pihak suami bersedia memperbaiki pernikahan ini?"
Arga menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak luar biasa di dadanya. Ia menatap sepasang mata Keysa yang sangat dingin dan kosong, lalu membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.
"Saya menyetujui perceraian ini. Lanjutkan ke proses putusan."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..