NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

Nara keluar dari Mansion Dhanubrata dengan wajah kesal. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan emosinya di balik ekspresi datar dan sikap dinginnya. Langkahnya cepat menuju mobil yang terparkir di halaman depan mansion.

Tiwi yang baru melewati gerbang depan langsung berlari begitu melihat nonanya berjalan keluar . "Nona!" panggilnya panik.

Langkah Nara terhenti. Ia menoleh datar ke arah asistennya itu. "Kau sangat terlambat," ketusnya dingin.

Napas tiwi yang masih sedikit memburu. Wajahnya sempat memucat karena gugup, tetapi ia cepat menenangkan diri. Sudah cukup lama ia bekerja untuk Nara hingga terbiasa menghadapi suasana hati atasannya. "Maaf, Nona. Jalanannya macet parah," jawabnya hati-hati.

Ekspresi Nara sedikit melunak. Tanpa mengatakan apa-apa ia membuka pintu mobil bagian depan pengemudi, lalu masuk ke dalam. Tiwi pun buru-buru berlari masuk ke kursi penumpang di sebelahnya.

Beberapa detik kemudian, mobil hitam mewah itu melaju meninggalkan mansion.

Suasana di dalam mobil terasa hening. Ucapan sekaligus perintah Kakek Dhanubrata saat sarapan tadi masih membuat suasana hati Nara buruk. Padahal hari ini ia harus meninjau pabrik baru yang baru selesai dibangun.

Nara menyetir dengan tenang melewati jalanan kota yang mulai ramai. Jemarinya mengetuk pelan setiap mobil sebelum akhirnya ia membuka suara. "Bagaimana perkembangan soal mobilku?"

Tiwi yang sejak tadi sibuk membuka tablet langsung menegang kecil. Sementara Nara tetap fokus menatap jalan di depan.

"Orang yang menyabotase mobilku waktu itu. Apa sudah ditemukan?" lanjut Nara kemudian.

Tiwi terdiam sesaat sebelum menjawab pelan. " Belum, Nona."

"Belum?"

"Sebenarnya ... orang yang dicurigai sempat ditemukan," jawab Tiwi ragu-ragu. "Tapi ...." Ia menelan ludah kecil sebelum melanjutkan, "Dia menghilang sebelum sempat diperiksa lebih lanjut."

Tatapan Nara berubah tajam. "Menghilang?"

Tiwi mengangguk pelan. "Seolah ada seseorang yang sengaja membersihkan semua jejaknya."

Mobil tetap melaju mulus di dalamnya mendadak terasa lebih dingin.

"Tidak mungkin orang biasa bisa melakukan itu," lanjut Tiwi hati-hati. "Data CCTV hilang, alamat palsu, bahkan nomor indentitasnya juga tidak terdaftar."

Nara menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi. Tatapannya perlahan berubah dingin. "Jadi ada yang melindunginya?"

Tiwi tidak langsung menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Jemari Nara mengetuk pelan setir mobil, ia tahu jelas, jika seseorang sampai mampu menghapus seluruh jejak hanya demi melindungi pelaku sabotase itu, berarti lawannya bukan orang sembarangan, dan tentu saja berada di sekitarnya. Dan hal yang paling dibenci Nara adalah ketika orang itu bermain kotor di belakangnya alih-alih berhadapan langsung.

"Nona ...." Tiwi kembali membuka suara pelan "Apa kita perlu memberitahu Tuan besar?"

"Tidak." Jawaban Nara cepat dan tegas. "Aku tidak suka melibatkan Kakek untuk urusan seperti ini?"

"Tapi bagaimana kalau mereka semakin berani?" Tiwi tampak makin khawatir. "Saya tidak ingin Nona terluka."

"Justru karena itu," jawab Nara dingin. Tatapannya lurus menembus jalanan di depan. "Kalau mereka mulai bergerak terang-terangan ...," lirihnya pelan, " berarti mereka sudah mulai tidak sabar."

Pikiran Nara terus berputar, satu demi satu bayangan wajah yang ia curigai mulai bermunculan. Namun, Nara berniat untuk tetap diam hingga dalang di balik semua kejanggalan itu muncul dengan sendirinya.

Mobil melaju mulus membelah jalan raya pagi itu Suasana di dalam mobil kembali hening beberapa saat sebelum Tiwi akhirnya membuka tablet di tangannya.

"Nona ...," panggilnya hati-hati.

"Hm?"

"Ada sedikit perubahan jadwal hari ini."

Nara melirik sekilas sebelum kembali fokus menyetir. "Perubahan?"

"Setelah meninjau pabrik baru, Nona dijadwalkan menghadiri makan malam bersama salah satu CEO perusahaan investasi. " Tiwi berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Undangan itu langsung diatur oleh Tuan besar."

Ekspresi Nara tetap terlihat datar. Namun, tangannya mencengkram setir mobil sedikit lebih erat. Pembicaraan di meja makan tadi, benar-benar direalisasikan oleh Kakeknya.

"Kakek benar-benar tidak bisa diam," gumamnya kesal. "Bukankah tadi aku sudah menolaknya?"

Tiwi hanya menunduk kecil. Ia tahu betul arti makan malam mendadak seperti itu. Dalam dunia keluarga konglomerat mereka, makan malam bisnis sering kali hanyalah alasan halus untuk mempertemukan dua orang yang dianggap cocok. Dan Nara membenci hal semacam itu.

Terhitung, Nara sudah berkali-kali menolak secara langsung maupun sengaja tidak menghadiri pertemuan itu. Namun, kakeknya tetap rutin menjadwalkannya. Entah apa yang dipikirkan pria tua itu.

"Saya akan mencoba menolak secara halus pertemuan itu," ucap Tiwi hati-hati. "Saya akan membantu Nona menghindarinya."

"Tidak perlu," jawab Nara cepat. "Atur saja semuanya. Aku akan datang menemui pria itu."

Wajah Tiwi kembali berubah khawatir. "Tapi, Nona ...." Ia tampak ragu melanjutkan ucapannya.

"Percuma saja aku terus menghindarinya" potong Nara cepat. "Kakek tua itu pasti akan semakin mendesakku ke depannya."

"Tapi, Nona ... Kali ini Tuan besar menjadwalkan Nona dengan putra sulung keluarga Dirgantara."

Nara tetap tenang menyetir, seolah nama besar itu tidak berarti apa pun baginya.

"Anda tahu sendiri bagaimana sepak terjang keluarga Dirgantara dalam dunia bisnis." lanjut Tiwi.

"Aku tahu," jawab Nara singkat.

Keluarga Dirgantara terkenal ambisius dan sangat kompeten. Banyak perusahaan ingin bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga itu.

"Kalau begitu kenapa Nona masih mau datang? Apa Nona ...." Tiwi menutup mulutnya, matanya membulat, lalu menoleh. "Nona menyukai Tuan Samudra juga?"

"Bukankah dia tampan?" jawab Nara santai. Ia melirik Tiwi, sudut bibirnya terangkat tipis.

Tiwi langsung diam. Ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Nonanya.

Samudra Dirgantara, putra sulung dari Keluarga Dirgantara memang terkenal tampan, ramah, dan memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola perusahaan keluarganya hingga semakin berkembang pesat. Sebenarnya tidak heran, jika Nara juga ikut terpincut dengan ketampanan pria itu. Tapi bagi Tiwi, itu masih terasa janggal.

Beberapa saat kemudian, mobil mewah itu melaju memasuki kawasan industri tempat pabrik baru milik keluarga Dhanubrata berdiri megah.

****

Sementara itu, di sisi lain kota. Suara bising peralatan bengkel memenuhi udara sejak pagi.

Sagara baru saja selesai mengganti oli sebuah mobil ketika pria yang diklaim sebagai pemilik bengkel menghampirinya.

"Ga, hari ini bengkel tutup lebih awal. Paman harus pergi selama beberapa hari." ucap pria itu sambil melepas topinya.

Sagara mengangguk paham. "Baik, Paman." jawab Sagara.

Pria itu lantas menepuk bahu Sagara sebelum akhirnya berlalu pergi.

Sagara mengelap tangannya yang kotor oleh bekas oli menggunakan kain lap lusuh. Sementara pikirannya mulai membuat jadwal ulang hal yang akan dilakukannya sepulang bekerja nanti.

**** bersambung.

Apakah Nara benar-benar datang menemui Samudra? atau malah kembali bertemu Sagara?

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!