Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Regan memutar cangkir kopinya perlahan, uap panasnya naik menyentuh udara dingin malam itu. Kata-kata tajam yang dilontarkan Raga tadi siang terus terngiang di telinganya, seolah berulang kali diputar kembali.
"Dia ini hanya wanita mandul…"
Ia mengerutkan kening, matanya menyipit seolah sedang mencerna kata-kata itu.
"Apa selama ini dia begitu menderita hanya karena kekurangannya itu? Bahkan keluarganya sendiri tidak memperlakukannya dengan baik dan membiarkannya tinggal sebuah rumah kontrakan seorang diri,"
Regan meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan. Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa Risa layak mendapatkan tempat yang lebih baik dan kehidupan yang lebih tenang.
"Dia memang berbeda," bisik Regan pelan.
Belum sempat pikirannya melangkah lebih jauh, langkah kaki yang lembut namun tegas terdengar mendekat. Bu Sintia duduk di sofa di hadapan putranya, menatap wajah Regan yang masih termenung dalam lamunan.
"Nak, sudah sejak tadi kamu duduk diam dan melamun saja. Kopinya sudah dingin. Apa yang sedang kamu pikirkan sampai begitu serius seperti ini? Ada masalah di kantor, atau ada hal lain yang mengganggu hatimu?"
Regan tersadar dari pikirannya, lalu menoleh dan menatap ibunya dengan pandangan yang masih terasa berat. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya sejenak sebelum menjawab perlahan.
"Tidak ada masalah besar di kantor, Bu. Hanya saja kejadian tadi siang terus terngiang di kepalaku, dan membuatku berpikir banyak hal."
Bu Sintia mengangguk pelan, menunggu putranya melanjutkan, tahu bahwa Regan tidak akan bercerita jika ia belum siap.
"Tadi siang ada suami karyawanku datang membuat keributan," lanjut Regan perlahan. "Dia bahkan menghina istrinya dan menyebutnya sebagai wanita mandul hanya karena merasa tidak terima istrinya mengajukan gugatan cerai padanya."
Bu Sintia mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya perlahan berubah menjadi rasa prihatin dan rasa ingin tahu yang mendalam. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, matanya menatap Regan dengan perasaan yang tergugah.
"Ya ampun… sampai sebegitunya? Datang ke tempat kerja hanya untuk membuat keributan dan menghina istrinya sendiri?" gumamnya pelan, suaranya terdengar berat karena rasa kasihan yang muncul di hatinya. "Pasti wanita itu merasa sangat malu dan tertekan, bukan? Dipermalukan di depan orang banyak, apalagi oleh orang yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung dan merasa aman."
Ia terdiam sejenak, seolah membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi wanita itu, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin lembut.
"Kok ada ya suami yang bersikap seperti itu. Kalau memang ada masalah, seharusnya diselesaikan dengan kepala dingin dan cara yang baik, bukan dengan cara memaki dan mempermalukan. Apapun alasannya, tidak pantas bagi seorang laki-laki untuk menjatuhkan harga diri istrinya di hadapan orang lain. Apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati seperti itu."
Rasa penasarannya pun semakin tumbuh. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Regan... tumben-tumbenan sekali kamu memikirkan seorang karyawan sampai seperti ini. Apakah wanita ini sudah berhasil menggugah hatimu, Nak?"
Regan tertegun sejenak mendengar pertanyaan ibunya, lalu sedikit tersenyum tipis.
"Ini bukan seperti yang Ibu pikirkan. Aku hanya merasa kasihan padanya karena telah diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri." jawabnya tenang.
Ia lalu berdiri perlahan, menatap Ibunya dengan senyum yang lebih lembut.
"Sudah larut malam, Bu. Sebaiknya kita beristirahat saja. Besok pagi aku harus kembali ke kantor lebih awal untuk mengurus beberapa pekerjaan,"
Bu Sintia mengangguk mengerti, "Baiklah, Nak. Istirahatlah yang cukup. Jangan terlalu memikirkannya sampai mengganggu tidurmu."
"Baik, Bu. Selamat malam," ucap Regan sambil melangkah menuju tangga menuju kamar.
Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, Bu Sintia masih duduk diam di sofa, menatap cangkir kopi yang sudah dingin itu dengan tatapan penuh pemikiran.
"Kok aku jadi penasaran ya dengan sosok wanita itu. Sampai-sampai Regan memikirkannya sedemikian rupa sampai di rumah. Benarkah dia hanya karyawan biasa, atau ada sesuatu yang lebih dari sekedar rasa kasihan yang muncul di hati anakku?"
-
-
-
Hari sidang gugatan perceraian akhirnya tiba. Ruang sidang itu terasa hening dan khidmat, hanya sesekali terdengar suara langkah petugas serta lembaran berkas yang dibalik perlahan. Suasana terasa lebih ringan dibandingkan perkiraan, karena Raga sudah memutuskan sikapnya jauh hari sebelumnya.
Seperti yang telah disepakati, Risa tidak hadir secara langsung. Ia mempercayakan seluruh urusan hukumnya kepada Pak Gunawan.
Setelah majelis hakim masuk dan duduk di tempatnya, ketua hakim membuka persidangan dengan suara tegas dan jelas.
"Persidangan atas perkara gugatan perceraian antara Risa Anindita selaku Penggugat dan Raga Pratama selaku Tergugat, kami nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum."
"Untuk Penggugat, Risa Anindita?" lanjutnya menanyakan.
Pak Gunawan segera berdiri, membungkuk sedikit hormat, "Hadir, Yang Mulia. Saya Gunawan Santoso, selaku Kuasa Hukum Penggugat. Berikut saya lampirkan surat kuasa resmi dan dokumen identitas, untuk mewakili Penggugat dalam seluruh proses persidangan ini hingga selesai."
Hakim menerima penjelasan itu dan mengangguk. Selanjutnya menoleh ke arah Raga.
"Untuk Tergugat, Raga Pratama?"
"Hadir, Yang Mulia," jawab Raga singkat namun tegas.
Persidangan pun berjalan sesuai prosedur. Pak Gunawan membacakan pokok-pokok gugatan, menyampaikan bahwa rumah tangga sudah tidak lagi harmonis, sering terjadi perselisihan yang tidak dapat didamaikan, dan tidak ada lagi harapan untuk hidup rukun kembali. Ia juga menegaskan bahwa Risa tidak menuntut harta gono-goni apapun, hanya menginginkan ikatan perkawinan diputuskan secara sah menurut hukum.
Saat giliran pihak tergugat menyampaikan tanggapan, suasana sempat terasa menegangkan. Namun semua pihak terkejut mendengar pernyataan yang disampaikan pengacara Raga.
"Yang Mulia, setelah mempertimbangkan segala pertimbangan, nasihat, dan keadaan yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga ini, klien saya menyatakan tidak mengajukan keberatan atau penolakan apapun atas gugatan yang diajukan. Ia mengakui bahwa kehidupan rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan lagi dan tidak ada jalan damai selain berpisah."
Mendengar hal itu, Pak Gunawan hanya mengangguk tenang tanpa menunjukkan ekspresi berlebih. Majelis hakim pun mencatat pernyataan tersebut sebagai hal yang mempermudah jalannya proses hukum.
Setelah kedua pihak menyampaikan keterangan dan tidak ada lagi hal yang perlu diperdebatkan, ketua hakim menyimpulkan sidang hari itu.
"Baiklah. Karena tidak ada perselisihan lagi dan kedua pihak menyepakati keadaan rumah tangga yang sudah tidak harmonis, maka sidang hari ini cukup. Kami akan menjadwalkan persidangan selanjutnya untuk pembacaan putusan, yang akan diberitahukan melalui surat panggilan resmi. Persidangan ditutup."
-
Begitu keluar dari gedung pengadilan, Raga langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Amelia.
"Halo, sayang. Aku sudah selesai dari sidang. Semuanya berjalan baik dan aku sudah menyatakan tidak menolak perceraian ini. Sekarang juga aku jemput kamu ya. Aku ingin langsung membawamu ke toko perhiasan terbaik di kota."
Di ujung telepon, Amelia yang sudah menunggu dengan penasaran menjawab dengan nada gembira. "Benarkah, Mas? Tentu saja aku siap! Aku tunggu di depan kantor ya."
Panggilan telepon pun berakhir. Raga naik kedalam mobilnya dan melajukannya pergi menuju gedung kantornya. Kurang dari setengah jam kemudian, Raga sudah sampai disana dan langsung turun untuk membukakan pintu mobil untuk Amelia.
Mobil kembali melaju menuju pusat perbelanjaan mewah yang terkenal dengan koleksi perhiasannya yang lengkap dan berkualitas. Begitu memasuki toko yang megah itu, pelayan langsung menyambut mereka.
"Silakan dilihat, Tuan dan Nyonya. Kami memiliki koleksi cincin dari emas, emas putih, hingga berlian dengan berbagai desain terbaik," ujar pelayan ramah.
Raga memegang pinggang Amelia dengan lembut, "Pilihlah yang kamu suka, Sayang. Berapapun harganya pasti akan aku berikan."
Amelia tersenyum lebar, matanya berbinar melihat deretan cincin yang berkilauan di balik kaca etalase. Ia berjalan perlahan, lalu akhirnya menunjuk ke satu pasang cincin yang menarik perhatiannya.
"Aku suka yang ini, Mas. Emas putih dengan hiasan berlian kecil yang tersusun rapi. Desainnya sederhana tapi terlihat mewah."
Pelayan segera mengeluarkan kotak perhiasan itu dan membukanya. Raga mencoba cincin untuk dirinya sendiri, lalu dengan lembut memakaikan cincin milik Amelia di jari manisnya. Kilau cahayanya tampak sangat indah diterpa cahaya lampu toko.
"Sangat cocok. Pilihanmu memang selalu tepat, Sayang. Tidak salah aku memilihmu menjadi calon istriku." ucap Raga dengan senyum bangga.
Amelia meremas tangan Raga dengan erat, wajahnya penuh kepuasan. "Terimakasih, Mas. Aku juga sangat beruntung bisa memiliki kamu."
Begitu selesai membayar dan menyimpan kotak cincin di dalam tas, Raga mengajak Amelia berjalan santai hendak menuju lantai atas pusat perbelanjaan. Baru saja beberapa langkah mereka meninggalkan toko, sebuah suara terdengar menyapa.
"Lho, Pak Raga?"
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭