NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi Aryan

Di rumah sakit, tatapan Arshaf tampak kosong menatap lantai. Di samping Arshaf, ada Kafa juga tampak tengah duduk bersandar dengan tatapan mengarah ke plafon. Ia termenung lama memikirkan banyak hal, termasuk Zaskia. Zaskia pasti tengah sedih menanti kepulangan Aryan yang belum kunjung datang.

Ia memikirkan bagaimana jika Zaskia mengetahui bahwa suaminya mengalami kecelakaan, pasti perempuan itu akan merasa sangat sedih terlebih ia sedang mengandung. Kafa tak bisa membayangkan keadaan perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya itu.

Tak lama, dokter keluar dari ruang ICU. Arshaf dan Kafa segera bangkit menghampiri dokter tersebut.

"Gimana, Dok?" tanya Arshaf

"Alhamdulillah, pasien berhasil melewati masa kritis. Jangan khawatir pasien akan kembali pulih dalam beberapa waktu ke depan. Pasien sudah bisa ditemui, tapi jangan diajak ngobrol dulu kalau sekiranya pasien sudah sadar."

"Baik, Dok."

"Kalau boleh tau, apa wali pasien sudah dihubungi?"

"Sudah, Dok. Saya juga walinya. Saya saudara kandung pasien."

"Kalau begitu, ikut saya ya. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan secara empat mata tentang kondisi pasien."

"Iya, Dok. Kaf."

"Sip, gue tuunggu di sini nungguin orang tua lo sama keluarga yang lain."

Arshaf mengangguk seraya tersenyum simpul. Setelah itu ia berlalu mengikuti dokter yang berjalan di depannya.

Sepeninggal Arshaf, kafa memutuskan untuk masuk tiba di dalam ia menemukan Aryan yang masih belum sadarkan diri alat bantu pernapasan jenis ventilator berada di antara hidung dan mulutnya.

Laki-laki itu mendekat, ia berdiri di sisi brankkar, memperhatikan sahabatnya seperti sedang tertidur. lama menatap ke sana, Perhatian Kafa lantas teralihkan pada jari telunjuk Aryan yang tiba-tiba bergerak.

"Yan." Kafa menunduk menatap bergantian antara tangan dan kelopak mata Aryan yang masih terkatup pada detik berikutnya bibir laki-laki itu terbuka sangat pelan mengucapkan satu nama dengan suara yang terdengar amat lirih.

"Kia..."

Kafa tersentak mendengar suara Aryan yang bergumam tidak jelas.

"Yan, lo denger gue?" Tanya Kafa lembut, seraya mendekati wajah Aryan yang matanya masih terkaku. Ponsel laki-laki itu tiba-tiba berdering hal yang membuat Kafa menegakkan badan untuk mengambil benda pipi yang terselip di celananya. Melihat ke dalam layar, Kafa lantas buru-buru keluar dari ruangan seraya menerima panggilan tersebut.

Tiba di luar, Kafa mengedarkan pandangannya ke segala arah.

"Kafa ada di ruang ICU, Abi. Iya. Kafa tunggu di depan. Waalaikumsalam." Panggilan berakhir.

Kafa kembali menyelipkan ponselnya ke saku celana, kemudian dia menunggu di sana sambil matanya mengarah ke lorong masuk gedung ICU.

Beberapa menit menunggu, orang yang Kafa tunggu pun sudah terlihat. Abi Azzam dan Bunda Aira berjalan tergesa dengan raut muka menahan kesedihan.

"Gimana keadaan Aryan?"

Tak lama disusul oleh orangtua Aryan dan Arshaf, Gus Abidzar dan Azzura. Mereka tampak panik, raut kesedihan terlihat jelas di matanya.

Dibanding Azzura, Gus Abidzar terlihat lebih tenang meski raut lelah dan sedih tidak bisa disembunyikan. Apalagi mereka baru saja datang dari bandung langsung ke Jakarta,

"Kafa, gimana keadaan Aryan? Tante mau ketemu Aryan."

"Kata dokter, Aryan udah melewati masa kritisnya. Tapi tante, Aryan jangan-"

Belum habis kalimat yang diutarakan Kafa. Azzura langsung menerobos masuk ke ruangan tempat dimana aryan berasa.

"Aryan kenapa?"

"Dokter bilang Aryan jangan diajak ngobrol dulu, Om, karena Aryan baru saja melewati masa kritisnya."

Setelah mendengar penjelasan dari Kafa, Abidzar bergegas menyusul masuk untuk menenangkan istrinya.

Kafa menghela napas berat dan kemudian ikut masuk ke sana.

"Aryan ya Allah, nak! Kenapa bisa sampai kaya gini. Ya Allah..." Azzura menangis.

Melihat keadaan sang putra, Abidzar yang mulanya ingin menenangkan Azzura malah tiba-tiba termangu. Tatapannya berubah lemah tatkala mendapati tubuh Aryan terbaring tak berdaya di pembaringan bersama alat medis di sekitarnya dan terbent di kepala juga bagian tubuhnya yang lain.

"Nak!" Abidzar mendekat. Ia berdiri di belakang istrinya yang sedang terisak.

Kafa memperhatikan dengan iba air matanya kembali terjun bebas.

"Ya Allah..." Bisik Abidzar menyusul tangis. Pria yang tak lagi muda itu menundukkan wajah tersayat hatinya melihat sang putra mengalami kecelakaan.

Suara isak tangis yang sedikit riuh di ruangan itu ternyata membuat Aryan tersesat sehingga pelan-pelan matanya terbuka. Objek pertama yang menyentuh pandangannya adalah lampu yang berada di plafon ruangan masih tampak remang dan berbayang.

Aryan menghembuskan napas panjang seiring tatapannya yang pelan-pelan mulai jelas menangkap objek di sekitar. Pupil matanya kemudian bergerak ke samping ke sumber suara yang tadi membuatnya terbangun dari ambang kematian.

"Aryan sudah sadar. Om." Kafa orang pertama yang menyadari hal tersebut. Laki-laki itu mendekat dan berdiri di sisi brangkar yang bersebrangan dengan Abidzar dan Azzura.

Senyumnya langsung mengembang tampak lega.

Sepasang suami-istri itu lantas menghentikan kesedihan di mata mereka lalu bersamaan menoleh menatap aryan.

"Alhamdulillah ya Allah! Ini uma sayang. Kamu bisa denger suara uma kan? Kamu masih ngenalin uma kan?"

"Zura, kata dokter tadi jangan di ajak bicara dulu." Tegur Azzam pada adiknya itu. Ia tadi juga mendengar penjelasan Kafa.

Aryan yang terlihat kesulitan untuk berbicara, hanya bisa menggerakkan kelopak matanya untuk menyahut ucapan Umanya. Azzura tidak bisa membendung rasa syukurnya. Wanita itu langsung memeluk Aryan dengan penuh air mata.

"Ning..." Aira mendekat, mengusap punggung kakak iparnya itu.

"Sayang." Tegur Abidzar lagi yang khawatir pada keadaan Aryan lantaran pelukan yang dilakukan istrinya.

Namun, Aryan tidak menunjukkan tanda bahwa ia terganggu atau merasa sakit. Pelukan yang dilakukan Azzura sangat lembut bahkan Aryan tidak merasa berat sama sekali. Ia menikmati sentuhan itu, terlihat dari hembusan napasnya yang mengalir stabil.

Aryan sangat merindukan pelukan umanya. Sudah lama aryan belum lagi mengunjungi umanya.

"Uma takut banget saat denger berita itu. Uma gak mau kehilangan kamu!"

"Zura." Abidzar menahan kedua lengan Azzura lantaran takut tindakan istrinya akan menyulitkan Aryan.

Azzura kembali menegakkan badan. Wanita berkerudung dusty pink itu mengusap air mata sambil tersenyum pada Aryan yang juga membalas senyuman itu sebisanya.

"Cepet sembuh, nak." Azzura mengusap lembut pilih Aryan.

Aryan mengangguk lewat gerakan kelopak matanya yang mengatup pelan.

"Oh ya, Kaf. Arshaf mana?" Tanya Abidzar.

"Di ruangan dokter, om."

"Udah lama?"

"Udah lima belas menit yang lalu kayanya."

"Dokter mau ngomong apa ya kira-kira?"

"Ngomongin kondisi Aryan lebih lanjut, om."

Abidzar mengangguk paham, hatinya langsung membuat harapan, semoga dokter tak mengatakan hal buruk melihat kondisi lanjutan putranya yang baru saja siuman ini.

Dari arah pintu, seseorang datang, pergerakan daun pintu yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang.

Zhafran datang dengan napas terengah, ia segera mendekati brankar untuk melihat kondisi menantunya. Melihat laki-laki itu sudah sadar, helaan nafas lega seketika berhembus dari rongga hidung dan mulutnya bersamaan.

"Dokter bilang apa Kaf?"

"Aryan bakalan sembuh dalam beberapa waktu ke depan. Aryan berhasil melewati masa kritisnya. Om"

"Alhamdulillah, ya Allah, selama perjalanan ke sini pikiran. Om udah kemana-mana." Zhafran menggelengkan kepala seraya menatap Aryan yang sedari tadi hanya bergeming.

Sebenarnya Aryan sedang mencari keberadaan Zaskia.

Tanpa keluarganya sadari, ternyata sedari pagi, diam-diam matanya menyapu keadaan di sekitar brankar. Ia merindukan sosok yang sedari tadi terus berada di benaknya, ingin bertanya tapi kondisinya yang lemah jadi menyulitkan laki-laki itu untuk berbicara.

Sementara itu, di tempat lain, di ruangan dokter yang tadi menangani Aryan, tampak Arshaf yang termangu menatap layar monitor yang menampilkan hasil scan bagian kepala Aryan.

"Akibat benturan keras di bagian kepala, pendengaran pasien sepertinya akan terganggu. Dari hasil scan terlihat bagian koklea pasien yang bentuknya seperti rumah siput yakni bagian telinga dalam yang memiliki saraf sensorik mengalami kerusakan pasca benturan koklea terdiri dari serabut saraf pendengaran yang berfungsi untuk mengantarkan informasi suara ke otak melalui saraf auditori. Jadi kalau bagian ini rusak, pendengaran manusia akan terganggu dan kalau kerusakannya parah bisa menimbulkan ketulian permanen."

Jantung arshaf berguncang hebat. lututnya melemah seketika.

"Lalu bagaimana dengan saudara saya dok?" Tanya Arshaf dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Dari hasil pemeriksaan, bagian koklea pasien tidak mengalami kerusakan berat, jadi dampaknya tidak terlalu parah bagi kehidupan pasien. Hanya saja untuk sementara waktu pasien akan kesulitan menangkap suara di sekitarnya. Artinya, pasien tidak bisa mendengar suara dalam volume kecil. Pasien juga harus menggunakan alat bantu pendengaran supaya bisa mendengar dengan jelas. Bisa dikatakan pasien mengalami tuli sensorineural, yaitu salah satu jenis gangguan pendengaran yang menyerang bagian telinga dalam, tepatnya pada koklea. Yang membuat penderitanya kesulitan mendengar suara pelan maupun keras, tapi tenang kondisi tersebut hanya berjalan sementara selama pasien rutin menjalani pengobatan."

Arshaf mengangguk di tengah hembusan nafas berat yang beriringan keluar bersama perasaannya yang agak lega. Setidaknya Aryan tidak mengalami tuli permanen dan masih ada harapan untuk sembuh dan kembali normal.

"Kira-kira pengobatan seperti apa yang harus dilakukan oleh pasien, dok?"

"Bisa dengan terapi atau operasi pemasangan implant koklea."

Arshaf kembali mengangguk.

"Setelah kondisi tubuh pasien sudah benar-benar pulih, pasien baru bisa menjalani operasi kalau memang diperlukan tindakan tersebut. Tapi untuk sementara waktu, lakukan terapi dan pengobatan dengan obat dan penggunaan alat bantu pendengaran dulu. Nanti saya akan tuliskan resepnya dan alat yang harus kamu tebus."

"Baik, dok. Kalau begitu, saya izin keluar."

"Ya, lima belas menit lagi saya kembali menemui pasiennya sekalian memberi resep."

"Baik dok." Arshaf mengangguk sopan seraya tersenyum simpul. Setelah itu ia pun beranjak keluar dari ruangan tersebut.

Tiba di luar, Arshaf berjalan gontai menyusuri lantai koridor menuju ruangan Aryan. Dalam langkahnya, pikiran laki-laki itu hanyut memikirkan banyak hal. Entah bagaimana bisa hal seperti ini terjadi pada kembarannya. Arshaf tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aryan dinyatakan tuli permanen beruntung saudaranya itu hanya mengalami gangguan pendengaran sementara.

***

Zaskia perlahan membuka mata. Langit-langit kamar menjadi objek pertama yang ditangkap oleh penglihatannya yang kini tak lagi terasa remang. Ia menoleh ke samping, namun tak menemukan siapa pun di sana. Perempuan itu kembali menatap lurus ke atas sambil menghela napas panjang. Kepalanya masih terasa pusing, sementara bagian perut bawahnya sesekali terasa keram.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Suara gesekan daun pintu membuat Zaskia menoleh.

“Bunda...”

“Kia, alhamdulillah. Ya Allah, kamu udah sadar.” Ayesha mempercepat langkahnya. Begitu tiba di samping ranjang, wanita itu langsung duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan keadaan putrinya.

“Bunda, Kak Aryan udah pulang belum?”

Pertanyaan itu membuat gerakan Ayesha melambat. Ia diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lembut.

“Gimana keadaan kamu dulu? Ada yang sakit?”

“Kak Aryan udah pulang belum, Bun?” ulang Zaskia lagi, kali ini lebih mendesak.

Ayesha mengembuskan napas perlahan. Tangannya terangkat mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.

“Jawab pertanyaan Bunda dulu, sayang.”

Raut wajah Zaskia perlahan runtuh. Matanya kembali berkaca-kaca, disusul ujung hidungnya yang memerah.

“Kia bakal baik-baik aja kalau udah ketemu sama Kak Aryan, Bun...”

Ayesha terdiam. Dadanya terasa sesak melihat putrinya kembali menangis di atas ranjang.

“Oke,” ucapnya lembut. “Bunda akan bawa kamu ketemu Aryan. Tapi dengan satu syarat, kamu harus tenang. Bisa?”

Zaskia mengangguk pelan meski air matanya terus berjatuhan.

Ayesha lalu membantu Zaskia duduk. Setelah putrinya bersandar dengan lebih nyaman, wanita itu mengusap sisa air mata di pipinya.

“Sekarang kamu cuci muka, ganti baju, terus dandan yang cantik. Jangan sampai kelihatan kalau kamu habis nangis.”

Zaskia kembali mengangguk. Dalam hatinya, ketakutan terus tumbuh. Ia tidak tau seperti apa kondisi Aryan sekarang. Namun, ia berharap kenyataannya tidak seburuk yang dibayangkannya.

“Bisa?”

“Bisa, Bun.”

“Ya udah, Bunda tunggu di bawah ya.”

“Iya.”

Setelah itu Ayesha bangkit dan keluar dari kamar.

Sepeninggal bundanya, Zaskia perlahan turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Satu tangannya mengusap perut yang masih rata.

“Jangan kenapa-napa ya, Dek...” bisiknya lirih pada janin yang sedang ia kandung.

Beberapa menit kemudian, Zaskia selesai bersiap. Ia hanya memakai sedikit lip tint agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat. Saat keluar kamar, ia bertemu dengan Zaid yang tampaknya baru selesai mengerjakan tugas sekolah.

“Kak.”

“Kok belum tidur?” tanya Zaskia.

“Ini mau tidur kok.” Zaid mendekat lalu mengelus pelan lengan kakaknya. “Jangan sedih terus ya, Kak. Nanti dedek bayinya ikut sedih.”

Zaskia tertegun mendengar ucapan adiknya.

“Bang Aryan pasti baik-baik aja,” lanjut Zaid sambil tersenyum tipis menatap wajah sembab kakaknya.

Zaskia tersenyum samar..“Makasih ya, Za. Kalau begini kamu kelihatan ganteng.” Ia memeluk singkat tubuh adiknya.

“Ck, Kak... jangan mulai deh. Zaid jadi ikut sedih kalau lihat Kakak kenapa-napa.”

“Ini beneran Zaid kan?”

“Ya Allah, Kak!”

Zaskia terkekeh kecil di tengah hatinya yang masih dipenuhi kecemasan. Ia hanya ingin mencairkan suasana sejenak.

“Ya udah, kamu tidur ya. Kakak pergi dulu. Assalamu’alaikum.”

“Hati-hati, Kak. Wa’alaikumussalam.”

Di lantai bawah, Zaskia menemukan Ayesha sudah menunggu di ruang tengah. “Udah siap, Nak?”

“Udah, Bun. Ayah mana?”

“Ayah udah duluan ke rumah sakit. Kita naik taksi online aja ya. Yuk, tadi taksinya baru datang.”

Ayesha meraih tangan Zaskia lalu merangkul lengannya dengan hati-hati.

Zaskia mengikuti langkah bundanya. Setelah pintu rumah dikunci, keduanya berjalan menuju mobil taksi yang terparkir di depan pagar.

Begitu masuk ke dalam mobil, kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan rumah.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin kendaraan dan sesekali notifikasi ponsel dari dashboard pengemudi yang terdengar samar. Zaskia duduk diam di samping Ayesha sambil memeluk perutnya erat. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang tampak buram karena air mata yang terus menggenang.

Ayesha beberapa kali melirik putrinya dengan hati yang ikut terasa nyeri.

“Kia…” panggilnya pelan.

“Hm?” sahut Zaskia lirih tanpa menoleh.

“Nanti kalau sampai rumah sakit… jangan nangis histeris ya, sayang. Aryan pasti sedih kalau lihat kamu kayak gitu.”

Kalimat itu justru membuat bibir Zaskia bergetar. Ia buru-buru membuang wajah ke arah kaca jendela.

“Kia takut, Bun…” suaranya pecah. “Kia takut banget.”

Ayesha langsung menggenggam tangan putrinya erat. “Insya Allah Aryan kuat. Dia itu laki-laki yang sayang banget sama kamu. Dia pasti berjuang buat pulang.”

Zaskia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah lagi. Namun bayangan tentang berita kecelakaan tadi terus berputar di kepalanya.

Bagaimana kalau Aryan terluka parah? Bagaimana kalau laki-laki itu kesakitan? Bagaimana kalau…

“Kia.” Suara Ayesha memotong pikiran buruknya. “Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Zaskia mengangguk kecil.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
🤣🤣🤣🤣🤣 nggak kebayang kalo video nya sampai viral
syora
pasti lahir bulan jadi cucu kesayangan nih apa lagi kalau pr,cucu dan cicit pertama lagi
Syti Sarah
fix,dara ini mah bar bar bnget kturunan Oma sama TENTE Zura nya bnget 😂😂

pusing gak tuh abi nya 😅
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh kafa masih sd
Ayu Oktaviana
ya alloh anknya azzam bar2nya gak ketulungan.. keturunan omanya kayaknya😁😁😁😁 apakah dimasa akan dtang jodohnya kafa adl andara kak... msih teka teki ini
Fegajon: masih SD kak, masih jauh😭
total 1 replies
Siti Java
yah Allah anak y azam bar2 parah 🤭🤭🤭🤭nurun siap ni😍
Syti Sarah
ras trkuat di bumi mau di lawan ,aplgi Skrang lgi hamil.yg sbar ya yan 🤣🤣🤣
Syti Sarah
eeh bukan lh kli thor.jdoh nya arshaf itu nanti santri nya sendiri yg slalu bikin dia naik drah 😂😂😂
Syti Sarah
semoga Aryan scpatnya smbuh 😭😭😭
Anak manis
aryan😭
syora
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Judulnya kondisi arshaf/aryan
Fegajon: udah aku ganti, huhu maap lagi ngantuk banget siang ini😭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya ada yang menabur bawang deh
Syti Sarah
😭😭😭😭
Syti Sarah
ya Allah Arya KIA 🥺🥺
just a grandma
ya allah🥺
Syti Sarah
semoga Aryan cpat sadar dan smbuh .sumpah nyesek bnget 😭😭😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada aksi tembakan sih. bisa panjang nih urusannya
Nifatul Masruro Hikari Masaru: kasian andre cuma berapa episode tuh🤭
total 3 replies
Syti Sarah
ya Allah,semoga kamu gak kenapa2 yan.amiin
syora
astagfirullah ya allah smoga semua slamat dlm lindungnNya
ini pasti slah stu suruhan sikuruptor tuh
ya allah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!