NovelToon NovelToon
Legenda Kebangkitan Wang Fei

Legenda Kebangkitan Wang Fei

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jin kazama

Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.



"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Serangan Badai Api Petir.

Bab 30. Serangan Badai Api Petir.

Hutan bergetar. Fluktuasi energi menyebar ke segala arah, sementara niat membunuh yang mengerikan berubah menjadi gelombang badai yang menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Pohon-pohon besar hancur berkeping-keping, batu-batu dengan berbagai ukuran meledak dan hancur menjadi bubuk, sementara tanah terguncang hingga amblas dengan retakan panjang seperti jaring laba-laba yang tak beraturan.

Tak terelakkan, dominasi belalang sembah kali ini benar-benar dipatahkan dan kesombongannya sebagai predator ganas yang selama ini menjadi pemangsa tidak bisa menerima hal ini sedikit pun.

Meskipun sosoknya sangat besar, hampir mencapai delapan meter, tetapi kecepatannya sangat luar biasa. Ketika kaki depannya terayun ke depan dan mulai menebas, bagian luarnya langsung menampilkan bilah tajam bagaikan sabit yang siap memotong apa pun yang ada di hadapannya.

"SLASH!"

Tak main-main, kaki kanan dan kaki kiri terayun secara bersamaan sehingga itu membentuk dua bilah sabit yang saling bersilangan, siap untuk menghancurkan lawannya menjadi serpihan.

Dan yang menjadi pusat sasarannya tentu saja adalah Wang Fei.

Di seberang, Wang Fei yang melihat serangan itu mengarah kepadanya mulai menajamkan mata. Xue Jian digenggam dengan erat, sementara api petir tiga warna mulai berkobar dengan hebat.

Lalu... dengan Langkah Petir yang telah mencapai puncaknya, tanpa ragu sosoknya menerjang ke depan dan mulai menebas.

"SLASH!"

Dua senjata dengan kekuatan destruktif pun akhirnya bertabrakan.

"TRANG! DUAR!"

Benturan itu menghasilkan percikan bagaikan kembang api yang menyebar. Akan tetapi, dampaknya membuat mata Wang Fei terbelalak lebar.

Kekuatan dari benturan itu sangat luar biasa sehingga membuat tubuhnya terpental ke belakang sejauh sembilan meter dan baru berhenti ketika tubuhnya menabrak pohon besar hingga runtuh ke belakang.

"ARGH!"

Dia merintih. Rasa nyeri yang hebat diiringi oleh organ dalam yang berkontraksi membuat seluruh wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit.

Saat ini, dengan jelas dia bisa merasakan sebagian besar tulangnya telah retak di berbagai tempat. Bahkan sebagian ada yang telah pecah dan itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa ketika pecahan itu menusuk daging hingga memperparah kerusakannya.

Akibatnya darah melonjak naik, bau asam logam terasa menggumpal hingga akhirnya dia pun tak kuasa untuk memuntahkan seteguk darah.

"UHUK!"

Napasnya terengah-engah. Namun sorot matanya tetap tajam. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa gentar. Yang ada hanyalah semangat juang dan semangat bertarung yang terus menyala-nyala.

Dan di sinilah letak keajaiban dari Tubuh Pedang Iblis Penelan Langit yang sebenarnya ditampilkan.

Saat itu tubuhnya diselimuti oleh cahaya hitam pekat. Ketika kesadarannya melihat apa yang terjadi, seberkas keterkejutan pun melintas.

"Hah... apakah ini pulih? Secepat ini?" serunya penuh keterkejutan.

Dengan jelas dia menyaksikan semua organ dalam dan juga tulang-tulang yang terasa remuk, retak parah, dan pecah di berbagai sisi itu secara perlahan mulai dipulihkan dengan kecepatan yang luar biasa.

Hal itu membuat Wang Fei sangat senang.

"Hahaha! Jadi inikah manfaat sebenarnya dari teknik penempaan tubuh? Hebat sekali! Sungguh luar biasa!"

Hatinya dipenuhi oleh rasa kagum. Dan dia semakin bertekad untuk terus melatih dan menempa kekuatan fisiknya hingga mencapai puncak maksimal.

Setelah kondisinya pulih, dia berdiri. Ketika energi spiritualnya mulai berputar, auranya kembali melonjak liar. Dengan Xue Jian di tangan kanannya, sosoknya kembali menerjang dengan ganas.

Kali ini dia yang mengambil inisiatif untuk menyerang.

"WUSH!"

Pedang hitam yang dibalut dengan api petir mulai menebas bertubi-tubi.

"SLASH! SLASH! SLASH!"

Serangan itu menerjang seperti badai. Menemukan lawan yang begitu kuat dan mampu mengasah potensinya, kali ini Wang Fei benar-benar menggila.

"Hahaha! Ayo bertarung!" teriaknya menggelegar di tengah hutan.

Berbagai variasi serangan dikerahkan, mulai dari tusukan, tebasan vertikal, horizontal, dan juga tebasan melingkar.

Dan semua itu dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan kecepatan tebasannya melebihi kecepatan tebasan sabit dari lengan ganda belalang sembah sendiri.

"SLASH! SLASH! SLASH!"

Dengan penguasaannya pada Teknik Pedang Kilat dan Pedang Terbang, kecepatannya bukan menurun tetapi justru meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu.

Di saat yang sama, energi pembantaian mulai menunjukkan dominasinya. Energi tersebut memadat dan membentuk pedang kecil yang ukurannya bahkan lebih kecil dari jarum, lalu mulai menusuk ke seluruh tubuh belalang sembah.

Pemandangannya cukup mengerikan. Jika diperhatikan dengan saksama, maka tubuhnya saat ini benar-benar terlihat seperti landak yang dipenuhi dengan duri-duri tajam.

Tetapi jika hanya itu saja maka situasinya akan menjadi lebih sederhana. Masalahnya adalah ketika dipadukan dengan api petir, jarum-jarum pedang tersebut bergetar dan meledak satu per satu di dalam tubuhnya sehingga menciptakan rasa sakit yang luar biasa.

"DUAR! DUAR! DUAR!"

Dalam sekejap, luka menganga langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Bagaimanapun juga, api petir tiga warna bukanlah api biasa. Api itu mengandung elemen kegelapan yang memiliki kekuatan pelahap.

Saat meresap ke dalam tubuh, sejumlah besar energi dan vitalitas dari belalang sembah langsung dimakan dan diserap dalam jumlah besar. Hal ini membuat regenerasinya melambat dan tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang darah yang tak terhitung jumlahnya.

Melihat itu semua, mata belalang sembah akhirnya menunjukkan niat membunuh yang mengerikan. Amarahnya meluap-luap dan untuk pertama kalinya dia mengeluarkan elemen angin kencang yang menderu dengan liar.

"Dasar bajingan! Beraninya makhluk kecil sepertimu melukaiku! Mati!" serunya dengan suara lantang yang menggema di udara.

"SWOSH!"

Udara bergetar hebat. Debu-debu berhamburan, menciptakan butiran pasir yang tersebar ke segala arah. Di saat yang sama, seberkas energi berwarna hijau cerah menyembur keluar dengan ganas.

Energi itu bukanlah energi biasa, melainkan pemadatan dari elemen angin yang kemudian berfluktuasi menjadi badai yang mengamuk.

"WUSH! WUSH! WUSH!"

Hal itu bahkan membuat Wang Fei yang sebelumnya terus menebas dengan gila tertegun sejenak. Untung saja kesadaran dan instingnya sangat tajam sehingga dia segera melapisi tubuhnya dengan perisai energi. Namun karena perbedaan ranah yang terlalu besar antara dirinya dan belalang sembah, tubuhnya masih sempat terhempas ke belakang hampir sejauh sepuluh meter.

Berbeda dengan sebelumnya, ketika hampir menabrak pohon, dia mengerahkan energi spiritual di kakinya dan dengan tajam segera melakukan gerakan melingkar dengan sangat cepat.

Akhirnya, setelah berhasil berputar, dengan satu tekad yang melintas di matanya yang tajam, dia menjejak pohon besar yang hampir ditabraknya.

Memanfaatkan batang pohon tersebut sebagai pijakan, kakinya pun menekuk. Ketika otot-ototnya menegang, energi spiritual dalam jumlah besar sekali lagi dikerahkan.

Dan hasilnya....

"WUSH!"

Dengan satu kali lompatan dia kembali meluncur seperti peluru tajam sambil tangannya melakukan serangan Pedang Kilat yang sangat cepat ke arah belalang sembah.

Api petir tiga warna kembali berkobar dengan ganas. Energi pembantaian yang menyertainya bahkan kini menjadi lebih pekat. Ketika niat membunuh dan aura haus darah keluar, temperamennya pun berubah.

Wang Fei benar-benar telah menjelma seperti orang lain. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, sementara atribut gelap yang menyelimuti tubuhnya seolah membawa kesuraman dari medan perang yang telah merenggut ribuan nyawa.

Tiba-tiba tubuhnya segera berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ketika didorong dengan teknik langkah kakinya, tubuhnya segera menjadi seperti bor listrik dengan kekuatan tubuh yang sepenuhnya diselimuti oleh api petir tiga warna.

Ini adalah sebuah teknik baru yang berkali-kali dia simulasikan di dalam pikirannya namun belum pernah dia praktikkan dalam pertarungan nyata.

Alasannya sederhana, karena dia belum menemukan lawan yang layak untuk uji coba tekniknya. Akan tetapi sekarang berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya dia menemukan lawan yang tepat untuk menerima serangan tersebut.

Dia menyebut serangan itu dengan nama "Serangan Badai Api Petir".

"SWOSH!"

Dalam hati dia meraung.

"Serangan Badai Api Petir."

"Hancurkan untukku!"

"WUSH!"

Udara bergetar semakin hebat, suhu panas ekstrem mendidih, dan secara perlahan fenomena yang mengerikan pun terjadi.

Hutan-hutan mulai terbakar. Tanah dan bebatuan dalam radius ratusan meter hangus menghitam. Bahkan lambat laun mulai terlihat bara merah yang menganga seolah itu adalah tungku pembakaran yang melelehkan bumi.

Kurang dari dua tarikan napas saja, jarak puluhan meter langsung dipangkas dengan sangat cepat. Dan saat ini bor raksasa setinggi hampir tiga meter yang menyerupai badai sedang menyongsong maju ke depan, bersiap untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.

Belalang sembah yang melihat perubahan alam yang ada di sekitarnya mengerutkan kening.

Detik berikutnya dia menjadi sangat marah.

"Sialan! Beraninya kau! Bukan hanya ingin membunuhku, tapi bahkan juga membakar seluruh wilayahku! Kalau begitu baiklah... aku tidak akan menahan diri lagi!"

Amarah yang menggelegar memenuhi udara.

Merasakan niat membunuh dari makhluk yang lebih lemah darinya merupakan sebuah penghinaan besar yang sama sekali tidak bisa dia toleransi. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya menjadi semakin murka.

Belalang sembah itu merasa dominasinya sebagai binatang buas Tingkat 3 yang menguasai wilayah Lembah Kematian selama bertahun-tahun telah ditentang berkali-kali.

1
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪👍👍
Aman Wijaya
melawan belalang sembah sampai beberapa bab belum tuntas.hadehhh.....
🔴@🍾⃝ ͩAᷞғͧɪᷡғͣ Gemoy DLUNA: wkwk... sabar bro mau gimana lagi ini emaknya maubalas dendam dulu karena anaknya modar di tangan Wang Fei 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilham Akbar
1Vote lagi💪
Risma Ekana Sinuraya
lanjut. .msh okay ceritanya
Mxxx
up
Fiano Yan
Mantap
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
Dewa Malaikat
Lanjuut ya thor
Ilham Akbar
Bahasanya mudah dimengerti & semoga ceritanya bagus
utk itu saya uplaus satu vote
Dewa Malaikat
lanjut ya thor. jangan mandek tengah jalan
Dewa Malaikat
mantul thor ceritanya.
Jojo Shua
😍🔥
Jojo Shua
😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut terus Thor
Aman Wijaya
semangat semangat semangat Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
gaaas pooolll terus
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!