"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PERPISAHAN DI TEPI DERMAGA
Derap hujan yang menghantam atap van hitam itu terdengar seperti ribuan peluru yang menuntut jawaban. Di dalam kabin yang pengap, Saga menatap ujung sepatunya yang kotor oleh debu dari reruntuhan markasnya. Ia bisa merasakan tatapan Nikolai yang tajam di spion tengah, sebuah tatapan yang tidak lagi menganggapnya sebagai target, melainkan sebagai aset yang harus dijaga dengan nyawa.
"Kita tidak bisa langsung ke bandara," Nikolai memecah keheningan. "Romo Waskita mungkin terpojok, tapi tikus yang terpojok akan menggigit lebih keras. Dia sudah memerintahkan penutupan seluruh jalur keluar legal. Imigrasi, pelabuhan udara, hingga gerbang tol antar kota sudah dipantau oleh orang-orangnya."
Saga mendongak, matanya berkilat dingin. "Dia pikir dia masih memegang kendali atas kota ini? Setelah apa yang kita tunjukkan di kediamannya?"
"Dia punya satu kartu as, Saga. Kartu yang kamu lupakan," Nikolai membelokkan van ke arah jalur tikus menuju Jakarta Utara. "Dia memiliki Bramasta. Dan dia tahu Sakti tidak akan membiarkan Bramasta mati sendirian."
Jantung Saga seolah berhenti berdetak. "Apa maksudmu? Sakti dan Bramasta sudah aman di jalur bawah tanah!"
"Jalur bawah tanah itu dibangun oleh Wirya Janardana menggunakan kontraktor yang berafiliasi dengan Dewan Waskita sepuluh tahun lalu. Kamu pikir mereka tidak punya denahnya?" Nikolai mendengus. "Sakti mengirimkan sinyal darurat dua menit yang lalu. Mereka disergap di pintu keluar pembuangan air di Pluit."
"Putar baliknya! Sekarang!" teriak Saga, suaranya parau oleh ketakutan yang mendalam.
Kawasan Pluit di tengah malam tampak seperti rawa beton yang angker. Air pasang mulai naik, menggenangi jalanan dengan aroma garam dan limbah. Van hitam itu berhenti di dekat sebuah gudang tua yang terabaikan. Dari kejauhan, lampu sorot dari dua mobil patroli swasta milik Waskita menyambar-nyambar area pintu keluar drainase besar.
Saga melompat keluar bahkan sebelum van berhenti sempurna. Ia tidak lagi mempedulikan kakinya yang masih sedikit pincang. Di sana, di bawah todongan senjata lima pria berpakaian taktis, Sakti berlutut dengan wajah bersimbah darah. Bramasta tergeletak di sampingnya, pingsan dengan tangan terikat ke belakang.
"LEPASKAN MEREKA!" suara Saga menggema, menembus deru angin laut yang kencang.
Salah satu pria, yang tampaknya merupakan komandan tim pembersih, melangkah maju. Ia memegang ponsel yang tersambung dengan panggilan video. "Romo ingin bicara padamu, Nona Anindita."
Saga merebut ponsel itu. Di layar, wajah Romo Waskita tampak bengkak dengan perban di tangannya, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni.
"Pilihan yang adil, Saga," suara Romo terdengar parau dari pengeras suara ponsel. "Berikan jam saku itu dan ikutlah dengan orang-orangku secara sukarela. Jika kamu melakukannya, Sakti dan saudaramu akan hidup. Jika kamu menolak, mereka akan menjadi tumbal pertama bagi kebangkitan Dewan."
Saga melirik ke arah Nikolai yang sudah berada dalam posisi menembak di balik pilar beton. Namun, Nikolai memberikan isyarat gelengan kepala—terlalu banyak senjata yang diarahkan ke kepala Sakti. Satu gerakan salah, dan Sakti akan tamat.
Saga menatap Sakti. Pria tua itu, yang telah menjaganya sejak ia masih seorang gadis kecil yang menangis di pemakaman ibunya, menatapnya balik dengan sorot mata yang tenang. Sakti menggeleng pelan, bibirnya yang pecah menggumamkan kata-kata tanpa suara: Jangan... pergi.
"Romo," suara Saga berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kamu ingin aku? Kamu dapatkan aku. Tapi biarkan mereka pergi sekarang. Nikolai akan mengawal mereka ke kapal nelayan di dermaga tiga. Setelah mereka lepas jangkar, aku akan masuk ke mobilmu."
"Kesepakatan yang bagus," Romo menyeringai. "Lepaskan si tua itu dan bawa si lumpuh ke dermaga. Tapi Saga... jika Nikolai mencoba melakukan sesuatu yang lucu, pengawal pribadiku di sana tidak akan ragu menarik pelatuk."
Para pengawal itu melepaskan ikatan kaki Sakti. Sakti merangkak menuju Bramasta, memapah pria itu dengan susah payah. Nikolai mendekat, matanya tetap waspada pada setiap pergerakan musuh.
"Nona... jangan lakukan ini," bisik Sakti saat ia melewati Saga. Air mata bercampur air hujan jatuh di pipinya yang keriput. "Tuan Wirya memberikan nyawanya agar Anda bebas. Jangan menyerahkan diri Anda kembali ke neraka."
Saga memegang tangan Sakti sejenak. "Sakti, dengarkan aku. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Bawa Bramasta ke Singapura, temui Yudhistira. Gunakan dana dari Yayasan Melati Putih untuk menghilang. Jangan pernah kembali ke Jakarta."
"Tapi Nona—"
"Ini perintah terakhirku sebagai majikanmu, Sakti," Saga menatapnya dengan penuh kasih sayang sekaligus ketegasan. "Dan sebagai anakmu... tolong, tetaplah hidup."
Sakti terisak, sebuah pemandangan yang menghancurkan hati Saga. Nikolai menarik Sakti menjauh, menuju kapal nelayan yang sudah menunggu di kejauhan. Saga berdiri sendirian di bawah hujan, di kelilingi oleh lima moncong senjata yang siap menyalak.
Setelah kapal nelayan itu menghilang di balik kabut laut, Saga berbalik menuju mobil SUV milik Romo. Namun, saat ia baru melangkah dua kali, sebuah suara tembakan terdengar dari arah van hitam Nikolai.
Duar!
Salah satu pengawal Waskita jatuh tersungkur. Kekacauan pecah seketika.
"APA YANG KAMU LAKUKAN, NIKOLAI?!" teriak Saga.
Nikolai muncul dari kegelapan, bukan dengan senapan, melainkan dengan sebuah granat asap di tangannya. "Sokolov tidak pernah meninggalkan keluarga di tangan anjing, Saga! Berlari ke dermaga! SEKARANG!"
Asap putih pekat menutupi pandangan. Saga berlari sekuat tenaga menuju tepi dermaga. Ia bisa mendengar teriakan kemarahan dan suara baku tembak di belakangnya. Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menariknya ke balik tumpukan peti kemas.
Bukan Nikolai. Bukan Sakti.
Pria itu mengenakan seragam Yayasan Melati Putih. Itu adalah Beno, staf IT senior yang selama ini sangat dipercayai oleh Bramasta.
"Beno? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Saga terengah-engah.
Beno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menodongkan pistol ke perut Saga. Wajahnya yang biasanya ramah kini tampak dingin dan penuh perhitungan.
"Maafkan saya, Nona Saga. Tapi Romo memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh seorang pria dengan utang judi sebesar lima miliar rupiah," bisik Beno. "Anda adalah tiket saya untuk keluar dari kemiskinan ini."
Saga tertegun. Pengkhianatan selalu datang dari orang yang paling dekat. Di tengah badai dan peluru, ia menyadari bahwa Yayasan Melati Putih sudah disusupi sejak lama.
"Kamu pikir Romo akan membiarkanmu hidup setelah ini?" Saga mencoba tetap tenang. "Kamu hanyalah saksi yang tidak diinginkan bagi mereka."
"Lebih baik mati kaya daripada hidup sebagai pelayan selamanya," balas Beno sinis. Ia mulai menyeret Saga menuju mobil pengawal yang masih tersisa.
Namun, pengkhianatan Beno terhenti oleh sebuah suara dingin dari balik bayangan. "Filosofi yang buruk untuk seorang pengkhianat."
Crak!
Sebuah pisau taktis meluncur menembus leher Beno dari belakang. Pria itu jatuh tersungkur tanpa sempat mengeluarkan suara. Nikolai muncul, wajahnya bersimbah darah, namun matanya tetap tajam. Ia menatap mayat Beno dengan jijik.
"Satu lagi tikus yang dibersihkan," Nikolai menyeka pisaunya. "Ayo, Saga. Kita tidak punya banyak waktu. Kapal Sakti sudah aman, tapi helikopter Waskita sedang menuju ke sini."
Nikolai menarik Saga menuju sebuah speedboat militer yang tersembunyi di bawah dermaga. Mereka melesat menjauhi pantai Jakarta tepat saat beberapa mobil polisi dan tim Waskita menyerbu area gudang.
Di atas speedboat yang membelah ombak besar, Saga menatap lampu-lampu Jakarta yang perlahan mengecil. Kota tempat ia lahir, kota tempat ia menderita, dan kota yang baru saja ia bakar dengan kebenaran.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Saga, suaranya hilang diterjang angin laut.
"Ke perairan internasional," jawab Nikolai sambil memeriksa koordinat di jam tangannya. "Sebuah kapal pesiar pribadi milik Sindikat Sokolov sudah menunggu sepuluh mil dari sini. Di sana, ayahmu sudah menantimu."
Saga terdiam. Perpisahan dengan Sakti, kematian Beno, dan pengkhianatan yang baru saja terjadi membuatnya merasa seperti kulit yang dikuliti. Ia menatap jam saku di tangannya. Ia telah melewati garis merah, ia telah melewati peluru dan racun, dan sekarang ia akan melewati samudera untuk menemui pria yang menjadi sumber dari segala kekacauan hidupnya.
"Satu hal, Nikolai," Saga menoleh.
"Ya?"
"Jika ayahku ternyata sama buruknya dengan Romo Waskita... apakah kamu akan tetap melindungiku?"
Nikolai menatap Saga cukup lama, sebuah kilatan manusiawi muncul di matanya yang dingin. "Tugas saya adalah membawa Anda pulang, Saga. Tapi kesetiaan saya... kesetiaan saya hanya milik orang yang berani berdiri tegak di tengah hujan peluru demi orang-orang yang dicintainya. Anda sudah membuktikan itu malam ini."
Saga mengangguk pelan. Ia tidak lagi merasa sebagai Sasmita yang rapuh. Ia adalah Saga Anindita Sokolov. Dan jika ayahnya adalah seorang raja kegelapan, maka ia akan memastikan bahwa ia adalah orang yang akan membawa cahaya—atau api yang lebih besar—ke dalam kerajaannya.