Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Darius terus meronta-ronta di depan kantor sipil.
"Lepaskan aku!" bentaknya marah. "Aku tidak mau bercerai!"
Beberapa anak buah Lucien langsung menyeretnya masuk ke dalam gedung.
Langkah kaki mereka membuat suasana kantor sipil mendadak tegang.
Para pegawai dan pengunjung langsung menepi saat melihat sejumlah pria berpakaian hitam masuk bersama Lucien.
Aura mereka begitu menekan hingga tidak ada yang berani mendekat.
"Siapa mereka..."
"Itu Darius Fan, lalu siapa yang satu lagi?"
"Kenapa sampai membawa begitu banyak pengawal?"
Bisikan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.
Lucien masuk dengan langkah tenang sambil berdiri di samping Alyysa.
Tatapan dinginnya membuat suasana semakin sunyi.
"Bos, semuanya sudah siap," ujar salah satu anak buahnya hormat.
Lucien mengangguk kecil.
Sementara itu Darius masih berusaha melawan.
"Kalian tidak bisa memaksaku!" bentaknya keras. "Alyysa masih istriku!"
Brak!
Tubuh Darius dipaksa duduk di kursi depan meja.
Seorang pria menekan bahunya kuat-kuat agar tidak bangkit lagi.
"Lepaskan tangan kalian!" teriak Darius marah.
Lucien berjalan perlahan menghampirinya.
"Apa kau masih belum sadar dengan keadaanmu sekarang?" tanyanya dingin.
Darius menatap penuh kebencian. "Kau merebut semuanya dariku!"
Lucien tersenyum tipis.
"Kau sendiri yang menghancurkan semuanya."
Ia memberi isyarat kecil.
Salah satu anak buah langsung meletakkan surat perceraian dan pena di depan Darius.
"Tanda tangani," perintah Lucien.
"Aku tidak mau!" bentak Darius.
Tatapan Lucien langsung berubah gelap.
Beberapa pria di belakang Darius menekan tubuhnya lebih kuat hingga wajahnya berubah pucat menahan sakit.
"Kau pikir kau masih punya pilihan?" suara Lucien rendah dan penuh tekanan.
Darius menggertakkan giginya.
Tatapannya perlahan beralih pada Alyysa.
Wanita itu berdiri tenang di samping Lucien tanpa sedikit pun rasa iba.
Hati Darius semakin sesak.
Tangannya gemetar saat mengambil pena.
Dengan penuh rasa tidak rela...
Coret.
Namanya akhirnya tertulis di surat perceraian itu.
Tatapan Darius kosong menatap tanda tangannya sendiri di atas surat perceraian.
Tangannya masih gemetar.
Di depannya, Lucien berdiri tenang seperti seorang pemenang.
Sementara Alyysa bahkan tidak menoleh lagi padanya.
Hati Darius terasa semakin hancur.
"Aku tidak punya kesempatan bangkit lagi..." batin Darius penuh kebencian. "Lucien sengaja menggunakan cara ini untuk memaksaku bercerai."
Setelah Alyysa menandatangani surat perceraian, petugas langsung menyerahkan dokumen resmi kepada mereka.
Hubungan Alyysa dan Darius akhirnya benar-benar berakhir.
Darius menatap semuanya dengan mata merah penuh kebencian.
Namun beberapa anak buah Lucien langsung menyeretnya keluar dari ruangan tanpa memberi kesempatan bicara lagi.
"Lepaskan aku!" bentaknya marah.
Brak!
Tubuh Darius didorong begitu saja hingga terkapar di depan tangga kantor sipil.
Orang-orang di sekitar langsung menjauh sambil memandangnya diam-diam.
Darius mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Tatapannya dipenuhi kebencian dan rasa tidak rela.
"Lucien Fan!" teriaknya marah. "Kau akan menyesal!"
Namun tidak ada yang memedulikannya.
Di dalam kantor sipil...
Suasana jauh berbeda.
Lucien berdiri di samping Alyysa di depan meja pendaftaran pernikahan.
Petugas beberapa kali melirik mereka dengan gugup karena aura pria itu terlalu menekan.
"Apakah kalian berdua benar-benar ingin mendaftarkan pernikahan ini?" tanya petugas hati-hati.
"Aku bersedia," jawab Lucien tanpa ragu.
Tatapannya langsung tertuju pada Alyysa.
Wanita itu menggenggam dokumen di tangannya perlahan sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku juga bersedia."
Petugas segera memproses dokumen mereka.
Beberapa menit kemudian...
Dua buku pernikahan resmi diletakkan di atas meja.
"Mulai hari ini," ujar petugas, "kalian telah resmi menjadi suami istri."
Untuk sesaat Alyysa masih terasa tidak percaya.
Tiga bulan lalu dirinya masih terjebak dalam rumah tangga yang menyakitkan.
Tetapi sekarang...
Statusnya telah berubah menjadi istri Lucien Fan.
Lucien mengambil buku pernikahan itu lalu menggenggam tangan Alyysa perlahan.
Tatapan pria itu begitu dalam.
"Akhirnya," ucapnya rendah, "kau resmi menjadi milikku."
Wajah Alyysa langsung memanas.
Di luar gedung...
Darius yang masih terkapar perlahan mengangkat kepala.
Saat melihat Lucien keluar sambil menggenggam tangan Alyysa, matanya langsung dipenuhi kegilaan dan kebencian.
Karena mulai hari itu...
Wanita yang dulu begitu mencintainya benar-benar menjadi milik pria lain.
"Kalian pasti sudah merencanakannya dari awal!" teriak Darius penuh kebencian sambil berlari menghampiri mereka. "Lucien Fan! Aku adalah keponakanmu! Bagaimana bisa kau merebut istriku?!"
Tatapan Lucien langsung berubah dingin.
Brak!
Tanpa ragu pria itu menendang perut Darius dengan keras.
"Ughhh!"
Tubuh Darius langsung terkapar di lantai.
Wajahnya pucat sambil memegangi perutnya kesakitan.
Lucien berdiri tegak sambil menatap keponakannya dengan sorot penuh tekanan.
"Alyysa bukan barang milikmu," ucapnya dingin. "Kau sendiri yang membuangnya."
Darius menggertakkan gigi sambil menahan sakit. "Kau merebut keluargaku..."
Lucien tertawa tipis penuh penghinaan.
"Keluarga?" ulangnya pelan. "Sejak kapan pria yang tidur dengan wanita lain saat istrinya hamil pantas menyebut dirinya keluarga?"
Wajah Darius langsung berubah jelek.
Lucien melangkah mendekat lalu menatapnya tajam dari atas.
"Kalau kau masih ingin tinggal di kota ini bersama ibumu," ucapnya rendah namun penuh ancaman, "lebih baik jangan pernah muncul lagi di depan Alyysa maupun diriku."
Tatapan Lucien semakin gelap.
"Aku bisa membuat kalian kehilangan segalanya. Termasuk nyawa kalian."
Setelah itu Lucien langsung menggenggam tangan Alyysa dan membawanya menuju mobil hitam mewah yang sudah menunggu.
Pintu mobil dibukakan hormat oleh anak buahnya.
Lucien membantu Alyysa masuk terlebih dahulu sebelum dirinya ikut duduk di samping wanita itu.
Pintu mobil tertutup perlahan.
Sementara di luar...
Darius masih terkapar di tanah dengan wajah penuh kebencian dan putus asa saat melihat mobil itu perlahan pergi menjauh membawa Alyysa pergi begitu saja.
"Aku harus bangkit dan merebut hak asuh anakku, Kael adalah satu-satunya darah dagingmu. Aku harus mendapatkannya," gumam Darius.
jadi kael adalah anak kandung dan anak secara biologisnya si lucien.
tp mereka aja yang belum menyadari.
ayo thor, ndang sat set gitu loh
klo ngak kasihan Kael dan Alyssa
cerita ini gokil banget.
tokoh tokoh ya mulai tokoh utama sampai tokoh pendamping ada gregetnya.
dan yang paling aku suka adalah tokoh ini si kecil kael yang pemberani. allyysa wanita yang tidak mudah ditindas. dan kepala keluarga lucien semoga tetep bisa menjadi pengayom bagi keluarga.
lawan mereka yang berusaha menindasmu dan ibumu
bagus kael.
bagus allyysa.
gk mungkin si Darius menghilang d telan bumi
bagus kael. lawan dia yang bikin gara gara sama kamu aku mendukungmu.
selagi kau tidak bersalah jangan pernah tunduk sama siapapun kecuali sama ibumu.
ha ha ha ha
jangan jangan si kael ini adalah anak kandung dari lucien ya.
aku kok berharapnya seperti itu. bukan cuma sebagai anak sambung saja.
thor, bikinlah cerita seperti itu 😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
jadilah wanita tangguh. selidiki anak itu tanpa sepengetahuan lucien. yaaah untuk berjaga jaga aja. karena aku iru curiga anak itu bukan anaknya lucien. aku curiga ini hanya jebakan untuk lucien.