masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. inilah jadinya
Edward melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.
Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tanpa suara. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang dingin, sebuah senyuman yang sama sekali tidak menyiratkan keramahan.
"Ssst, percuma saja kau berteriak. Meski ada orang yang mendengarmu, mereka tak akan berani," bisik Edward. Suaranya berat dan rendah, namun memiliki daya tekan yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa menyesakkan.
Gadis di hadapannya terengah, tangannya yang masih menggenggam gelang berkeringat dingin. Matanya melebar, memancarkan rasa tidak percaya dan ketakutan yang mulai menjalar.
Edward menatap ke dalam manik mata yang bergetar itu, menikmati kebingungan yang terpancar jelas di sana. "Kau ingin tahu semuanya? Kau pasti bingung kenapa, kan?"
Jeda sejenak sengaja diciptakan Edward, membiarkan ketegangan batin lawan bicaranya meningkat hingga ke puncaknya.
"Aku memang sering datang ke Targus untuk urusan penting. Aku selalu menyamar menjadi Eddy saat sedang memata-matai kelompok Brox. Tujuanku hanya satu: memenggal kepalanya," ucap Edward tanpa beban, seolah membicarakan kematian seseorang adalah perkara sepele seperti membalik telapak tangan. "Tapi tak disangka, aku malah bertemu denganmu di sana."
Tatapan Edward menajam, menguliti ekspresi wajah di depannya yang kian pias. "Kau tak sadar bahwa Eddy yang ada di depanmu itu bukanlah pria bungkuk seperti kelihatannya?"
Pertanyaan retoris itu menghantam kesadaran Morline. Ingatannya berputar cepat pada sosok Eddy, pria baik yang memiliki kekurangan fisik, sosok yang selama ini dia anggap tidak berdaya dan luput dari kecurigaan siapa pun. Bagaimana mungkin pria perkasa yang berdiri di hadapannya saat ini, dengan aura mengintimidasi yang begitu pekat, adalah orang yang sama?
"Tapi kenapa...?" Suara Morline bergetar, hampir habis di tenggorokan. Dia menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kenapa Anda sampai seperti itu? Hanya untuk membunuh ketua kelompok radikal?"
Edward tidak langsung menjawab. Dia justru terkekeh rendah.
"Tidak sesederhana yang kau pikir," sahut Edward, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuhnya yang tegap sepenuhnya mengurung tubuh Morline. "Bukankah Bou dan kelompoknya mengusirmu? Mereka terlalu curiga. Aku mencari cara aman dengan menyamar sebagai pria tak berdaya seperti Eddy. Eddy yang asli kukirim sementara waktu ke kota, menyuruhnya agar tak terlihat banyak orang."
Edward perlahan menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya hingga embusan napasnya yang hangat menerpa pipi gembul gadis itu. Jarak yang begitu intim, namun terasa begitu mencekik bagi Morline.
"Lagipula, aku datang ke Targus tidak hanya dengan satu alasan. Banyak alasan untuk aku ada di sana," bisik Edward ke telinganya, menyisakan sensasi meremang yang dingin.
Lalu, seolah belum cukup menghancurkan fondasi kenyataan yang diyakini Morline, Edward menegakkan sedikit kepalanya, menatap langsung ke dalam mata yang mulai berkaca-kaca itu, dan menjatuhkan satu fakta terakhir yang mengguncang batinnya.
"Bibi Seraphina juga tahu itu."
Nama itu bagai petir di siang bolong. Jantung Morline rasanya berhenti berdetak seketika. Seluruh sendinya mendadak lemas, seolah tumpuan hidupnya baru saja ditarik paksa.
"Nyonya... Seraphina?" gumamnya dengan suara parau, nyaris tak terdengar.
Pikiran gadis itu kacau balau. Wanita paruh baya yang selama ini ia hormati, sosok yang dia anggap panutannya ternyata adalah bagian dari permainan yang rumit ini. Di bawah bayangan pohon cemara, di bawah tatapan tajam Edward, dia menyadari bahwa dirinya telah dipermainkan selama ini.
Morline mengingat kata-kata Eddy yang selalu pria itu ucapkan. "Aku memang selalu berhati-hati." Selama ini dia tak menyadari makna ganda kalimat yang terucap dari pria yang lemah tak berdaya sepert Eddy.
Lalu hal yang tak bisa Morline tabak selanjutnya adalah nyonya Seraphina? wanita itu ternyata mengetahuinya? Apakah ketika dia memanggil dirinya untuk pertama kali adalah bagian dari rencana nyonya seraphina?
"Nyonya seraphina, dia...." membayangkan bahwa wanita itu telah sengaja mengatur pertemuan dirinya dan Edward, Morline hampir tak bisa mempercayainya.
"Ya...."
Bisikan Edward terdengar begitu rendah, sedikit serak karena desakan emosi yang mendalam. Sentuhan intim dari napasnya yang hangat kini terasa nyata di permukaan kulit Morline, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat.
Edward tidak memberikan ruang untuk bernapas. Pria itu semakin memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Dia mengunci manik hijau jernih milik Morline dengan sepasang mata gelapnya yang kelam, sebuah tatapan yang tidak lagi menyembunyikan apa pun, sarat akan tuntutan, kepemilikan, dan obsesi yang membakar.
"Morline, tetaplah bersamaku," pinta Edward, namun nada suaranya lebih terdengar seperti perintah mutlak yang tak terbantahkan.
"Aku mencintaimu... sedalam dari apa yang kau tahu."
Kata cinta itu meluncur dari bibir Edward.
Morline merasa jantungnya berdegup begitu kencang. Baginya ini tidak masuk akal, tidak ada plot atau alur yang menceritakan dimana Edward menyatakan cinta pada dirinya. Ini sudah diluar skenario yang Morline tebak.
Dia mundur, mengambil jarak pemisah antara dirinya dan ketidaknyamanan yang Edward ciptakan.
Tatapan morline nanar dengan manik bergetar, di depannya seolah dirinya melihat seorang monster yang baru saja menunjukkan dirinya. Dia tahu Edward itu memiliki niat memberontak pada kerajaan, dia tahu Edward menginginkan kekuasaan tapi apakah dengan cara seperti ini?
seharusnya pria itu mengumpulkan pasukannya, memperkuat pengaruhnya, bukan seperti ini yang seharusnya terjadi. Morline menggeleng pelan, menolak kenyataan bahwa ambisi Edward justru tertuju padanya.
"An-anda gila! Saya... saya tak mau!"
Suara Morline bergetar hebat, pecah di udara. Ketakutan yang membuncah memberi kekuatan mendadak pada kakinya.
Berikut versi yang lebih panjang, dengan alur dan perasaan yang lebih tergambar:
Cedric baru saja melangkah masuk ke dalam taman setelah nyonya seraphina mengarahkannya untuk ke sana. Namun langkahnya terhenti seketika. Sesuatu terasa tidak beres, suasana yang biasanya tenang dan damai kini terasa mencekam dan penuh ketidakwajaran. Matanya segera menangkap sosok dua orang yang berdiri tidak jauh darinya: Pangeran Edward dan Morline. Keduanya tampak dipenuhi ketegangan yang sulit dijelaskan, seolah baru saja terjadi sesuatu yang berat di antara mereka.
Belum sempat Cedric membuka mulutnya untuk menyapa, Morline tiba-tiba berbalik dan menatapnya dengan pandangan yang bercampur antara takut dan lega. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung menerjang ke arah Cedric dan memeluknya erat-erat, seolah itu satu-satunya tempat perlindungan yang tersisa baginya. Suaranya terdengar parau dan bergetar, hanya cukup didengar oleh Cedric sendiri.
"Yang Mulia..." bisiknya tergesa-gesa, napasnya tersengal-sengal. "Tolong... bawa saya pergi dari sini.''
Jelas terlihat Morline sedang mengalami guncangan hebat. Tubuhnya sedikit gemetar, dan tatapannya terlihat kosong seolah pikirannya sedang melayang jauh. Meskipun sangat heran dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Cedric tidak membuang waktu. Ia merangkul bahu wanita itu dengan lembut, memberikan rasa aman, lalu membawanya pergi dari taman itu dengan langkah cepat. Morline tetap memeluknya erat sepanjang perjalanan, seolah takut jika dia ia melepaskannya, sesuatu yang buruk akan menimpanya.
Sesampainya di dalam kereta kuda yang mulai bergerak menjauh dari area kediaman duchess, keheningan menyelimuti keduanya. Morline tetap duduk membisu, matanya menatap kosong ke arah jendela tanpa benar-benar melihat apa pun yang ada di luar. Wajahnya pucat pasi, dan sesekali napasnya terhela pendek seolah sedang menahan sesuatu yang berat di hatinya.
Cedric mengamatinya dengan prihatin. Setelah beberapa saat menunggu agar suasana sedikit lebih tenang, dia akhirnya membuka suara dengan nada lembut.
"Morline," panggilnya pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau terlihat begitu ketakutan tadi? Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"
Morline menunduk dalam, jari-jarinya saling menggenggam erat. Dia tampak ragu, seolah sedang bergumul dengan pikirannya sendiri, tidak tahu harus mulai dari mana atau apakah dia ia boleh menceritakannya. Cedric tidak memaksanya berbicara dengan tergesa-gesa, dia hanya menunggu dengan sabar, sesekali mengucapkan kata-kata penenang untuk meyakinkannya bahwa dia ia aman sekarang.
Setelah jeda yang cukup panjang, diiringi suara derap kaki kuda yang memecah keheningan, Morline akhirnya mengangkat wajahnya. Air mata nyaris menetes di pelupuk matanya saat ia menatap Cedric.
"Yang Mulia..." suaranya terdengar lirih dan penuh keraguan. "Apakah... apakah Anda percaya bahwa Pangeran Edward bisa menyukai saya?"
Cedric mengerutkan kening, merasa semakin bingung dengan pertanyaan itu. "Memangnya kenapa kau bertanya hal seperti itu? Apakah Pangeran Edward telah mengancammu atau berkata sesuatu yang menyakitkan hatimu di taman tadi?"
Morline menggeleng pelan, namun ketakutan di matanya tidak kunjung hilang. "Ini lebih dari sekadar ancaman, Yang Mulia. Saya....''
Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan, meski suaranya masih terdengar goyah. "Mungkin... mungkin saya salah memahami maksud perkataan Pangeran Edward di taman tadi. Bisa jadi saya terlalu berlebihan dalam menanggapinya, sehingga membuat reaksi saya menjadi tidak terkendali seperti itu."
Cedric terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap dalam pikirannya. Ia masih belum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Namun, melihat keadaan Morline yang masih sangat terguncang, dia memutuskan untuk tidak memaksanya bercerita lebih lanjut saat ini. Dia bertekad, nanti ketika kesempatan tiba, dia akan menemuinya sendiri dan menanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi.