update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Tenang
Mobil hitam itu melaju tanpa suara yang berarti. Di dalamnya, suasana lebih hening dari luar.
Guo Linghe duduk di kursi belakang, tubuhnya bersandar, satu tangan bertumpu ringan di sandaran, sementara matanya mengarah ke luar jendela.
Lampu kota bergerak cepat, terpantul di kaca, lalu menghilang tanpa bekas. Seperti biasa. Seperti semua hal dalam hidupnya. Datang. Terlihat. Lalu selesai. Tidak ada yang benar-benar menetap.
Namun malam ini… ada satu hal yang tidak langsung hilang. Sesuatu yang seharusnya tidak penting. Tapi tetap tinggal.
Lin Yinjia.
Linghe menutup matanya sejenak. Bukan untuk beristirahat. Lebih untuk… merapikan pikirannya. Ia bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh hal kecil. Selama ini, semua yang ia lakukan selalu terarah. Semua orang yang masuk ke dalam hidupnya memiliki tujuan. Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada yang tanpa nilai. Namun gadis itu—
Tidak masuk dalam kategori apa pun. Bukan orang penting. Bukan orang yang berguna. Bahkan bukan orang yang mencoba mendekat. Dan justru karena itu…
Ia terlihat.
Mobil berhenti.
“Presiden Gu, sudah sampai,” suara sopir terdengar pelan.
Linghe membuka mata. Tatapannya kembali dingin seperti biasa. Seolah semua yang tadi ada… sudah tidak berarti.
Ia turun dari mobil tanpa terburu-buru. Langkahnya tetap tenang, masuk ke dalam rumah besar yang terlalu luas untuk satu orang. Lampu menyala otomatis. Ruangan itu rapi. Terlalu rapi. Tidak ada jejak kehidupan yang benar-benar terasa.
Linghe melepas jasnya, meletakkannya sembarangan di sofa. Ia berjalan ke arah meja kerja tanpa mengganti pakaian. Laptop dibuka. Dokumen ditarik. Semua kembali seperti biasa. Angka. Laporan. Keputusan. Hal-hal yang nyata. Hal-hal yang bisa dikontrol. Namun beberapa menit berlalu—
Dan satu baris laporan tidak terbaca dengan benar. Matanya berhenti. Bukan karena tidak mengerti. Tapi karena pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ia menghela napas pelan. Tangannya berhenti mengetuk meja. Lalu, tanpa banyak pertimbangan—
“Song Jian.” Suaranya datar saat panggilan tersambung.
“Presiden Gu?”
“Data magang.”
“Yang mana?”
“Semua.”
Ada jeda kecil di sana. Song Jian bukan orang yang mudah bertanya, tapi kali ini… ia jelas berpikir. “…Baik. Akan saya kirim sekarang.”
Panggilan terputus. Linghe tidak bergerak. Ia tidak menjelaskan.Tidak merasa perlu. Beberapa menit kemudian, file masuk. Linghe membukanya tanpa ekspresi. Nama-nama muncul satu per satu.Profil singkat. Latar belakang. Kemampuan.
Ia tidak membaca semuanya. Matanya bergerak cepat. Melewati banyak nama. Sampai akhirnya berhenti.
Lin Yinjia.
Mahasiswi semester 4. Nilai cukup baik. Latar belakang keluarga sederhana. Tidak ada sesuatu yang menonjol. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Sederhana. Terlalu sederhana untuk berada di tempat seperti itu. Namun Linghe tidak langsung menutup file itu.
Matanya berhenti sedikit lebih lama. Bukan membaca. Lebih seperti… mengingat. Cara Yinjia berdiri. Cara ia bicara. Cara ia hampir jatuh… dan tidak menarik tangannya. Tidak panik. Tidak dramatis. Hanya… jujur.
Linghe menutup laptopnya. Cukup. Ia tidak butuh alasan lebih. Tidak semua hal perlu dijelaskan.
Di sisi lain kota—
Lin Yinjia baru saja sampai di rumah. Pintu dibuka pelan. Lampu ruang tamu masih menyala. Ibunya tertidur di sofa, televisi masih menyala dengan suara kecil. Ayahnya duduk di kursi, membaca sesuatu, tapi jelas sudah lelah.
Yinjia berdiri di ambang pintu beberapa detik.Rasa hangat langsung datang. Berbeda dengan hotel tadi. Berbeda dengan kantor. Di sini… ia tahu tempatnya.
“Kamu pulang?” suara ayahnya pelan.
Yinjia tersenyum kecil. “Iya.” Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan mendekat.
“Capek?” tanya ayahnya.
“Lumayan.” Tidak berlebihan. Tapi jujur.
Ibunya terbangun pelan, mengusap mata. “Kamu makan di sana?”
“Iya, Bu.” Ibunya mengangguk, lalu berdiri. “Bagus. Jangan sampai kamu kelaparan.” Kalimat sederhana. Tapi membuat dada Yinjia terasa hangat.
Ia duduk di samping ibunya, membiarkan dirinya sebentar… tidak berpikir. Tidak tentang pekerjaan. Tidak tentang Zhenrui. Tidak tentang siapa pun. Hanya… menjadi dirinya sendiri. Namun saat ia bersandar—
Satu hal kembali muncul. Tangan itu. Cara seseorang menahannya. Refleks. Tenang. Seolah ia tidak pernah ragu. Yinjia mengerutkan dahi kecil. “Aneh…” gumamnya pelan.
“Apa?” ibunya menoleh.
“Enggak, Bu.” Ia cepat menggeleng. Ia tidak mungkin menjelaskan hal seperti itu. Tidak penting. Seharusnya tidak penting.
Ia berdiri. “Aku mau mandi dulu.”
Ibunya mengangguk.
Yinjia masuk ke kamarnya, menutup pintu pelan. Ruangan kecil itu langsung terasa familiar. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke depan. Sepatu belum dilepas. Tas masih di tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak pulang—
Ia benar-benar diam. Tidak melakukan apa-apa. Tidak berpikir tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Hanya… mengingat. Tatapan itu. Jarak itu. Suara itu. Dan hal yang paling ia hindari untuk akui— Ia tidak takut. Ia justru… sadar. Bahwa pria itu berbeda. Dan itu berbahaya. Malam semakin larut. Dua orang di tempat berbeda—
Sama-sama kembali ke kehidupan mereka. Namun tanpa mereka sadari— Sebuah garis halus sudah mulai terbentuk. Tidak terlihat. Tidak terasa jelas. Tapi ada. Dan garis itu…
Tidak akan berhenti hanya di pertemuan kecil. Keesokan paginya— Kantor kembali sibuk seperti biasa. Yinjia datang lebih awal. Bukan karena rajin. Tapi karena ia tidak ingin terlambat. Tidak setelah apa yang ia dengar semalam. Ia duduk di mejanya, membuka dokumen, mencoba fokus.Namun pikirannya masih belum sepenuhnya tenang.
Sampai langkah kaki terdengar mendekat. “Datang lebih awal?”
Suara itu membuat Yinjia menoleh cepat. Song Jian berdiri di samping mejanya. Wajahnya seperti biasa—tenang, sulit ditebak. “Iya, Pak,” jawab Yinjia.
Song Jian mengangguk sedikit. “Bagus.” Ia tidak memuji. Tapi tidak juga dingin. Ia meletakkan satu map di meja Yinjia. “Kerjakan ini.”
Yinjia menatap map itu.“Tugas baru?”
“Ya.” Singkat.Seperti biasa. Namun sebelum ia pergi—
Song Jian berhenti sejenak. “Presiden Gu akan melihat hasilnya.”
Kalimat itu membuat Yinjia langsung menegang. “Langsung…?”
“Tidak perlu panik,” jawab Song Jian. “Kerjakan saja dengan benar.” Lalu ia pergi.
Yinjia menatap map di depannya. Tangannya perlahan menyentuh permukaannya. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Ini bukan tugas biasa. Dan tanpa ia sadari—
Seseorang di lantai atas…
Sudah mulai mengarahkannya. Perlahan. Tanpa ia minta. Tanpa ia tahu.
Lampu-lampu gantung di ballroom hotel itu memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer yang mengilap. Suasana terlihat mewah, tapi bagi Lin Yinjia, semua itu justru terasa menekan. Ia berdiri di dekat pintu masuk, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar, mencoba menenangkan kegugupan yang sejak tadi tidak juga mereda.
Gaun yang ia kenakan sederhana—tidak buruk, tapi jelas tidak sebanding dengan para tamu lain yang tampak seperti datang dari dunia yang berbeda. Gaun mereka berkilau, langkah mereka percaya diri, dan tawa mereka ringan, seolah hidup memang selalu berpihak pada mereka.
Yinjia menarik napas perlahan. Ini hanya makan malam perusahaan. Tidak lebih. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ini pertama kalinya ia benar-benar masuk ke dunia orang-orang yang selama ini hanya ia lihat dari jauh—dunia yang penuh kekuasaan, uang, dan aturan tak tertulis yang tidak ia pahami.
“Yinjia.”
Suara itu membuatnya menoleh cepat. Xu Yara berjalan mendekat, mengenakan gaun hitam yang pas di tubuhnya, riasannya sempurna, senyumnya tipis tapi tajam.
“Kamu datang juga,” kata Yara, matanya menyapu Yinjia dari atas ke bawah. Tidak ada kata hinaan, tapi cara ia melihat sudah cukup menjelaskan semuanya.
Yinjia memaksakan senyum kecil. “Ini acara perusahaan. Aku harus datang.”
Yara tertawa pelan, seolah mendengar sesuatu yang lucu. “Iya, benar juga. Magang sepertimu memang harus terlihat rajin.” Nada itu halus, tapi menusuk.
Yinjia tidak menjawab. Ia sudah terlalu lelah untuk menanggapi setiap sindiran kecil yang datang, apalagi dari seseorang yang dulu ia anggap sebagai sahabat.
Mereka berjalan masuk bersama, tapi jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sebelumnya. Di dalam, suasana semakin ramai. Para karyawan berbicara dalam kelompok kecil, beberapa tertawa, beberapa sibuk membangun relasi. Musik lembut mengalun, menambah kesan elegan yang justru membuat Yinjia semakin merasa tidak pada tempatnya. Ia berdiri di sudut, mencoba menghilang di antara keramaian.
Sampai seseorang menyebut nama yang membuat seluruh ruangan perlahan berubah.“Direktur Gu sudah datang.” Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat banyak orang berhenti berbicara sejenak.
Yinjia tidak langsung menoleh. Namun, entah kenapa, suasana tiba-tiba terasa lebih berat. Seolah udara di dalam ruangan ikut menahan napas. Langkah kaki terdengar pelan, stabil, tidak terburu-buru. Dan ketika Yinjia akhirnya menoleh— ia melihatnya.
Guo Linghe.
Pria itu tidak perlu melakukan apa pun untuk menarik perhatian. Ia hanya berjalan masuk, mengenakan setelan hitam yang rapi, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebihan, tapi kehadirannya langsung mengubah atmosfer ruangan.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan berlebihan. Hanya ketenangan yang dingin. Dan justru itu yang membuat semua orang memperhatikannya. Orang-orang mulai memberi ruang tanpa disuruh. Beberapa menyapanya dengan sopan, sedikit menunduk, seolah ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Linghe hanya mengangguk tipis. Singkat. Jelas. Tanpa basa-basi. Yinjia tidak tahu kenapa matanya sulit berpaling. Bukan karena pria itu tampan—meskipun memang tidak bisa disangkal—tapi lebih karena aura yang ia bawa. Berbeda.
Tidak seperti Zhenrui yang selalu ingin terlihat hebat. Tidak seperti orang lain yang berusaha menonjol. Linghe… hanya berdiri di sana, dan dunia seolah menyesuaikan diri dengannya. Tanpa usaha. Tanpa suara. Tanpa emosi yang bisa dibaca.
Yinjia menelan pelan, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terlihat menatap terlalu lama. Namun, di sisi lain ruangan— Linghe berhenti melangkah sejenak. Matanya menyapu ruangan dengan tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa menilai situasi dalam satu pandangan. Dan tanpa alasan yang jelas—
tatapannya berhenti. Pada satu titik. Pada seseorang yang berdiri terlalu diam di tengah keramaian. Gadis itu tidak mencolok. Gaunnya sederhana. Sikapnya canggung. Tapi justru karena itu—
ia berbeda.
Linghe memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Bukan karena tertarik. Belum. Lebih seperti… mencatat. Sesuatu yang tidak sesuai dengan tempatnya. Sesuatu yang terlihat rapuh, tapi tetap berdiri. Sesuatu yang—
tidak mencoba menarik perhatian, tapi tetap terlihat. Matanya sedikit menyipit. Lalu ia berjalan lagi, seolah tidak terjadi apa-apa. Acara berlanjut.
Pidato singkat diberikan. Para tamu mulai berpindah tempat. Gelas-gelas anggur diangkat, percakapan kembali hidup. Yinjia mencoba fokus pada rekan magangnya, ikut berbicara seperlunya, mengangguk saat dibutuhkan. Ia berusaha terlihat normal, meskipun pikirannya masih belum sepenuhnya tenang. Sesekali, ia merasa seperti sedang diawasi. Tapi setiap kali ia menoleh— tidak ada siapa pun. Atau mungkin…
ia hanya terlalu gugup.
Di sisi lain, Linghe berdiri bersama beberapa eksekutif senior. Pembicaraan mereka serius, membahas proyek dan angka, sesuatu yang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun, di sela-sela percakapan—
pandangannya sesekali kembali ke arah yang sama. Ke sudut ruangan. Ke gadis itu. Ia tidak melakukan apa pun. Tidak mendekat. Tidak berbicara. Hanya memperhatikan. Diam. Seperti seseorang yang belum memutuskan apakah sesuatu itu penting… atau tidak.
Malam itu berakhir tanpa kejadian besar. Tidak ada percakapan di antara mereka. Tidak ada interaksi. Tidak ada alasan untuk mengingat satu sama lain. Namun— ketika Yinjia meninggalkan ballroom dan menghirup udara malam yang lebih dingin— ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang, untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama…
memperhatikannya lebih dari sekadar sekilas. Dan bagi Guo Linghe— itu sudah cukup untuk memulai sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.