NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT IV—{Chapter 3}

   Bel panjang bergema di seluruh lantai, disusul dengan musik yang kembali diputar di klub penyiaran. Waktu istirahat telah habis. Para gadis mulai beranjak pergi dari lingkaran diskusi. Sementara satu atau dua orang merapikan kursi dan menyiapkan peralatan memasak, anggota yang lain pergi ke Fe-Mart. Barang-barang yang akan dibeli telah ditulis rapi di selembar kertas kecil guna menghemat waktu. Beberapa daftar bahkan dicetak tebal menggunakan pulpen berwarna merah agar tampak menyala, lengkap dengan garis bawah dan catatan darurat seperti ‘Jangan lupa margarin!’ atau ‘Kalau habis, cari alternatif’.

   “Oi, katanya kita akan membuat kue. Kenapa di sini tertulis ramen?” Salah seorang gadis berdiri di depan rak dengan wajah bingung. Dia menggaruk kepalanya sambil menatap lekat daftar belanjaan, berharap akan tulisan itu berubah menjadi sesuatu yang terdengar lebih normal.

   “Memang itu tujuannya! Agar terlihat menjijikan!” Anggota lain yang sedang mendorong troli menyahut sesaat. Suaranya yang lantang menggema di seluruh penjuru Fe-Mart. Pasang-pasang mata langsung spontan tertuju. Tapi bukan untuk mencerna maksud dari ucapannya, melainkan untuk bergidik jijik.  

   Tepat di samping Fe-Mart, dapur asrama dibuka lebar-lebar. Pintu kayu setinggi dua meter itu terbuka ke dua sisi, menganga seperti gerbang medan perang yang siap menyambut rombongan para gadis. Rak-rak logam berderet rapi, dipenuhi berbagai macam peralatan masak yang bisa dipinjam selama permainan berlangsung—wajan berbagai ukuran, panci besar, baskom plastik, mixer tua yang kadang berdecit saat dipakai, hingga alat pemanggang dan sendok takar yang menggantung berjajar seperti alat bedah. Kelima petugas berseragam serba coklat tersebar di beberapa meja pencatatan. Mereka tampak sibuk, sebagian membolak-balik daftar nama peserta, sebagian lagi mencatat barang pinjaman dengan ekspresi penuh fokus. Sistemnya sederhana: siapa cepat, dia dapat. Tidak ada reservasi, tidak ada ganti rugi kalau telat.

   “Erica, begini?” Ayaa memanggil nama juniornya itu, menunjukkan padanya tentang bagaimana hasil dari tepung terigu yang diayaknya.

   “Dasar payah.” Villy tiba-tiba muncul di belakangnya sambil meletakkan wadah kocokan telur dan gula. Dia memukul tengkuk kepala si sobat masa kecilnya itu sebelum kemudian lanjut berkata, “Kau kira ini gasing, hu?” Dia merebut saringan dari tangan Ayaa. Dahinya berkerut, membuat alisnya nyaris saling bertaut. “Bukan diputar-putar begini. Lihat baik-baik, ini hanya perlu diketuk perlahan secara bertahap sampai tepungnya jatuh ke bawah.” 

   “Ah, masa bodoh. Sama saja, tahu. Tepungnya berakhir dengan jatuh ke wadah.” Ayaa membalas dengan nada sinis, lalu mengambil kembali saringan dari tangan Villy.

   Villy hanya berwajah datar, menganggap bahwa tidak ada spesialnya dari tindakan menyebalkan Ayaa karena ini jelas bukan pertama kalinya ia mengalami. Ia pun dengan santai membalas balik, “Gayung dan gelas juga sama-sama berfungsi sebagai tempat menyimpan air. Menurutmu apakah kau minum air dari gayung?”

   Ayaa memicingkan mata. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, dia mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah Villy.

   Semilir angin berembus pelan dari koridor, kemudian masuk ke dalam kamar hanya untuk mengantarkan dingin yang menusuk. Selama tantangan memasak berlangsung, semua pintu kamar dibiarkan terbuka. Dengan begitu para juri bisa bebas berkeliling, mengintip proses, dan menilai kerja sama serta kreativitas tiap tim secara langsung. 

   “Erica!” Karinn memanggil namanya sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meminta perhatian. 

   Erica sedang membuat adonan buttercream. Tepatnya sedang mengocok semua campuran bahan menggunakan mixer, jadi indra pendengarannya mengalami penurunan fungsi. Irene pun menyenggol tangannya, lalu memberi kode ke arah Karinn melalui pergerakan manik matanya. “Ada apa, Karinn?” tanyanya setelah ia mematikan tombol mixer.

   “Aku baru sadar. Loyangnya terlalu pendek.” Karinn memperlihatkan loyang persegi panjang yang tadi dipinjamnya dari dapur asrama. Dia melirik sesaat pada Erica, kemudian kembali sibuk membuka bungkus kemasan mentega yang nantinya akan diolesi ke permukaan loyang.

   “Kau cuma ambil satu loyang, ya? Kalau begitu kita buat kuenya tiga tingkat.” Tatapan mata Erica beralih kepada Villy dan Ayaa, yang kemudian secara serempak dibalas dengan acungan jempol. Artinya, keduanya harus membuat adonan lagi setelah yang pertama selesai.

   Adonan kue pertama telah siap. Irene bergegas menuruni tangga menuju lantai satu, membawa loyang berisi adonan yang sudah dituang rapi. Sesampainya di tujuan, dia pergi menuju deretan oven dan menyetel salah satunya ke suhu 170°C selama dua puluh lima menit. Sambil menunggu pemanasan awal, dia mencatat nomor ovennya di secarik kertas kecil dan menyelipkannya ke saku hoodie—hal sederhana agar tidak tertukar dengan milik tim lain. Begitu loyang masuk ke dalam oven dan pintu ditutup rapat, dia tidak langsung melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Sebaliknya, ia membelokkan langkahnya ke Fe-Mart karena Erica memesan beberapa bahan tambahan yang belum sempat dibeli, seperti gelatin, pewarna makanan, dan bubuk cokelat. 

   Kurang dari setengah jam kemudian, kue yang dipanggang pun matang. Teksturnya lembut, warnanya kuning keemasan, dan aroma susu vanila langsung menguar dari balik pintu oven begitu dibuka. Irene mengangkat loyang dengan bantuan sarung tangan kain, lalu meletakkannya di rak pendingin agar uap panasnya perlahan menghilang ke udara.

   Setelah beberapa menit dirasa suhunya telah turun, ia pun mengemasnya dengan rapi dan membawanya kembali ke kamar. Di sana mereka akan mulai memasuki tahap yang paling absurd dari tantangan; membentuk kue menyerupai kloset WC. Dengan pisau bergerigi dan bantuan cetakan karton sebagai panduan, bagian kanan dan kiri kue dikikis perlahan untuk membentuk sisi luar kloset. Bagian tengahnya dilubangi secara hati-hati—cukup dalam, tapi tidak sampai menembus dasar kue—untuk menciptakan ‘lubang toilet’ tempat di mana ‘kotoran’ akan diletakkan nantinya.

   “Sejak tadi aku penasaran satu hal. Erica, untuk apa kau membeli gelatin dan pewarna makanan kuning?” Sesaat tangan Karinn sibuk menghancurkan sisa kue yang telah dikikis sebelumnya, atensinya menangkap sesuatu lain yang kebetulan tergeletak persis di sebelah kue. 

   “Jika kuberitahu sekarang, kau pasti akan merasa jijik.”

   Tepat setelah Erica berkata begitu, secara serempak keempat anggotanya bersuara, “Hhoek..! Hhhoeek..!” 

   Irene yang berada tepat di sebelahnya—sedang mengolesi buttercream ke permukaan kue—buru-buru melepaskan celemeknya. Dia menutup mulutnya guna menahan rasa mual,   lalu mengangkat tangan sambil mengambil beberapa langkah menjauh dari dapur. “Tidak ... Aku tidak bisa. Aku tidak kuat. Hhoeek..!” Dia terbatuk-batuk dalam posisi berjongkok, napasnya tersenggal.

   “Sepertinya kita memikirkan hal yang sama, ya?” Ayaa angkat suara lagi setelah berhasil melegakan tenggorokannya dengan sebotol air mineral dingin. 

   Villy di sebelahnya menyeka air yang turun dari sudut matanya. Walau ia tidak ikut bersuara seperti anggotanya yang lain, tapi dengan diamnya justru seperti ia menelan kembali rasa mual yang seharusnya dikeluarkan. “Erica, kau yakin kita tidak melanggar etika memasak?”   

   Yang dipanggil namanya—yang juga merupakan si pemberi ide kue absurd ini—hanya terkekeh. Ia berpikir itu artinya idenya berhasil dengan nyaris sempurna. “Karinn, kalau sisa kuenya sudah dihancurkan, masukkan ke dalam lelehan cokelat ini.” Erica menyodorkan sebuah mangkuk berukuran besar.

   “Kali ini untuk apa?” Perasaan tak enak sudah menjalar di belakang lehernya sedari tadi, tapi ia yang penasaran akan sesuatu masih saja memberanikan diri untuk bertanya.

   “Untuk apa? Tentu saja untuk membuat replika kotorannya.”

   “Kenapa kau bertanya, sih, bodoh!” Tidak terlihat dari mana datangnya, Irene tiba-tiba muncul dan memukul kepala Karinn menggunakan loyang yang baru saja selesai dicuci. Tang..! Bunyi logam ringan terdengar nyaring saat beradu dengan sebatok kepala yang keras.

   Tak dibutuhkan waktu lama, akhirnya permukaan kue pun sudah rapi ditutupi oleh buttercream. Warnanya putih polos, sangat bersih dan enak dipandang. Tapi karena penampilan ini tidak masuk ke dalam kriteria kue menjijikan, jadi harus diberi beberapa hiasan seperti kotoran yang menempel di pijakan kloset, kotoran yang tercecer di mana-mana, dan kotoran yang tertinggal di kubangan. 

   “Hhoek..!”

   “Hhoek..!”

   “Hhhoeeekk..!”

   Selama dua puluh menit kelimanya bekerja sama membentuk replika kotoran dari padatan sisa kue yang dicampur cokelat leleh, hanya suara-suara itu yang terdengar mengisi kamar, bersahut-sahut seolah tak terputus. Kamar di sebelah kanan dan kirinya pun juga demikian begitu—satu deretan kamar yang mendapatkan tema makanan serupa. Jadi gelombang rasa mual yang tercipta akan terus membesar seiring waktu, dan makin membesar saat kue mendekati tahap akhir. 

   “Gelatin kuning itu ... Hhhoek..!” Ayaa menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak karena mual. “..ternyata adalah replika air kencing ... yang dibiarkan menggenang? Hhhoeek..!” Tubuhnya merosot ke lantai, tahu-tahu saja wajahnya sudah menempel ke permukaan lantai yang dingin. “Sialan.. Hhhoek..!”

   “Demi tuhan, kau dapat ide begini dari mana, sih, Erica?”

   “Tega sekali kau pada kami..”

   “Hhoek..! Hhoeek..!” Irene terbungkuk-bungkuk sambil menjauh beberapa langkah. Kakinya mendadak lemas, matanya sudah berair dan rasanya ia ingin sekali menangis saat itu juga. 

   “Erica! Serius di atas replika air kencingnya ditaruh kotoran?!” Karinn terpekik saat melihat Erica mulai meletakkan padatan kue yang sudah dibentuk ke dalam kubangan kloset. Warna cokelat kehitamannya yang bercampur dengan sedikit kunafa berwarna kuning tua tampak sangat nyata, mirip sebagaimana aslinya. 

   “Makin banyak kotoran, makin bagus.” Erica menunjukkan senyum seolah tak berdosa. Dia asyik saja membentuk lagi padatan kue yang telah bercampur dengan lelehan cokelat menjadi replika kotoran yang beragam bentuknya. Ada yang panjang, ada yang pendek, ada juga yang spiral dan bulat-bulat kecil. 

   Selain dirinya, Vily pun ikut menyumbang sentuhan lain berupa replika kotoran versi buatannya. Kali itu, dia tidak menggunakan padatan dari sisa kue. Karena untuk menghasilkan tekstur yang lunak dan lembek, ia memanfaatkan sisa buttercream sebagai bahan utama yang kemudian dicampur dengan pewarna makanan cokelat. Lalu untuk menambah kesan semakin nyata, ia menaburkan bubuk cokelat di atasnya. Jadilah detail tambahan yang membuat tampilan kue nyaris terlalu realistis—seolah bukan lagi makanan, melainkan jebakan iseng yang kelewat serius. 

   Setelah satu jam dilewati dengan kerja sama yang ... tidak biasa itu, kue buatan anggota kamar 55 akhirnya rampung sepenuhnya. Mereka menamai karya tersebut ‘Kloset Kotor Dari Neraka’—judul yang terasa cocok sebagaimana penampilannya. Para gadis berdiri mengelilingi karya mereka, sebagian masih menahan napas, sementara sebagian yang lain hanya menatap dengan ekspresi datar seperti baru saja mengalami trauma ringan. Tak ada yang berkeinginan menyentuh kue itu, bahkan menatapnya walau satu detik pun. 

   “Apa ini layak disebut makanan?” 

   “Hhhoeeeekk...!” 

   “Hhhoeek..!”

   “Uhk.. Uhk..”

   Moderator dari klub penyiaran mematikan musik latar, lalu memberikan pengumuman akan berakhirnya waktu Tantangan Memasak. Sebelum sesi penilaian dimulai, para gadis diberi jeda istirahat selama setengah jam. Waktu yang cukup panjang dari sebelumnya, mengingat mereka tak hanya harus mengembalikan peralatan pinjaman ke dapur asrama, tetapi juga harus membereskan kamar bersama-sama.

   “Irene! Kakimu ... Ada kotoran di kakimu!”

   Irene yang sedang damainya mengelap meja sambil mendengarkan musik melalui earphone, langsung meloncat setinggi satu meter. Persis di sebelahnya, Karinn tertawa sambil terbungkuk-bungkuk.

   “Itu hanya kue.” Erica menyahut dari belakang. Dia berjongkok di kaki Irene lalu mencolek noda coklat yang menempel di betisnya. “Kau bahkan bisa memakannya,” katanya sembari memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya. “Ini manis.”

   “Erica, kau benar-benar ... Hhhoeek..!” Irene buru-buru menutup mulutnya, menahan sesuatu yang seperti memaksa keluar dari kerongkongannya.

   Dari daun pintu, muncul dua orang yang tak lain adalah kedua senior. Mereka baru saja mengembalikan peralatan memasak ke dapur asrama. Sebelumnya, mereka berlima sudah dibagi tugas. Sementara Villy dan Ayaa bolak-balik turun ke bawah, ketiga juniornya diperintahkan untuk membereskan kamar. 

   “Guys, ayo kita siapkan mejanya.” Ayaa melambaikan tangan, memberi isyarat pada ketiga adiknya untuk datang menghampiri.

   Meja lipat yang disimpan di atas lemari itu merupakan fasilitas pemberian sekolah, digunakan hanya untuk Permainan Kelompok Asrama. Ukuran lebarnya hanya mencapai setengah meter, namun kaki-kakinya cukup tinggi karena berfungsi sebagai penyokong papan seberat 1,5 kilogram. Mereka bersama-sama menata kue, juga memikirkan bagaimana posisinya supaya enak dipandang. Namun bagaimanapun kue tersebut diputar dan digeser ke kanan atau kiri, hasilnya tetap sama; membuat siapa pun tidak sudi melihatnya.

   Para juri mulai melakukan penilaian dari tim di kamar terujung. Seperti biasa, para gadis menontonnya dan ikut berkomentar. Selang beberapa menit kemudian, tibalah giliran kamar 55.

   “Waw, nama yang unik, ya.” Bu Kaila membungkukan sedikit badannya guna membaca papan nama kue—Kloset Kotor Dari Neraka. “Beri aku sepotong,” katanya sembari menyodorkan piring plastik berukuran kecil.

   Para anggota mematung sejenak. Jemari mereka yang diletakkan di samping paha bergerak saling colek, berharap akan ada seseorang yang cukup berani untuk maju mewakili.

   Villy menarik napas panjang, mulai mengambil beberapa langkah ke depan. Karena tidak ada yang mau mengajukan diri, akhirnya dia sebagai ketua kamar pergi untuk mengambilkan sepotong kue. Dia menyeka pisau terlebih dulu menggunakan sapu tangan, lalu menyendok kue di bagian pinggir yang kelihatannya paling aman.

   “..Bu Kaila, kue ini kaya akan rasa vanila. Tidak terlalu manis, dan tekstur bolunya selembut kapas.” Wajah Villy tampak cerah, seolah memancarkan energi positif akan komentar yang diberikan terhadap kue buatan timnya. “..Ini,” Sendoknya berhenti saat akan menyentuh replika kotoran di kubangan kloset. “..Ini dibuat dari sisa kue yang dicampur dengan lelehan ... Hhoek..!” Bahu Villy tersentak ke belakang. Otot tangannya mendadak melemah sebelum ia berhasil memindahkan replika kotoran itu ke piring. Gelatin encer berwarna kuning menempel di bagian bawah sendoknya. Seketika bayangan menjijikan tercipta di otaknya.

   Keempat adiknya yang terbagi di sisi kanan dan kiri kompak memalingkan muka sambil menutup mulut, pura-pura tak acuh. 

   “Padahal aromanya wangi, ya. Tapi karena terlihat menjijikan, jangankan rasa lapar, minat untuk melihat pun aku yakin seratus persen tidak akan ada.” Bu Kaila menekan telapak tangannya ke dada, menahan rasa mual. Dia menyodorkan piring kue kepada orang di sebelahnya, Pak Sion, untuk mencicipinya lebih dulu. 

   Tanpa punya pilihan lain, ia pun dengan ragu-ragu mulai menyendok masuk ke dalam mulutnya. Matanya dipaksa terpejam agar segala bayangan absurd tidak mempengaruhi kondisi lambungnya. “Bagaimanapun, ini enak. Aku merasakan tekstur yang berbeda pada padatan kue. Seperti ... sungguhan menelan yang—”

   “Stop!” Secara serempak, para anggota mengulurkan tangannya ke depan, memotong ucapan Pak Sion.

   “Kami pun sempat ragu bahwa ini adalah kue,” Ayaa berujar sambil tertawa kecil.

   Karinn menambahkan, “Kalau dicampurkan dengan yang sungguhan, sepertinya juga akan sulit ketahuan.”  

   “Hhhoeek..!” 

   “Sial, kau.”

   Penilaian terhadap masakan tim anggota kamar 55 telah usai. Pak Sion dan Bu Kaila bergeser ke kamar berikutnya. Sementara itu, para anggota duduk melingkar di koridor, menikmati kue buatan mereka bersama-sama.

   “Sekarang jam berapa?” Ayaa berpura-pura mengajukan sebuah pertanyaan agar pandangan dan pikirannya teralih saat ia mengambil satu potongan kue kloset.

   “Hampir pukul sembilan,” Villy menjawab tanpa menoleh, hanya lekat menatap saat ia membuka kunci sandi ponselnya, jam digital tertera di layarnya.

   Kenop pintu berputar pelan, kemudian berderit saat seseorang muncul di baliknya. Irene keluar dari kamar, di tangannya ia membawa sebuah kotak kecil tanpa penutup. Setelah duduk dan bergabung bersama anggota, dia berkata, “Aku sudah membuatnya.” 

   Villy, si ketua kamar merespons dengan satu anggukan kepala.

   “Kudengar sekarang jumlah mafianya bertambah jadi dua orang, ya? Benar, tidak, sih?” Karinn menarik kotak tersebut, memindahkannya ke tangannya. Dia mengaduk-aduk kertas terlipat di dalamnya, membukanya satu demi satu lalu melipatnya kembali.

   “Tidak. Semuanya masih sama seperti sebelumnya,” jawab Ayaa, mulutnya masih sibuk mengunyah kue.

   Moderator membunyikan bel, mengumumkan bahwa permainan berikutnya akan segera dimulai—Permainan Mafia.  Kelima anggota pada setiap kamar bergegas mengambil posisi, duduk melingkar untuk menunggu giliran mengambil kertas terlipat dari kotak. Di dalamnya tertulis empat peran; warga, polisi, dokter, dan mafia. Polisi dan dokter menjadi sekutu warga, melawan mafia yang hanya seorang diri. Karena itu, permainan ini bisa juga dibilang permainan empat lawan satu.

   Sebelum permainan dimulai, satu poin diberikan kepada kedua kubu. Poin-poin tersebut akan terus bertambah sampai akhirnya bisa ditukar dengan mengembalikkan menu makanan yang telah lenyap. Tetapi itu bukan perkara mudah. Setiap kali warga salah menebak mafia sesungguhnya, maka poin akan secara otomatis berpindah ke mafia. Sebaliknya, bila identitas mafia cepat terungkap, maka permainan pun akan langsung dinyatakan selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!