Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bab 27
Air mengalir deras dari atas. Pipa saluran air itu berbentuk lorong yang amat sangat panjang. Bukan cuma panjang, tapi juga gelap. Bumi, Nuri, dan Pam sudah mempersiapkan diri dengan membawa senter kecil yang menempel di salah satu pundak mereka. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, mereka bertiga jalan merangkak berpegangan ke dinding pipa yang licin.
Sesekali Bumi bisa mencabut lumut dari dinding pipi itu. Dia jalan paling belakang. Pam paling depan, sedangkan Nuri di tengah. Bumi tidak berani bertanya apakah masih jauh atau sudah dekat. Dia hanya berusaha mengikuti dan menjaga kalau-kalau Nuri terpeleset. Dan ya, bukan cuma Nuri, Pam juga beberapa kali terpeleset.
Di belakang mereka, ujung pipa sudah tidak kelihatan sama sekali. Gelap total. Hanya air yang mengalir. Air itu tidak bau atau pun kental. Tapi cukup membuat Bumi yang yang lainnya kesulitan berjalan.
“Itu dia!” Pam teriak dan mempercepat langkahnya.
Nuri dan Bumi bergegas mengikuti Pam dengan terengah-engah.
“Cape, Kak?” tanya Bumi.
“Kaki aku kayaknya keram!” bisik Nuri.
“Sini,” Bumi membantu Nuri berjalan dengan memapahnya.
Tiba-tiba Pam belok ke kiri, masuk ke sebuah lubang. Lubang itu tidak besar, hanya cukup untuk dua orang. Mereka bertiga harus berdempetan. Pam paling depan, menempel ke sebuah pintu bulat bolong-bolong. Pam berusaha mendorong pintu itu, tapi tidak bisa.
“Coba aku yang buka!” teriak Bumi yang berdiri paling belakang.
“Kekunci dari luar!” teriak Pam mencoba melawan suara air yang mengalir deras.
“Lubangnya terlalu kecil, tidak bisa pakai obeng?” tanya Nuri.
“Nggak bisa!” kata Pam sambil berusaha mendorong pintu itu.
“Aku coba!” Bumi minta Nuri dan Pam bergeser. Badan Bumi benar-benar harus menempel ke Nuri dan Pam. Badan Bumi tidak bereaksi ketika menempel dengan badan Nuri, karena tentu saja, karena dia kakaknya. Tapi ketika harus bersebelahan dengan Pam. Entah kenapa, Bumi jadi gugup.
Wajah Pam tepat berada di belakang telinganya, ketika Bumi mencoba mendorong pintu bulat itu.
“Susah, kan?” suara Pam langsung masuk ke telinga Bumi. Dan juga napasnya.
Bumi mengintip ke bolongan, “Tempat apa ini?”
“Ventilasi, tempat untuk memeriksa, kalau ada sumbatan di pipa,” jelas Pam.
Dari lubang itu terlihat sebuah ruangan kecil empat sisi, dengan pintu lubang yang sama di setiap sisinya. Di tengah-tengah ada tiang tinggi dan tangga ke atas. Bumi bisa melihat kunci yang ada di pintu seberangnya, hanya berupa selot besi biasa.
“Cuma selot,” Bumi bergumam.
“Apa?” teriak Pam.
“Kamu itu ada di telinga aku, nggak usah teriak!” Bumi menoleh ke Pam. Wajah mereka kini berhadapan. Hidung mereka hanya berjarak satu centi. Bumi dan Pam saling berpandangan. Bumi bisa melihat Pam menatap bibirnya.
“Hey! Ayo cepat buka pintunya!” teriak Nuri yang berada di pinggir lubang bagian saluran air dengan kesal. “Jangan malah liat-liatan!”
Bumi langsung berpaling, dan kembali mengintip ke lubang.
Pam mengeluarkan tali, “Coba pakai ini!”
“Nggak bisa!” Bumi menggelengkan kepala. “Kalau ada kawat panjang, mungkin bisa!”
“Ada!” Nuri mengeluarkan kawat dari dalam behanya. “Jangan liat!” teriak Nuri pada Bumi yang melihatnya.
“Astaga, Kak!” Bumi berusaha nggak melihat Nuri yang membuka kancing bajunya.
“Udah deh, cuma ada ini. Gimana lagi!” dengan bantuan Pam yang menggunakan pisau, menyobek bagian bawah beha Nuri, lalu mengeluarkan dua buah kawat melengkung yang cukup panjang.
“Ini!” Pam memberikan kawat tersebut pada Bumi. Sementara Nuri mengancingkan kemejanya yang sudah basah itu.
Bumi menggelengkan kepala, tidak percaya melakukan ini. Dia harus agak sedikit jongkok, demi bisa masuk ke lubang yang tengah, dibagian selot kunci. Pam dan Nuri harus berpelukan di pinggir sisi lainnya, untuk memberikan ruang pada Bumi.
“Bisa?” tanya Nuri.
“Sabar!” teriak Bumi.
“Aku udah mau jatuh!”
“Iya, ini juga lagi usaha, Kak!”
Pam memeluk Nuri, agar tidak terjatuh, “Apa kita tendang bareng-bareng aja?”
“Nggak, ruangnya nggak cukup,” kata Nuri.
“Apa kita turun ke bawah, balik lagi ke pipa, biar Bumi bisa sendirian di sini?” tanya Pam.
“Kalau dia sendirian di sini, mana kuat nendangnya. Butuh dua orang!”
“Iya juga sih.”
“Kamu pake parfum apa sih, Pam?” tanya Nuri yang hidungnya menempel di pipinya Pam.
“Nggak pake parfum. Aku udah dua bulan nggak mandi dengan benar!” jawab Pam.
“Heem, mungkin kamu punya bau yang keluar dari kulit kamu. Bau alami,” kata Nuri mengangguk.
“Wangian juga kamu. Kamu pasti di kerajaan Arbuck, mandi pake kembang ya?” tanya Pam.
“Iya! Tapi aku nggak suka. Kembangnya aneh, kayak nempel gitu. Kayak ada mulutnya kayak ikan! Geli!”
“Oh, itu namanya kembang lick! Ada emang kembang yang dipake buat mandi, jadi dia kaya lidah kuncing gitu, bisa jilatin kotoran kita.”
“Iya bener. Tapi aku nggak suka, geli!” Nuri begidig membuat Pam tertawa.
“Kalian bisa diem nggak, aku lagi konsentrasi!” Bumi menggelengkan kepalanya.
“Oke!” Nuri memutar kedua bola matanya. Pam berhenti tertawa.
Semuanya terdiam, menunggu Bumi membuka pintu.
Tiba-tiba Bumi teriak, “Bisa!” Pintu lubang itu pun terbuka. Bumi, Nuri, dan Pam, satu persatu masuk ke ruangan ventilasi.
Mereka bertiga menatap ke tiang dan tangga yang menjulang tinggi di atas mereka.
“Berapa tingginya?” Nuri memijat kakinya yang sakit.
“Nggak tinggi. Mungkin sekitar lima puluh meter,” Pam menutup pintu lubang lalu mengeluarkan botol minum dan minum dua teguk. “Kita mau istriahat dulu atau lanjut?” tanya Pam menyodorkan minuman pada Nuri.
Bumi dan Nuri saling lirik. Mereka sudah jalan entah mungkin sektiar 200 meter, tapi tidak mungkin menunggu lebih lama.
Nuri meneguk minuman lalu mengembalikan botol minum pada Pam. “Lanjut aja.”
“Tadi kata kakak, kaki kakak sakit?” tanya Bumi yang menerima botol minum dari Pam, lalu meneguknya sedikit, dan mengembalikannya.
“Iya, nggak apa-apa,” Nuri memijat kakinya lagi.
“Kita istriahat dulu aja, kalau gitu,” kata Pam sambil menyimpan minum di tasnya.
“Ada orang datang!” bisik Bumi melihat ke atas tangga. Ada bayangan bergelayut di tangga.
Bumi, Pam, dan Nuri saling lirik. Mereka melihat ke arah pintu lubang yang mereka lalui tadi. Berpikiran utnuk kembali ke sana, ke saluran air itu.
Nuri menggelengkan kepala, tidak mau masuk kembali ke situ.
Pam dan Bumi saling berpandangan, lalu menatap ke atas. Mereka lalu mengangguk bersama dan mengambil posisi untuk menangkap orang yang turun dari atas itu. Pam mengeluarkan pisau lipatnya. Nuri mengeluarkan pisau kerajaan Arbucknya. Bumi mengeluarkan kuda-kuda, mengepalkan kedua tangannya, bersiap meninju orang yang akan turun itu.