karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di hutan bambu
Sambil bercanda, Han Le dan Lim Hao berjalan. Namun saat memasuki hutan bambu, suasana terasa berbeda.
Udara di hutan bambu itu terasa sangat sunyi. Desau angin yang biasanya memainkan dahan-dahan bambu seolah terhenti, digantikan oleh aura dingin yang menusuk. Han Le, yang indranya telah terasah tajam selama di Ruang Penebusan, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tangannya merentang, memberi isyarat agar Lim Hao berhenti di belakangnya.
"Ada apa, Han Te?" bisik Lim Hao, tangannya spontan meraba tongkat kayu yang selalu ia bawa di punggung.
"Twako, ada tamu yang tidak diundang," sahut Han Le dengan nada tenang namun waspada.
Wush...
Wush...
Baru saja kalimat itu selesai, empat bayangan merah tua melesat turun dari rimbunnya pohon bambu. Mereka mendarat dengan suara berdebum pelan, membentuk formasi kepungan yang rapi. Keempatnya adalah Biksu Dalai Lama dengan raut wajah bengis.
"Anak muda, kau cukup cerdik untuk menyadari keberadaan kami," ucap salah satu biksu yang paling tinggi, matanya menatap Han Le dengan rakus. "Tapi kecerdikanmu tidak akan menyelamatkanmu hari ini. Ikutlah dengan kami kembali ke Tibet, atau kami akan menyeret mayatmu!"
Han Le tersenyum tipis. Sorot matanya yang tadi jenaka kini berubah menjadi sedingin es di puncak Himalaya. "Aku tak mengenal kalian, mengapa ingin membawaku?" tanyanya dengan santai, namun ia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk bersiap.
Tak jauh dari lokasi tersebut, di atas dahan pohon beringin tua yang tersembunyi oleh rimbunnya daun, dua sosok tua sedang duduk bersila dengan santai.
"Suheng Kong Sien," bisik biksu gendut sambil mengunyah sebutir kacang entah dari mana. "Tanganku sudah gatal, izinkan aku turun menghajar mereka," pinta biksu gendut itu.
Kong Sien menyipitkan mata, tangannya yang kurus seperti cakar elang mengusap janggutnya. "Sute Kong Pang, jangan terburu-buru. Suheng Kong Hui mengatakan bahwa Wu Kong (Han Le) telah melewati ujian Manusia Perunggu. Ini adalah kesempatan bagus untuk melihat sejauh mana pencerahannya meresap ke dalam tulang-tulangnya. Jika dia kewalahan, baru aku akan menitikkan jariku ke dahi mereka."
"Hehe, aku setuju. Tapi jika bocah Lim Hao pasti yang kena pukul, hatiku sedikit kasihan," sahut Kong Pang sambil terus mengamati dengan mata sipitnya yang tajam. Ia jelas melihat tingkat ilmu Han Le di atas Lim Hao.
Di bawah, pertempuran pecah dengan sengit.
"Hiaaaat!"
"Hiaaaat!"
"Wuuut!"
"Wuuut!"
Dua biksu Dalai Lama menyerang Han Le secara bersamaan dengan pukulan Telapak Pasir Merah, sementara dua lainnya mengincar Lim Hao untuk memisahkan mereka.
"Han Te, hati-hati!" teriak Lim Hao sambil memutar tongkat kayunya, menangkis tendangan salah satu lawan.
Traaak!
Tongkat Lim Hao dan tendangan itu beradu, namun Lim Hao kalah tenaga membuat ia terdorong mundur.
Han Le memasang kuda-kuda yang sangat kokoh, tangannya bergerak dengan pola yang lambat namun bertenaga. Di saat menghadapi Patung Perunggu, ia bisa melihat kekuatan dari Delapan Belas Jurus Lohan. Ia memutuskan akan menggunakan jurus itu.
"Hiaaaaat!"
"Wuuut!"
Bugh! Bugh!
Dua pukulan lawan menghantam lengan Han Le, namun bukannya terdorong, justru kedua biksu itu yang merasakan tangan mereka seperti menghantam pilar besi yang dibungkus karet. Han Le menggunakan Jurus Menyambut Tamu. Ia sedikit memutar tubuhnya, membiarkan tenaga lawan terserap, lalu membalas dengan dorongan bahu yang sangat cepat.
Wuut!
Bugh!
Braaaak!
Salah satu biksu terpental, menabrak batang bambu hingga pecah.
"Jurus Lohan?" gumam biksu Dalai Lama itu terkejut. "Bagaimana mungkin dasar-dasar Shaolin bisa sekuat ini?" tanyanya tak percaya dengan jurus yang dikeluarkan Han Le.
Han Le tidak menjawab. Ia bergerak maju dengan langkah yang mantap. Setiap gerakannya mencerminkan kesederhanaan yang mematikan. Saat lawan menyerang dengan cakar yang mengincar tenggorokan, Han Le hanya mengangkat tangan kirinya untuk menepis, dan secara bersamaan tangan kanannya meluncur ke depan dalam jurus Lohan Mengetuk Pintu.
PLAK!
"Aaaaaa!"
Brugh!
Satu hantaman telapak tangan Han Le mendarat di dada lawan. Meski terlihat pelan, tetapi dialiri tenaga dalam Han Le yang besar, membuat pukulan itu terasa seperti hantaman palu raksasa. Biksu itu terangkat dari tanah dan jatuh tersungkur dengan napas tersengal.
Namun, di sisi lain, Lim Hao mulai kewalahan. Meskipun ia rajin berlatih, ia belum memiliki tenaga dalam yang kuat seperti Han Le saat lawannya menggunakan jurus Kaki Gajah Tibet yang sangat berat.
"Rasakan ini, Pengemis Kecil!" teriak si biksu sambil melancarkan tendangan berputar ke arah bawah.
Wuuut!
Lim Hao mencoba melompat untuk menghindar, namun ia terlambat sepersekian detik.
BRAK!
Tumit lawan menghantam tulang kering kaki kanan Lim Hao dengan keras.
"Aaaakh!"
Lim Hao mengerang kesakitan. Ia terjatuh dengan posisi kaki yang pincang. Lawannya tertawa licik dan bersiap melancarkan serangan pemungkas ke arah kepala Lim Hao yang sedang terduduk.
Melihat sahabatnya terancam, mata Han Le berkilat tajam. Amarahnya berkobar.
"Heaaaah!"
Wush!
Dalam sekejap, Han Le sudah berada di antara Lim Hao dan penyerangnya. Ia menggunakan jurus Lohan Menjaga Gerbang. Tangan kirinya menangkap pergelangan kaki lawan yang sedang menendang, sementara tangan kanannya menghantam lutut lawan tersebut dengan sikutnya.
KRETEK!
"Aaaaaargh!"
Bugh!
Bunyi tulang patah terdengar nyaring di hutan sunyi itu. Biksu Dalai Lama itu menjerit histeris sebelum Han Le memberikan satu pukulan ringan di tengkuknya yang membuatnya langsung pingsan.
"Twako! Kau tidak apa-apa?" tanya Han Le cemas sambil memapah Lim Hao.
"Kakiku... rasanya seperti remuk, Han Te," bisik Lim Hao sambil menahan ringis. "Maaf, aku malah merepotkanmu."
"Jangan bicara begitu. Diamlah di sini," ucap Han Le. Ia berbalik menghadap pemimpin biksu yang masih berdiri tegak, yang kini wajahnya pucat pasi melihat ketiga temannya dilumpuhkan hanya dengan jurus dasar.
"Kau... kau bukan manusia biasa. Tidak mungkin murid luar Shaolin memiliki tenaga dalam seperti ini!" teriak sang pemimpin ketakutan. Ia mencoba melemparkan beberapa butir bom asap untuk melarikan diri.
BUM!
Asap putih pekat menutupi area tersebut. Namun, Han Le tidak membiarkannya pergi. Ia menutup mata, menggunakan indra pendengarannya yang tajam. Ia merasakan gesekan udara dari tubuh lawan yang mencoba melesat ke arah bukit.
Han Le memungut sebutir batu kecil di dekat kakinya. Dengan sedikit sentakan tenaga dalam, ia menjentikkan batu itu.
Syuuuut...
Tak!
Batu itu melesat lebih cepat dari anak panah, tepat mengenai titik saraf di punggung biksu Dalai Lama itu. Biksu itu jatuh tersungkur, lumpuh seketika tanpa bisa menggerakkan seujung jari pun.
Suasana kembali sunyi. Han Le segera kembali ke sisi Lim Hao untuk memeriksa kakinya. Saat itulah, suara tawa yang renyah terdengar dari atas pohon.
"Hahaha! Luar biasa! Murid Suheng kita ini benar-benar membuatku ingin turun dan ikut menari!"
Dua sosok biksu mendarat dengan ringan di depan Han Le. Han Le sempat terkejut dan memasang posisi waspada, namun saat melihat jubah mereka yang berwarna kuning tua khas tetua Shaolin, ia segera menjura.
"Wu Kong memberi hormat kepada para Susiok," ucap Han Le.
"Amitaba, Wu Kong. Aku Kong Sien, dan ini Sute-ku yang gemar makan, Kong Pang," ucap si kurus dengan senyum ramah. "Jangan khawatir tentang empat tikus merah ini. Biar Kong Pang yang membawa mereka ke ruang interogasi."
Biksu gendut Kong Pang mendekat, ia memandang Han Le dengan mata berbinar-binar. "Wah, Wu Kong, kau benar-benar telah menguasai Jurus Lohan sepenuhnya!"
"Semua karena bimbingan Susiok," sahut Han Le merendah.
Kong Pang kemudian menoleh ke arah Lim Hao yang masih merintih. Ia berjongkok dan memegang kaki Lim Hao. "Jangan menangis, Murid Kecil. Hanya retak sedikit. Sini, biar kusembuhkan."
Kong Pang menempelkan telapak tangannya yang hangat ke kaki Lim Hao. Dalam beberapa saat, uap putih keluar dari luka tersebut, dan rasa sakit Lim Hao perlahan mereda. "Ini hanya pengobatan sementara. Kau tetap harus pincang selama seminggu," ucap Kong Pang sambil terkekeh.
Han Le membantu Lim Hao berdiri, mereka berjalan perlahan kembali ke kuil, diikuti oleh dua tetua yang membawa empat tawanan mereka seolah-olah hanya membawa empat karung beras.
"Susiok..." bisik Lim Hao di sela langkah pincangnya.
"Ada apa, Twako?"
"Nanti malam, bolehkah aku minta dua bakpao sebagai ganti kakiku yang sakit ini?"
Han Le tertawa lepas, memecah ketegangan yang tadi sempat menyelimuti mereka. "Tentu, Twako. Bahkan sepuluh bakpao pun akan kuberikan untukmu."
Di bawah langit yang mulai menggelap, dua sahabat itu terus melangkah kembali ke arah kuil