NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:48.1k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Laila Frustasi

Shanum menatap loyang kue yang penyok dan bolu yang kini hancur berkeping-keping di atas meja. Tangannya yang masih memegang kuas margarin terasa kaku, rasa lelah setelah seharian bekerja di toko dan lanjut berdiri di depan tungku seketika berganti dengan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.

​Shanum benar-benar tidak paham, pagi tadi Ibu Laila baik-baik saja, Shanum bahkan sempat memberikan uang saku tambahan untuk Pandu di depan Ibunya. Namun, tiba-tiba Ibu Laila pulang dengan amarah yang begitu meledak-ledak.

​"Mbak... Ibu kenapa?" tanya Diva yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah pucat, ia tadi sempat mengintip dari balik tirai.

​Shanum buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan dan mencoba memasang wajah tegar di depan adiknya, "Nggak apa-apa, Div. Ibu mungkin lagi capek, kamu masuk lagi aja, lanjut belajar sama Pandu ya," ucap Shanum.

​"Tapi kuenya Mbak Shanum... itu kan pesanan Bu Guru besok pagi," ucap Diva lirih dan menatap sedih ke arah meja dapur.

​Shanum terdiam dan menatap kue yang harus diantar besok pagi pukul tujuh, jika ia tidak bisa memenuhi pesanan, ia tidak hanya kehilangan uang, tapi juga kepercayaan pelanggan setianya.

​"Nanti Mbak bikin lagi. Bahan-bahannya masih ada sedikit. Sudah, kamu masuk saja," bujuk Shanum.

​Setelah Diva masuk ke kamar, suasana dapur kembali sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari sela-sela dinding bambu. Shanum menarik napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya.

Shanum menoleh ke arah pintu kamar orang tuanya yang tertutup rapat. Dari dalam, ia masih bisa mendengar gerutu lirih ibunya yang sesekali menyebut kata malu dan perawan tua.

​Dengan sisa tenaga yang ada, Shanum mulai membersihkan remahan kue yang hancur itu. Ia tidak berani bertanya langsung pada Ibunya, karena ia tahu, dalam kondisi seperti ini, pertanyaan apa pun hanya akan dianggap sebagai perlawanan.

​Shanum kembali menyalakan timbangan digitalnya, ia menakar tepung dan gula dengan gerakan mekanis. Saat ia mulai menyalakan mixer satu-satunya barang berharga miliknya suara mesin itu seolah menjadi satu-satunya pelipur lara.

'​Kenapa status pernikahan selalu jadi penentu harga diri seorang perempuan di sini?' batin Shanum.

Shanum bekerja dalam diam hingga larut malam. Suara putaran mixer yang menderu pelan di tengah kesunyian malam seolah menjadi saksi bisu perjuangannya. Ketika seluruh penghuni rumah sudah terlelap, Shanum masih harus bergelut dengan panasnya uap dari tungku dan aroma panggangan kue.

​Baru sekitar pukul tiga dini hari, seluruh pesanan itu selesai. Shanum menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang keras, matanya terasa panas karena kurang tidur dan asap tungku. Namun, ia tidak bisa beristirahat lama karena pukul enam pagi ia sudah harus bersiap mengantar kue.

Dua minggu telah berlalu dan harapan Ibu Laila yang awalnya menggebu-gebu kini mulai memudar, berganti dengan rasa sinis yang semakin tajam.

Pak Agus, sang mak comblang pun seolah-olah sudah kehilangan taringnya. Berkali-kali Ibu Laila mendatangi rumahnya, berkali-kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama yaitu belum ada yang mau.

​"Aduh, Bu Laila, saya ini sudah sampai tanya ke teman saya hang ada di luar kota loh, tapi nggak ada yang mau," ucap Pak Agus.

"Masa nggak ada yang mau?" tanya Ibu Laila.

"Ada sih yang sebenarnya tertarik pas lihat foto Shanum, tapi pas tahu umurnya sudah mau 30, dia langsung geleng kepala. Katanya, kalau umur segitu mesinnya sudah tua, susah nanti kalau mau punya anak banyak," jawab Pak Agus.

"Aduh, gimana dong, Pak?" tanya Ibu Laila frustasi.

"Bu Laila sabar aja, mungkin memang belum waktunya Shanum ketemu jodohnya," ucap Pak Agus.

"Nggak bisa dong, Pak. Shanum harus segera ketemu sama jodohnya, di desa ini perempuannya yang belum nikah cuma Shanum loh, Pak," ucap Ibu Laila.

"Ya, mau gimana lagi, Bu. Nggak ada yang mau," jawab Pak Agus.

"Pak Agus coba lagi ya," minta Ibu Laila lagi.

"Haduh, saya bakal coba. Tapi, kalau nggak dapat lagi, saya nyerah ya, Bu," ucap Pak Agus.

"Iya, Pak. Gapapa," jawab Ibu Laila.

.

Satu bulan telah berlalu, namun keadaan tidak juga membaik. Bagi Ibu Laila, setiap detik yang berlalu tanpa adanya lamaran untuk Shanum adalah siksaan batin. Di pasar, di warung, bahkan saat pengajian, ia merasa semua mata tertuju padanya dengan tatapan mencibir.

Ibu Laila kembali mendatangi rumah Pak Agus dengan langkah yang lebih agresif. ia tidak lagi membawa hantaran buah, melainkan hanya membawa sisa-sisa harapannya yang mulai menipis.

​"Pak Agus, ini sudah satu bulan lebih! Masa nggak ada satu pun pria yang mau sama Shanum? Apa Pak Agus benar-benar menawarkan Shanum atau cuma main-main aja sih?" tanya Ibu Laila ketus dan tidak lagi bisa menjaga sopan santunnya.

​Pak Agus yang sedang membenahi jaring di teras rumahnya hanya mendongak sekilas, "Bu Laila, saya sudah bilang berkali-kali kan kalau saya juga nggak yakin ada yang mau sama Shanum. Saya ini mak comblang, bukan penyihir. Saya bisa menawarkan, tapi saya tidak bisa memaksa orang untuk suka," jawab Pak Agus.

​Pak Agus menghela napas, lalu duduk di kursi bambunya. "Jujur saja ya, Bu. Saya sudah capek ditolak terus gara-gara umur Shanum. Terakhir, saya tawarkan ke juragan material di Situbondo, dia duda anak satu. Begitu dia lihat foto Shanum, dia bilang Shanum manis. Tapi begitu dia tahu Shanum cuma lulusan SMA dan umurnya sudah 29, dia langsung nggak jadi dan mau yang lebih muda," lanjut Pak Agus.

​"Astaga... cuma gara-gara Shanum lulusan SMA sama umur doang, walaupun Shanum udah 29 tahun, tapi dia masih bisa kerja dan dia juga orangnya rajin loh?" gumam Ibu Laila dengan wajah pucat.

​"Masalahnya, Bu. Di mata laki-laki yang punya harta, umur 29 itu dianggap sudah lewat masa, mereka merasa lebih untung menikahi gadis 20 tahun yang bisa dibentuk, daripada perempuan dewasa yang sudah punya pemikiran sendiri. Jadi, maaf sekali, Bu Laila... saya angkat tangan. Saya sudah tidak tahu lagi harus menawarkan Shanum ke siapa," ucap Pak Agus.

​Ibu Laila pulang dengan perasaan hancur dan sesampainya di rumah, ia melihat Shanum sedang duduk di teras, baru saja pulang kerja dengan wajah lelah dan baju yang sedikit kusam karena debu jalanan.

​"Masih berani kamu menampakkan muka di depan Ibu?" ucap Ibu Laila tajam.

​Shanum yang baru saja hendak melepas sepatunya tersentak, "Ibu kenapa lagi? Shanum baru saja pulang kerja, Bu," tanya Shanum.

"Shanum," panggil Ibu Laila.

"Iya, Bu?" tanya Shanum.

"Mendingan kamu buka kerudungmu," ucap Ibu Laila.

.

.

.

Bersambung.....

1
Eva Tigan
Kalo gitu bolehlah satu ronde sebelum Abi berangkat kerja😄
Eva Tigan
ah..kok ini sih berlebihan pengertian nya..malah jadi aneh ..Abi gak jadi menyentuh istrinya
Naufal Affiq
hahaha,abi-abi sudah di suguh kan yang halal,masih nolak,alasan biar istri istirahat,gak tahan juga kan,makanya gas aja terus,mumpung geratis
Naufal Affiq
mimpi
Nurminah
dunia novel laki-laki bisa nahan syahwat nggak egois dunia
nyata aku malah ada suami yang nyuruh istrinya masak mie instan saat istrinya pulang lahiran dan iya santai aja jujur liat kayak gitu miris liatnya sampe takut punya suami
banyak modelan lain yg lebih menyesakkan
jujur wanita desa kebanyakan patuh sekali ama suami sampe ditindas dan dizholimi banget
Alhamdulillah punya suami yg didikan orang tua nya membiasakan menolong pekerjaan istrinya walaupun istrinya tidak bekerja
durrotul aimmsh
hanya ada di dunia novel🤣
Eva Tigan: benar sekali..dan aku jadi meng halu dibuatnya 😄
total 1 replies
Yuliana Tunru
syukur lah bunda rina cepat datang biar tau rasa tuh pasangan lucnut baru jd orang kota yg blm tentu kaya tp.mulut x astagfirulah..tp thorr omong2 abi dan shanum blm nikah resmi lho kmrin dikampung kan cm nikah siri
Naufal Affiq
belum tau dia bunda rina itu siapa.hahaha
mamayasna
kerennn
Eva Tigan
akhirnya diajak belanja sama ibu mertua dan langsung ngeborong pulak..pasti bahagia rasanya ya Shanum.punya ibu mertua rasa ibu kandung😊
Naufal Affiq
bendera putih sudah berkibar shanum,mertua mu sudah bisa menerimamu,jadi jangan di ulangi kesalahan lagi,suami mu sangat sayang sama mu
Naufal Affiq
ingat bunda,kebahagian anak itu lebih penting dari segalanya,jadi jangan ikut campur masalah keluarga anakmu
Naufal Affiq
shanum benar kata suami mu,kita hanya berusaha,tapi kalau yang diatas belum mengizinkan kita hamil ya gimana lagi,yang pastinya kita harus berharap yang terbaik untuk keluarga kita
mamayasna
yahhh kirain ud Hamill ud nungguin ni😄
May Maya
ada GK ya laki model Abi d shopee mau aku cekout 🤣🤣
Sudarsono
Lanjut,, semangat kakak Up nya,, sehari 10 bab gak pa2/Facepalm/
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
makanya abi,tancap gas,biar shanum hamil
falea sezi
jangan jd ipar adalah maut ya dita/Drowsy/
Naufal Affiq
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!