Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Acara pemakaman sudah dilaksanakan di pagi hari, banyak sekali orang-orang yang mengantar Raisya menuju peristirahatan terakhirnya. Aku terharu, Raisa adalah orang baik, jadi tidak heran banyak orang yang menyayanginya.
Kini tinggalah aku, kak Satya dan drina yang tersisa di pemakaman. kak Satya yang terus berdo'a dan sesekali mengecup nisan istrinya, seperti berat sekali meninggalkan tempat ini. Tempat peristirahatan terakhir istrinya.
semilir angin menjatuhkan dedaunan dari pohon pohon yang rindang, aku mengeratkan abaya hitam yang kupakai. Karena masih pagi, udara dingin masih terasa. Aku masih tidak menyangka jika Raisya sahabatku akan pergi secepat ini. bagaimana jika aku rindu kamu sa, siapa lagi yang bakalan dengerin curhatanku yang ga ada habis-habisnya ini, siapalahi yang bakalan nasihatin aku sa. Gimana kalau aku kangen kamu sa. Aku menyeka air mata yang kembali turun, secepat mungkin agar anak kecil disampingku ini tidak ikut-ikutan menangis lagi.
"mama ndra, ibu udah ga sakit lagi ya?" ucap gadis kecil yang sedang memegang erat tanganku. sandrina belum paham kalau ibunya telah pergi meninggalkannya. Dia ikut menangis karena sedih melihat orang-orang di sekitarnya menangis.
"iya sayang, ibu sudah bahagia, kalau drina kangen sama ibu. Drina kirimin surat al-fatihah yang sering ibu ajarin" ucapku sambil mengelus lembut kepalanya yang tertutup kain hijab berwarna hitam.
Setelah mengecup pusara Raisya yang terakhir, Kak Satya berjalan gontai ke arahku dan sandrina.
Kami berjalan menuju tempat mobil tanpa suara, hanya derap langkah kami yang saling bersahutan. sandrina pun seolah mengerti dengan keadaan, gadis kecil itu berjalan dengan menunduk jemarinya tidak lepas dari genggaman tanganku.
Setelah sampai di apartemen. Kak Satya langsung memasuki kamarnya tanpa banyak kata, sepertinya dia perlu waktu untuk menerima ini semua, aku paham.
ini hari pertama untukku tinggal di apartemen kak Satya, setelah pagi tadi kak Satya memintaku untuk terus menjaga sandrina.
"drina pasti ngantuk, ayok mama ndra anterin ke kamar. Drina istirahat dulu"
Anak kecil itu mengangguk lemas, ia berjalan gontai menuju kamarnya.
Aku telah mengganti baju sandrina dengan pakaian yang lebih santai, setelah sebelumnya aku memandikan sandrina terlebih dahulu dengan air hangat.
"drina tidur ya, mama ndra disini jagain drina"
Ucapku sambil menyelimuti tubuh mungil gadis kecil itu.
"mama ndra, kenapa papa keliatan sedih banget. Ibu kan udah gak sakit lagi, tapi kok papa nangis terus".
"Papa butuh waktu sayang, suatu hari nanti papa bakalan senyum lagi kok, udah ya drina sekarang tidur"
Sandrina mulai memejamkan matanya, aku menceritakan beberapa dongeng agar drina tidur cepat. Berhasil beberapa menit kemudian drina tertidur pulas. Aku mengecup kening gadis itu, sedih sekali rasanya anak sekecil sandrina belum tau arti kehilangan, dia tidak mengerti kalau ibunya sudah tiada.
*
Satu bulan kemudian
"Mama ndra, nanti yang jemput drina sekolah siapa?" ucap drina disela sarapan paginya.
Aku yang sudah menikmati segelas teh hangat dan sepiring omelet menoleh pada kak Satya, kak Satya sedang sarapan sedari tadi ia hanya terdiam.
"emh, mama ndra yang jemput sayang"
"Ouhh oke" ucap drina sambil mengacungkan jempolnya.
Genap satu bulan sudah aku dan kak Satya menikah, dan genap satu bulan pun Raisya meninggalkan kami. Sejauh ini pernikahan paksa ku dan kak Satya berjalan normal, aku bisa mengatakan normal karena didalamnya tidak ada drama. aku merasa pernikahan ini cukup tawar, kak Satya yang masih canggung begitupun denganku. Walaupun kita sahabatan dulu, tapi nyatanya setelah menikah kami menjadi berbeda.
Selama satu bulan per pernikahan aku sangat jarang sekali tidur dikamar kak Satya, seringnya kami pisah kamar, aku dengan sandrina karena apartemen ini hanya memiliki dua kamar. Sekamar dengan kak Satya jika aku tidak sengaja ketiduran selepas salat isya tiba-tiba kak Satya sudah berbaring disampingku, tanpa membangunkanku. Akhir-akhir ini kak Satya mulai disibukan dengan urusan kantornya, sampai-samapai pulang hingga larut malam.
Aku melirik kak Satya yang telah selesai dengan sarapannya. Ia berjalan untuk mengambil tas kerjanya.
aku memberi sandrina segelas minum.
"ayok papa udah selesai drina" ucapku sambil membantu memakaikan sepatunya.
"Aku berangkat dulu ndra, kamu ke toko hari ini?" setiap pagi setelah sarapan pasti pertanyaan ini yang kak Satya keluarkan.
"iya kak, tapi nanti agak siangan"
aku melihat anggukan kecil di kepalanya, ah canggung sekali bagaimna ini?, apa aku harus mengulurkan tangan untuk mencium tangan kak Satya, seperti yang dilakukan oleh istri-istri normal yang lain.
"Kak itu dasinya lipet"
setelah diberitahu kak Satya membenarkan dasinya.
"bye mama ndra, aku sekolah dulu" ucap drina sebelum keluar dari pintu apartemen, aku balas melambaikan tangan sambil tersenyum ramah.
Pada akhirnya kak Satya dan drina berangkat bersamaan, perpisahan sementara itu terasa canggung. Tidak ada kata perpisahan atau ciuman tangan seorang istri pada suaminya. Kak Satya pergi setelah berkata 'Aku berangkat ndra' sambil menganggukkan kepala kepadaku.