Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasukan Pembunuh
Bab 30 : Pasukan Pembunuh
Malam menggantung kelam di langit, tanpa bulan.
Hanya suara derap kuda yang memecah kesunyian, cepat, liar, seperti napas yang dikejar
kematian.
Mengaku tidak takut?
Itu bohong.
Namun situasi saat ini, tidak memberinya waktu untuk takut.
Tubuh Su Ye Lan menegang di atas kuda.
Punggungnya menempel erat pada dada
Yan Yuxing,
sementara tangannya mencengkeram kendali begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Angin musim dingin menusuk wajahnya seperti pisau.
Namun yang lebih dingin adalah aura pembunuhan di belakang mereka.
Sebuah lengan kuat melingkar di pinggangnya, erat seolah takut ia akan menghilang.
“Jangan khawatir,” bisik Yan Yuxing di telinganya, suaranya rendah namun tegas,
“apa pun
yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun. Aku berjanji.”
Jantung Su Ye Lan berdegup keras.
Di tengah gelap, suaranya bergetar saat ia membalas,
“Tidak! Yang harus kau janjikan adalah kita berdua kembali ke ibu kota dengan selamat. Apa
pun yang terjadi.”
Ia tidak takut mati.
Tidak di kehidupan sebelumnya.
Namun saat ini, ia bisa merasakan kematian benar-benar mendekat.
Selangkah demi selangkah.
Yan Yuxing merasakan getaran halus tubuh wanita dalam pelukannya.
Pelukannya mengerat.
“Baik,” katanya pelan, namun penuh tekad.
“Aku berjanji.”
Suara itu tenang, tapi seberat sumpah hidup dan mati.
“A-Yun…”
Panggilan itu begitu lembut.
Begitu rapuh.
Namun justru karena itu, hati pria itu bergetar hebat.
Sudah terlalu lama
Terlalu lama sejak ia mendengar suara itu memanggil namanya seperti ini.
A-Yun…
Di dunia ini, hanya satu orang yang pernah memanggilnya seperti itu.
Shen Lanrou.
Napasnya tercekat.
“Ya, aku di sini,” jawabnya, hampir seperti bisikan yang tercekat di dada.
Su Ye Lan menutup mata sejenak.
Angin dingin menyapu wajahnya, namun kata-kata yang keluar dari bibirnya justru hangat dan penuh keberanian.
“Jika kita selamat dari ini…” suaranya pelan, tapi jelas,
“aku akan menikahimu lagi, setelah kita kembali ke ibu kota.”
Waktu seakan berhenti.
Detik itu juga, dunia Yan Yuxing runtuh lalu terbentuk kembali.
“Menikah lagi.”
Bukan sekadar janji.
Itu pengakuan.
Pengakuan bahwa ia adalah Shen Lanrou.
Pengakuan bahwa ia telah kembali.
Hidung Yan Yuxing terasa perih.
Dadanya penuh penuh oleh sesuatu yang hampir membuatnya tak bisa bernapas.
Bahagia.
Harapan.
Rasa bersalah.
Cinta.
Semua bercampur menjadi satu.
“Baik…” bisiknya, suaranya serak,
“aku akan membawamu pulang.”
Apa pun yang terjadi, ia harus hidup.
Demi janji itu.
Namun, takdir tidak pernah semudah itu.
Dari belakang, suara benturan logam kembali terdengar.
Teriakan.
Jeritan.
Dan kemudian, derap langkah pembunuh semakin dekat.
Perisai yang dibentuk oleh A Shun dan para penjaga telah runtuh.
Gelombang pembunuh menerjang seperti air bah.
Tak terhentikan.
Su Ye Lan tidak perlu menoleh.
Ia tahu, situasi mereka sudah di ambang kehancuran.
Tiba-tiba, pelukan di pinggangnya mengendur.
Hanya sedikit.
Namun cukup membuat jantungnya jatuh.
“A-Yun?”
Ia menoleh.
Dan saat itu, ia mendengar desahan tertahan di telinganya.
Sakit.
Dalam sepersekian detik, segala sesuatu berubah.
Tubuh Yan Yuxing yang tadi kokoh… tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Darah.
Aroma besi yang tajam langsung memenuhi udara.
“Tidak—!”
Su Ye Lan menjerit.
Namun sudah terlambat.
Tubuh pria itu jatuh dari kuda.
Begitu saja, seolah seluruh kekuatannya direnggut dalam satu pukulan.
Kuda di bawahnya tiba-tiba meringkik liar.
Kehilangan kendali.
Kaki belakangnya terangkat tinggi lalu
BUM!
Su Ye Lan terlempar.
Tubuhnya menghantam tanah keras, berguling beberapa kali.
Dunia berputar.
Langit, tanah, bayangan pohon semuanya bercampur menjadi satu.
Lalu, rasa sakit tajam menghantam dahinya.
Gelap.
Segalanya lenyap.
Ia tidak tahu berapa lama ia tenggelam dalam kegelapan.
Mungkin sesaat.
Mungkin berhari-hari.
Saat ia membuka mata, dunia terasa asing.
Langit-langit kayu.
Aroma obat herbal.
Dan keheningan yang terlalu rapi.
Su Ye Lan mengerjap pelan.
Tubuhnya terasa seperti dihancurkan.
Setiap gerakan, membawa rasa sakit.
Terutama di pergelangan tangan kanan.
Ia mencoba menggerakkannya.
Dan rasa nyeri tajam langsung menjalar.
Patah…
Pikiran itu muncul dingin.
“Nona, Anda akhirnya bangun.”
Suara itu lembut.
Namun asing.
Tubuh Su Ye Lan langsung menegang.
Perlahan ia menoleh.
Dan dalam sekejap—
darahnya terasa membeku.
Di tengah ruangan, seorang pria duduk dengan tenang.
Cahaya lampu minyak memantulkan kilau dingin pada pedang panjang di tangannya.
Ia sedang membersihkannya.
Gerakannya santai.
Seolah darah bukan hal asing baginya.
Namun bukan itu yang membuat Su Ye Lan hampir menjerit.
Melainkan wajah itu.
Wajah yang tak mungkin ia lupakan, bahkan jika ia mati sekali lagi.
Yan Tianming.
Pangeran Kesembilan.
Dan mantan tunangannya di kehidupan sebelumnya.
Senyum tipis terukir di bibir pria itu.
Tenang.
Menawan.
Namun bagi Su Ye Lan—senyum itu lebih menyeramkan daripada pisau.
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.
Seperti bayangan.
“Apakah Anda baik-baik saja, Nona?” tanyanya lembut.
Su Ye Lan tanpa sadar mundur.
Instingnya menolak.
Tubuhnya kaku.
Ia ingin melarikan diri namun tubuhnya tidak mengizinkan.
Di balik wajah tampan itu…
ia tahu siapa pria ini sebenarnya.
Seorang monster yang pandai memakai topeng.
Kenangan lama menyeruak.
Seperti mimpi buruk yang tak pernah benar-benar hilang.
Seorang kasim muda tenggelam di danau.
Air beriak.
Tangan yang menggapai lalu hilang.
Dan di tepi seorang anak laki-laki berdiri.
Menatap tanpa emosi.
Yan Tianming.
Saat itu ia ketahuan.
Dan sebagai gantinya, ia memaksanya membuat janji.
Janji yang mengikat hidupnya.
Janji pernikahan.
Su Ye Lan menarik napas dalam.
Memaksa dirinya tenang.
Ia tidak boleh menunjukkan apa pun.
Tidak di hadapan pria ini.
“Tuan muda…” suaranya dibuat lemah,
“di mana aku? Apa yang terjadi padaku?”
Yan Tianming tersenyum.
“Ini kediamanku. Tiga ratus mil dari ibu kota,” jawabnya santai.
“Aku menemukanmu terluka di jalan. Kau pingsan selama dua hari.”
Dua hari.
Jantung Su Ye Lan bergetar.
Bagaimana dengan Yan Yuxing?
Apakah dia masih hidup?
Atau pikiran itu tidak berani ia lanjutkan.
“Lukamu cukup parah,” lanjut Yan Tianming, nada suaranya hampir seperti seorang penyelamat yang tulus.
“Pergelangan tangan dan kakimu mengalami patah. Tapi jangan khawatir, aku sudah memanggil tabib.”
Ia mendekat sedikit.
Terlalu dekat.
“Selama kau patuh minum obat… kau akan sembuh.”
Su Ye Lan menunduk.
Menyembunyikan sorot matanya.
Ia tahu tidak ada kebaikan tanpa alasan dari pria ini.
Tidak pernah.
Dan fakta bahwa ia sekarang berada di sini bukan kebetulan.
Di dalam hati, hanya ada satu pikiran.
Ini jebakan.
Dan ia telah masuk terlalu dalam.