Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Nathan, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Evan, keningnya berkerut.
Nathan terdiam sejenak.
Lalu, perlahan ia membuka suara.
“Calista…”
Nama itu keluar pelan, namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Evan langsung menegang. “Calista?” ulangnya, nyaris tak percaya. “Jangan bilang… kau sudah menemukannya?”
Nathan mengangguk singkat. “Benar. Dia masih hidup.”
Evan spontan berdiri. “Di mana dia sekarang?”
Nathan menatapnya datar. “Di sisiku.”
Jawaban itu membuat Evan semakin bingung.
“Apa maksudmu?”
“Dia kehilangan ingatan,” lanjut Nathan tanpa emosi. “Sekarang… dia tidak mengenalku. Tidak mengenal siapa pun dari masa lalunya.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namanya sekarang Liora Meng. Perawat pribadiku.”
Ruangan langsung hening.
Marcus menatap Nathan sekilas, lalu mengalihkan pandangan, seolah sudah tahu sebagian dari kebenaran itu.
Evan perlahan menggeleng, masih mencoba mencerna. “Bagaimana itu bisa terjadi…? Apa yang terjadi padanya waktu itu?”
Tatapan Nathan sedikit menggelap.
“Sesuatu yang cukup untuk menghancurkan hidup seseorang,” jawabnya pelan. “Sesuatu yang… seharusnya tidak perlu dia ingat lagi.”
Evan menatapnya tajam. “Dan karena itu kau memilih membiarkannya hidup dalam kebohongan?”
Nathan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu, sebelum ia akhirnya berkata, “Kalau harus memilih antara dia hidup tenang tanpa ingatan… atau kembali menjadi dirinya yang dulu dan hancur lagi…”
Ia mengangkat pandangan, menatap Evan lurus.
“Aku akan memilih yang pertama.”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Evan menghela napas berat. “Nathan… ini bukan soal pilihan sederhana.”
“Bagiku ini sederhana,” potong Nathan dingin. “Selama dia tetap di sisiku… itu sudah cukup.”
Dua hari kemudian.
Di sebuah restoran mewah, ruang VIP terasa tenang. Cahaya lampu hangat memantul di meja makan yang dipenuhi hidangan.
Liora duduk berhadapan dengan Nathan, perlahan menikmati makanan.
Namun tatapannya sempat berhenti pada beberapa hidangan.
"Kenapa semuanya lauk kesukaanku? Apakah hanya kebetulan?" batinnya.
“Kenapa, apa makanannya tidak cocok?” tanya Nathan, memperhatikan perubahan kecil di wajahnya.
Liora tersadar. “Tidak, aku menyukainya,” jawabnya cepat.
Nathan mengangguk tipis, tapi matanya tidak sepenuhnya percaya.
Tiba-tiba...
Pintu terbuka.
Marcus yang berdiri di luar mencoba menahan seseorang, namun pria itu tetap masuk dengan langkah mantap.
“Nathan Han,” ucapnya santai, seolah tempat itu miliknya. “Ada yang ingin aku bicarakan. Kenapa kau selalu menghindar?”
Marcus terlihat tegang. “Tuan, maaf, saya sudah mencoba menghentikannya tapi—”
“Tidak apa-apa,” potong Nathan tanpa emosi.
Tatapannya langsung berubah dingin.
“Bukankah aku sudah mengatakan tidak ada yang perlu dibicarakan?” ujarnya tajam.
Pria itu menatap Liora beberapa detik, lalu berkata dingin, “Ini tidak ada hubungannya denganmu. Silakan keluar.”
Suasana langsung menegang.
Nathan menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi, namun sorot matanya tajam.
“Apakah kau pikir kau berhak bicara seperti itu di depanku?” ujarnya dingin. “Mengusir orangku?”
Liora sedikit canggung di tengah situasi itu. Ia hendak berdiri. “Tuan, saya keluar dulu—”
Namun sebelum ia sempat bangkit, Nathan sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya.
“Tidak perlu,” katanya tegas. “Duduk.”
Nada itu tidak memberi ruang untuk membantah.
Liora kembali duduk, meski jelas tidak nyaman.
Nathan lalu mengalihkan pandangannya ke pria itu.“Kalau ada urusan, katakan langsung.”
Pria itu tersenyum tipis, namun matanya tidak ikut tersenyum.
“Nathan Han,” katanya perlahan, “kau menghentikan proyekku.”
Nathan tidak bereaksi.
“Kerugiannya bukan kecil,” lanjut pria itu. “Perusahaanku sekarang di ujung tanduk. Dan semua itu… berkatmu.”
Marcus yang berdiri di samping langsung waspada.
Namun Nathan hanya menatap datar.
“Kalau proyekmu bisa dihentikan semudah itu,” ujarnya dingin, “berarti dari awal memang tidak layak berjalan.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Ekspresi pria itu sedikit berubah, tapi ia cepat menutupinya dengan senyum tipis.
“Kau masih sama. Selalu merasa berada di atas segalanya.”
Nathan tidak menjawab.
Pria itu lalu melangkah mendekat satu langkah.
“Tapi kali ini… kau menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak kau sentuh.”
Nathan menatap pria itu tanpa sedikit pun gentar.
“Kalau kau datang hanya untuk menyalahkanku,” ujarnya dingin, “kau seharusnya datang dengan fakta, bukan emosi.”
Pria itu tersenyum tipis. “Fakta? Kau yang menghentikan proyekku sepihak, dan sekarang kau bicara soal fakta?”
Nathan sedikit menyandarkan tubuhnya, namun sorot matanya tetap tajam.
“Lokasi proyekmu berada di area pesisir dengan struktur tanah yang tidak stabil,” katanya tenang.
“Lapisan tanah di sana sudah mengalami erosi parah selama bertahun-tahun. Ditambah tekanan dari pembangunan skala besar—itu hanya soal waktu sebelum terjadi penurunan tanah.”
Pria itu langsung mengernyit.
Nathan melanjutkan tanpa jeda.
“Belum lagi jalur evakuasi yang tidak memadai, serta analisis dampak lingkungan yang kau percepat tanpa kajian ulang.”
Ia sedikit condong ke depan.
“Kalau proyek itu tetap dijalankan… bukan hanya bangunanmu yang runtuh.”
Nada suaranya menurun.
“Tapi juga orang-orang di dalamnya.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah serius.
Nathan belum selesai.
“Dan satu hal lagi,” lanjutnya, kini lebih tajam. “Area itu berada dekat zona rawan longsor bawah laut. Kalau terjadi pergeseran… gelombang yang dihasilkan cukup untuk menyapu seluruh garis pantai di sekitarnya.”
Deg.
Liora yang sejak tadi diam, tanpa sadar menegang.
Ia tidak sepenuhnya mengerti detailnya…tapi ia bisa merasakan keseriusan dalam setiap kata Nathan.
“Jadi jangan berpura-pura jadi korban di sini,” tutup Nathan dingin. “Aku tidak menghentikan proyekmu tanpa alasan.”
Pria itu terdiam beberapa detik.
Namun kemudian...
Ia tertawa pelan.
“Alasan yang bagus,” katanya. “Sangat… mulia.”
Tatapannya kembali tajam. “Tapi aku tidak percaya itu satu-satunya alasan. Nathan Han, aku tidak akan diam saja. Kau telah menyebabkan aku kehilangan segalanya. Aku ingin kau tahu akibatnya!"
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???