"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Gagal Membujuk
Deana mendengus kasar, ia menatap wajah Arya, "Lepaskan aku! Aku sudah menikah! orang-orang akan menilai buruk tentangku jika aku berduaan denganmu seperti ini, pergi kamu!" usir Deana dengan menggerakkan tangannya.
Arya melepaskan genggamannya, "Baiklah...." Arya menghela napasnya berat.
"Dea, bisa kita bicara sebentar?" tanya Arya lembut, hampir bersama selama dua tahun, Arya sudah biasa menghadapi sifat Deana. Perempuan memang mesti dilembuti agar mau menurut.
Deana memutar bola matanya malas, "Aku sudah memiliki suami, untuk apa harus melihat ke belakang apalagi bertemu lagi dengan orang yang jahat sepertimu." sambil berkata, kaki Deana juga sambil berjalan dengan cepat.
Arya membuntutinya, ia terkekeh pelan, "Suami katamu Dea? Aku dengar-dengar suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik." ejeknya pelan.
"Menikah-pun kamu tidak mengundangku, apa sejelek itu aku di matamu? Jujur saja aku masih mencintaimu, aku yakin kamu juga masih mencintaiku, kan? Menikah hanya untuk balas dendam padaku, kan? ayolah... kembalilah padaku Dea...." sambung Arya.
Deana membalikan tubuhnya, menatap wajah Arya dan menudingnya dengan telunjuknya, "Kamu jangan berbicara sembarangan, terlalu kepo dengan urusan orang lain sampai-sampai memfitnah seperti itu. Ingat, hubungan kita sudah selesai! Jadi tidak ada yang harus kita obrolkan lagi, mengerti!" Deana menatap tajam Arya lalu berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan Arya yang termenung dalam diamnya.
Arya meremas rambutnya kasar dengan kedua tangannya, "Argh!"
Arya menggigit ujung kukunya, "Deana benar-benar berubah setelah aku menyakitinya.... Sikapnya sudah tidak seperti dulu lagi."
Arya menendang bebatuan jalanan yang ada di depannya, ia hanya bisa membiarkan Deana pergi tanpa mengejarnya lagi.
"Aku benar-benar bodoh sudah menyakiti hatinya. Harusnya aku bahagia dengan Deana dan tidak seperti ini."
Kini, hidupnya seperti berada di ujung tanduk. Usianya yang sudah siap menikah, harus kembali mengulang masa percintaannya dengan orang baru karena kesalahannya pada Deana, membuat Arya sedikit frustasi karena sudah menyakiti perempuan yang terbaik di hidupnya.
***
Deana sudah kembali ke rumah. Kedatangannya ditatap tajam oleh Nyonya Ellen. Tapi, kedatangan Deana juga disambut girang oleh Lena.
"Mommy pulang! Mommy, aku mau sama Mommy!" Lena berlari kecil menghampiri Deana dan memeluk pinggulnya.
Deana sedikit membungkukkan tubuhnya dan mencium kening Lena, "Maaf ya sayang, Mommy habis keluar sebentar. Lena sudah bangun, sudah makan, hm? Mommy bawakan bubur ayam, ayo kita makan." Deana cuek saja pada Nyonya Ellen dan Fiona yang masih duduk berdua di ruang keluarga.
"Nyonya Dea, Lena sedang makan siang di meja, tapi... Sama sekali belum mau memakannya." ujar Suster Ina mengadu pada Deana.
Deana menuntun Lena, "Lain kali Len tidak boleh seperti itu, kalau Mommy tidak ada, Len harus mau disuapi dengan Suster atau Oma ya." Deana tersenyum menatap Lena.
Lena mengangguk, "Oke Mommy." balasnya dengan menampakkan deretan giginya yang rapih itu.
"Pintar anak Mommy yang cantik." puji Deana membalas senyuman Lena.
Suster Ina ikut tersenyum mendengar keduanya, memang sudah sangat klop dan layaknya seperti ibu dan anak.
***
Lena anteng duduk di samping Deana, ia masih mengunyah makanannya, dengan Deana yang menyuapinya.
"Mbak, ini tolong bubur ayamnya dihangati, Dea ingin memakannya lagi." ujar Deana pada pelayan yang sedang membersihkan meja makan itu.
"Baik Nyonya." pelayan itu tersenyum ramah dan mengambil bungkusan yang disodorkan oleh Deana.
Lena tidak mau memakan bubur ayamnya karena ia sudah ada makanan kesukaannya yang sudah dibuatkan oleh para pelayan dapur.
"Nyonya habis dari mana saja? Tadi Nona Lena merengek mencari Nyonya. Tuan dan Nyonya besar juga sudah kesal karena tidak ada yang tahu keberadaan Nyonya." ujar Suster Ina memberitahu. Ia sedikit mengecilkan suaranya karena takut didengar oleh para pelayan yang lain.
Deana terseyum tipis, "Habis cari angin Sus, Dea malas di rumah ada Mbak Fiona. Padahal Deana sudah geram dan ingin sekali menamp*ar keduanya, tapi apa daya... Di sini, Dea hanya orang biasa, sama derajatnya seperti kalian...." Deana menatap para pelayan yang sedang berkutat di dapur itu.
Suster Ina menganggukkan kepalanya pelan, ia tidak kembali bertanya.
"Mommy, sudah, aku mau minum." Lena mendorong pelan tangan Deana yang akan menyuapinya lagi.
Mata Lena asik dengan tontonan yang ada di tabletnya. Hanya hari ini saja diperbolehkan makan sembari menonton, karena tadi Lena sempat mogok makan.
Deana mengambil gelas bermotif pelangi dan awan itu dengan tangan kirinya dan memberikannya pada Lena. Deana telaten sekali mengurusi Lena, bahkan Deana tidak jijik saat membantu Lena mandi dan membersihkan diri setelah buang air.
"Sudah nontonnya, nanti Daddy Reno marah jika Len ketahuan nonton tabnya terus." Deana mengelus pipi Lena dan menyerahkan tabletnya pada Suster Ina.
Lena sama sekali tidak memprotes, ia justru memiringkan tubuhnya dan menatap pada Deana, memainkan tangan Deana dengan memencetnya pelan dan mencubit-cubitnya gemas.
Deana tersenyum, kemudian ia kembali menyuapi Lena lagi.
Sepuluh menit berlalu... Lena sudah menghabiskan makanannya dan Lena sudah dibawa oleh Nyonya Ellen untuk ke depan menemui Fiona.
Deana yang sedang mencuci piring bekas makan Lena itu tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang, untung ia masih bisa menahannya.
"Aduh kenapa tiba-tiba pusing begini sih." Deana memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya lagi dan melanjutkan aktivitasnya.
"Mungkin masih lapar, kan tadi baru makan bubur saja." gumamnya lagi.
Deana menaruh alat makan yang sudah bersih itu ke dalam rak.
"Nyonya Dea, buburnya sudah selesai dihangatkan. Apa ingin dimakan sekarang, Nyonya?" tanya pelayan itu membawakan semangkuk bubur yang Deana bawa itu.
Rasanya bahagia sekali, Deana mengangguk, "Dea mau memakannya sekarang Mbak. Makasih banyak ya."
"Nyonya Dea ingin minumnya apa?" tanya pelayan yang lain masih di depan kompor itu.
"Dea ingin es susu cokelat. Itu saja." sahut Deana. Ia yang biasanya minum air putih saja, sekarang ia tiba-tiba menginginkan minum es.
"Baik Nyonya."
Sementara itu di ruang keluarga, Lena sedang bersedekap dada dan terselimuti rasa kesal di hati kecilnya.
"Len nggak mau sama Aunty Fio! Len mau sama Mommy saja pergi ke tamannya." pipi Lena mengembung dan mengempis dengan cepat membuatnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Lena tidak boleh seperti itu, kan Aunty Fio yang mengajak Lena jalan-jalan... Jadi, nanti Lena dengan Oma dan Aunty Fio saja."
Lena menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Len nggak mau ikut, Len mau sama Daddy dan Mommy saja." balasnya lalu berlari ke dalam.
Nyonya Ellen menghela napasnya berat, ia menatap mata Fiona, "Ah ya, maafkan Lena ya Fio... Lena memang begitu semenjak kedatangan Deana di sini."
Berbagai macam binatang sudah Fiona sebut dalam hatinya, dan ia masih menunjukkan senyuman terbaiknya pada Nyonya Ellen, "Tidak apa-apa Tante Ellen. Mungkin nanti bisa dibujuk lagi Lena-nya."
Nyonya Ellen mengangguk, "Pasti, tapi Tante tidak janji. Apa kita bisa pergi berdua saja?"
Fiona mendengus pelan, hampir tak terdengar. Sebetulnya ia ingin mengajak Lena pergi karena ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa ia sudah berhasil mengambil hati calon mertua dan calon anaknya itu.
"Eum... Ya Tante. Bisa disesuaikan saja." Fiona mengangguk. Ingin menolak pun ia tidak enak hati.
"Kita bisa pergi shopping, beli apapun yang kita inginkan."
Fiona kembali bersemangat saat mendengar kata shopping.
"Iya, Tante. Sangat bisa."
"Atur saja, Tante free kalau di hari weekday. Kalau weekend, pasti ada Zavia dan cucu Tante ke sini, kalau tidak ya... Tante yang bermain ke rumah mereka."
Fiona mengangguk, "Siap Tante."