Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman manis
Langit di atas cakrawala mulai meluruh, menyisakan semburat ungu pekat dan oranye yang terbakar. Di jam-jam seperti ini, miasma tampak lebih berkilau, butiran di udara terlihat seperti permata beracun yang sedang menari di bawah cahaya rembulan.
Sura melangkah melewati lorong-lorong pilar batu menuju balkon istana.
Di sana, Raja tengah berdiri sendiri. Sosoknya dibalut jubah dengan sulaman benang emas yang menggambarkan naga kuno. Tubuhnya tegap, rambut hitam panjang terurai rapi, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan.
Namun, mata Sura bisa melihat sebuah keanggunan yang bersembunyi di balik tubuh besar itu. Sosok gadis cantik yang kesepian,
"Seharusnya kamu beristirahat untuk pertandingan besok." lugas Raja, punggungnya belum berbalik.
"Aku ke sini untuk menagih janji kepadamu," sahut Sura berdiri tepat di belakang Raja.
Raja menoleh. Wajah tegasnya tampak bingung. "Janji?"
"Sebelum pertandingan melawan Kura. Kamu berjanji untuk mengajariku sihir,"
Sang Raja terkekeh pelan, suaranya terdengar merdu. "Sihir bukan mainan, Sura. Energi ini bisa membakar jantungmu jika kamu tak mampu mengendalikannya."
Sura melangkah maju, memperpendek jarak hingga mereka bersentuhan dan merasakan kehangatan tubuh masing-masing.
"Akan kuterima apa pun risikonya," bisik Sura. "Sama sepertimu yang menerima risiko dan menyamar menjadi pria di tengah-tengah bangsa siluman yang haus akan kekuasaan."
Udara balkon mendadak beku. Tangan Raja bergerak secepat kilat, mencengkram kerah baju Sura dan mendorongnya hingga punggung Sura menghantam pilar. Mata merahnya kini menyala, penuh dengan ancaman.
"Berani sekali kamu---Sepertinya aku sudah terlalu memanjakanmu." desis sang Raja. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sura bisa merasakan napas yang berbau manis menghantam wajahnya. "Jika aku mau, kepalamu bisa terpisah dari tubuhmu sebelum kamu sempat berkedip."
Sura tidak gentar. Ia justru tersenyum tipis, bulu matanya yang lentik menyapu wajah Raja.
"Aku tahu, kamu tidak akan tega melakukan hal sekejam itu," sahut Sura tenang. "Jangan mencoba menutupi hati lembutmu di depanku,"
Genggaman sang Raja melonggar. Matanya yang tajam perlahan melembut, berganti kilatan rasa lelah yang sangat dalam. Dilepaskannya cengkraman, lalu berbalik kembali menatap bulan.
"Jadi bagaimana, apa kamu mau mengajariku tentang sihir?"
"Belajar sihir dimulai dengan penyatuan energi. Jika kamu memang ingin belajar, kamu harus siap untuk berbagi napas denganku malam ini."
Sura merasakan desiran aneh di dadanya. Dia telah salah sangka, apa yang terlintas dalam pikirannya berbeda jauh dari maksud sang Raja.
"Kalau begitu, aku punya tempat yang pas untuk kita berlatih malam ini."
"Hng?" Raja berbalik, dibuat penasaran dimana tempat yang Sura maksud?
Raja hanya diam, membiarkan Sura menautkan jemarinya, menarik pergi ke dalam istana. Sepasang makhluk berbeda itu melangkah dalam sunyi,
Mata Sura siaga mengawasi sekitar, memastikan tak ada pengawal yang melihatnya membawa Raja masuk ke dalam kamar.
Sura bergerak cepat, menutup pintu. Bunyi deritan dari kayu ulin itu seakan memutus hubungan mereka dengan dunia luar.
Sura tersenyum, masih enggan melepaskan tautan tangan.
"Apa ini? Jadi tempat yang kamu maksud itu, adalah kamarmu?" Raja menahan tawa, bisa-bisanya dia menganggap serius ucapan tadi.
"Sebentar, tempat itu harus kusiapkan lebih dulu." sahut Sura mulai memejamkan mata.
"Skill Pembatas Ilahi akan diaktifkan. Kontak fisik terdeteksi. Subjek siluman diizinkan masuk ke dalam ruang." suara Sistem menggema di telinga.
Sura mempererat genggamannya, menyalurkan kehangatan. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berdesir menciptakan garis-garis cahaya putih dari lantai, merambat naik membentuk kubah transparan.
"Ini adalah tempat yang kumaksud," bisik Sura.
Raja terkejut. Ia melepaskan tangannya dari Sura memastikan dimana tempatnya berdiri. "Ini... ini pembatas yang kamu pakai saat pertandingan kemarin. Bagaimana bisa? Bahkan Panglima Gola tidak mampu menembusnya."
"Aku sedikit mengotak-atiknya agar kamu bisa masuk," ucapan Sura menyentuh lubuk hati sang Raja.
"Di sini hanya ada kita berdua. Tidak ada permusuhan antara siluman dan manusia. Tidak ada takdir yang memaksa kita untuk saling berperang."
Raja terdiam,mulutnya kaku tak tahu harus berkata apa.
Di tengah kesunyian, detak jantung mereka menjadi satu-satunya melodi yang terdengar. Waktu seolah berhenti, udara pekat oleh aroma miasma kini berganti menjadi angin sejuk yang menyegarkan.
Dinding transparan itu benar-benar menyaring segalanya, seakan alam tunduk kepada Sura.
"Areel..." seru Sura menyaksikan saat energi hitam itu luruh seperti debu tertiup angin,
Gadis itu memejamkan mata, saat tubuhnya seakan dilucuti, perubahan besar terjadi, seperti ikat rambut yang ditarik paksa. Sedikit sakit,
Wujud siluman Raja yang agung mulai memudar. Tanduknya menyusut, taringnya menghilang dan tubuhnya mengecil.
Membuat jubah hitam besar tadi melorot jatuh ke bahu, tak mampu membungkus tubuh manusianya yang mungil dan rapuh.
Kulit seputih kapas, mengekspos lengkungan bahu dan belahan dada yang begitu indah hingga memaksa napas Sura berhenti di tenggorokan.
Areel menunduk, wajahnya merona hebat. Jemari kecilnya gemetar, berusaha menarik kain jubah demi menutupi kemolekan tubuhnya.
"Hei! Tutup matamu," bisiknya panik, suaranya kini terdengar begitu feminim dan manis, tanpa gema kekuatan.
"Pria normal sepertiku mana mungkin melewatkan kesempatan!" batin Sura tercengang.