Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Seperti Vonis
Tubuh Gerry tertahan. Sedangkan Emeery bergerak sesuai dengan apa yang baru saja dia pelajari. Ternyata tidak sulit, tapi juga tidak mudah. Namun, dia berusaha mempraktekkannya sebaik mungkin, hingga dengan cepat tubuh Gerry memanas.
Kedua tangan yang semula menganggur di atas kasur, kini berpindah ke kedua pinggang Emeery. Mengelus, mengusap dengan lembut hingga gadis itu menggeliat namun tanpa melepaskan ciuman.
Gerry tak menyangka bahwa Emeery akan seterang-terangan ini membalasnya. Namun, di sisi lain dia juga bersyukur karena tak harus menunggu lebih lama.
"Gimana?" tanya Emeery mengambil jarak sambil mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan.
Gerry tersenyum miring, "lumayan." katanya, melukai harga diri Emeery sebagai seseorang yang baru saja belajar. Gadis itu mencebik, dia ingin turun dari tubuh suaminya, tapi pria itu segera membalik keadaan.
"Akhh!" Emeery memekik keras, kini tubuhnya sudah dalam kungkungan raga perkasa yang siap menyelami tubuhnya. Senyum menggoda itu muncul lagi, dan dengan cepat Gerry mengubah suasana kembali menjadi panas.
Jemarinya yang kekar menyusuri bagian yang dia pikir tidak ada artinya. Namun, ternyata ada sesuatu yang masih bisa dia genggam dan mainkan. Menggelitik, menyenangkan, hingga membuat Emeery terengah, juga berulang kali memejamkan mata.
Aneh, tapi membuatnya merasa ketagihan. Apakah ini artinya dia normal? Begitu juga dengan Gerry yang beringas di atasnya. Kini semua itu tidak perlu dipertanyakan kan?
"Kak!" Suara Emeery bercampur lenguhan, tangannya menahan Gerry yang sudah ingin melucutinya.
Gerry memiringkan kepala. "Kenapa?"
"Mau apalagi?" tanya Emeery dengan polos lengkap dengan wajahnya yang memerah. Gerry sampai tak sadar tertawa.
"Kamu yang mulai, kenapa pake nanya?"
Terdengar bukan seperti jawaban. Tapi entah kenapa Emeery mampu untuk mengerti kalimat tersebut.
"Emang harus ya?"
"Harus apa tuh?" goda Gerry ingin melihat reaksi lucu Emeery. Gadis itu sedikit mencebik, karena bicara dengan suaminya harus blak-blakan.
Antara siap dan tidak siap, Emeery malah bangkit dan berusaha menyingkirkan tubuh Gerry yang mengurungnya. Namun, tidak semudah itu, dia kembali terbanting ke atas ranjang.
"Sekarang atau nanti, bakal sama aja. Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu, kamu pikir aku nggak normal kan? Aku normal, Mery. Jadi aku mau sekarang, aku mau kamu malam ini!"
Glek!
Kalimat itu terdengar seperti vonis yang tidak bisa dibantahkan. Kini Emeery malah ketar-ketir sendiri, padahal dia sendiri yang sudah memancing Gerry sejauh ini. Emeery menggigit bibirnya dalam, haruskah dia menyerahkan diri?
Dan jawabannya iya! Karena tidak lama setelah itu, dia kembali tenggelam dalam buaian pria dewasa yang membawanya menari ke atas nirwana. Membuat malamnya lebih panjang dan penuh jeritan.
*
*
*
Pagi kembali menyapa dengan cepat. Namun, Emeery merasa enggan untuk membuka mata apalagi turun dari atas kasur, tubuhnya terasa remuk, tapi ada sisa yang masih menggelitik sekaligus sakit di bawah sana.
"Mery nggak ikut turun, Ger?" tanya Brigitta melihat Gerry seorang diri memasuki dapur. Sementara yang lain sudah selesai sarapan. Matahari juga sudah meninggi.
"Nggak, Mom, mau sarapan di kamar aja katanya," jawab Gerry sambil tersenyum tipis. Dia mengambil piring, tapi langsung direbut oleh Brigitta.
"Biar Mommy yang siapkan." Brigitta merasa ada yang aneh dari gelagat menantunya, tapi entah kenapa instingnya berkata ini kemajuan yang baik untuk hubungan mereka.
Setelah semuanya siap di dalam nampan, Gerry langsung membawanya ke kamar. Saat pintu terbuka, masih belum ada pergerakan dari Emeery, namun sebenarnya gadis itu sudah bangun.
"Kamu perlu makan buat isi tenaga, ayo bangun!" ajak Gerry yang terlihat segar bugar. Karena Meguminya sudah mendapat makan.
Emeery mengerjap pelan, dia hanya mengubah posisi kepala.
"Masih mau main-main di kasur?" goda Gerry, seperti mantra yang membuat kantuk Emeery hilang seketika.
"Enggak, aku mau mandi, makan dan tidur lagi. Capek banget ternyata," jawab Emeery dengan suara parau. Dia berusaha bangun sambil menutupi bagian atas tubuhnya. Saat matanya bersitatap dengan Gerry, ada rasa malu yang menyembul hingga pipinya memerah. Sial, untuk pertama kalinya dia salting brutal. Rasanya lebih-lebih dari momen ditembak Anjas di WC sekolah.
"Mau aku bantu nggak?" tanya Gerry melihat istrinya kesusahan berjalan.
"Nggak usah, aku mau langsung mandi," jawab Emeery sedikit judes. Namun, Gerry tak menggubris itu semua, dia justru melangkah dan langsung mengangkat tubuh Emeery.
"Kebetulan aku sama Megumi juga belum mandi," katanya dengan santai. Emeery mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Megumi? Siapa gerangan?
Tadi malam baru makan, sudah bertahun² puasa 🤣🤣
Bagus bener nama dedeknya Gery🤣🤣
semangat terus untuk update tiap hari😘