NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Suara klik kunci pintu apartemen yang mengunci otomatis seolah menjadi lonceng pembuka bagi dunia yang hanya milik mereka berdua. Keheningan apartemen yang mewah itu mendadak terasa menyesakkan, penuh dengan ketegangan yang sudah mencapai titik didih sejak di parkiran tadi.

Thomas tidak memberikan kesempatan bagi Arunika untuk menyalakan lampu ruang tengah. Dalam remang cahaya lampu kota yang menembus jendela kaca besar, Thomas membalikkan tubuh Arunika, menekannya ke pintu kayu yang kokoh.

"Mas..." desis Arunika, suaranya bergetar antara gugup dan gairah yang membuncah.

Thomas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menangkup wajah Arunika dengan kedua tangan besarnya, menatap mata istrinya dengan intensitas yang seolah mampu membakar. "Aku sudah menunggu saat ini lebih lama dari yang bisa kamu bayangkan, Nika," bisiknya serak sebelum menyambar bibir Arunika dalam ciuman yang jauh lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan kepemilikan.

Arunika tidak lagi menahan diri. Ia melingkarkan tangannya di leher Thomas, menarik pria itu agar semakin merapat. Ia bisa merasakan kerasnya otot dada Thomas di balik kemeja tipisnya, dan aroma parfum maskulin yang kini terasa begitu memabukkan. Setiap sentuhan Thomas seolah mengirimkan sengatan listrik ke seluruh pusat syarafnya.

Tangan Thomas yang tadinya berada di wajah Arunika, kini merayap turun dengan posesif. Ia menyusupkan telapak tangannya ke bawah kaos merchandise yang dipakai Arunika, menyentuh kulit pinggangnya yang halus dan hangat. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat Arunika mengerang di sela ciuman mereka, tubuhnya melengkung secara naluriah mencari lebih banyak kontak.

Dengan satu gerakan sigap, Thomas mengangkat tubuh Arunika. Arunika refleks melingkarkan kakinya di pinggang kokoh Thomas, sementara tangan Thomas menopang pinggulnya dengan kuat. Sambil terus bertukar ciuman yang semakin panas, Thomas membawa Arunika menuju kamar utama—kamar Thomas, yang malam ini tidak akan lagi memiliki sekat.

Begitu sampai di samping tempat tidur besar itu, Thomas membaringkan Arunika dengan sangat perlahan, seolah gadis itu adalah porselen paling berharga. Ia segera menindihnya, mengurung tubuh mungil Arunika di bawah tubuh tegapnya.

"Nika, kalau kamu mau berhenti, katakan sekarang," bisik Thomas di sela napasnya yang memburu, meski matanya menunjukkan keinginan yang sangat besar.

Arunika menggeleng pelan, ia menarik kerah kemeja Thomas agar wajah pria itu kembali sejajar dengannya. "Jangan berhenti, Mas. Aku mau... aku mau jadi milikmu sepenuhnya."

Jawaban itu seolah menjadi kunci pembuka gerendel gairah Thomas. Ia segera menanggalkan kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang terpahat sempurna di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Arunika terpaku sejenak, mengagumi sosok suaminya yang selama ini hanya ia bayangkan di balik setelan jas mahal.

Thomas kemudian membantu Arunika melepaskan pakaiannya dengan gerakan yang penuh pemujaan. Setiap inci kulit Arunika yang terekspos diberikan kecupan oleh Thomas—mulai dari bahunya yang indah, lekuk lehernya, hingga turun ke area yang lebih sensitif. Arunika merasa tubuhnya terbakar, setiap sentuhan Thomas meninggalkan jejak panas yang membuatnya gemetar hebat.

"Mas Thomas... Mas..." rintih Arunika saat jemari Thomas mulai menjelajah lebih jauh, mengeksplorasi setiap sudut kepekaan tubuhnya dengan ritme yang menggoda.

Thomas tidak terburu-buru. Ia ingin memastikan Arunika benar-benar siap dan menikmatinya. Ia membisikkan kata-kata pujian, tentang betapa cantiknya Arunika malam ini, tentang betapa ia memuja setiap bagian dari diri istrinya. Gairah yang meluap itu tidak hanya soal fisik, tapi juga soal emosi yang selama ini tertahan oleh tembok "kontrak" yang kini sudah hancur berkeping-keping.

Saat gairah mereka sudah mencapai puncaknya, Thomas menyatukan tubuh mereka dalam satu gerakan yang penuh dengan kelembutan namun tetap bertenaga. Arunika memekik pelan, kuku-kukunya meremas bahu Thomas saat ia merasakan sensasi yang luar biasa asing sekaligus indah memenuhi dirinya.

Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu itu, waktu seolah berhenti. Hanya ada suara napas yang beradu, rintihan lembut, dan gerakan ritmis yang menyatukan dua jiwa. Thomas bergerak dengan dominasi yang protektif, sementara Arunika mengikuti setiap irama yang diberikan suaminya dengan penuh penyerahan.

Keringat mulai bercucuran, membasahi tubuh mereka yang saling bertautan. Setiap inci kulit yang bersentuhan terasa seperti api yang menjalar. Thomas menatap mata Arunika di tengah pergulatan mereka, memastikan bahwa gadis itu tetap bersamanya dalam setiap gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi.

Puncak itu akhirnya datang seperti ledakan kembang api yang luar biasa. Arunika memeluk Thomas erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya saat seluruh tubuhnya menegang dalam kepuasan yang tak terlukiskan. Thomas pun menyusul tak lama kemudian, mengerang rendah sambil membenamkan wajahnya di rambut harum Arunika.

Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang masih berpacu liar. Thomas tidak langsung menjauh. Ia tetap memeluk Arunika, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Arunika. Untuk semuanya," bisik Thomas, suaranya kembali lembut dan menenangkan.

Arunika bersandar di dada Thomas yang bidang, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai melambat. "Aku sayang Mas Thomas. Ternyata... Mas nggak 'biasa aja'."

Thomas tertawa kecil, suara tawa yang sangat tulus. Ia mengeratkan pelukannya, memastikan tidak ada lagi jarak di antara mereka. Malam itu, di apartemen lantai atas yang tenang, Mr. dan Mrs. Adiputra bukan lagi sekadar nama di atas kertas kontrak. Mereka telah menjadi satu, dalam janji yang jauh lebih sakral daripada sekadar perjanjian hukum—janji yang ditulis oleh debaran jantung dan gairah yang akhirnya menemukan pelabuhannya.

Mochi yang berada di ruang tengah sudah lama tertidur, memberikan ruang bagi kedua majikannya untuk menikmati malam pertama mereka sebagai suami istri yang sebenarnya, tanpa gangguan Ardi, tanpa gangguan Mami, hanya kehangatan yang akan mereka kenang selamanya.

***

Sinar matahari pagi menembus kaca besar ruangan CEO Adiputra Group, memantul pada meja marmer yang mengkilap. Seperti biasa, Ardi sudah nangkring di sofa ruang tamu kantor Thomas dengan segelas kopi di tangan. Namun, matanya tidak fokus pada ponsel, melainkan pada pintu masuk yang baru saja terbuka.

Arunika melangkah masuk dengan setelan blazer baby pink yang senada dengan rok span selututnya. Ada yang berbeda. Langkah kakinya terasa lebih ringan, dan ada rona alami di pipinya yang bahkan tidak bisa ditutupi oleh blush on paling mahal sekalipun.

Thomas mengekor di belakangnya. Wajah kaku sang CEO itu entah kenapa terlihat lebih "cerah". Garis rahangnya yang biasanya tegang kini tampak sedikit lebih rileks, dan sorot matanya terus mengikuti setiap gerak-gerik Arunika dengan tatapan yang... sulit diartikan oleh orang awam, tapi sangat terbaca oleh seorang Ardi.

Ardi meletakkan kopinya dengan pelan, matanya menyipit seperti detektif yang menemukan bukti baru.

"Kenapa liat-liat?" tanya Arunika ketus saat menyadari tatapan intens Ardi. Ia berjalan lurus ke arah meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, mencoba mengabaikan rasa panas yang tiba-tiba menjalar ke tengkuknya.

"Aneh aja," gumam Ardi, nadanya sengaja dibuat misterius.

"Aneh kenapa? Perasaan biasa aja. Udah ah, aku mau kerja. Banyak laporan yang harus di-input," sahut Arunika cepat. Ia segera membuka laptopnya, pura-pura sangat sibuk memeriksa email, padahal layar laptopnya bahkan belum menyala sempurna.

Ardi berdiri, berjalan mendekati meja Arunika dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Ia menghirup udara di sekitar Arunika dengan dramatis.

"Bau parfumnya baru ya, Nik?" tanya Ardi jahil.

"Ini parfum kemarin yang aku ceritain, Kak. Yang viral itu," jawab Arunika tanpa menoleh.

"Bukan... bukan bau parfum itu," Ardi beralih menatap Thomas yang sudah duduk di kursi kebesarannya sambil membuka map dokumen. "Tapi bau-baunya ada yang sudah 'resmi' nih. Kayak ada aroma kemenangan yang tercium dari kursi CEO."

TAK!

Thomas meletakkan pulpennya dengan suara yang cukup keras di atas meja. "Ardi, kalau lo ke sini cuma buat jadi detektif cinta, mending lo balik ke divisi lo sekarang. Gue nggak punya waktu buat dengerin teori konspirasi lo."

Ardi justru tertawa renyah. Ia malah duduk di pinggir meja Arunika, membuat gadis itu mendongak kesal. "Nik, lo tahu nggak? Thomas itu kalau lagi seneng, telinganya agak merah dikit. Coba lo liat deh."

Arunika refleks melirik ke arah telinga Thomas, dan benar saja, ada sedikit rona merah di sana. Thomas langsung berdehem keras dan memutar kursinya membelakangi mereka berdua.

"Tuh kan! Gue bener!" seru Ardi girang. "Jadi... gimana rasanya? Udah nggak ada 'tembok' lagi di apartemen? Apa piyama flanel beruang itu sudah masuk gudang?"

Wajah Arunika meledak merah. "Kak Ardi! Berisik banget sih! Itu urusan rumah tangga aku, kenapa Kakak yang repot?!"

"Gue nggak repot, Nik. Gue cuma peduli sama kesejahteraan sahabat gue. Liat tuh si Thomas, biasanya mukanya kayak kanebo kering, sekarang kayak bunga matahari abis disiram," Ardi terus menggoda. "Dan lo juga, Nik. Biasanya kalau masuk kantor muka lo kayak mau ngajak berantem, sekarang senyum-senyum sendiri liat layar laptop mati. Lo lagi liat masa depan ya?"

Arunika buru-buru menyalakan laptopnya. "Aku cuma... aku cuma lagi bahagia karena wisudaku lancar kemarin! Udah, Kak, sana pergi!"

Thomas akhirnya kembali memutar kursinya. "Ardi, berhenti ganggu Nika. Dia harus nyiapin berkas buat rapat jam sepuluh nanti."

Ardi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, oke. Bos besar sudah bersabda. Gue pergi. Tapi satu hal ya, Tom..." Ardi berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh dengan cengiran paling menyebalkan. "Lain kali kalau mau pake concealer buat nutupi bekas di leher, tanya Arunika. Punya lo kurang rapi, masih kelihatan dikit tuh di bawah kerah."

"ARDI!!!" teriak Thomas dan Arunika bersamaan.

Ardi langsung lari keluar ruangan sambil tertawa terbahak-bahak sebelum sebuah buku agenda yang dilempar Thomas sempat mengenai punggungnya.

Kesunyian kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini suasananya terasa sangat panas. Arunika menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara Thomas berdehem berkali-kali sambil merapikan kerah kemejanya di depan cermin kecil di sudut meja.

"Mas..." panggil Arunika lirih dari balik jemarinya.

"Ya?"

"Beneran kelihatan?"

Thomas memeriksa lehernya di cermin, lalu menghela napas panjang. "Sedikit. Ardi memang matanya lebih tajam daripada elang kalau urusan begini."

Arunika merosot di kursinya. "Aduh, malunya... Aku nggak bakal berani keluar ruangan ini sampai jam makan siang!"

Thomas berdiri, berjalan menghampiri meja Arunika. Ia membungkuk, menangkup wajah istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. "Kenapa harus malu? Kita suami istri sah. Biarkan saja Ardi bicara apa. Yang penting, kamu tidak menyesal kan soal semalam?"

Arunika menatap mata Thomas, rasa malu itu perlahan memudar digantikan oleh kehangatan yang sama seperti semalam. "Nggak menyesal, Mas. Malah... aku seneng banget."

Thomas tersenyum, senyum yang hanya ia berikan untuk Arunika. "Ya sudah, kerjakan laporanmu. Nanti siang kita makan di luar, jauh dari jangkauan Ardi."

"Siap, Mas CEO!" Arunika memberikan hormat militer yang lucu, membuat Thomas terkekeh sebelum kembali ke kursinya.

Pagi itu, meskipun ada gangguan dari "detektif" Ardi, bagi Thomas dan Arunika, suasana kantor tidak pernah terasa seindah ini. Rahasia kecil mereka mungkin sudah tercium oleh orang terdekat, tapi itu justru membuat ikatan mereka terasa semakin nyata—bukan lagi sekadar kontrak yang dingin, melainkan cinta yang mulai tumbuh subur di antara tumpukan berkas dan hiruk-pikuk dunia bisnis.

***

Finally ya mas Thomas setelah PO 10 tahun sekarang resmi jadi istri lahir batin 🤣 Tapi jangan seneng dulu kalian wahai, readers karena jin dasim sesungguhnya akan muncul dan membuat gebrakan. Tungguin ya 😝😘 jangan lupa bintang 5 nya like+komen hehe.

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!