NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Aku Mulai Jujur Pada Hati

Sudah dua hari berlalu sejak pertemuan yang penuh gejolak di restoran Menteng itu. Dua hari yang terasa berjalan begitu lambat, seolah‑olah sama lamanya dengan dua minggu penuh. Hari‑hari yang dipenuhi perenungan panjang, pertanyaan‑pertanyaan yang belum menemukan jawabnya, serta perasaan yang tumbuh di dalam hati namun belum bisa kuberikan nama apa pun.

Tidur nyenyak masih menjadi hal yang sulit kudapatkan. Bukan lagi karena rasa takut pada Reza—ia sama sekali belum muncul kembali sejak kejadian di depan kosan tempo hari—melainkan karena pikiranku terlalu sibuk berputar memproses segala hal yang terjadi belakangan ini. Terbayang terus sosok Aldo, sikap tegas ibunya, dan yang paling membekas: kata‑kata Aldo saat berani membela aku di hadapan ibunya sendiri.

“Aku memang belum tahu ke mana hubungan ini akan membawa kami berdua, Bu. Tapi aku berjanji takkan membiarkan siapa pun—bahkan Ibu sendiri—menghina atau merendahkan orang yang sangat aku pedulikan.”

Aku memeluk gulingku seerat‑eratnya, membenamkan wajah di antara bantal yang berbau pewangi lembut itu, lalu berguling‑guling di atas kasur persis seperti anak kecil yang tak kunjung bisa terlelap.

“Kenapa dia berani membela aku sekuat itu?” gumamku dalam hati. “Kita baru saja saling mengenal selama beberapa hari saja. Belum ada ikatan apa pun, belum pernah menyebut diri pacaran. Awalnya kami hanya… dua orang yang dipertemukan karena keinginan orang tua masing‑masing.”

Namun suara hati kecilku menjawab hal lain, lebih lembut namun lebih meyakinkan.

“Karena dia sungguh peduli. Karena dia berbeda dari orang lain yang pernah kau kenal. Dan karena dia tidak sama seperti Reza.”

Dan itulah justru yang membuatku merasa takut.

Bukan takut pada Aldo—aku sama sekali tidak pernah merasa takut saat bersamanya. Melainkan takut pada diriku sendiri. Takut karena setiap hari berlalu, rasanya makin sulit membayangkan hari‑hariku tanpa pesan darinya, tanpa senyumnya yang hangat, dan tanpa ketenangan yang selalu ia berikan lewat sikapnya yang tenang dan bijaksana.

Pagi itu, saat sinar matahari baru saja masuk lewat celah jendela, ponselku bergetar pelan di sisi tempat tidur.

Pesan masuk dari Aldo:

“Selamat pagi, Tari. Kamu sudah bangun dan bergerak?”

Senyum otomatis merekah di bibirku—sebuah kebiasaan baru yang mulai kusadari, dan entah mengapa hal itu justru membuatku agak cemas sendiri.

“Selamat pagi, Aldo. Sudah bangun dari tadi, cuma belum sempat beranjak. Kamu sendiri sudah beraktivitas?” balasku.

Tak lama pesan balasan datang:

“Baru saja selesai mengajar. Jadwalku hari ini cuma satu kelas saja, jadi waktunya agak luang.”

“Kamu mengajar mulai jam delapan pagi?” tanyaku takjub.

“Iya. Mahasiswa angkatan awal memang sering kumasukkan jam pagi, biar mereka terbiasa disiplin dan tidak terlanjur suka begadang lalu bangun siang.”

Aku tertawa kecil membacanya, lalu mengetik lagi:

“Wah, berarti kamu tipe dosen yang galak ya?”

“Bukan galak. Aku dosen yang baik dan sabar kok. Tapi kalau ada mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, nilainya tetap akan kujalani sesuai aturan, tidak ada pengecualian."

“Berarti tegas.”

“Lebih tepatnya: adil.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku, lalu ragu sejenak. Di benakku, sudah lama tersimpan satu pertanyaan berat yang ingin kusampaikan sejak kejadian di restoran itu. Akhirnya aku memberanikan diri:

“Aldo… ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”

“Silakan saja. Tanyakan apa pun, tak usah ragu.”

“Kamu… apakah kamu benar‑benar serius dengan semua perkataanmu waktu itu, saat bicara pada ibumu di depan kami semua?”

Di layar, muncul tanda tiga titik—tanda ia sedang mengetik. Lalu hilang. Muncul lagi, lalu hilang kembali. Sepertinya ia pun sedang memikirkan kata‑kata yang paling pas untuk menjawab.

Hingga akhirnya pesannya masuk:

“Aku tidak pernah sekalipun mengucapkan hal yang tidak benar kepadamu, Tari. Terutama jika hal itu berhubungan dengan apa yang kurasakan.”

“Tapi ingatlah… kita baru saja saling mengenal beberapa hari saja,” tulisku lagi, masih berusaha mencari kepastian.

“Lamanya waktu yang berjalan tidak selalu menjadi ukuran seberapa dalam perasaan yang tumbuh, Tari. Kadang, ada pertemuan yang singkat namun mampu mengubah segalanya."

Aku menatap tulisan itu cukup lama. Ada rasa hangat yang perlahan menyebar di seluruh dadaku—sesuatu yang sulit kujelaskan dengan kata‑kata, sesuatu yang membuatku ingin tersenyum bahagia namun di saat yang sama rasanya ingin menangis haru.

“Aldo… aku jujur saja, aku masih sering merasa bingung. Bingung dengan apa yang kurasakan sendiri,” akuku tulus.

“Tak perlu terburu‑buru untuk mengerti atau memutuskan apa pun. Aku tidak akan ke mana‑mana meninggalkanmu,” jawabnya seketika.

“Tapi—”

“Tari… Kamu baru saja melewati masa yang berat dan menyakitkan bersama Reza. Kamu butuh waktu untuk pulih dan tenang. Aku siap menunggu.”

“Menunggu apa?” tanyaku hati‑hati.

“Menunggu sampai kamu merasa siap. Menunggu sampai hatimu merasa yakin. Menunggu sampai kamu… memilihku dengan kesadaran penuh dan kemauan sendiri.”

Jari‑jariku terasa kaku dan berat di atas layar ponsel. Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan, namun tak ada kata‑kata yang terasa cukup untuk mewakili semuanya. Akhirnya, aku hanya menulis singkat:

“Terima kasih banyak, Aldo.”

Balasannya pendek namun menenangkan:

“Sama‑sama, Tari. Sekarang pergilah sarapan dulu ya. Jangan sampai lupa makan.”

Aku tersenyum kecil, meletakkan kembali ponsel, lalu berjalan menuju dapur sederhana di ujung lorong kosan untuk menyeduh teh chamomile kesukaanku.

***

Menjelang siang, aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju kafe Senjakala—sendirian.

Aku tak bisa menjelaskan alasan pastinya kenapa kakiku membawa ke sana. Mungkin karena aku ingin kembali merasakan suasana tempat di mana kami pernah duduk mengobrol dan tertawa bersama. Mungkin karena di sanalah ide‑ide tulisanku selalu mengalir lancar, seolah tempat itu memiliki keajaiban tersendiri. Atau… mungkin saja alasannya sederhana: aku hanya merasa rindu. Rindu pada sosoknya, meski aku tahu Aldo tidak akan ada di sana hari ini.

Aku memilih duduk di meja sudut dekat jendela—tempat yang sama persis dengan yang kami duduki tempo hari. Memesan teh chamomile hangat, membuka layar laptop, lalu mulai mengetikkan kata‑kata demi kata.

“Ia menangkupkan kedua tangannya di pipiku, lalu dengan lembut menyeka air mata yang jatuh di sana. Aku terpaku diam menatap wajah yang terlihat mirip tujuh persepuluh dengan wajah mantan kekasihku yang baru saja meninggalkanku. ‘Lantas apa masalahnya kalau aku ini adiknya? Tinggalkan saja dia. Dan coba sekarang… bisakah kau benar‑benar melihat ke arahku?’”

Aku berhenti mengetik sejenak, lalu membaca ulang kalimat itu. Sosok yang tertulis di sana… wajah yang terbayang… semuanya adalah Aldo. Tanpa sadar, dialah yang kini menjadi sumber inspirasi setiap tulisanku.

“Tari?”

Suara panggilan itu membuatku menoleh.

Di samping mejaku berdiri Rendra, pemilik sekaligus barista kafe ini. Di tangannya tergenggam dua cangkir kopi berasap. Wajahnya selalu tampak ramah dan ceria, dengan rambut keriting sebahu yang diikat sembarangan memakai karet gelang.

“Halo, Mas Rendra,” sapaku sopan.

“Ini ada sedikit sajian untukmu,” katanya seraya meletakkan satu cangkir di hadapanku. “Kopi susu gula aren, resep baru yang baru kucoba. Silakan dicoba, gratis kok.”

Aku tersenyum menghargai. “Terima kasih banyak, Mas. Tapi maaf… sebenarnya aku kurang suka minum kopi.”

“Kamu tidak suka kopi?” Rendra mengangkat sebelah alisnya kaget. “Ah iya, aku lupa Aldo pernah bilang padaku kalau kesukaanmu itu teh chamomile.”

“Iya, benar. Aku memang lebih memilih teh daripada kopi.”

“Wah, sayang sekali. Teh chamomile-nya kebetulan habis. Belum sempat aku belanja pasokan baru hari ini,” katanya sambil menggeleng kecil.

“Tidak apa‑apa, Mas. Nanti saja aku pesan minum yang lain,” jawabku tenang.

Tanpa menunggu dipersilakan, Rendra menarik kursi di hadapanku lalu duduk—sikapnya akrab persis seperti orang yang sudah lama saling kenal.

“Tari… kamu baik‑baik saja kan? Ada yang sedang membebani pikiranmu?” tanyanya lembut.

“Tentu saja baik. Memangnya kenapa, Mas?” jawabku berusaha santai.

“Kamu terlihat… sedang melamun jauh sekali. Biasanya orang yang tampak begitu ada dua kemungkinan: baru saja patah hati, atau sedang jatuh hati,” katanya sambil tersenyum penuh arti.

Aku tersentak kaget mendengar ucapannya. “Aku tidak—”

“Sudah cukup lama aku bekerja melayani orang di sini, Tari. Aku sering melihat tamu datang dan pergi,” potongnya santai. “Orang yang sedang bersedih karena cinta biasanya memesan kopi yang pahit tanpa gula. Sedangkan orang yang sedang bahagia karena jatuh cinta, pasti memilih yang manis‑manis.” Ia menunjuk cangkir tehku yang sudah tandas. “Dan kamu? Kamu selalu memesan teh chamomile, minuman penenang. Itu tandanya hatimu sedang galau dan bimbang.”

Aku terdiam, tak sanggup membantah. Rendra tersenyum puas, lalu berdiri kembali hendak pergi.

“Satu pesan dariku: kalau Aldo bertanya soal obrolan kita ini, jangan bilang aku yang mengatakannya ya,” bisiknya sambil berjalan mundur. “Tapi sungguh… sudah lama sekali aku tidak melihat Aldo sebahagia ini. Sejak ia pertama kali bertemu denganmu.”

Ia pun berlalu kembali ke balik meja pelayanan, meninggalkan aku yang terdiam dengan perasaan campur aduk di dada.

Aldo bahagia? Karena aku?

Mataku kembali tertuju pada layar laptop, membaca ulang kalimat yang baru saja kutulis tadi.

“Tinggalkan saja dia. Dan coba sekarang… bisakah kamu benar‑benar melihat ke arahku?”

Perlahan aku menghapus kalimat itu satu per satu.

Bukan karena tulisannya kurang indah. Melainkan karena aku merasa belum siap menulis kisah tentang Aldo. Belum siap mengakui—bahkan pada diriku sendiri—bahwa apa yang kurasakan padanya bukan sekadar rasa nyaman biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar.

***

Menjelang sore, ponselku kembali bergetar. Kali ini tertulis nama penelepon: Mama.

Aku menghela napas panjang. Sudah kuduga Mama pasti sudah mendengar kabar apa pun yang terjadi. Di lingkungan tempat tinggal kami, kabar berjalan sangat cepat—terutama di kalangan ibu‑ibu arisan seperti Mama dan Bu Dewi; rahasia seolah tak pernah bertahan lama di antara mereka.

“Halo, Ma?” jawabku, berusaha membuat nada suaraku terdengar tenang dan wajar.

“Tari!” suara Mama terdengar tinggi dan kaget dari seberang telepon. “Kamu ada di mana sekarang? Kamu sehat kan? Kenapa dari kemarin jarang memberi kabar?”

“Aku baik‑baik saja, Ma. Aku ada di kosan di Depok. Ada apa gerangan sampai Mama khawatir begini?”

“Tidak ada apa‑apa… hanya saja…” Mama terdiam sejenak, lalu aku mendengar suara napas panjangnya, seolah berusaha menenangkan diri. “Tari… Mama mendengar kabar kalau kamu akhir‑akhir ini sering berdekatan dengan adiknya Reza. Benar begitu, bukan?”

Jantungku berdebar lebih kencang. Sudah pasti Bu Dewi yang menceritakan semuanya pada Mama.

“Iya, Ma. Memang benar. Aku dan Aldo… kami saling mengenal dan berteman,” jawabku sejujur mungkin.

“Berteman saja?” nada suara Mama sedikit meninggi. “Bu Dewi sendiri yang bercerita kalau kalian sering bertemu. Bahkan sampai ke kosanmu dia datang.”

“Itu karena Aldo orangnya baik, Ma. Dia hanya… berusaha menolongku saat aku membutuhkan,” jelasku pelan.

“Menolong dalam hal apa?” tanya Mama tak kalah hati‑hati.

Aku menggigit bibirku. Berbohong pada Mama sungguh hal yang sulit—ia selalu bisa mengetahui kapan aku tidak bicara jujur.

“Begini, Ma… aku baru saja berpisah dengan Reza. Hatiku masih bingung dan belum ingin memikirkan hubungan baru apa pun. Tapi Aldo… Aldo adalah teman yang mau mendengarkan ceritaku tanpa menghakimi.”

Mama terdiam cukup lama di seberang sana.

“Tari… Mama hanya takut kau terluka lagi,” akhirnya terdengar suara Mama, kali ini jauh lebih lembut dan halus. “Kau tahu betul bagaimana Reza memperlakukanmu dulu, kan? Sekarang kau dekat dengan adik kandungnya… apa kau yakin watak Aldo tidak sama seperti kakaknya?”

“Aldo berbeda jauh, Ma. Sungguh beda sekali.”

“Kau yakin betul, Nak?”

“Ma… Aldo berani melawan ibunya sendiri demi membela aku,” jawabku mantap.

Keheningan menyelimuti sambungan telepon seketika.

“Apa? Melawan Bu Dewi? Sungguh dia berani begitu?” tanya Mama kaget luar biasa.

“Iya, Ma. Bu Dewi meminta Aldo berhenti bertemu denganku. Tapi Aldo menolak. Ia berkata takkan membiarkan siapa pun—siapa pun juga—menghina orang yang ia sayangi dan pedulikan.”

Mama tak segera menjawab. Samar‑samar kudengar suara isak halus tertahan dari ujung telepon.

“Ma? Mama menangis?”

“Tari… Mama… Mama sungguh tak mau melihatmu menderita lagi seperti dulu,” jawabnya dengan suara bergetar.

“Aku tidak menderita, Ma. Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa… merasa dihargai sebagai manusia biasa.”

“Dan yang membuatmu merasa begitu… Aldo ya?”

“Iya, Ma. Aldo.”

Mama terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada tegas namun hangat, “Kalau begitu… bawalah dia ke rumah. Mama ingin berkenalan dengannya secara langsung.”

Aku tertegun kaget. “Mama sungguh mau bertemu dia?”

“Mama serius, Tari. Kalau dia sebaik dan sepeduli yang kau ceritakan, Mama ingin melihat sendiri sosoknya.”

“Tapi Ma… aku belum siap untuk—”

“Tak perlu terburu‑buru menentukan apa pun. Bawa saja dia minggu depan. Atau lusa minggu depannya, tak masalah. Yang penting, ajak dia berkunjung ke sini.”

Senyum merekah di bibirku, meski Mama tak bisa melihatnya. “Baiklah, Ma. Terima kasih ya.”

“Iya sama‑sama. Sudah ya, Mama tutup dulu. Jangan lupa makan teratur, sayur dan lauknya diperhatikan.”

“Iya, Ma.”

Percakapan berakhir. Aku meletakkan kembali ponsel di sisi bantal, lalu menatap langit‑langit kamar kosan yang ada retakan halusnya. Ada rasa bahagia yang perlahan memenuhi dadaku. Mama ingin bertemu Aldo…

Aku kembali meraih ponsel, membuka ruang obrolan dengan Aldo, lalu mengetik:

“Aldo… Mamaku mengajakmu berkunjung ke rumah minggu depan. Dia ingin berkenalan langsung.”

Tak butuh waktu lama, balasannya segera muncul:

“Benarkah? Ibumu benar‑benar mau menemuiku?”

“Iya. Katanya dia ingin melihat sosok yang kuceritakan itu sendiri.”

“Wah… aku jadi gugup sekali rasanya."

“Jangan gugup. Nanti kalau gugup, kelihatannya jadi lucu dan tidak berwibawa,” jawabku sambil tersenyum sendiri.

“Memang dasarnya sudah lucu begini. Tapi tak apa, aku bersedia datang. Jam berapa kira‑kira baiknya?”

“Datang saja sore hari. Jam empat sore nanti, sekalian kita makan malam bersama di rumah.”

“Siap dilaksanakan. Aku akan berusaha tampil sebaik dan semenarik mungkin agar disukai Ibumu.”

“Tak usah berusaha berlebihan. Jadilah dirimu sendiri saja, itu sudah cukup.”

“Kalau jadi diri sendiri… takutnya malah makin lucu dan konyol begini."

“Ya sudah tak apa. Jadilah yang lucu tapi tetap sopan dan hormat,” balasku.

Aldo membalas dengan gambar emoticon tertawa terbahak‑bahak. Aku hendak membalasnya dengan gambar ciuman kecil—namun buru‑buru aku hapus sebelum sempat terkirim, karena sadar hal itu terlalu berani untuk ukuran kami yang belum ada ikatan resmi.

Namun ternyata terlambat. Aldo sudah melihat gerak‑gerikku di layar.

“Hei, aku lihat tadi ada gambar ciuman muncul sebentar, terus hilang."

“Gambar apa? Tidak ada apa‑apa kok,” jawabku pura‑pura polos.

“Ada dong. Gambar ciuman manis itu.”

“Tadi salah pencet saja.”

“Bohong. Itu disengaja kan?”

“Iya… bohong. Terus kalau iya, gimana dong?” tantangku balik.

“Kalau begitu… ini balasannya."

Tak lama, masuklah pesan berisi gambar emoticon ciuman yang sama persis—dikirimkan sebanyak tiga kali berturut‑turut.

Aku segera menutup wajahku dengan bantal, lalu tertawa kecil sendiri persis seperti remaja putri yang baru pertama kali mendapatkan perhatian dari orang yang disukainya. Rasanya lucu sekali, rasanya kekanakan, namun rasanya… sungguh nikmat dan menenangkan hati.

Mungkin inilah sebenarnya yang dinamakan jatuh cinta.

Sesuatu yang membuatmu berani melakukan hal‑hal kecil yang lucu, hal‑hal yang tak pernah kau bayangkan akan kau lakukan sebelumnya. Sesuatu yang datang perlahan, namun mengubah segalanya menjadi lebih indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!