NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari biasa tak sepenuhnya biasa

“Pit… kamu punya rekap absensi kehadiran para karyawan?”

Suaraku terdengar datar, namun mataku masih terpaku pada layar laptop yang sejak tadi tak kunjung memberi harapan. Beberapa file penting hilang entah ke mana. Rasanya seperti ada bagian dari pekerjaanku yang dicuri diam-diam.

Pipit yang sedang duduk di kursinya langsung bangkit. Ia berjalan cepat ke arahku sambil membawa tab di tangannya, wajahnya penuh semangat seperti biasa.

“Ada mbak. Nih…” ujarnya, menyerahkan tab itu padaku dengan gaya sedikit dramatis.

Aku mengambilnya dan langsung membuka file yang dimaksud. “Oke sip… file di laptopku sepertinya kena virus deh. Banyak yang hilang.” Aku menghela napas pelan. “Tolong kirim ke emailku ya, Pit.”

“Siap, mbak!” Pipit menjawab sambil memberi hormat ala tentara.

Aku hanya menggeleng pelan, tak bisa menahan senyum kecil. Tingkahnya selalu saja berhasil mencairkan suasana.

Kembali aku fokus pada layar, memeriksa satu per satu data kehadiran. Beberapa nama kuberi tanda, ada yang terlalu sering terlambat, ada pula yang izin terlalu sering. Laporan-laporan kecil itu mungkin terlihat sepele, tapi bagiku ini penting. Dari sini aku bisa melihat ritme kerja, tanggung jawab, bahkan sikap seseorang.

“Oke… untuk penjualan roti bulan ini cukup ada peningkatan dari bulan sebelumnya…” gumamku pelan, lebih pada diri sendiri.

Ada rasa lega yang menghangat di dada. Setidaknya, usahaku tidak sia-sia.

Setelah semua selesai, aku menutup laptop dengan hati-hati. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktu yang pas untuk pulang.

Aku teringat kak Satya di rumah. Kondisinya tadi pagi kurang baik. Dia sedang diare, akibat terlalu banyak makan sambal semalam.

“Mbak San… mau ke mana? Kok udah beres-beres aja?” Pipit kembali muncul, kali ini dengan bantal besar berbentuk pisang yang dipeluknya erat.

Aku terkekeh kecil melihatnya. “Mau pulang, Pit. Kak Satya lagi kurang sehat di rumah.”

“Waduh… dari kapan mbak?” Wajahnya langsung berubah khawatir. “Semoga cepat sembuh ya.”

“Aamiin,” jawabku singkat.

Aku hendak melangkah pergi ketika Pipit tiba-tiba berseru, “Eh mbak! Hampir lupa!”

Aku menoleh, sedikit heran. “Apa sih, Pit?”

Pipit mendekat dengan ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan. “Kemarin ada dua orang ke sini. Seorang ibu sekitar lima puluhan sama satu wanita.”

Aku mengernyit. “Iya terus? Itu kan biasa. Mungkin pembeli.”

Pipit menggeleng tegas. Ia tampak tidak puas dengan jawabanku yang terlalu santai. “Nggak, mbak. Aneh.”

Aku mulai sedikit tertarik. “Aneh gimana?”

Tanpa banyak bicara, Pipit mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto padaku.

Aku menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang kulihat.

Dan seketika dadaku terasa sedikit sesak.

“Hah… itu kan Mey… sama Tante Arini…”

Nama-nama itu keluar begitu saja dari bibirku.

Pipit mengangguk cepat. “Iya mbak! Mereka kemarin muter-muter di toko, terus…” ia berhenti sebentar, lalu menatapku lekat, “mereka foto semua roti di etalase.”

Aku terdiam.

Pikiranku mulai bekerja, mencoba merangkai kemungkinan demi kemungkinan. Meyra… sepupu Raisya. Aku mengenalnya, walau tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk tahu bahwa hidupnya tidak mudah. Kurang kasih sayang, tumbuh dengan luka yang tak terlihat.

Sedangkan Tante Arini…

Aku menahan napas.

Wanita itu jelas tidak menyukaiku. Walaupun aku bersahabat dengan anaknya tapi entah mengapa Tante Arini kurang menyukaiku.

“Pit…” aku akhirnya bersuara, mencoba tetap tenang, “mungkin mereka cuma lihat-lihat. Atau mau beli lain waktu.”

Pipit tampak ingin membantah, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang.

Aku tahu dia tidak sepenuhnya percaya.

Dan jujur saja… aku juga mulai ragu dengan pikiranku sendiri.

Namun, untuk sekarang… aku memilih tidak memperbesar hal itu.

“Pit, aku pulang dulu ya. Titip toko.”

“Iya mbak. Hati-hati di jalan.”

Setelah berpamitan dengan beberapa karyawan, aku keluar dari toko. Udara siang itu terasa panas menyengat, membuat langkahku sedikit berat. Deretan ruko tampak lebih sepi dari biasanya.

Saat melewati sebuah ruko kosong, aku melihat seorang bapak sedang membersihkannya.

“Permisi, Pak…” sapaku sopan.

Bapak itu menoleh, lalu tersenyum lebar. “Oh, Mbak Sandra. Apa kabar?”

“Kabar baik, Pak,” jawabku. “Mau buka toko lagi?”

Beliau menggeleng pelan, senyumnya sedikit memudar. “Nggak, mbak. Ruko ini sudah ada yang beli. Saya sudah tua… nggak kuat lagi jaga toko.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku ikut merasa kehilangan.

“Semoga yang baru bisa meramaikan lagi ya, Pak,” kataku tulus.

“Aamiin,” jawabnya singkat.

Setelah berbincang sebentar, aku pamit dan melanjutkan langkah. Sebelum pulang, aku sempat mampir ke warung sayur untuk membeli bahan masakan. Aku ingin memasak sesuatu yang hangat untuk kak Satya.

***

“Hah… panas sekali…” keluhku saat akhirnya memasuki apartemen.

Sejuknya AC langsung menyambut, sedikit meredakan rasa gerah.

“Sandrina di mana?” suara kak Satya terdengar dari ruang keluarga.

Aku menoleh. Ia duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Wajahnya terlihat lebih segar, bahkan sudah berpakaian rapi.

Aku sedikit mengernyit.

“Sandrina ada les melukis, kak. Jam tiga sore selesai.” Aku berjalan ke dapur, meletakkan bahan masakan di meja. “Udah mendingan, sejak minum oralit udah berapa kali ke toilet?”

Ia menoleh padaku, lalu tersenyum tipis. “Oralit itu cukup membantu. Tadi hanya satu kali"

Aku sedikit terkekeh, di belakang. Kak Satya tidak mengetahuinya.

Ada sesuatu yang… berbeda. Tumben kak Satya begitu santai menonton televisi. Biasanya dia akan berkutat dengan laptopnya. Tapi hari ini begitu anteng menonton berita di televisi.

Aku mengalihkan dari pandanganku dari kak Satya.

Mulai memotong brokoli, jamur tiram, dan sawi kemudian aku tambah dengan bakso dan sosis. Untuk proteinnya aku menggoreng tempe yang sudah dibacem semalam dan ada empal sapi yang di beli di super market.

Wangi masakan menguar di penjuru ruangan, membuat perut kosong semakin meronta-ronta.

Aku menyajikan beberapa masakan tadi di meja tempat kak Satya duduk. Sekilas kak Satya melirik, namun pandangannya kembali pada televisi.

Cuek banget, padahal tadi pagi pegang-pegang tangan aku.

"Jangan makan sambal dulu ya kak!"

Kak Satya yang tengah mengambil tempe goreng mengangguk. Tidak berbicara.

Apakah oralit itu membuat tenggorokannya mengering atau sakit?.

"Ndra"

"Hem...?"

"Mobil kamu gak di pake kan?"

Aku mengerutkan dahi sambil menolehnya. "Engga. Kenapa?"

"Pinjem ada urusan keluar sebentar, mobil ku belum di servis."

"Oke, boleh" ucapku sambil mengangguk.

"Sekalian sandrina biar ku yang jemput"

Aku mengangguk lagi.

Setelah makan siang selesai, aku duduk di sofa sambil menikmati tayangan televisi. kini chanelnya aku sudah pindah menjadi tayangan ftv siang.

"Ndra kunci mobilnya dimana?" ucap kak Satya, yang baru saja keluar dari kamar. Kini dia sudah mengenakan jaket hitam.

Aku berjalan dan menyerahkan kunci mobil padanya. "nih.." ucapku yang kemudian kunci itu langsung di terima.

ia menatapku sekilas. "Hati-hati, kemarin tetangga sebelah lupa kunci pintu kena begal."

perkataan kak Satya membuatku bergidik ngeri. iya si kemarin aku sempat dengar beritanya.

"Jangan nakut-nakutin deh."

Kak Satya tidak menjawab, ia berlalu begitu saja keluar dari pintu apart.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!