NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Sesak nafas ibu kanaya kumat di tengah malam, kanaya dan aksara adiknya membawa ibunya dengan menyewa angkot, milik tetangga sebelah rumah mereka.

Sementara kanaya menyelesaikan pembayaran sewa angkot, yang ternyata di tolak oleh tetangga mereka, aksara ikut mendorong brankar ibunya ke arah ruang icu, kanaya berlari mengejar ibu dan adiknya.

Bu risma mendapat penanganan yang cepat, paramedis di ruang icu, langsung bertindak cepat, tanpa mengajukan pertanyaan, mungkin karena ibu mereka adalah pasien tetap yang selalu rutin berobat ke rumah sakit itu.

Malam ini dokter jaga mengatakan jika ibunya akan menginap di ruang igd, kalau kondisi ibu sudah sedikit membaik, ibu risma akan dipindahkan ke ruang rawat inap.

Kanaya bernafas lega, ia duduk di sisi adiknya, aksara yang juga kelihatan kelelahan dan ketakutan, kanaya menepuk-nepuk pundak adiknya, menyalurkan rasa sabar dan kenyamanan pada adiknya, perlahan wajah aksara kembali normal.

"Belakangan ini ibu sering sekali kambuh mbak..!" ujar sang adik, menatap kanaya dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Aku takut.."

"Hussss....Jangan berpikiran yang tidak-tidak aksa, ibu gapapa" senyum kanaya menenangkan adiknya yang kelihatan cemas.

"Tapi..mbak"

"Sudah.., yang penting kita jangan lupa berdoa dan selalu mengontrol ibu, jika kamu gak dirumah kan ada mbak dirumah, ntar kalau mbak misalnya ada keperluan, kamu yang jaga ibu, kita bergantian yah" sahutnya masih dengan wajah tersenyum.

Sebenarnya kanaya juga sangat khawatir melihat kesehatan ibunya yang semakin hari semakin memburuk, kanaya tahu penyakit ibunya cukup berbahaya.

Mereka juga harus siap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada ibunya, kanaya tahu itu.

Tapi kanaya tidak ingin membuat adik-adiknya sedih dan takut kepikiran akan penyakit ibu mereka, sebagai anak sulung, ia ingin adik-adiknya bersandar padanya.

Kanaya harus mampu tampil tenang dalam segala kondisi, agar adik-adiknya juga tak terlalu cemas.

Tangan kanan kanaya masih menepuk-nepuk pundak aksara yang mulai kelihatan tenang.

"Kamu pulang aja gih, biar mbak yang menemani ibu di sini"

"Tapi..mbak", protes aksara, wajah tampan adiknya itu terlihat keberatan.

"Besok kamu harus kerja, sementara mbak besokkan libur, anak-anak sekolah pada libur, pulanglah.." ulangnya lagi, meminta aksara untuk pulang.

"Mbak janji, nanti kalau ada apa-apa, mbak akan langsung telepon kamu..!"

Aksara mengangguk lemah,

"Baiklah mbak...tapi beneran janji yah"

Kanaya mengangguk mantap, tersenyum menatap adiknya dengan wajah sesumringah mungkin.

Kanaya menatap adiknya yang melangkah lunglai menuju ke parkiran rumah sakit, ternyata tetangga yang memiliki angkot itu, masih menunggu aksara.

Kanaya terharu, ternyata masih banyak orang baik  disekelilingnya, ia melambaikan tangan, ketika adiknya melihat kembali kearahnya.

Kanaya menuju meja administrasi, hendak memesan kamar untuk ibunya. Ia berjalan dengan langkah gontai, tetiba sesosok tubuh menabraknya tak sengaja, goodibag dari tangannya terlepas, jatuh.

Dengan isinya yang berserakan, kanaya reflek meminta maaf, namun sosok yang menabraknya tadi juga dengan segera ikut membantu memunguti barang kanaya yang berserakan di lantai.

Pria yang memakai jas dokter itu meminta maaf pada kanaya karena sudah terburu-buru, sehingga tidak mampu mengontrol laju jalannya dengan baik.

Kanaya menatap sosok yang menabraknya itu berjalan terburu-buru menuju ruang igd, seorang pria yang kanaya yakin adalah seorang dokter, dengan tinggi tubuh yang proporsional.

Wajahnya kelihatan lelah, dengan jambang tipis di sekitar dagunya, namun tak dapat menutupi wajah menariknya.

Kanaya kembali berjalan menuju meja administrasi, namun ia kembali mengingat-ingat wajah dokter tadi, sepertinya kanaya pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ia tidak ingat, dimana dan kapannya.

Kanaya menguap, malam sudah menunjukkan waktu sekitar jam 3 dini hari, kanaya merasa tanggung untuk memejamkan mata.

Ia memutuskan untuk sholat tahajud di mushala rumah sakit, menunggu ibunya di pindahkan ke ruang rawat inap.

Kanaya masih berdoa, ketika seorang perawat memanggilnya, meminta ijin untuk mengantar ibunya keruang rawat inap yang kanaya pesan semalam.

Kanaya melipat mukenahnya dengan terburu-buru, mengikuti perawat yang meminta kanaya mengikutinya.

Ibunya ditempatkan di lantai 2, ruang rawat inap kelas 1. Kanaya sengaja memilih kelas 1 agar ibunya tidak terlalu terganggu dengan suara pasien, atau suara keluarga pasien yang datang berkunjung.

Di kamar mawar, hanya ada 2 bangsal tidur pasien, dan dibawah bangsal pasien, ada kasur tambahan untuk keluarga yang menjaga pasien rawat inap.

Kanaya merapikan barang ibunya, memasukkan kedalam lemari disamping bangsal ibunya.

Ia menatap ibunya yang masih terlelap, mungkin ibunya masih dibawah pengaruh obat, hatinya merasa iba melihat tubuh kurus ibunya. Di tangan kurus itu, kanaya melihat jarum infus tertanam, ibunya terlihat sangat ringkih.

Kanaya hampir menangis, tiba-tiba seorang dokter memasuki kamar menuju bangsal ibunya, kanaya menyeka air mata dengan ujung jarinya.

Tunggu, dokter yang memeriksa ibunya itu, sepertinya pria yang menabraknya tadi malam. Dokter itu masih memeriksa keadaan ibu kanaya dengan sangat intens.

Memperhatikan selang infus bu risma dengan teliti, kanaya masih mengamati dokter itu, yang masih saja memeriksa ibunya dengan sangat teliti.

Sadar akan tatapan kanaya yang tak bergeming, dokter itu menoleh menatap kanaya. Mata pria itu mengernyit, menatap kanaya dengan sorot tanya, namun bibirnya tersenyum ramah, alhasil kanaya mau tak mau membalas senyum itu tak kalah ramah.

"Anda wali ibu risma..?

Kanaya mengangguk ramah, senyumnya juga masih terlihat.

"Biasanya anak lelakinya yang selalu jadi walinya, apakah anda putri buk risma" tanyanya lagi, masih menatap kanaya dengan tatapan penasarannya.

Dan kanaya juga masih menjawab dengan anggukan.

"Perkenalkan, saya dokter yang menangani buk mariana dari awal, nama saya zayyan al ihsan" dokter itu mengulurkan tangannya kearah kanaya yang menyambut dengan ramah.

Tunggu, dokter zayyan, nama itu sedikit familiar dalam pendengaran kanaya. Ia mengerutkan keningnya, sepertinya kanaya pernah mendengar nama itu.

"Saya dokter yang menangani penyakit buk risma, tadi malam saya mendengar beliau masuk igd, dan saya terburu-buru datang tadi malam, jadi saya tidak memperhatikan siapa walinya, maaf.."ujarnya menatap kanaya dengan rasa bersalah.

Kanaya tersenyum, ia merasa lucu, bagaimana pria didepannya ini tak sadar, kalau tadi malam ia menabrak kanaya karena terburu-buru.

"Gak apa-apa dok, tadi malam kita sudah berkenalan kok"

Dokter itu menatap kanaya heran, ia memicingkan matanya menatap wajah kanaya yang tersenyum kocak kearahnya.

Matanya menelisik wajah kanaya lebih dalam, kanaya tertawa kecil karenanya, melihat kelakuan dokter itu yang sedikit lucu dimatanya

"Ah...ya.." seru dokter itu memukul kepalanya pelan.

"Saya ingat...heheh, tadi malam saya menabrak anda yah...hahahah"

Kanaya mengulurkan tangannya kembali, mengajak dokter itu berkenalan.

"Saya kanaya, putri sulung ibu risma, terima kasih dok"

Kanaya mengguncang pelan, tangan dokter zayyan yang mengenggam penuh tangan kanaya.

Mata dokter zayyan membelalak kaget, ia menatap kanaya lekat dan cukup lama, terlihat senyuman manis terbit dari bibirnya.

"Senang berkenalan dengan kamu naya"

Kanaya tersentak kaget, panggilan anda dari dokter itu berubah sangat cepat menjadi kamu, dan pria ini juga memanggilnya dengan nama panggilannya.

"Saya banyak mendengar tentang kamu dari buk risma, dan ternyata buk risma tidak bohong..."

Kanaya mengernyitkan keningnya menatap pria itu heran.

"Tentang apa?"

"Bahwa kamu cantik..." sahut dokter zayyan tersenyum dan mengedipkan matanya, berlalu meninggalkan kanaya yang melongo terheran-heran.

Kanaya menatap pria itu keluar dari ruangan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang keheranan, melihat kelakuan kocak dokter ibunya itu.

"Ah yah.." kanaya ingat sesuatu.

Bukankah dokter zayyan adalah dokter yang diceritakan ibunya tempo hari, dokter yang kata ibunya seorang duda dan bertanya tentang dirinya itu.

"Gilaa.."desis kanaya pelan, tersenyum mengingat bagaimana kelakuan dokter itu yang sedikit nyentrik dan slenge'an.

Bersambung.....!

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!