NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.

" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.

" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"

" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.

" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

EPISODE 8: NAMA ITU TERSEBUT... LANGIT

Setelah Teh Intan pergi, Langit menutup jendela kamarnya perlahan-lahan. Ia menatap plastik berisi kue yang masih tergeletak di atas meja, namun pikirannya melayang jauh ke angkasa. Di benaknya berkecamuk berbagai rencana besar, bayangan tentang jati dirinya, serta dua anak kembar yang entah mengapa selalu hadir dalam mimpi-mimpinya, seolah menjadi kunci dari takdir yang belum terungkap.

 

Sementara itu, di kediaman Teh Intan...

Matahari pagi mulai menyapa dengan hangatnya.

"Pagi sudah menunjukkan wajahnya, Sayang. Anak-anak sudah bangun lho," ucap Jaji sambil sibuk mengaduk wajan berisi nasi goreng di dapur. Suaranya terdengar ceria, sangat berbeda dengan isi hatinya yang penuh curiga.

Intan yang baru saja bangun dari tidurnya tampak sedikit kaget, rambutnya masih berantakan.

"Ya sudah Pih... Iya sebentar ya, aku siapin yang lain dulu."

Namun, meski tubuhnya bergerak bersiap sarapan, pikiran Intan masih melayang tertinggal pada pertemuan semalam. Terbayang jelas wajah polos Langit yang sama sekali tidak menyadari hasrat membara yang ada dalam diri wanita itu, sementara suaminya di sisi lain sibuk dengan urusan dapur seolah dunia ini baik-baik saja.

 

Pagi di kampung sungguh memukau. Suara ayam berkokok bersahutan memecah keheningan. Embun pagi yang masih menempel di dedaunan berkilauan bak butiran mutiara. Asap putih tipis mengepul dari cerobong dapur rumah-rumah warga, bercampur dengan udara sejuk yang menusuk hidung.

Jembatan kayu yang basah oleh embun menyambut langkah kaki para petani yang beranjak ke sawah. Di atas dahan pohon rambutan, burung cucak ijo bernyanyi riang menyambut datangnya siang. Di warung-warung kecil tepi jalan, teh hangat mengepul siap menemini para tetangga yang duduk berbincang santai. Begitulah kehidupan desa, sederhana namun penuh dengan kehangatan dan makna.

Lelaki kurus yang usianya tinggal dua tahun lagi menginjak kepala empat itu menghirup udara pagi dalam-dalam. Kenikmatan seperti ini mustahil ia dapatkan di hiruk pikuk kota besar yang penuh polusi.

Usai menyantap sarapan bersama istri dan kedua buah hatinya, Jaji berpamitan. Ia mengenakan setelan olahraga santai.

"Pih mau lari-lari kecil dulu ya, sekalian menghirup udara segar."

Langkah kakinya membawa ia berjalan menyusuri jalan setapak.

"Pak Jaji... Mau kemana pagi-pagi begini?" sapa seorang ibu tetangga yang berpapasan dengannya.

"Iya Mbok, cuma jalan-jalan santai menikmati udara pagi ini. Kalau di kota mana sempat ya Mbok, sibuk kerja melulu," jawab Jaji ramah dengan senyum yang terlihat tulus.

"Oh iya juga ya Pak. Di kota kan mana ada sawah luas begini, udaranya juga pasti sudah tercemar asap kendaraan," sahut tetangga itu.

"Ya begitulah adanya. Mari Mbok, silahkan jalan-jalan dulu mumpung belum terik mataharinya," pamit Jaji.

"Silahkan Pak..."

Sebenarnya, alasan lari pagi itu hanyalah kedok semata. Tujuan utamanya hanya satu: menemui orang yang ia bayar untuk mengawasi setiap gerak-gerik istrinya.

 

Setengah jam berlalu, akhirnya Jaji sampai di sebuah rumah sederhana di kampung sebelah. Tampak seorang wanita berhijab sedang duduk di teras sambil menyuapi anaknya yang masih kecil.

"Permisi... Numpang tanya, apakah ini kediaman Bapak Pardi?" tanya Jaji dengan sopan santun.

Wanita itu tersenyum, matanya menelisik dari ujung kaki hingga ke kepala sosok pria di depannya.

"Iya betul Pak. Kalau boleh tahu Bapak siapa? Ada keperluan apa dengan suami saya?"

"Perkenalkan nama saya Jaji, dari kampung sebelah. Ada urusan penting yang ingin saya bicarakan dengan suami Ibu. Bolehkah saya meminta tolong untuk memanggilkannya sebentar?" pinta Jaji.

"Oh begitu... Silahkan duduk dulu Pak. Suami saya memang masih tidur, sebentar saya bangunkan dulu ya," ucap istri Pardi ramah seraya mempersilakan tamunya duduk di bangku kayu di pekarangan.

"Terima kasih banyak, Buk."

Jaji duduk dengan sikap yang sopan. Tak lama kemudian, wanita itu kembali membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul panas beserta sedikit gorengan sebagai teman ngobrol.

"Maaf ya Pak... Suami bilang tunggu sebentar, mau ke kamar mandi dulu basuh muka biar seger. Silahkan diminum kopinya Pak, mumpung masih panas."

"Aduh... Jadi repot-repot nih Buk, makasih ya," sahut Jaji merasa tidak enak hati.

"Ah cuma kopi biasa kok Pak, nggak repot sama sekali. Silahkan diminum ya Pak, saya masuk dulu masih ada urusan sama anak," pamit wanita itu lalu masuk kembali ke dalam rumah.

"Silahkan Buk, santai saja jangan merasa terbeban."

Setelah memastikan istri Pardi sudah masuk dan pintu tertutup, Jaji pun mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya.

'Kopi tanpa rokok itu ibarat sayur tanpa garam... hambar rasanya,' batinnya terkekeh pelan.

Ia pun menikmati kepulan asap tembakaunya yang bercampur dengan aroma kopi robusta yang khas.

Belum lama ia menikmati kesendiriannya, terdengar langkah kaki mendekat. Seorang pria keluar membawa cangkir kopi dan sebatang rokok Djarum Coklat di mulutnya.

"BROOO...!!" panggil pria itu keras-keras.

Jaji yang sedang asyik melamun kaget setengah mati.

"Woy... Sialan lo! Ngagetin aja! Ganggu gak sih?"

"Hadeh... Pagi-pagi udah melamun doang! Awas kesambet jin ipit tau rasa lo!" ledek Pardi sambil tertawa lebar lalu duduk bersila di hadapan temannya itu.

"Sialan lo... Gue bukan melamun, tapi lagi menikmati nikmatnya kopi plus rokok! Bedanya tipis tau!" bantah Jaji berusaha terlihat gagah.

"Hehehehe... Oke oke terserah deh." Pardi terkekeh. "Terus lo kapan balik lagi ke kota?"

"Malam ini jam 7 an kayaknya nyampe rumah. Gak usah bahas itu dulu," suara Jaji tiba-tiba berubah serius dan rendah. "Gimana hasil penyelidikan lo? Ada yang patut dicurigai gak?"

Pardi pun ikut merubah wajahnya menjadi lebih serius. Ia menekan nadanya agar tidak terlalu keras, takut terdengar oleh istrinya di dalam atau tetangga sekitar.

"Ada... Tapi buktinya belum kuat banget. Lo sabar ya, tunggu dua minggu atau sebulan lagi paling lama. Pasti gue kasih bukti yang sempurna. Untuk saat ini sih kayaknya mereka lagi masa pendekatan, belum terlihat jelas menjurus ke perselingkuhan yang nyata-nyata."

Jaji menelan ludah. Amarah mulai memuncak di dadanya meski ditahan-tahan.

"SIAPA...?! Siapa nama cowok sialan itu?!" tanyanya gemetar.

Pardi mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Jaji tajam, lalu mengucapkan satu nama dengan jelas dan pelan:

"LANGIT... Cucu dari Nenek Wati, janda pensiunan yang rumahnya sebelahan sama rumah lo!"

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Neng
🤭🤭🤭🤭🤭
Neng
lumayan
Neng
👍👍👍👍
Tuyul
🤣🤣🤣🤣
Tuyul
😍😍😍😍
sitanggang
muter2 kek gangsing 🙄😵😵‍💫
RAJA CHAN
sangat bagus
Tuyul
menarik
Tuyul
👍👍👍
Aden
ayam dasar lemah
Aden
lumayan menarik
Robet
🤭🤭🤭🤭🤭 lumpur Lapindo
Aris Nugraha
🤣🤣🤣
Aris Nugraha
keren kak
Robet
🤣🤣🤣
Robet
keren
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!