Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Seharusnya Tidak Boleh Ada
Hampir larut malam Valerie dan Jeevan berdebat bagaimana mereka berdua harus tidur, Jeevan sudah mencoba tidur di sofa panjang dan di lantai beralaskan bedcover tapi tetap saja dirinya merasa tidak nyaman dan tidak bisa memejamkan kedua bola matanya. Hatinya gundah dan merasakan sakit di bagian tubuhnya, memang selama ini Jeevan belum pernah merasakan tidur di lantai.
Mendengar sayu-sayu suara sedikit berisik di telinga membuat Valerie tidak bisa tidur, karena perempuan cantik berambut panjang tidak bisa tidur jika ada suara. Kedua matanya terpejam tapi pikirannya berisik, ingin sekali mulutnya yang sedari tadi terkunci berkata-kata memakai Jeevan yang sedang gundah dan gelisah di bawah sana.
"Bisa diem nggak sih!" Suara Valerie membuat gerakan tubuh Jeevan terdiam sesaat.
Valerie yang tadinya masih terbaring dengan kedua bola mata terpejam kini bangun dan duduk di atas tempat tidur dengan wajah terlihat kesal. Bagitu juga dengan Jeevan yang sedari membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, diam sesaat tubuhnya menjadi kaku mendengar Valerie marah.
"Mau tidur aja berisik banget," sindir Valerie membuat Jeevan sedikit kesal dan bangun dari tidurnya lalu duduk dengan kedua bola mata menatap Valerie begitu sinis.
"Gimana bisa tidur. Kamu enak di atas kasur, sedangkan aku di lantai. Aku nggak biasa tidur di lantai, badanku sakit dan dingin," keluh Jeevan mulai kesal dengan wajahnya terlihat bad mood.
"Kenapa nggak di sofa aja?"
"Sempit," jawab Jeevan dengan rasa kesalnya yang sudah bisa ditahan.
Bagaimana Jeevan tidak merasa sempit karena ia tidak bisa bergerak secara bebas, dan juga tidak nyaman karena hanya cukup satu ruang saja baginya. Merasa kasihan akhirnya Valerie membiarkan Jeevan tidur bersamanya, berbatasakan sebuah guling sebagai pembatas antara mereka berdua.
Meskipun Jeevan sudah tidur di tempat tidur tidak membuatnya nyaman dan cepat tidur, detak jantungnya mulai tidak karuan dan terlihat sedikit gundah. Entah kenapa ia mendadak menjadi gugup saat bersisian dengan Valerie di situasi sepi seperti ini. Begitu juga dengan Vale yang sedari tadi bisa tertidur pulas, kini kedua bola matanya menjadi segar. Mereka berdua hanya bisa terdiam melamun dengan pikiran yang berisik.
"Kenapa nggak tidur?" tanya Jeevan kepada Valerie yang terlihat masih terjaga menatap langit-langit kamar.
"Kamu sendiri kenapa nggak tidur, tadi bilang nggak nyaman kalau tidur di bawah. Sekarang udah di sini kenapa nggak bisa tidur juga?" Valerie balik bertanya tanpa menoleh ke arah Jeevan karena tidak nyaman saat keduanya saling menatap satu sama lain.
Perasaan Valerie juga sama sedikit gugup dan ketakutan karena jarak mereka berdua begitu dekat, apa saja bisa terjadi dan dilakukan oleh Jeevan karena dirinya sedikit nekat.
"Nggak bisa tidur, cuma lagi mikir enaknya ngapain," jawab Jeevan yang mendadak membuat ekspresi wajah Valerie ketakutan.
Deg, Valerie menoleh ke arah Jeevan yang juga sedang menatap langit-langit kamarnya. Tatapan curiga tertuju pada Jeevan yang sedikit melamun. Sesaat kemudian Jeevan menoleh ke arah Valerie karena sadar perempuan itu sedang menatap ke arahnya. Mata mereka saling menyapa kembali satu sama lain, tatapan sendu Jeevan membuat Valerie semakin ketakutan. Kemudian Jeevan tersenyum mantap Vale seolah sedang menggodanya.
"Kenapa tersenyum?" tanya Valerie dengan nada jutek dan tatapan sinis.
"Loh, memangnya kenapa? Salah?" jawab Jeevan sambil membalikkan tubuhnya ke arah Valerie.
"Jangan macem-macem!" ancam Valerie mulai sedikit meringkuk ketakutan.
Sikap Valerie membuat Jeevan senang karena bisa mengerjainya lagi di situasi seperti ini. Sambil menunggu rasa ngantuk lebih baik Jeevan mengerjai Valerie yang sudah menyuruhnya tidur di lantai, membuat dirinya sedikit kesal.
"Kita udah sah jadi suami istri, kenapa nggak lakuin sekarang aja?" goda Jeevan dengan suara manja sedikit mendekati Valerie yang mulai ketakutan.
"Nggak! Kita cuma pura-pura dan itu nggak ada di dalam perjanjian!"
"Aku udah bilang kalau nggak pernah menganggap pernikahan ini pura-pura, meskipun kamu nggak menyukaiku tapi aku akan membuatmu menyukai dan mencintaiku," ucap Jeevan yang terus mendekat Valerie namun Valerie berusaha untuk menghindarinya.
Suasana sedikit panas karena ucapan Jeevan yang mulai membakar hati Valerie, niat Jeevan hanya berpura-pura dan menggoda Valerie untuk bahan gurauan saja ternyata membuat perasaan lain bagi Jeevan. Ia menjadi semakin tergoda dan mencintainya. Ketika tahu Valerie akan bangun dan menghindarinya, secepat kilat Jeevan menarik tangannya.
Tenaga Jeevan jauh lebih kuat sehingga membuat Valerie tidak bisa menghindarinya dan jatuh ke atas tempat tidurnya. Detak jantungnya berdegup begitu kencang, telapak tangannya mendadak berkeringat dan tubuhnya sedikit kaku serta merasa sedikit gugup dan ketakutan.
Jeevan masih berada di samping Valerie yang jatuh dengan posisi terlentang, senyum simpul terlukis di bibir Jeevan melihat Valerie yang sedikit gugup. Tanpa aba-aba Jeevan mendekatinya dan berada di atasnya Valerie, membuat perempuan penyuka hujan terkejut dan ketakutan.
Kedua tangan Jeevan menggema erat pergelangan tangan Valerie yang memberontak memberikan perlawanan, tapi lagi-lagi Jeevan bukanlah lawan yang sepadan bagi Valerie. Tatapan Jeevan membuat Valerie ketakutan dan ingin berteriak.
"Mau apa kamu? Jangan macem-macem nanti aku teriak!" Ancam Valerie membuat Jeevan tertawa ringan terlihat sangat tampan.
"Teriak aja. Nggak akan ada yang datang ke sini," ucap Jeevan menantang dengan suara lembut masih menatap Valerie.
"Kenapa?" Valerie kembali bertanya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jeevan yang sudah siap menerkamnya.
Jeevan mencondongkan tubuhnya mendekati wajah cantik Valerie yang sedikit gugup dan tegang, ternyata tanpa make-up juga Valerie masih terlihat sangat cantik, sama seperti dulu saat ia pertama kali melihatnya. Wajah Valerie mendadak memerah merona dan napasnya sedikit sesak, saat Jeevan mulai mendekati wajahnya. Keusilan Jeevan berhasil membuat Valerie ketakutan.
"Karena mereka berpikir kalau kita lagi melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri." Jeevan berbisik di telinga Valerie dengan nada menggoda membuatnya semakin ketakutan.
Tatapan Valerie begitu tajam menatap Jeevan yang kini mulai tersenyum getir, namun Jeevan sangat menyukai ekspresi Valerie saat ini terlihat menggemaskan baginya.
"Lepasin aku!" Valerie mulai berteriak dan meronta-ronta ketakutan.
Dorongan itu kembali muncul setiap kali Jeevan menatap wajahnya, kedua bola mata Valerie yang terlihat sangat merindukannya. Bagaimana jika Valerie tahu jika lelaki yang ada di hadapannya saat ini adalah lelaki yang pernah menghiasi hari-harinya dulu saat masa SMP.
"Andai kamu tahu siapa aku. Apakah sikapmu akan sedingin ini ? Tahu kah mau kalau aku sangat merindukanmu selama ini," kata Jeevan di dalam hati seraya menatap Valerie begitu lekatnya.
Memang benar kalau Valerie adalah perempuan yang sangat dicintai Jeevan sejak dirinya SMP. Dia adalah cinta pertama Jeevan yang bernama Namira. Ternyata saat pertama kali Valerie pindah ke sekolah Jeevan, saat itu Valerie meminjam baju milik teman barunya yang bernama Namira, sampai akhirnya pertemuan dengan Jeevan.
Dan yang membuat Jeevan tahu jika itu adalah cinta pertamanya ketika Jeevan ke rumahnya ketika Valerie sedang sakit, di kamarnya Jeevan melihat sesuatu yang pernah ia berikan kepada seorang perempuan di masa SMP-nya dulu. Sebuah toples kaca bening dengan isi origami kecil berbentuk bintang.
Origami yang jangan sengaja dibuat oleh Jeevan untuknya, origami bintang yang mempunyai arti jika Valerie adalah bintang di dalam hidupnya dan akan menjadi bintang yang ada di dalam hatinya. Maksud Jeevan memberikan origami tersebut adalah semua origami berbentuk bintang yang ada di dalamnya ibarat waktu yang akan ia berikan kepada seseorang sangat spesial.
Origami berbentuk bintang yang dibuat memakan waktu dan kesabaran disimpan di dalam sebuah toples kaca bening, memiliki arti jika Jeevan akan memberikan semua waktu untuk Valerie tanpa terkecuali. Semua waktu Jeevan tidak terbatas untuknya. Maka dari itu Jeevan sengaja memberikannya kepada Valerie karena dia adalah perempuan yang bisa membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta sama aku, dan aku harap kamu mau memberikanku kesempatan," pinta Jeevan memuat Valerie terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
Bagaimana bisa ia jatuh cinta kepadanya, padahal Jeevan bilang jika dirinya mencintai Maura. Dan kenapa Jeevan bisa secepat itu melupakan Maura yang sudah 2 tahun di sampingnya. Ucapan Jeevan tidak membuatnya percaya karena yang Valerie tahu niat mereka berdua menikah adalah untuk mendapatkan perusahaan papanya. Jadi Valerie menganggap jika Jeevan melakukannya bukan karena cinta.
"Nggak akan, karena aku tahu semua yang kamu lakukan cuma buat mendapatkan perusahaanmu."
Ucapan Valerie sedikit membuat Jeevan kesal dan tersenyum, memang benar itu adalah awal mereka menikah. Tapi setelah tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya, semua berubah dan Jeevan sangat ingin hidup berumahtangga dan memiliki anak dengan Valerie.
"Kali ini nggak. Aku mulai jatuh cinta sama kamu," ucap Jeevan yang membuat wajah Valerie gugup dan pipinya terlihat merah merona karena malu.
Tubuh Valerie mendadak lemas dan membeku mendengar pengakuan Jeevan yang seharunya tidak didengar olehnya. Ini tidak boleh terjadi karena pernikahan ini dilakukan agar Valerie lepas dari Nathan.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪