Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
Azka kembali ke rumah sakit, ia menghampiri Angga yang sedang menunggu di luar karena baru selesai menerima telepon.
"Azka, kenapa denganmu?" Angga melihat wajah putranya tampak seperti habis menangis.
"Kenapa Papa tidak pernah memberitahu aku kalau sebenarnya bukan Celina yang menginginkan pernikahan ini?" tanya Azka dengan nada getir.
Angga sekilas terdiam.
"Pa, selama pernikahan aku sudah menyakitinya!" kata Azka dengan mata berkaca-kaca.
Angga yang paham putranya sedang bersedih lantas memeluknya. "Papa minta maaf!"
"Aku pikir dia mencintaiku, ternyata aku salah. Dia melakukannya hanya ingin membalas kebaikan kalian!" isak Azka.
Angga melonggar pelukannya dan berkata, "Kami sudah memintamu untuk menjauhi wanita itu, tapi kamu tetap bersikeras ingin mengejarnya. Kami tak punya pilihan lain. Menjodohkan kalian adalah solusi terbaik meskipun Celina akan tetap memilih berpisah setelah kamu mengetahui semua."
"Aku memang belum tahu semua mengenai keburukan Elma, tetapi tentang ibunya aku telah mengetahuinya. Aku merasa bersalah karena selama ini tidak mempercayainya!" kata Azka menyesal.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" Angga menatap putranya.
"Aku mau memperbaiki hubungan kami, aku ingin mengejar cintanya, aku tidak mau melepaskannya!" kata Azka dengan semangat.
"Kami pasti mendukungmu, dari awal kami memang ingin Celina menjadi menantu di keluarga kita. Tapi, kami tidak bisa memaksanya," ucap Angga.
"Aku mau bertemu dengannya, apa dia bersedia menemui ku?" tanya Azka.
"Papa tidak tahu, tapi kamu tenang saja Papa cari cara biar kamu bisa menemuinya," jawab Angga.
Azka mengangguk mengiyakan.
Angga kembali ke kamar rawat inap menantunya, ia lalu menghampiri istrinya dan memintanya untuk keluar sebentar.
Andin pun menuruti perintah suaminya, begitu di luar kamar ia kemudian bertanya, "Ada apa, Pa?"
Angga belum menjawab, Azka muncul dihadapan keduanya dengan raut wajah sendu.
"Sebenarnya ada apa ini?" Andin melihat ke arah suami dan anaknya secara bergantian.
"Azka ingin bertemu dengan Celina," kata Angga.
"Celina tak mau menemui kamu!" kesal Andin.
"Ma, berikan Azka kesempatan buat menebus kesalahannya," kata Angga membujuk.
"Yakin mau berubah?" tanya Andin.
"Iya, Ma. Aku ingin menjalani pernikahan kami dengan serius!" jawab Azka.
"Kalau Celina merasa terganggu, kamu harus segera keluar!" kata Andin.
"Iya, Ma!" janji Azka.
Andin kembali ke kamar dan meminta 2 orang pelayan keluar ruangan.
"Kenapa mereka disuruh keluar, Ma?" tanya Celina heran.
"Ada yang mau bicara denganmu serius!" jawab Andin kemudian menutup pintu kamar.
Tak lama berselang Azka masuk, menutup pintu dan melemparkan senyum kecil lalu berkata, "Maaf, mengganggu waktu istirahatmu!"
"Kau ingin bertemu denganku untuk menuduhku berselingkuh lagi?" tuding Celina.
Azka mendekati ranjang istrinya, "Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau selama ini kau sedang mengandung anakku."
"Aku memang sengaja tidak memberitahumu, lagian kau juga belum tentu mau menerimanya!" ketus Celina.
"Berkali-kali aku bilang, kalau aku akan bertanggung jawab jika memang kau hamil anak kita!" kata Azka.
"Aku tidak butuh kau bertanggung jawab, aku cuma mau kita berpisah setelah aku melahirkan!" ucap Celina.
"Sampai kapanpun aku tidak mau memenuhi keinginanmu!" tegas Azka.
"Kau tidak rela aku mendapatkan kebahagiaan dari pria lain?" tanya Celina menuduh.
"Aku yang akan membahagiakanmu dan anak kita!" jawab Azka.
Celina tertawa getir.
"Aku sudah mengetahui semua alasan kau memintaku buat menikahimu!" kata Azka.
Celina membulatkan matanya karena terkejut mendengarnya.
"Yura yang memberitahu semuanya!" kata Azka lagi.
"Memangnya apa saja yang dikatakannya?" Celina penasaran.
Azka menceritakan semua percakapannya dengan Yura dan suaminya.
Celina tak percaya jika sahabatnya memberitahu rahasianya sebelum diizinkannya.
"Maukah kau memaafkan aku?" Azka duduk, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
Celina membiarkan tangannya digenggam, ia dapat merasakan kehangatan dan ketenangan.
"Aku tahu kau takkan mudah memaafkan, tapi aku benar-benar serius ingin menjadi suami dan calon ayah yang baik untuk kalian," kata Azka lagi.
Celina menarik tangannya dan berucap, "Aku butuh waktu. Pernikahan kita bukan didasari cinta, aku melakukannya demi wasiat mamaku dan ingin membalas kebaikan orang tuamu. Aku mencintai pria lain."
"Apa aku tidak mempunyai kesempatan lagi?" tanya Azka dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah bilang, aku butuh waktu. Aku juga butuh persiapan buat melahirkan. Jadi, berikan aku kesempatan berpikir," jawab Celina.
"Baiklah," kata Azka.
"Kau bisa keluar, sudah malam dan aku mau tidur," ucap Celina.
"Apa kau masih mengizinkan aku tinggal bersamamu?" tanya Azka.
"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan tinggal di rumah orang tuamu sampai aku melahirkan," jawab Celina.
-
Jarum jam menunjukkan pukul 1 malam, Celina terbangun karena ingin buang air kecil. Pandangannya tertuju ke arah sebuah sofa, tampak Azka sedang tertidur dengan posisi duduk. "Di mana para pelayan? Kenapa dia yang menjagaku?" gumamnya.
"Tak mungkin aku ke kamar mandi harus dia yang menemani!" batin Celina bingung.
Dengan pelan dan hati-hati, Celina turun dari ranjangnya. Ia memegang tiang infus dan menyeretnya secara pelan agar Azka tak terbangun.
Belum sampai ke kamar mandi, Azka tersentak bangun. Mengucek matanya dan melihat Celina berdiri tak jauh darinya. "Mau ke mana?"
"Mau ke kamar mandi."
"Biar aku temani!" Azka beranjak dari tempat duduknya.
"Aku bisa sendiri!" tolak Celina.
"Kau pasti kesulitan, apalagi perutmu sudah membesar dan harus membawa tiang infus!" kata Azka.
"Aku tidak mau kau yang menemaniku. Lagian, di mana para pelayan? Kenapa mereka tak ada di sini?" cecar Celina.
"Aku sudah menyuruh mereka pulang. Besok pagi mereka kembali lagi di sini!" kata Azka.
"Suruh mereka balik ke sini sekarang juga!" titah Celina.
"Mereka baru sampai satu jam lalu, mungkin sekarang sudah tidur. Apa kau tidak kasihan dengan mereka? Ada aku di sini, kau bisa minta bantuan dariku!" Azka menolak memanggil para pelayan.
"Kalau begitu panggil saja perawat rumah sakit. Biarkan mereka yang menjagaku!" kata Celina.
"Pasien di rumah sakit ini bukan kau saja. Mungkin mereka juga lagi sibuk mengurus pasien lainnya," ucap Azka.
"Biarkan aku sendirian di sini, kau pulanglah!" kata Celina mengusir.
"Aku pulang kalau para pelayan sudah kembali ke sini. Sekarang, ayo aku temani ke kamar mandi!" Azka merangkul pinggang istrinya yang tampak melebar.
"Kau tak perlu menyentuh seperti ini!" Celina melemparkan tatapan tajam.
"Tidak ada protes, ayo jalan!!" Azka tak menghiraukan ucapan istrinya.
Sesampainya di pintu kamar mandi, Celina meminta Azka menunggu di luar.
"Ayo masuk, aku tidak mau kau terpeleset di dalam sana!" kata Azka.
Mau tak mau, Celina membiarkan Azka ikut masuk.
"Balikkan tubuhmu!" pinta Celina.
"Aku juga sudah pernah melihatnya!" Azka tersenyum jahil.
"Kau!!!" geram Celina.
"Baiklah, aku akan berbalik!" Azka membalikkan tubuhnya sembari memegang infus.
Masih cinta km sama si upik abu elma tercintamu