Gadis cantik berpenampilan culun bernama Diana sarasvati, dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali siswa laki-laki di sekolah lamanya yang menyukainya karena kecantikannya, dan membuat dia dimusuhi oleh teman wanitanya. Untuk menghindari hal tersebut dia merubah penampilannya menjadi culun, dan menjadi siswa baru di SMA Nusa Bangsa. Ternyata di sekolah baru bukan menyelesaikan masalah justru karena penampilannya yang seperti orang culun, banyak teman yang membullynya.
Ada seseorang teman laki-laki tampan namanya Galen Ray Suhendra. Dia salah satu siswa yang mau berteman dengan Diana, dan membela Diana saat dibully.
Untung saja Diana siswa yang pandai, dan karena kecerdasannya itu mengharumkan nama sekolah. Dan semenjak itu dia mulai mempunyai teman banyak, walaupun masih ada yang tidak suka dan membully.
Mari kita simak bagaimana perjuangan Diana menghadapi teman- temannya, apakah Diana akan merubah penampilannya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Dari Rumah Sakit
Saat melihat kedatangan Dokter, Mamah Airin langsung menemuinya dan bertanya tentang keadaan Diana.
"Kenapa belum diperbolehkan pulang, Dokter? apa ada luka dalam yang serius?" tanya Mamah Airin.
Dokter tersenyum sembari menatap Mamah Airin, yang begitu sangat khawatir dengan Diana. "Beruntung sekali Diana, banyak orang yang menyayangi," ucapnya.
"Dokter, gimana anak saya," ucap Mamah Airin lagi sudah tidak sabar.
Dokter menjelaskan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal kondisi Diana, keadaannya baik. Diana juga harus banyak istirahat, karena mudah lelah. Takutnya jika terus kelelahan akan pingsan lagi, walaupun tidak ada penyakit yang dideritanya. Hanya itu saja pesan dari Dokter, mereka lalu diperbolehkan membawa pulang Diana.
Diana sangat bahagia karena sudah diperbolehkan pulang, dia akhirnya bisa bebas tanpa selang infus yang menancap ditangannya.
Sampai di rumah Diana langsung disuruh untuk beristirahat oleh Mamah Airin, beliau juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Diana. Mulai besok Diana akan diantarkan oleh Papah Edo atau bareng Ray lagi.
"Mah, mobil Mamah dimana? kok tidak ada," ucap Papah Edo.
Diana melihat ke arah Mamahnya yang terlihat diam, seperti sedang mengingat-ingat. "Hilang ya, Mah? kok bisa," sahutnya.
Mamah Airin langsung berdiri dan mengambil kunci mobil yang ada didalam tasnya, beliau juga meminta Papah Edo untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di depan rumah sakit.
Papah Edo menolak karena beliau tau cara istrinya mengendarai mobil seperti apa, tidak bisa pelan selalu ngebut dengan alasan buru-buru. "Biar besok diambil orang kantor, Mah! lebih baik sekarang kita istirahat," ucapnya.
Mamah Airin masih memaksa suaminya, beliau tidak mau mobilnya tersentuh oleh oleh orang lain.
Papah Edo menolak keinginan istrinya karena sudah malam, Diana juga tidak ada yang menjaga. Beliau tidak mau meninggalkan putrinya seorang diri, kali ini lebih baik kena omel istrinya.
Karena melihat Mamahnya tampak gelisah, Diana meminta Papahnya untuk mengantarkan Mamahnya. Dia juga mengatakan kalau dirinya berani di rumah sendiri, kebetulan jarak rumah sakit juga tidak begitu jauh.
Papah Edo tetap pada pendiriannya, beliau menyuruh anak dan istrinya untuk beristirahat. Kali ini Papah Edo benar-benar bisa marah, hingga membuat Mamah Airin takut.
***
Rumah Ray.
Suasana makan malam di rumah Ray saat ini begitu hangat, suasana hati Ray begitu senang karena Mamah Reni sudah kembali ke rumah. Dengan penuh perhatian, Ray mengambilkan nasi dan lauk untuk Mamahnya.
"Sayang, udah jangan banyak-banyak! nanti Mamah tidak habis," ucap Mamah Reni.
"Ini semua makanan kesukaan, Mamah! kalau gak habis Ray suapin," ucap Ray menaruh piring berisi nasi dan lauk yang telah dia ambil di depan Mamah Reni.
Papah Adi dan Rama saling bertatapan, mereka merasa bersalah sudah menghancurkan kebahagiaan Ray. Kini Ray sudah kembali ceria lagi, walaupun entah kedepannya gimana. Mamah Reni belum sepenuhnya percaya dengan suaminya, karena Icha masih saja didekat suaminya terus.
Selesai makan malam Mamah Reni membantu Bik Asri membereskan meja makan, dan mencuci piring. Dari dulu kebiasaan beliau tidak pernah berubah, walaupun sudah ada seorang asisten rumah tangga yang membantu meringankan pekerjaan rumah.
"Mbak, gak usah cari muka! Biasanya Bik Asri juga membereskan meja sendiri," ucap Icha dengan ketus.
"Icha, makan buah malam-malam gak bagus buat kesehatan," ucap Mamah Reni sembari tersenyum. Beliau melihat Icha yang mengambil buah di meja makan.
"Ribet amat ngurusin gue!" ucap Icha dengan keras lalu hendak pergi ke kamarnya.
Ray yang melihat kejadian itu langsung mencekal tangan Icha dengan kasar, hingga membuat Icha kesakitan. Ray hanya meminta agar Icha sopan kepada orang yang lebih tua, apalagi kalau bicara dengan Mamah Reni.
"Ray, lepaskan! biarkan Icha pergi ke kamarnya," ucap Mamah Reni yang mendengar teriakan Icha.
"Tapi wanita ini sudah tidak sopan sama, Mamah! Ray gak bisa tinggal diam," ucap Ray.
Papah Adi dan Rama yang tadinya berada di teras luar rumah langsung masuk ke dalam rumah, mereka takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Icha, tolong jangan bikin ribut terus," kata Papah Adi dengan kesal.
Icha bersandiwara seakan-akan dia tidak melakukan kesalahan, semua kesalahan ditunjukkan pada Mamah Reni.
Ray langsung membawa Mamah Reni ke dalam kamarnya, disebelah kamar Ray lebih tepatnya. Ray sadar kalau kebahagiaanya ada di Mamahnya saat ini, orang selalu dirindukan saat beliau pergi.
"Mah, Ray akan melindungi Mamah dari wanita itu! jangan pernah pergi lagi, Mah," kata Ray lalu memeluk Mamah Reni.
Mamah Reni membalas pelukan Ray, sembari menepuk pundak anak semata wayangnya itu. "Maafkan Mamah, Sayang.... " ucapnya lirih.
Di ruang tengah saat ini Papah Adi, Rama, dan Icha sedang membicarakan soal perceraian Papah Adi dengan Icha. Papah Adi sudah siap menceraikan Icha, tetapi Icha yang sepertinya keberatan karena tidak rencananya belum berhasil untuk menguasai harta Papah Adi.
"Icha, kamu sudah memfitnah ku! menghancurkan keluarga kakak ku, sekarang mau kamu apa lagi?" ucap Rama begitu geram dengan Icha.
"Aku tidak rela diceraikan begitu saja, Rama! status ku nanti jadi janda, aku malu," kata Icha tidak punya malu.
"Tolong, Icha! jangan mempersulit keadaan ini, saya tidak mau kehilangan keluarga lagi," kata Papah Adi dengan lembut.
Icha meminta ganti rugi soal statusnya, dia tidak mau dirugikan. Apalagi dia merasa masih muda, dan masih cantik. Dia meminta dibelikan rumah dan meminta saham perusahaan 50%.
"Gila kamu! aku saja yang adiknya tidak pernah memanfaatkan Kakak," kata Rama.
Papah Adi juga tidak akan memberikan, karena semua aset atas nama Ray. Jadi percuma Icha meminta semua itu, karena tidak akan pernah terwujud.
"Terserah gimana caranya, pokoknya itu semua sebagai ganti status Icha yang menjadi janda," kata Icha langsung pergi ke kamarnya.
Papah Adi kemudian mengajak Rama untuk beristirahat, karena besok pagi ada acara pembukaan kantor baru yang akan dikelola oleh Rama.
Keesokan harinya Icha masih membahas soal syarat perceraiannya, bahkan dia berani mengatakan semua didepan Mamah Reni dan Ray. Sehingga membuat Ray kesal, ingin rasanya dia mengusir wanita yang sekarang tengah duduk didekat Papahnya.
Harusnya Mamah Reni yang ada disebelah Papah Adi, tetapi karena Icha nekad dan tidak tau malu jadi duduk disebelah Papah Adi.
Ray lalu mengajak Papahnya untuk berbicara, dia mengatakan ingin memberikan apa yang Icha mau tetapi Papah Adi melarang. Walaupun alasan Ray demi keutuhan keluarganya, karena hanya akan menguntungkan Icha.
Tekat Ray sudah bulat, dia melangkah hendak menemui Icha untuk mengatakan semua. Papah Adi sangat panik, dia tidak mampu mencegah Ray lagi.
jangan ngancam donk ray
jangan di sembunyikan dan di zholimi mulu ....