5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Formasi Kedua
Formasi pentagram yang kaku itu hancur. Sebagai gantinya, mereka kini berdiri dalam lingkaran sempurna—sebuah rotasi energi yang tidak memiliki titik lemah.
"Vera," desis Azzura. Matanya lurus menatap lawan.
"Ya."
"Jangan membalas. Jadilah wadah. Tahan semua energi yang menghantammu."
Vera menyeringai, otot lengannya menegang saat perisainya berpendar perak. "Tembok hidup... mengerti."
"Olivia, stabilkan frekuensinya. Rachel, kacaukan vektor serangannya sebelum menyentuh kita. Dan Luna..." Azzura menjeda sejenak. "Bekukan waktu di sekitar energinya, bukan wujudnya."
Makhluk itu tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Strategi defensif? Kalian gemetar di balik lingkaran kecil ini."
Azzura mengangkat tongkatnya. Cahaya biru safir memancar tenang. "Kami tidak takut. Kami hanya baru saja berhenti bermain-main."
Serangan kedua datang.
Kali ini, serangan itu bukan sekadar hantaman, melainkan gelombang penghancur realitas. Namun, Vera berdiri kokoh. Perisainya tidak lagi memantulkan serangan; ia menelan arahnya.
"Dia mengunci jalur kita!" teriak Vera di tengah raungan energi.
"Aku buka gerbangnya!" Rachel melepaskan anak panah cahaya. Namun, panah itu tidak melesat ke arah musuh. Panah itu meledak di udara kosong, menciptakan riak yang membelokkan lintasan energi lawan hingga buyar berantakan.
Olivia mengangkat tangan. Akar-akar cahaya muncul di udara, menjahit kembali atmosfer yang robek. "Arusnya stabil! Luna, sekarang!"
Luna tidak bergerak. Ia hanya bernapas. "Diam... bukan bentuknya—tapi detaknya!"
Seketika, serpihan energi yang tadinya liar melambat, membeku di udara seolah terperangkap dalam cairan kental yang tak kasat mata. Makhluk itu tertegun. Gerakannya terkunci oleh hukum fisika yang baru saja dimanipulasi Luna.
"...kalian berevolusi dalam hitungan detik," gumam makhluk itu.
"Kami tidak punya pilihan," sahut Azzura dingin.
"Bagus," makhluk itu berbisik, auranya tiba-tiba meluap hitam pekat. "Karena aku bahkan belum mulai serius."
ZUP!
Tubuh makhluk itu pecah. Bukan menjadi debu, melainkan menjadi puluhan bayangan yang identik. Masing-masing membawa haus darah yang sama.
"Oh, itu curang!" Rachel mengumpat, menarik tiga anak panah sekaligus.
"Bukan curang," Luna mengoreksi dengan nada datar. "Itu pembelahan dimensi."
Vera menghentakkan perisainya ke tanah kristal. "Berapa pun jumlahnya—kita tetap satu!"
Azzura tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung otoritas mutlak.
"Tidak, Vera," katanya pelan. "Kali ini... kita lebih dari satu."
Kelima energi mereka mulai berdenyut dalam ritme yang sama. Tidak ada lagi pemimpin, tidak ada lagi pengikut. Cahaya mereka menyatu tanpa pusat, menciptakan badai melingkar yang mengaburkan batas antara individu.
Makhluk itu mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, ia merasakan keraguan. "...apa ini?"
"Ini?" Olivia berbisik lembut, rambutnya berkibar tertiup angin energi. "Ini yang kau sebut tadi..."
"Sinkronisasi." Rachel menyambung, menarik busur yang kini memancarkan spektrum warna pelangi yang menyilaukan.
"Versi kami." Luna menutup dengan dingin.
Azzura mengangkat tongkatnya. Kali ini, ia tidak menyerap energi; ia membiarkan Aether mengalir bebas melewati tubuhnya, menjadi jembatan bagi keempat rekannya.
"Serangan gabungan," komando Azzura. "Tanpa pusat. Tanpa pola. Serang!"
BOOM!
Cahaya itu tidak lagi berbentuk laser yang lurus. Ia menjadi badai yang berdenyut, hidup, dan memiliki kesadaran sendiri.
Makhluk Vanguard itu mencoba membelah serangan tersebut, namun tangannya hanya menembus udara kosong. Serangan itu menyerang dari arah yang tidak ada, dari dimensi yang tidak terbaca.
"Tidak ada inti..." raung makhluk itu, suaranya retak seperti kaca pecah. "Tidak ada pusat untuk dihancurkan!"
Cahaya pelangi itu menghantamnya dari segala penjuru, bukan menghancurkan dagingnya, melainkan mengurai eksistensinya. Tubuh asap dan kristal itu tercerai-berai menjadi serpihan konsep yang ditolak oleh alam semesta.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Azzura melangkah maju ke tengah badai. "Kami tidak melawanmu," katanya tenang. "Kami mengembalikanmu ke ketiadaan yang seharusnya."
"Versi halus dari: Ya, kami memang menghapusmu dari sejarah," Rachel menyeringai.
"Dengan gaya," tambah Vera sambil tertawa pendek.
Namun, tepat saat kemenangan tampak di depan mata, sebuah inti hitam pekat muncul di tengah reruntuhan cahaya. Ia berdenyut seperti jantung yang sekarat.
"...kalian tidak mengerti..." suara itu kini terdengar dari bawah tanah. "Aku bukan individu. Aku hanyalah... pintu."
DEG.
Seluruh cahaya di Jembatan Cahaya meredup. Luna membelalakkan mata. "Jangan bilang—"
Retakan itu muncul kembali. Bukan di langit yang jauh, tapi tepat di bawah kaki mereka.
"DI BAWAH?!" Vera menghantamkan perisainya, namun tanah kristal itu tidak lagi solid. Ia mencair menjadi kegelapan.
"Ini bukan serangan," Olivia berbisik ketakutan. "Ini infiltrasi dimensi."
Dari kegelapan itu, tangan-tangan bayangan yang tak terhitung jumlahnya menjalar keluar. Mereka tidak mencakar; mereka menyedot. Cahaya dari Jembatan, energi dari para putri—semuanya ditarik masuk.
"Dia menyedot sistem kita!" Luna berseru. "Jika ini terus berlanjut, Euthopia akan jatuh sebelum gerbangnya terbuka!"
Vera menancapkan perisainya sekuat tenaga. "Selama aku berdiri—"
KRAK.
Perisai legendaris Vera retak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dunia seolah berhenti berputar bagi mereka.
Azzura menatap retakan itu dengan mata yang berkilat tajam. "Kita salah target. Sumbernya ada di dalam sana. Akar dari semua kegelapan ini."
"Jadi?" Rachel bertanya, jemarinya gemetar di tali busur.
"Aku yang masuk," kata Azzura mutlak.
"TIDAK!" teriak mereka bersamaan.
"Hanya aku yang memiliki koneksi Mageia murni. Aku bisa menutupnya dari sisi lain. Jika aku tidak pergi, kita semua akan terseret ke bawah." Azzura menatap satu per satu sahabatnya. "Dan jika aku gagal... kalian harus siap menghancurkan celah ini, termasuk aku di dalamnya."
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Rachel menelan ludah, Vera memalingkan wajah untuk menyembunyikan amarahnya, sementara Olivia menggenggam tangan Azzura erat-erat.
"Aku benci saat dia bertindak sok pahlawan," desis Luna, namun matanya berkaca-kaca. "Satu menit. Aku hanya bisa menstabilkan pintunya selama satu menit."
Azzura tersenyum untuk terakhir kalinya. "Itu lebih dari cukup."
Tanpa menoleh lagi, Azzura melompat ke dalam kegelapan yang menganga.
"AZZURA!"
Suara Olivia tertelan saat retakan itu menyempit, meninggalkan empat putri yang tersisa di atas Jembatan yang kini dikepung oleh gelombang bayangan yang jauh lebih buas.
Azzura membuka matanya.
Hampa. Dingin.
Ia tidak berada di ruang kosong. Ia berada di sebuah dunia yang mengerikan. Di atasnya, tanah Jembatan Cahaya terlihat seperti langit yang retak. Di bawahnya, awan hitam berputar-putar menciptakan badai abadi.
Dan di kejauhan, di antara pilar-pilar energi gelap yang menjulang, sesuatu yang jauh lebih besar dari Vanguard tadi perlahan bergerak.
Sesuatu yang kuno.
Sesuatu yang besar.
Sepasang mata raksasa berwarna merah darah terbuka di cakrawala, menatap Azzura seolah ia hanyalah sebutir debu di tengah badai.
Azzura mengeratkan genggaman pada tongkatnya. "Jadi, kau pemimpin yang sebenarnya?"