Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Berkelana
Jaka tinggal selama beberapa bulan di lingkungan Istana, kemajuan ilmu silatnya semakin meningkat berkat latihan dan latih tanding bersama ketiga senopati
namun di megahnya lingkungan Istana, Jaka masih tak tenang, kematian kedua orang tuanya belum terbalaskan
Pagi itu dengan memberanikan diri ia menghadap pada Raja Arya Jaya, kakeknya
" Cucuku , ada apa pagi begini kau sudah menghadapku?" tanya Raja Arya jaya saat Jaka menghadap
" Kakek paduka Raja, hamba ingin meminta izin meninggalkan kerajaan untuk sementara waktu" ucap Jaka sambil berlutut
" Mengapa apa kau tidak betah tinggal di istana?" tanya Raja Arya Jaya
" Bukan Kakek, hanya saja perasaanku tak tenang jika belum membalaskan dendam kedua orang tuaku" jawab Jaka
Raja Arya Jaya terdiam
" Kau ingin memburu Macan hitam dan menyusul Ki ageng Surya?" tanya sang raja lagi
"Benar Kakek, Hamba belum bisa merasa tenang dan damai. Selama pembunuh Ayahanda dan Ibunda masih berkeliaran, hamba tidak bisa sungguh-sungguh menikmati kedudukan ini. Hamba ingin membalaskan dendam mereka dan membersihkan dunia persilatan dari kejahatan." sahut Jaka
Raja menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala.
" Aku mengerti, Pergilah... Kakek tidak akan menahanmu. Namun ingatlah selalu, istana ini adalah rumahmu. Kapan pun kau kembali, kau akan selalu disambut sebagai putra Mahkota."
"Terima kasih, Kakek." ucap Jaka , ia lalu pamit undur diri, namun ia tak langsung kembali ke kamarnya, ia berjalan ke arah bukit di belakang Istana, di mana Ayah dan ibunya di makamkan berdampingan
" Ayah, Ibu, doakan anakmu agar bisa membalas kematian kalian" ucap Jaka saat berada di kuburan kedua orang tuanya , setelah menaburkan bunga dan menyiram pusara itu dengan air yang ia bawa , ia bangkit dan melangkah pulang ke kamarnya
Jaka berkemas, ia tak membawa baju baju mewahnya, ia hanya mengambil pakaian biasa yang sedikit kasar dan terlihat sederhana, namun masih bagus dan layak pakai
Setelah selesai beberes , Jaka melangkah keluar, di luar tiga senopati dan Patih Bayu Geni ternyata sudah menunggu dirinya
" Pangeran kau akan Pergi?" tanya Senopati Wira Geni dengan pandangan sedih, jaka adalah pendekar muda yang sangat tinggi , jika Jaka pergi ia tak memiliki lawan latih tanding lagi
Saat sampai di pelataran Istana, Raja Arya Jaya telah berdiri menunggunya
Raja Arya jaya berjalan maju dan menepuk bahu Jaka pelan
" Kau ingat Cincin dan Plakat yag kuberikan padamu, jika kau melihat pembesar atau pejabat yang berlaku sewenang wenang kau bisa menghukumnya sebagai wakilku," ucap Raja Arya jaya memberitahukan kegunaan cincin dan Plakat itu yang ia berikan
" Baik kakek, aku akan menghukum mereka yang menyalahgunakan kekuasaan mereka" ucap Jaka
" Paman Patih, paman senopati, tolong jaga kakek, aku pergi dulu" Jaka melangkah ke arah tengah Pelataran , lalu mencabut pedang Elang Hitamnya, ia mengalirkan tenaga dalam ke satu sisi
Ngiiiiiing
Dengungan halus terdengar
Khwaaaaaakh
dari angkasa terdengar pekikan Elang hitam, dan tak lama satu titik terlihat di angkasa dan semakin membesar
wuut
Elang Hitam itu turun di dekat Jaka, jaka mengelus bulu di leher elang itu
" Kakak ayo kita pergi" ucap Jaka sambil melompat ke atas punggung Elang Raksasa itu
Khwaaaaak
wuuuut
whuuus
elang Hitam mengepakan sayapnya dan melambung tinggi, jaka melambaikan tangan sebelum elang itu melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
" Kakak Elang, kita turun di sana" ucap Jaka saat melihat sebuah hutan di luar kota raja, dengan perjalanan udara memang lebih cepat tetapi ia tak mendapat berita apa apa
Wuuush
Elang hitam menukik ke arah pinggiran hutan itu dan mendarat
" kakak Elang aku akan melalui jalan darat, " ucap Jaka
Kwaaaaak
Elang hitam seakan tak mau berpisah dengan Jaka
" tenang saja, aku akan memanggilmu dan tak akan membahayakan diriku sendiri" Jaka yang mendengar pekikan sedih itu mengusap bulu di leher elang Hitam
" Toloooong" baru saja elang hitam akan mengangkasa dari dalam hutan terdengar suara minta tolong
"Kakak elang kita lihat dulu kesana!" seru Jaka , ia melesat duluan ke arah suara
Di tengah hutan satu keluarga di kepung oleh beberapa orang, para pengawal yang mencoba melawan tetapi mereka terdesak selain kalah jumlah kemampuan mereka juga terpaut jauh
Hiaaaat
traaaang
Aaaaaargh
satu pengawal tewas di tempat saat ia berusaha melindungi kereta kuda
Hiaaaaat
jaka langsung melesat saat salah satu dari perampok itu akan menusukan tombak ke arah kereta kuda
wuuut
Bugh
Aaaaaargh
brush
perampok itu terpental dan masuk kedalam semak belukar saat tendangan jaka mengenai dadanya
" pendekar muda tolong selamatkan istri dan anakku" dari dalam kereta, seorang pria paruh baya keluar dan berlutut memohon pada Jaka
" Paman bangunlah" jaka dengan cepat membangunkan pria itu
" Bocah, kau sudah bosan hidup mengganggu rencana kami!" bentak seorang pria bertubuh tinggi besar yang menjadi pemimpin kelompok itu
"Seraaaang dia!" teriaknya menyuruh mereka menyerang jaka
hiaaaat
wuuut
wuuut
wuuut
Tiga orang perampok langsung menyerang bersamaan. Pedang mereka berkilauan di bawah sinar matahari sore, mengarah ke leher, dada, dan kaki Jaka secara serentak.
Jaka diam memperhatikan namun Saat pedang musuh tinggal beberapa jengkal dari tubuhnya, barulah Jaka bergerak.
"JURUS SAYAP MENEMBUS KABUT!"
HIaaaaat
WUSH!
Tubuh Jaka seolah lenyap ditelan kabut tipis.
Traang
Tring
braaaak
Tiga pedang itu justru saling berbenturan satu sama lain karena kehilangan sasaran. Para perampok itu terkejut, mereka tidak tahu ke mana perginya lawan mereka.
wuuut
Plak! Plak! Plak!
Tiga tepukan pelan namun sangat keras mengenai tengkuk ketiga perampok itu secara bersamaan.
Blugh! Blugh! Blugh!
Mereka bertiga roboh pingsan seketika sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.
" Serang dia ! Jangan biarkan dia hidup!" teriak Ketua Perampok yang melihat anak buahnya tumbang begitu mudahnya.
Hiaaaat
wuut
wuuut
Belasan perampok yang tersisa mengerumuni Jaka.
"JURUS ELANG MENUTUP LANGIT!"
Jaka mencabut pedangnya secepat kilat dan mengayunkannya ke segala arah.
Srett! Srett! Wush! Wush!
Ribuan bayangan pedang muncul menutupi area di sekitar tubuh Jaka. Tidak ada celah sedikitpun untuk ditembus.
Ding! Ding! Trang! Trang!
Semua serangan senjata musuh terpental keluar. Tidak satu pun yang mampu menyentuh ujung kain baju Jaka.
" jurus apa ini?!" teriak para perampok mulai panik. Mereka merasakan tangan mereka gemetar dan nyeri hebat akibat bentrokan dengan pedang Jaka yang luar biasa kuatnya.
"Kalian yang membunuh, merampok, dan menakut-nakuti orang tidak pantas hidup di dunia ini!" seru Jaka dengan suara menggelegar.
"JURUS BADAI SAYAP ELANG!"
Jaka mengayunkan pedangnya melingkar di depan dada, lalu mendorongnya ke depan dengan tenaga penuh.
syuuuut
BYUUUUUUUMMM!!
Sebuah gelombang angin hitam yang dahsyat meledak keluar dari ujung pedangnya. Gelombang itu menghantam seluruh perampok yang sedang mengerumuni.
AAAAARGH!!
Brak! Brak! Brak!
Satu per satu tubuh para perampok itu terpental terbang bagai daun kering diterpa badai. Beberapa terpental hingga menabrak batang pohon besar dan langsung tewas mengenaskan, sisanya pingsan dengan tulang-tulang yang remuk redam.
Hanya tersisa si Ketua Perampok yang melihat kejadian itu dengan mata terbelalak ketakutan. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh punggungnya. Ia baru sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan anak muda biasa, melainkan seorang pendekar tingkat tinggi yang sangat hebat.
"Kau... kau siapa sebenarnya...?" gumam ketua perampok itu dengan suara gemetar, kakinya lemas tak mampu bergerak.
Jaka berjalan mendekat perlahan, setiap langkahnya seakan menghentak bumi.
"Aku yang akan mengakhiri kejahatanmu!" ucap Jaka dingin
"Tidak! Ampun! Ampun Tuan Pendekar!!" si ketua langsung berlutut memohon ampun. "Hamba salah! Hamba tidak akan melakukannya lagi! Lepaskan hamba!"
Jaka menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kejahatanmu sudah terlalu banyak. Banyak darah tak berdosa yang tumpah karena tanganmu. Hari ini adalah akhir dari pembalasan orang-orang yang telah kau siksa."
Srett!
Aaaaargh
Sekali tebasan cepat, nyawa si ketua perampok pun melayang. Kejahatan di jalan itu telah tuntas dibersihkan oleh tangan dingin Pendekar Elang Hitam.
Para pengawal dengan cepat mengikat para perompak yang masih hidup
dari dalam kereta istrinya, dan putrinya, Mereka maju mendekati Jaka dan bersimpuh hormat di hadapannya.
"Terima kasih, Pendekar!" ucap Sang Saudagar dengan suara bergetar penuh rasa syukur.
" aku Bagus Wirama, utusan dari Kerajaan Kencana Buana. Jika bukan karena pertolongan Pendekar Muda, pasti hamba dan keluarga hamba sudah tewas mengenaskan."
Jaka segera menolong mereka berdiri. "Bangunlah Tuan. Membasmi kejahatan dan menolong yang lemah adalah tugasku."
Gadis muda putri Bagus Wirama menatap Jaka dengan wajah memerah dan mata berbinar-binar kagum. Pemuda di depannya ini begitu tampan, gagah, dan sangat kuat. Seperti pangeran dari dongeng.