"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28. mencari bukti
Sejak pertemuan dengan Hartono, Leon dan kawan-kawannya bergerak lebih hati-hati tapi juga lebih giat. Mereka pikir, selama ada keinginan untuk mencari, pasti akan ditemukan sesuatu. Namun kenyataan berbicara lain, setiap jalan yang mereka coba selalu berujung pada titik kosong.
Pertama, Dimas yang punya kenalan di kepolisian berusaha meminta salinan berkas kasus lama. Jawabannya singkat, “Berkas sudah dinyatakan selesai dan ditutup. Tidak ada alasan untuk membukanya kembali.” Bahkan saat mencoba bertanya ke petugas yang dulu menangani, orang itu hanya menggeleng sambil berkata, “Sudah lupa, itu sudah lama sekali.” Padahal jelas-jelas nada bicaranya tertekan, seolah takut berbicara lebih banyak.
Raka dan Bimo mencoba melacak saksi mata yang disebut-sebut ada di lokasi kejadian. Setelah berhari-hari bertanya ke warga sekitar, akhirnya mereka menemukan satu orang yang melihat peristiwa itu. Namun begitu mendengar nama Hartono disebut, orang itu langsung pucat pasi, lalu menolak berbicara dengan alasan “tidak melihat apa-apa” dan segera masuk ke rumah sambil mengunci pintu rapat-rapat.
“Dia sampai gemetar ketakutan,” kata Raka dengan wajah kecewa. “Jelas-jelas dia tahu sesuatu, tapi tidak berani bicara.”
Mereka juga mencoba mencari rekaman CCTV jalanan di sekitar lokasi kecelakaan. Namun jawaban dari pengelola jalanan sama saja, “Rekaman dari waktu itu sudah terhapus otomatis karena batas penyimpanan, atau rusak karena gangguan listrik.” Padahal Leon tahu, di daerah itu sistem penyimpanannya cukup handal.
Setiap malam, mereka berkumpul dan saling bertukar kabar, tapi isinya selalu sama, tidak ada apa-apa. Bukti seolah menghilang ditelan bumi, saksi mata menutup mulut rapat-rapat, dan jalur hukum terasa tertutup rapat seolah tidak ada celah sedikit pun. Bahkan informasi yang mereka dapatkan lewat cara tidak resmi pun selalu berhenti di tengah jalan.
“Seolah-olah semua jejak itu sengaja dihapus bersih-bersih sampai tidak tersisa satu pun,” gumam Bimo dengan nada putus asa. “Mereka sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari, Leon. Tidak ada yang terlewatkan.”
Leon hanya diam sambil memegang buku catatannya. Ia merasakan frustrasi yang makin membebani. Di dunia cerita yang ia ciptakan, kebenaran selalu bisa ditemukan selama ada keinginan untuk mencarinya. Tapi di dunia nyata ini, kekuasaan dan uang bisa menutupi segalanya dengan begitu rapi. Rasanya seperti berjalan di dalam ruangan gelap tanpa cahaya, tidak tahu harus melangkah ke mana lagi.
“Kita sudah mencoba segala cara yang kita tahu, tapi hasilnya tetap zonk,” kata Dimas dengan napas berat. “Mereka terlalu kuat, Leon. Kalau kita terus memaksakan diri, yang ada malah membahayakan lo dan keluarga lo sendiri.”
Mendengar itu, hati Leon terasa hancur. Bukan karena takut, tapi karena merasa tidak berdaya. Lima tahun hidupnya terbuang, orang tuanya menderita, dan pelakunya masih bebas berjalan dengan tenang, seolah tidak ada yang bisa menyentuhnya. Semua usaha, semangat, dan harapan yang ia bangun perlahan terasa menyusut, digantikan oleh rasa lelah dan kenyataan pahit yang tak bisa dibantah.
Malam itu, Leon duduk sendirian di teras. Ia membuka buku catatannya, tapi tidak menulis apa pun. Halaman-halamannya tetap kosong, sama seperti hasil pencariannya selama ini. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya...apakah keadilan di dunia ini benar-benar ada, atau hanya sekadar cerita yang indah untuk dibaca saja?
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁