NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Polos Syafa.

Suasana di dalam mobil itu hening, hanya terdengar suara putaran ban yang halus di atas aspal. Sejiwa menatap lurus ke depan, namun matanya sesekali melirik ke arah Aini yang tampak sedang menunduk, memainkan ujung jarinyanya dengan gelisah. Laki-laki itu seolah sengaja membuka pembicaraan yang sudah lama ingin ia dengar jawabannya.

"Bu Aini... tadi anak-anak terus menyebut nama Jaja. Siapa dia? Orang dekat Ibu ya?" tanya Sejiwa dengan nada santai.

Aini tersentak, lalu mengangguk pelan. Ia berusaha menjelaskan dengan singkat dan seperlunya saja, rasa gugupnya makin menjadi karena merasa tatapan mata Sejiwa begitu tajam dan menembus....menusuk kesudut hatinya.

"Ah... itu... itu tetangga kami, Pak Komandan. Pindah ke rumah sebelah sekitar setahun yang lalu. Orangnya baik sekali, suka menolong. Dia yang sering bantu saya kalau ada urusan berat, dia yang sering menemani anak-anak main... itu saja sih, Pak. Cuma tetangga yang sangat baik dan ramah," jawab Aini terbata-bata, tidak berani menceritakan lebih jauh soal perasaan Jaja atau kepergiannya yang menyakitkan.

Sejiwa hanya mengangguk-angguk pelan, tersenyum tipis seolah menerima penjelasan itu, meski di dalam hatinya ia tahu ada banyak hal yang tidak dikatakan wanita itu.

Hening kembali melanda. Aini menelan ludahnya, memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan yang sudah tertahan sejak pertama kali mereka bertemu. Ia mengangkat wajahnya, menatap sisi wajah samping Sejiwa dengan ragu-ragu, matanya berkedip-kedip lucu dan menggemaskan karena rasa malu yang bercampur rasa ingin tahu yang besar.

"Ehm... Pak... Pak Komandan..." panggil Aini pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Maaf ya... saya kan sudah lama sekali kenal Bapak, sudah banyak sekali berhutang budi tapi sampai sekarang... saya... saya belum tahu nama lengkap Bapak siapa. Bolehkah saya tahu?"

Sejiwa menoleh, melihat wajah Aini yang tampak polos dan malu-malu itu. Ia tertawa pelan, suara tawanya terdengar hangat dan renyah di dalam mobil. Senyumnya melebar.

"Maafkan saya ya, Bu. Memang salah saya juga, tidak pernah menyebutkan nama sendiri. Saya biasa dipanggil Komandan, atau Sejiwa. Nama lengkap saya... Adji Sejiwa," jawabnya lembut, mengucapkan nama itu dengan sangat jelas.

"Adji Sejiwa..." gumam Aini pelan, mengulanginya dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan, seolah sedang menyimpan nama itu rapat-rapat di dalam ingatannya.

"Baiklah... terima kasih, Pak Adji."

Belum sempat percakapan itu berlanjut, Syafa yang duduk di tengah mulai gelisah. Gadis kecil itu menoleh ke kiri dan kanan, lalu menunjuk ke arah jendela kaca yang gelap namun memantulkan cahaya lampu jalan yang lewat.

"Ibu... Pak Adji... Syafa mau duduk di pinggir saja ya? Mau lihat lampu-lampu di jalan. Di tengah sempit, tidak bisa lihat apa-apa," rengeknya manja sambil menarik-narik lengan baju ibunya.

Sebelum Aini sempat melarang atau menggeser posisi duduknya, Sejiwa sudah bergerak dengan sigap dan lembut. Ia mengangkat tubuh kecil Syafa dengan satu tangan saja, menggeser gadis itu ke sisi sebelahnya, tepat di pinggir dekat jendela yang diinginkannya. Kini posisinya berubah total.....Syafa duduk di pinggir kanan dekat Sejiwa, dan Sejiwa kini duduk tepat di sebelah Aini, bersebelahan tanpa ada jarak lagi di antara mereka. Bahu mereka bersentuhan, lengan mereka saling berdekatan.

Aini menahan napasnya. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. Jantungnya berdegup kencang sekali, seolah mau melompat keluar dari dada. Ia makin grogi, makin kikuk, dan tidak tahu harus menaruh tangannya di mana. Kehadiran laki-laki gagah di sampingnya itu terasa begitu nyata, begitu dekat, dan begitu memancarkan wibawa serta kehangatan yang membuatnya serba salah.

Namun, belum selesai rasa gugup itu mereda, Satria yang duduk di pangkuan Aini mulai merengek dan meronta. Anak laki-laki itu menoleh ke arah Sejiwa, merentangkan kedua tangannya ke atas .......minta diambil.

"Paman... Paman... gendong... Paman Jaja..." serunya berulang kali, suaranya renyah dan polos.

Aini langsung panik luar biasa. Ia berusaha menahan tubuh anaknya agar tidak melompat, matanya melotot kaget dan takut salah tingkah.

"Dedek! Apa sih? Ini Pak Adji, bukan Paman Jaja! Jangan sembarangan, Nak! Nanti Pak Adji marah lho," bisik Aini cepat dan cemas, ia menatap Sejiwa dengan pandangan penuh permohonan maaf.

"Maafkan anak saya ya, Pak Adji. Entah kenapa dari tadi dia terus-terusan panggil nama itu. Dia pasti bingung, maafkan saya ya Pak..."

Namun Sejiwa sama sekali tidak terganggu. Justru di sudut bibirnya tersungging senyum misterius yang makin lebar, senyum yang penuh arti dan seolah sedang menikmati segala kebingungan yang terjadi. Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut mengangkat tubuh Satria dari pangkuan Aini, memindahkannya ke pelukannya sendiri.

"Tidak apa-apa, Bu. Biarkan saja. Mungkin memang kami ada kemiripan, makanya Dedek ingat terus. Dia nyaman sama saya, berarti dia anak yang peka," ucap Sejiwa tenang.

Ia memeluk Satria dengan sangat mahir, persis seperti orang yang sudah terbiasa menggendong anak kecil. Ia mengayun-ayunkan tubuh anak itu pelan, menepuk-nepuk punggungnya dengan irama yang menenangkan. Wangi tubuh Sejiwa yang hangat dan nyaman itu seolah membuat Satria langsung tenang. Tak lama kemudian, mata anak itu mulai berat, kelopak matanya perlahan tertutup. Akhirnya, Satria tertidur pulas, damai sekali, memeluk erat leher Sejiwa dengan kedua tangan kecilnya, wajahnya tersandar nyaman di dada bidang laki-laki itu.

Aini memandang pemandangan itu tak berkedip. Hatinya terasa aneh, campur aduk antara rasa kagum, rasa haru, dan rasa bingung yang makin besar. Caranya Sejiwa memperlakukan anak-anaknya... caranya dia menggendong, mengelus, dan menenangkan... rasanya begitu akrab, begitu sama persis dengan cara Jaja.

Sejiwa sesekali mengelus rambut halus Satria dengan penuh kasih sayang, matanya menatap anak itu lekat-lekat dengan tatapan yang begitu lembut dan sayang, seolah anak itu adalah darah dagingnya sendiri.

Suasana hening kembali terjadi, sampai Syafa yang dari tadi asyik melihat ke luar jendela kembali membuka mulutnya. Gadis kecil itu menoleh ke belakang, menatap bergantian ke arah ibunya dan ke arah Sejiwa. Wajahnya tampak sedih dan rindu.

"Pak Adji... Syafa kangen sekali sama Paman Jaja," ucapnya pelan namun jelas. "Ibu juga kangen lho, Pak. Cuma Ibu tidak mau bilang. Kalau malam, kalau kami sudah tidur... Ibu sering keluar kamar. Ibu berdiri lama sekali di depan pagar rumah Paman Jaja yang kosong itu. Ibu menangis diam-diam, Pak... Syafa pernah bangun dan lihat Ibu menghapus air matanya sambil menatap rumah sebelah. Ibu pasti sedih sekali karena Paman Jaja pergi."

Seketika itu juga, Aini merasa dunianya berhenti berputar. Darahnya serasa berhenti mengalir. Wajahnya yang sudah merah karena malu, kini berubah seperti kepiting rebus. Ia merasa lantai di bawah kakinya seolah mau terbelah dan menelannya masuk ke dalam.

Matanya melotot menatap putrinya yang polos itu, mulutnya terbuka sedikit tapi tak ada suara yang keluar. Ia menoleh perlahan ke arah Sejiwa, menatap laki-laki itu dengan pandangan mati kutu, pandangan yang memohon, pandangan yang penuh rasa bersalah dan rasa malu yang tak terhingga.

Rahasia kecilnya yang ia simpan mati-matian, rasa rindu yang ia pendam dalam diam, air mata yang ia tumpahkan saat tak ada yang melihat... semuanya terbongkar sudah oleh mulut polos anaknya sendiri.

Di depan laki-laki ini, di depan sosok gagah yang baru saja ia kenal namanya, Aini merasa semua benteng pertahanannya runtuh seketika. Ia tidak berani menatap mata Sejiwa lagi, ia hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam, berharap mobil ini bisa sampai di rumah secepat mungkin, atau berharap bumi segera membelah dirinya.

Di sampingnya, Sejiwa tetap tenang. Namun senyum misterius itu kini berubah menjadi senyum yang lebih lembut, lebih dalam, dan penuh kemenangan yang tersembunyi. Ia menatap wanita itu yang sedang menunduk malu dengan penuh kasih sayang dan pengertian.

Dia tahu segalanya. Pengakuan polos Syafa itu hanyalah penguat bagi apa yang sudah ia duga sejak lama..... bahwa wanita itu mencintainya, merindukannya, dan menunggunya... meski wanita itu sendiri belum sadar sepenuhnya siapa dia sebenarnya.

******

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!