NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Lari Saat Hamil / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Di Rumah Makan

Malam semakin larut, saat pria itu pergi dengan penyesalannya sendiri. Rasanya sudah tidak ada celah untuk menelusup di kehidupan sang anak yang memang sudah tumbuh dengan baik bersama keempat ibunya.

  Bahkan dirinya yang mempunyai segalanya, harta dan jabatan kalah dengan yang mempunyai ketulusan dan perjuangan mereka benar-benar tidak bisa dianggap sepele.

 "Dia sudah terbiasa hidup tanpaku," ucapnya sambil berjalan pelan.

 ☘️☘️☘️☘️

Keesokan harinya. Pagi itu suasana rumah kayu terasa lebih sepi dari biasanya. Kai duduk di tangga depan sambil memeluk lututnya sendiri. Layang-layang kecil miliknya tergeletak begitu saja di samping tubuhnya tanpa disentuh sedikit pun.

Padahal biasanya sejak matahari muncul anak itu sudah sibuk berlari ke pantai. Tapi sekarang berbeda. Tatapan Kai terus mengarah ke jalan kecil tempat Rina pergi tadi pagi.

“Ibu Rina udah jauh ya?” tanyanya lirih.

Senna yang sedang membantu menjemur pakaian langsung menoleh. Wanita itu tersenyum kecil meski hatinya ikut terasa sesak.

“Iya Nak, Bu Rina kan harus kerja lagi.”

Kai menunduk pelan. “Kenapa sih orang dewasa harus kerja terus?”

Pertanyaan polos itu membuat Senna tertawa kecil. “Karena hidup gak cukup pakai tidur sama makan ikan bakar aja.”

Biasanya Kai akan tertawa mendengar candaan seperti itu. Namun kali ini bocah itu hanya diam.

Dari dalam rumah, Alena memperhatikan semuanya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Kai sangat dekat dengan Rina. Bahkan sejak Kai dalam kandungan wanita itu memang selalu datang setiap beberapa bulan sekali hanya untuk memastikan Kai baik-baik saja.

Meskipun pekerjaannya di kota sering membuatnya lelah.

“Kai, sini sarapan dulu,” panggil Alena lembut.

Anak itu akhirnya masuk dengan langkah pelan, bahkan saat makan pun Kai terlihat murung. Hal kecil itu ternyata tidak luput dari perhatian seseorang.

Tidak jauh dari rumah kayu tersebut, sebuah mobil hitam terparkir diam di dekat bibir pantai. Kael duduk di dalam sambil memperhatikan rumah kecil itu dari kejauhan.

Tatapan pria itu perlahan berubah saat melihat Kai yang biasanya ceria kini terlihat lebih pendiam.

“Anak itu sedih sejak Rina pergi,” gumamnya pelan.

Edgar yang duduk di depan langsung melirik melalui kaca spion. “Tuan memperhatikan sampai sejauh itu?”

Kael tidak menjawab.

Entah kenapa setiap melihat Kai, dadanya selalu terasa aneh. Seolah ada sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. Dan sekarang perlahan mulai kembali.

☘️☘️☘️☘️☘️

Menjelang siang. Rumah makan kecil dekat pesisir mulai ramai pengunjung.

Anne dan Senna terlihat sibuk di area kasir sambil melayani pelanggan yang datang silih berganti. Sesekali keduanya bercanda kecil agar suasana rumah makan tetap hangat.

Sedangkan Alena mondar-mandir membawa pesanan dari satu meja ke meja lainnya dengan nampan di tangannya.

“Kopi hitam satu! Ikan bakar meja tiga belum ya?”

Suara pelanggan saling bersahutan membuat suasana rumah makan sederhana itu terasa hidup.

Kai sendiri duduk di meja pojok sambil memainkan potongan bambu kecil dan kertas warna-warni.

Anak itu sedang membuat layang-layang mini. Sesekali beberapa pelanggan tersenyum melihat keseriusan Kai.

“Anak siapa itu?”

“Lucu banget.”

“Pinter juga bikin layang-layang.”

Kai hanya tersenyum malu-malu. Sementara itu dari kejauhan— Kael berdiri memperhatikan semuanya.

Untuk kali ini pria itu masuk langsung ke rumah makan tersebut. Namun ia memilih duduk di sudut paling belakang tanpa banyak bicara.

Kehadirannya langsung membuat beberapa pelanggan berbisik pelan. Aura pria itu terlalu mencolok untuk tempat sederhana seperti ini.

“Selamat siang, mau pesan apa?” tanya Senna ramah tanpa benar-benar melihat pelanggan di depannya.

“Kopi hitam.”

Seketika tubuh Senna langsung menegang.

Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya dan tepat di detik itu juga dadanya memanas.

Kael Ardion.

Ingin sekali wanita itu memaki pria dihadapannya, namun ia sadar kalau sekali saja ia salah melangkah pasti pekerjaannya yang menjadi taruhannya.

Dengan wajah yang sinis akhirnya Senna mencoba menulis pesanan pria itu, lalu pergi begitu saja.

Pria itu tidak ambil pusing akan tetapi mata Kael sejak tadi tidak pernah lepas dari Kai.

Anak kecil itu tampak begitu tenang meski hidup sederhana. Tidak ada mainan mahal bahkan pakaian mewah. Namun entah kenapa?

Kai terlihat jauh lebih hidup daripada anak-anak orang kaya yang sering Kael temui. Dan lagi-lagi hal itu membuat dada pria tersebut terasa sesak.

Tak lama kemudian Kai berdiri sambil membawa layang-layang kecil buatannya.

“Ma! Lihat ini!”

Alena yang sedang membawa minuman langsung tersenyum. “Bagus sekali.”

Kai tertawa senang. Pemandangan sederhana itu sukses membuat Kael diam cukup lama.

Karena dulu. Ia tidak pernah membayangkan Alena menjalani hidup seperti ini.

Wanita yang dulu tersakiti karena ulahnya kini harus bekerja dari pagi sampai malam di rumah makan kecil. Dan lebih menyakitkannya lagi Alena melakukan semua itu sambil membesarkan anak mereka sendirian.

“Tuan.”

Suara Edgar membuat Kael sedikit tersadar.

“Apa kita perlu pergi?”

Kael menggeleng pelan.

Belum. Ia masih ingin melihat mereka lebih lama dan beberapa menit kemudian—

Brak!

Suara kursi bergeser kasar membuat suasana rumah makan mendadak berubah.

Seorang pria mabuk berdiri sambil tertawa keras bersama temannya.

Wajahnya merah dan langkahnya sedikit sempoyongan.

“Hei cantik,” panggil pria itu pada Alena.

Alena berusaha tetap sopan. “Ada yang bisa saya bantu?”

Namun pria itu justru tersenyum tidak senonoh lalu menangkap tangan Alena begitu saja.

“Temenin minum dong.”

Alena langsung berusaha menarik tangannya.

“Pak tolong lepas.”

Anne dan Senna langsung panik melihat kejadian itu.

“Pak jangan begitu!”

Dan anehnya pria mabuk itu malah tertawa. “Ah cuma pegang tangan doang.”

Kai yang melihat dari kejauhan langsung berdiri cepat. “Mama!”

Anak itu berlari mendekat dengan wajah marah.

“Lepasin Mama aku!”

Suara kecil Kai terdengar lantang di tengah rumah makan. Pria mabuk itu justru tertawa makin keras.

“Wah berani juga anak kecil ini.”

Kai langsung mencoba menarik tangan pria itu dari Alena meski tenaganya jelas kalah jauh.

Dan detik berikutnya—

Buk!

Seseorang tiba-tiba menarik kerah pria mabuk itu kasar sampai tubuhnya terdorong mundur. Suasana langsung hening. Kael berdiri di sana dengan tatapan yang berubah sangat dingin.

Aura pria itu mendadak menyesakkan.

“Sentuh dia sekali lagi,” ucap Kael pelan.

“Dan tanganmu gak akan bisa dipakai lagi.”

Nada suaranya rendah, justru itu yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.

Pria mabuk tadi langsung pucat.

“A-aku cuma bercanda—”

“Pergi.”

Satu kata itu cukup membuat pria tersebut mundur ketakutan bersama teman-temannya. Beberapa detik kemudian rumah makan kembali sunyi.

Kai langsung memeluk kaki Alena erat-erat.

“Mama gak apa-apa?”

Alena mengusap rambut anaknya pelan meski napasnya masih gemetar. “Iya Sayang…”

Namun tatapan wanita itu perlahan beralih pada Kael. Pria itu masih berdiri diam dengan rahang mengeras. Tatapannya begitu dingin sampai membuat Alena sadar. Sisi berbahaya Kael belum benar-benar hilang.

Dan hal itu benar-benar membuat jantung Alena semakin kacau. Kai perlahan menoleh ke arah Kael. Lalu dengan polos berkata kecil.

“Terima kasih Om…”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke kota kecil itu Kael benar-benar merasa diakui oleh anaknya sendiri.

Meski hanya lewat ucapan sederhana. Anehnya satu kalimat kecil itu terasa jauh lebih berharga daripada semua kekuasaan yang selama ini ia miliki.

Bersambung….

Selamat sore Kakak ....

1
Sugiharti Rusli
apa nanti Alena masih mau berbicara pada Kael dan mempertanyakan kenapa dia masih berada di sana,,,
Sugiharti Rusli
pada akhirnya Kael memiliki kesempatan kecil buat menolong Kai yang sedang mencoba melepaskan teror terhadap sang ibu dari pemabuk,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya dia mencoba peruntungan nya sekali lagi, dan kali ini dia ke rumah makan tempat Alena bekerja dan yah Kai juga ada di sana,,,
Sugiharti Rusli
entah akan sampai kapan si Kael mengamati kehidupan sang putra meski dari jauh yah, padahal kesibukannya sangat padat di kota,,,
Sugiharti Rusli
bahkan Rina yang mendampingi Alena sejak tahu pertama kali sedang hamil Kai, jadi hubungan emosionalnya sama seperti kepada Alena ibu kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
Kai memang menyayangi keempat ibunya sama rata yah, karena mereka juga menyayanginya dengan tulus sedari dia bayi,,,
Nur Rsd
Yaa penyesalan pasti datangnya terlambat tapi masih ada waktu untuk memperbaiki dan usaha yang sungguh-sungguh
Sugiharti Rusli
meski kadang harus bekerja lebih keras, tapi uang bukan hal utama bagi mereka buat membuat Kai bahagia,,,
Sugiharti Rusli
kamu memang sangat terlambat Kael, meski putramu hidup dalam kesederhaan an, tapi mereka sangat berbahagia saling memiliki satu sama lain,,,
Sugiharti Rusli
Kai bukan tipikal anak yang mudah pemberian orang tanpa persetujuan orang" yang sudah dianggap ibu selama ini disamping ibu kandungnya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
dan bisa dilihat dari cara Kai merespon yang bagi dia Kael adalah orang asing yang ingin memberikan hadiah yang sesuai sama hobinya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang putra tumbuh dengan didikan baik empat perempuan sederhana yang tulus menyayangi anak itu,,,
Sugiharti Rusli
penyesalan memang selalu hadir belakangan yah Kael karena ego kamu yang begitu tinggi dulu terhadap Alena
Sugiharti Rusli
bahkan dengan kekayaan yang si Kael miliki berapapun, ga akan membuat Alena silau sejak dulu dan sampai kapanpun,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia mengatakan ingin menebus kesalahannya dulu, tapi luka yang Kael buat terlalu dalam bagi Alena,,,
Sugiharti Rusli
padahal dalam rahim Alena saat itu sedang dikandung putra yang dulu tidak dia harapkan kehadirannya,,,
Sugiharti Rusli
dan itu dulu Kael lakukan dengan sadar saat gengsi dalam dirinya terlalu tinggi dan meremehkan perempuan rendah menurut dia seperti Alena,,,
Sugiharti Rusli
yah terkadang manusia tuh baru menyadari kalo sebenarnya dia sudah kehilangan harta paling berharga karena keegoisannya sendiri yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya dia harus melakukan pendekatan berbeda kepada Alena sih, karena dia pasti trauma kalo sampai berhadapan kembali sama si Kael
Sugiharti Rusli
masa iya si Kael akan melakukan hal yang sama kepada yang dia yakini kalo Kai adalah putra kandungnya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!