Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Dosen baru saja menutup perkuliahan DKV siang itu ketika Zivara membereskan tabung gambar dan beberapa penggaris panjang ke dalam tasnya. Suasana kelas yang berangsur sepi berganti dengan keheningan lorong gedung sayap barat yang jarang dilewati mahasiswa. Saat melangkah keluar, sekelebat bayangan yang sangat ia kenali sengaja memotong jalurnya, berjalan terburu-buru ke arah lorong buntu yang menuju ke area gudang penyimpanan logistik kampus.
Luna ada di sana, sengaja menoleh sekilas dengan tatapan memancing, memastikan bahwa Zivara mengikutinya.
Zivara menghela napas pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. Perempuan itu mengira Zivara masih si gadis delapan belas tahun yang penakut, polos, dan mudah disudutkan ke dinding. Luna sama sekali tidak menyadari bahwa waktu telah menempa Zivara menjadi sosok yang jauh berbeda setelah peristiwa time rewind. Selama beberapa bulan terakhir di kehidupan kedua ini, Zivara diam-diam telah mengambil kelas privat Taekwondo, melatih fisiknya agar tidak lagi menjadi sasaran empuk bagi kepicikan orang lain.
Langkah kaki Zivara terdengar konstan, bergaung pelan di antara dinding beton gudang tua yang pengap dan berdebu. Ketika ia melangkah masuk ke area yang remang-remang itu, Luna langsung berbalik, bersiap memasang wajah penuh intimidasi yang biasa ia gunakan.
Sebelum Luna sempat membuka mulut untuk melontarkan makian atau ancaman kosong, Zivara justru melangkah maju dua kali lebih cepat. Ia menghempaskan tabung gambarnya ke atas meja kayu tua dengan dentuman keras yang menggema, memotong seluruh keberanian yang baru saja dikumpulkan oleh saingannya itu.
"Mau mencelakaiku dengan cara apa lagi sekarang, Luna?" tanya Zivara, suaranya terdengar sangat tenang, tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.
Luna tersentak, matanya melebar mendapati reaksi Zivara yang berada di luar skenarionya. "Kamu—"
"Selama ini aku tidak pernah mengusik hidupmu. Aku tidak pernah merebut apa pun yang kamu sebut milikmu, termasuk Kaizar," potong Zivara, menatap lurus ke dalam manik mata Luna dengan sorot yang menghujam. "Tapi kamu selalu bersikap seolah-olah kamu adalah korban di sini. Kamu memutarbalikkan fakta, memanipulasi keadaan agar semua orang mengasihanimu."
Zivara berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Luna secara refleks mundur setengah langkah sampai punggungnya membentur rak besi.
"Jangan pernah berpikir bahwa diamnya aku selama ini karena aku bodoh," desis Zivara, intonasi suaranya merendah namun penuh tekanan emosional yang pekat. "Aku sangat tahu apa yang kamu lakukan kepadaku di gudang tua tempo hari. Aku tahu bau parfummu, aku tahu caramu mengunci pintu dari luar, bahkan aku tahu siapa saja yang kamu bayar untuk membantumu."
Wajah Luna mendadak memucat. Keringat dingin mulai menyembul di pelipisnya. Keberaniannya luruh seketika demi mendengar rentetan fakta yang keluar dari mulut perempuan yang selalu ia anggap lemah itu.
"Jika kamu tidak ingin semua kebusukanmu terbongkar, jangan bertindak pengecut seperti ini lagi. Sekali lagi kamu menyentuh batasan hidupku, aku pastikan kamu yang akan memohon di bawah kakiku," ancam Zivara dengan senyuman elegan yang justru terlihat mengerikan di mata Luna.
Zivara menyampirkan kembali tasnya ke bahu. Tanpa memberikan kesempatan bagi Luna untuk membela diri atau membalas kata-katanya, ia memutar tubuh dan melangkah pergi meninggalkan area gudang. Ia membiarkan Luna berdiri mematung sendirian di dalam kegelapan, tenggelam dalam pusaran rasa takut yang bercampur dengan amarah yang mendidih.
**
Langkah kaki Kaizar berderap cepat membelah selasar fakultas DKV yang mulai lengang setelah jam perkuliahan usai. Napasnya memburu, mengabaikan denyut nyeri yang sesekali masih menusuk tajam di bahu kanannya. Sepasang mata elangnya bergerak liar, menyisir setiap sudut ruang kelas yang pintunya sudah terbuka setengah, mencari satu siluet yang sejak tadi mengusik ketenangannya.
Nihil. Zivara tidak ada di mana pun.
Rasa cemas yang teramat sangat mulai merayap mendesak dadanya, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi ketakutan. Kaizar menghentikan dua orang mahasiswa yang tengah berjalan beriringan di dekat mading.
"Kalian lihat Zivara Arthea?" tanya Kaizar langsung, intonasi suaranya yang berat menuntut jawaban cepat tanpa basa-basi.
Kedua mahasiswa itu sempat tertegun melihat kepanikan di wajah pewaris tunggal keluarga Ravindra yang biasanya selalu tampak tenang dan tak tersentuh.
Salah satu dari mereka menunjuk lambat ke arah koridor sayap barat yang sepi. "Tadi... saya lihat Zivara berjalan ke arah sana, Kak. Sepertinya menuju ke area gudang tua di ujung kampus."
Mendengar kata gudang tua, jantung Kaizar terasa seperti dihantam batu besar. Tanpa mengucap kata terima kasih, ia langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Setiap derap langkahnya di atas lantai beton terasa seperti siksaan batin yang luar biasa. Bayangan-bayangan buruk dari masa depan—tentang bagaimana Zivara menangis sendirian, tentang bagaimana gadis itu selalu berakhir terluka akibat keegoisannya di lini masa yang lalu—kini datang menghantuinya secara bertubi-tubi.
Dulu, ia begitu abai. Dulu, ia selalu menaruh Luna di atas segalanya dan membiarkan Zivara menghadapi bahaya seorang diri. Sekarang, ketika takdir memutar kembali waktu, rasa bersalah itu berubah menjadi insting protektif yang begitu agresif. Kaizar tidak akan sanggup hidup jika harus melihat Zivara terluka lagi di depan matanya.
Langkah kaki Kaizar mendadak melambat saat ia mendekati persimpangan menuju gudang tua yang remang-remang. Napasnya masih terengah-engah ketika matanya menangkap sesosok gadis keluar dari pintu kayu besar yang berderit pelan.
Zivara berdiri di sana, membetulkan letak tali tasnya yang melintang di dada. Gadis itu berada dalam keadaan baik-baik saja, tanpa ada satu pun luka atau gumpalan air mata di wajahnya yang bersih.
Seketika itu juga, gumpalan sesak di dada Kaizar menguap, berganti rasa lega yang amat besar hingga membuat pundaknya melonggar. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan cepat.
"Vara," panggil Kaizar, suaranya sedikit serak karena sisa kepanikan yang belum sepenuhnya hilang. Ia menatap Zivara dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan tidak ada yang kurang dari gadis itu. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
Zivara menghentikan gerakannya, mendongak menatap Kaizar yang tampak berantakan dengan pelipis yang basah oleh keringat. Alih-alih merasa tersanjung atau takut, sepasang mata jernih milik Zivara justru memancarkan ketenangan yang matang.
Pola pikirnya yang sudah berusia tiga puluh tahun membuatnya mampu membaca situasi dengan taktis. Ia tahu Luna baru saja mencoba mengintimidasinya, dan ia juga tahu Kaizar datang karena mengkhawatirkannya, tetapi ia tidak ingin terlihat lemah atau membutuhkan belas kasihan.
"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Zivara dengan nada suara yang stabil dan mengalir tenang. "Kenapa Kak Kaizar tiba-tiba ada di sini?"
Kaizar mengusap wajahnya kasar dengan tangan kiri, mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang masih berpacu liar. "Aku mencarimu ke kelasmu tapi kosong. Beberapa mahasiswa bilang kamu berjalan ke arah gudang tua ini. Aku... aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu di tempat sepi seperti ini."
Zivara tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang menyimpan jarak pembatas yang sangat kentara. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tempat ini memang sepi, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Sekarang aku mau ke ruang latihan taekwondo."
Jawaban itu lugas, tanpa ada rengekan atau getaran ketakutan sisa konfrontasi dengan Luna tadi. Zivara memilih untuk mengelola emosinya secara strategis; menunjukkan pada dunia—dan pada Kaizar—bahwa Zivara yang sekarang bukanlah perempuan pasif yang bisa diselamatkan begitu saja dengan mudah.
Kaizar tertegun sejenak, menangkap aura kemandirian yang begitu kuat dari sosok di depannya. Ada rasa bangga sekaligus kepedihan yang menyelinap di hatinya; Zivara sudah belajar untuk tidak bergantung padanya lagi.
"Kalau begitu, biar kutemani sampai ke gedung olahraga," ujar Kaizar akhirnya, menurunkan sedikit nada dominannya menjadi sebuah tawaran yang protektif namun tetap menghormati batasan yang Zivara buat.
Zivara tidak menolak, tidak juga mengiyakan dengan antusias. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mulai melangkah maju.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan area gudang tua yang pengap itu. Tidak ada obrolan manis, hanya keheningan sore Kota Bandung yang mengiringi langkah kaki mereka. Kaizar berjalan sedikit di sisi luar, secara refleks memposisikan tubuh tegapnya sebagai tameng terdepan jika ada hal berbahaya yang tiba-tiba muncul di sekitar mereka.
Di balik pilar gedung utilitas yang gelap, beberapa meter dari tempat mereka berjalan, Luna berdiri mematung. Jemarinya mencengkeram permukaan semen yang kasar hingga kukunya terasa linu. Ia lagi-lagi hanya bisa memperhatikan seluruh adegan itu dari kejauhan dengan perasaan yang campur aduk antara amarah yang membakar dan rasa ketakutan yang mulai menggerogoti kewarasannya. Luna menyadari satu hal: Zivara yang sekarang bukan lagi tandingan yang mudah, dan Kaizar sudah sepenuhnya melepaskan pandangannya dari dirinya.
***
,udh ke luar negri dlu vara
🤣🤣🤣