Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 28.
Hari-hari di sekolah terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Tanpa ada yang benar-benar menyadari kapan semuanya dimulai, Aurora dan Gama kini hampir selalu bersama.
Pagi hari, Gama sudah menunggu Aurora untuk berangkat sekolah. Saat bel pulang berbunyi, mereka juga kembali pulang bersama. Bahkan ketika jam istirahat tiba, rooftop sekolah sudah seperti tempat khusus milik mereka berdua. Di sanalah mereka menghabiskan waktu, berbagi cerita, saling mengganggu, atau sekadar menikmati suasana tanpa merasa canggung sedikit pun.
Yang awalnya hanya kebiasaan sederhana, perlahan berubah menjadi sesuatu yang melekat dalam keseharian mereka.
Tak jarang teman-teman sekelas mulai memperhatikan hal itu. Terutama kedua sahabat Aurora yang sudah berkali-kali dibuat gemas melihat kedekatan mereka.
"Lo sejam aja kayaknya nggak bisa ya jauhan ama Gama." Sindir Zara.
"Iya... yang katanya cuman taruhan kok malah lengket banget kayak lem korea." Khanza menimpali.
"Iye, padahal gue taruhannya cuman sebulan, tapi ini udah lebih sebulan masih deket aja lo." Zara kembali menyaut.
Aurora tersipu malu mendengar sindiran berupa godaan teman temannya.
"Ini pasti bentar lagi pangeran berkuda lo datang." Zara terus saja menggoda Aurora.
Memang sudah di prediksi oleh Zara tak lama setelah itu Gama datang ke kelas Aurora dan menghampiri bangku Aurora.
"Nah kan bener dugaan gue." Ujar Zara.
Gama memandang ke arah Zara menaikan alis heran maksud dari ucapan Zara barusan.
"Kayaknya lo kalau nggak ketemu Aurora sedetik aja sawan kali ya," ejek Zara.
"Berisik."
Zara sudah membuka mulut, siap melancarkan rentetan ceramah dan ejekan yang pasti tidak akan ada habisnya. Dari sorot matanya saja Aurora sudah bisa menebak kalau sahabatnya itu sedang menyiapkan seribu satu kalimat untuk menggodanya.
Namun sebelum Zara sempat mengucapkan sepatah kata pun, Gama tiba-tiba meraih pergelangan tangan Aurora.
"Ayo."
Tanpa memberi kesempatan Aurora untuk protes, Gama langsung menariknya keluar dari kelas.
"Eh—"
Aurora hanya bisa mengikuti langkah panjang Gama yang berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Saat melewati pintu kelas, ia sempat menoleh ke belakang.
Di sana, Zara berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, bibirnya mengerucut kesal karena target godaannya berhasil kabur begitu saja.
Aurora meringis kecil sambil mengangkat bahu seolah meminta maaf dari kejauhan.
Sayangnya, ekspresi itu sama sekali tidak membuat Zara melunak. Justru gadis itu menunjuk Aurora dengan tatapan yang seakan berkata, "Nanti gue lanjut."
Aurora langsung memalingkan wajahnya dan mempercepat langkah menyusul Gama. Entah kenapa, menghadapi Zara yang sedang kesal terasa jauh lebih menyeramkan daripada mengikuti Gama yang tiba-tiba menyeretnya keluar kelas seperti ini.
"Ini kita mau ke rooftop?." Tanya Aurora.
Gama mengangguk kemana lagi mereka selain selalu di rooftop menghabiskan waktu jam istirahat.
Aurora menundukkan kepalanya pelan sambil berjalan di samping Gama. Hingga saat ini, ia masih belum benar-benar terbiasa menjadi pusat perhatian.
Setiap kali mereka melangkah menyusuri koridor sekolah, selalu saja ada pasang mata yang mengikuti. Beberapa siswa menghentikan obrolan mereka sejenak, sebagian lagi berbisik pelan kepada teman di sebelahnya. Bahkan ada yang terang-terangan menoleh saat Aurora dan Gama lewat.
Aurora tidak perlu mendengar apa yang mereka bicarakan untuk memahami maksud tatapan itu.
Ada yang penasaran. Ada yang heran. Ada yang sekadar ingin tahu. Dan tentu saja, ada juga yang sedang menghubung-hubungkan berbagai cerita yang beredar di sekolah tentang dirinya dan Gama.
Semua itu membuat Aurora tanpa sadar merapatkan tas yang dipeluknya di depan dada. Pandangannya tertuju ke lantai, berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang samar terdengar di telinganya.
Jujur saja, perhatian sebanyak ini masih terasa asing baginya.
Berbeda dengan Gama yang berjalan santai seolah tidak ada seorang pun di sekitar mereka. Wajahnya tetap tenang, langkahnya tetap mantap, seakan tatapan siswa itu tidak berarti apa-apa.
Aurora diam-diam melirik ke arahnya sesaat.
Bagaimana bisa dia setenang itu?
Sementara dirinya sibuk menahan rasa canggung,
Gama justru terlihat sama sekali tidak terganggu. Seolah dunia di sekeliling mereka hanyalah suara latar yang tidak perlu dipedulikan.
Aurora menghela napas pelan lalu kembali menunduk. Meski tatapan-tatapan itu masih membuatnya tidak nyaman, entah kenapa berjalan di samping Gama membuatnya sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia tidak harus menghadapi semua perhatian itu sendirian.
Seakan menyadari kekhawatiran Aurora Gama mempererat tautan tangan mereka dan mengusap tangan Aurora lembut seolah mengatakan“ada gue di sini, lo nggak usah khawatir”Aurora tersenyum kecil sekarang Aurora merasa tenang.