AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
Dua puluh lima hari sudah berlalu, kurang lebih sisa lima hari lagi sebelum KKN benar-benar berakhir. Hubungan Audrey dan Dean sudah membaik sejak James ikut andil. Sekarang Audrey, Lula dan Dean sedang keluar untuk membeli sarapan pagi yang dijual oleh salah satu warga.
Rumah warga itu lumayan jauh, hampir dekat dengan jalan masuk desa. Tapi bagi Audrey dan yang lain yang mulai terbiasa, mereka selalu menikmati setiap jalan yang mereka lalui.
Lula berdiri di tengah, sementara Dean di kiri, Audrey di kanan Lula.
"Nggak kerasa ya sebentar kita balik ke kota. Ya ampun, gue udah mulai betah lagi disini.." Seloroh Lula membuka percakapan.
Dean dan Audrey mengangguk bersamaan. Mereka setuju dengan ucapan Lula.
"Kalau aja gue bisa tinggal di tempat setenang ini, Lul.. Ah, tapi apa daya, kita harus melanjutkan realita kehidupan kita." Sambung Audrey dengan suara lemah tak bertenaga. Semakin dekat waktu KKN mereka selesai, rasanya malah semakin berat untuk berpisah dengan suasana terlebih warga desa yang ramah dan selalu baik pada mereka semua.
"eh, Lul. Itu mobil siapa ? Kok masuk ke halaman rumah Pak RT." Tanya Audrey saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Pak RT.
"Sudahlah, nggak usah ikut campur. Kita balik ke posko aja, nanti lontong sayurnya keburu dingin ini.." Sela Dean sambil mengangkat jinjingan di tangannya yang berisi nasi uduk, lontong sayur dan gorengan yang jumlahnya cukup untuk sepuluh orang. Selama tinggal di desa, mereka jadi terbiasa sarapan dengan menu sederhana seperti itu. Bahkan mereka sudah ketagihan hingga hampir setiap hari menjadikan menu itu sebagai menu sarapan favorit.
"Ish! Lo balik duluan aja, De. Gue sama Audrey mau nyari tau dulu.." Kata Lula sambil mengendap-endap bersama Audrey. Dean menggelengkan kepalanya, menatap dua gadis yang kelakuan nya sangat absurd itu.
"Iya udah sana, Ian. Gue sama Lula disini dulu, bilangin ke yang lain langsung makan aja nggak usah nungguin kita."
Belum sempat Dean meninggalkan mereka, suara Pak RT memanggil yang ternyata sudah melihat keberadaan mereka lebih dulu.
"Nak Dean!" Seru Pak RT "Dari mana ?"
Dean tersenyum kaku, "eh...Pa-pak Rt, i-ini, dari warung Bu Saodah." Jawab Dean sambil menarik lengan Lula yang masih berjongkok, menyembunyikan diri.
"Eh, ada Neng Lula juga.."
Lula terpaksa muncul ke permukaan sambil melotot sinis ke arah Dean, "I-iya, Pak.. Ini habis beli nasi uduk."
"Oh. Berduaan aja ?" tanya Pak RT lagi, Audrey yang sedang sembunyi menggeleng-gelengkan kepalanya, isyarat agar Dean dan Lula tutup mulut. Audrey masih ingin mencari tau siapa tamu Pak RT yang datang sepagi ini dengan mengendarai mobil super mewah. Tapi dasarnya mereka semua sama saja, tanpa rasa bersalah Lula pun ikut bersuara..
"Nggak kok, Pak. Ini sama Audrey juga.."
Audrey menggertakkan giginya gemas, pada akhirnya gadis itu pun berdiri juga.
"Loh, kok keluarnya jadi nyicil begini. Tadi Neng Lula, sekarang Neng Audrey."
Lula dan Audrey tertawa hambar,
"Tapi kebetulan ada Neng Audrey. Ini ada yang nyariin Neng Audrey, dari kota."
Audrey, Lula dan Dean reflek saling pandang.
"Nggak mungkin kan suami lo, Drey ? Dia kan udah tau posko KKN kita, ngapain dia malah namu ke rumah Pak RT ?!" Bisik Lula,
Tiba-tiba muncul sosok yang di bicarakan dari balik punggung Pak Rt. Dia berdiri dengan angkuh sambil melipat tangan di dada.
"Shena...." Gumam Audrey menyebut nama tamu yang di maksud Pak RT.
Lula mengerutkan dahinya, sementara Dean langsung bertanya pada Audrey, "Kamu kenal orang itu ?"
Audrey menoleh sekilas ke Dean dan Lula sebelum pandangannya kembali menatap Shena. "Dia adiknya Kak Wira."
"Adiknya suami lo ? jadi dia adik ipar lo, gitu ?!"
Audrey mengangguk malas.
"Ngapain adik ipar kamu datang kesini ?" tanya Dean
Audrey mengangkat kedua bahu nya, pertanda dia juga tidak tau.
"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." Audrey meninggalkan Dean dan Lula dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka.
"Yaudah, De. Yuk balik ke posko, kita udah kelamaan di luar. Kasian temen-temen pasti udah kelaperan." Kata Lula pada Dean. Tapi Dean malah diam saja dengan tatapan terus ke arah Audrey yang berjalan masuk ke halaman rumah Pak RT.
Plak!
Lula yang tak sabaran terpaksa memukul bahu belakang Dean dengan cukup keras.
"Ck! Kenapa lo mukul gue ?" tanya Dean setengah kesal sambil mengusap bagian tubuh yang di pukul.
"abisnya lo malah bengong aja. Buruan balik ke posko!" Lula mendorong punggung Dean agar pria itu segera melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.
Sementara itu Pak RT masuk ke dalam, meninggalkan Audrey dan Shena di teras rumah nya untuk berbincang.
"Mau apa lo kesini ?" tanya Audrey yang langsung menunjukkan ketidaksukaan nya. Jelaslah Audrey tidak suka, Shena itu sejak awal sudah menabuh genderang perang, jadi untuk apa Audrey bersikap baik pada adik ipar nya tersebut.
Shena melihat Audrey dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan meremehkan. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, menunjukkan bahwa dia jijik dengan pemandangan di hadapannya.
"Istri seorang CEO berpakaian seperti gembel begini?! MEMALUKAN!!" Shena menarik ujung lengan baju Audrey dengan ibu jari dan jari telunjuknya, tapi anehnya ada nada penuh iri dan dengki di balik kalimat itu.
"Terus gue harus pake baju apa di desa begini ? Setelan kantor atau...gaun ala princess ?" Mata Audrey memancarkan ketenangan yang sangat mengintimidasi.
"Kenapa enggak ?" Balas Shena tak mau kalah sembari melipat tangan di dada.
Audrey menadahkan tangannya, "Mana ?"
Shena mengerutkan kening nya, tak mengerti maksud Audrey.
"Mana apanya ?"
"Ya mana setelan kantor atau gaun princess yang lo maksud itu ?? Lo bilang baju yang gue pakai ini memalukan, kaya gembel ?! Jangan besar mulut, Shena! Lo pikir gue disini sedang berpesta-pesta sampai harus memakai pakaian yang lo mau ?!"
Shena meneguk ludah, ternyata Audrey bukanlah lawan yang mudah di taklukkan.
"Cukup basa basi nya! Sekarang katakan, mau apa lo datang ke tempat KKN gue ?"
Sumpah Shena sangat kesal dengan sikap Audrey saat ini. Pikirnya Audrey akan terintimidasi dengan kedatangannya, tapi kenyataan justru berkata lain.
"Gue cuma mau liat gimana keadaan anak mami kaya lo hidup di desa kaya gini! Gue yakin setiap hari hidup lo kaya di neraka, kan ?"
"Siapa bilang ? Justru gue betah banget disini. Setidaknya disini hidup gue tenang, nggak ketemu orang kaya lo dan nyokap lo itu. Tapi kenapa lo malah kesini, hah?? ngerusak hari gue banget tau nggak ??!!"