Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Sarang Naga
Dengan satu hentakan tenaga dalam, Pedang Terbang melesat memecah suara meninggalkan Gunung Langit. Meskipun melaju dengan kecepatan luar biasa, Xiao Ling merasa nyaman karena Ye Chen secara halus membentuk perisai energi di sekeliling mereka. Di bawah sana, pemandangan berubah dengan sangat cepat. Awalnya adalah hamparan hijau yang asri dan penuh kehidupan, namun perlahan namun pasti, warna-warna itu mulai berganti. Tanah di bawah mereka berubah menjadi lebih gersang, bebatuan mulai tampak menonjol, dan pegunungan yang menjulang tinggi terlihat semakin gagah namun juga semakin ganas dan tandus. Aura di udara pun berubah total. Jika di wilayah utara energinya terasa segar, lembut, dan menenangkan, di sini energi di udara terasa jauh lebih padat, lebih berat, dan penuh dengan kekuatan liar yang seolah ingin meledak keluar kapan saja. Ini adalah karakteristik dari Wilayah Sekte Tianmo yaitu di mana hanya yang terkuat yang bisa bertahan hidup. Setelah terbang menembus awan selama beberapa jam, akhirnya sebuah benteng raksasa yang megah namun menyeramkan mulai terlihat jelas di kejauhan. Terletak di tengah rangkaian pegunungan batu yang curam, berdiri sebuah bangunan kuno yang sangat luas dan kokoh. Bangunan-bangunan itu sebagian besar terbuat dari batu hitam besar dan kayu gelap yang tampak sangat tua namun kokoh. Terdapat banyak menara pengawas yang tinggi menjulang, dan di setiap sudut bangunan terdapat patung-patung dewa perang, iblis, dan naga yang dipahat dengan sangat detail dan menakutkan, seolah-olah mereka adalah penjaga abadi tempat itu. Pedang Terbang itu meluncur turun dengan anggun namun cepat, mendarat dengan mulus dan hampir tanpa suara di halaman utama yang sangat luas yang terbuat dari lempengan batu hitam raksasa. Saat kaki Ye Chen menyentuh tanah itu, perubahan besar langsung terjadi pada dirinya. Aura yang ia pancarkan berubah total. Jika di Sekte Langit ia terlihat bijaksana dan agung, di sini, di tanah kelahirannya, ia memancarkan aura yang dingin, gelap, dan dominasi yang mutlak. Ia benar-benar tampak seperti seorang Kaisar Kegelapan yang telah kembali ke kerajaannya sendiri. Jubah hitam pekatnya yang disulam naga emas berkibar megah meski angin tidak bertiup kencang, seolah-olah ada energi tak kasat mata yang menggerakkannya. Belum sempat mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sebuah sosok besar dan kekar berlari dengan cepat dari arah aula utama. Sosok itu tinggi besar, berotot padat, dan wajahnya terlihat sangat garang dengan bekas luka di pipi yang menambah kesan tangguh. Namun, saat sosok itu melihat Ye Chen, wajah yang biasanya menyeramkan itu langsung berubah menjadi penuh kerendahan hati, kegembiraan, dan rasa hormat yang meluap-luap. Itu adalah Wu Da, kepala pelayan pribadi dan pengawal setia yang telah melayani Ye Chen sejak ia masih kecil di Sekte Tianmo. Wu Da adalah orang yang sangat kuat, namun ia memilih untuk mengabdi dan melayani Ye Chen dengan setia mati.
"TUAN MUDA!!! TUAN MUDA YE CHEN!!! Akhirnya Tuan kembali! Hamba Wu Da menyambut kedatangan Tuan Kaisar! Selamat datang kembali di rumah! Seluruh sekte ini terasa bersinar kembali karena kehadiranmu!" Seru Wu Da dengan suara gemuruh yang keras dan bergema di seluruh halaman luas itu.
"Bangunlah, Wu Da," Ucap Ye Chen dengan nada dingin namun ada sedikit keakraban di dalamnya, menunjukkan bahwa hubungan mereka bukan hanya sekadar atasan dan bawahan, melainkan seperti keluarga.
"Kabar baik, Tuan. Segala sesuatu di sini berjalan dengan lancar. Semua orang menantikan kepulangan Tuan muda setiap hari! Mereka semua rindu akan arahan dan bimbingan langsung dari Tuan muda!" Jawab Wu Da sambil berdiri tegak kembali dengan gagah.
Matanya yang tajam lalu perlahan melirik ke arah sosok yang berdiri diam di belakang Ye Chen. Ia melihat seorang gadis muda yang cantik jelita berdiri dengan sopan. Wajahnya putih bersih, matanya jernih, dan seluruh tubuhnya memancarkan aura suci yang lembut dan menenangkan. Penampilan Xiao Ling sangat kontras sekali dengan lingkungan sekitar yang gelap, keras, dan penuh aura membunuh. Wu Da sedikit terkejut dan mengernyitkan dahi. Gadis suci macam apa ini? Kenapa dia ada di sini bersama Kaisar? Tapi Wu Da adalah orang yang sangat cerdas dan tahu diri. Ia tidak bertanya apa-apa, tidak berkomentar, hanya membungkuk hormat sedikit ke arah Xiao Ling sebagai tanda sopan santun karena melihat dia bersama Ye Chen.
"Siap, Tuan. Hamba mengerti sepenuhnya," Jawab Wu Da sigap, menunggu perintah selanjutnya.
"Aku baru saja melakukan perjalanan jauh. Tubuh dan pikiranku butuh istirahat sejenak sebelum aku memanggil para tetua dan melakukan pertemuan besar nanti," Ucap Ye Chen sambil berjalan santai memasuki area dalam sekte, tangannya berada di belakang punggung dengan wibawa yang luar biasa.
"Sebelum itu... aku harus menemui Ayah. Pastikan tidak ada gangguan sedikit pun saat aku berada di sana." Ucap Ye Chen tegas, matanya memancarkan keseriusan yang tak bisa ditawar.
"Siap, Tuan muda! Hamba mengerti! Hamba akan segera mengirimkan pasukan elit untuk berjaga ketat di seluruh area kediaman Tuan Muda Tianhong! Tidak ada seekor lalat pun yang akan berani terbang lewat di sana selama Tuan berada di dalam!" Jawabnya tegas.
Wu Da berjalan dengan langkah tegap namun penuh kerendahan hati, selalu berada satu langkah di belakang bahu kiri Ye Chen yaitu posisi yang menunjukkan kesetiaan dan kesiapan untuk melayani setiap saat. Ia melangkah dengan cekatan, matanya yang tajam terus mengawasi sekeliling dengan waspada tingkat tinggi, memastikan jalanan bersih dan tidak ada satu pun halangan atau gangguan yang berani mendekat. Seluruh sikapnya menunjukkan pelayanan yang sempurna, penuh disiplin, dan rasa hormat yang tak terhingga kepada sang Kaisar dan tamu istimewa yang dibawanya.
"Wu Da," Panggil Ye Chen lagi tanpa menoleh.
"Siap, Tuan muda? Ada perintah apa lagi?" Tanya Wu Da sigap dan cepat, wajahnya tampak siap melaksanakan apa pun yang diperintahkan pemimpinnya dengan sepenuh hati.
"Siapkan kamar terbaik yang ada di sekte ini. Pilihlah yang paling tenang, paling bersih, dan paling nyaman di sayap timur istana ini. Siapkan juga air hangat, handuk bersih, dan segala keperluan lainnya yang dibutuhkan tamu istimewa," Perintah Ye Chen santai namun tegas, suaranya tidak bisa dibantah.
"Baik, Tuan! Segera dilaksanakan! Hamba akan menyiapkan Kamar Naga Hitam segera! Itu adalah kamar paling mewah dan nyaman yang hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan dan tamu agung! Tentu saja sangat layak untuk Tuan muda!" Jawab Wu Da cepat dengan semangat.
"Bukan," Ye Chen menggeleng pelan, lalu menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya tanpa menoleh.
"Kamar itu untuk dia. Xiao Ling." Ucap Ye Chen santai namun tegas, menunjuk ke arah gadis di belakangnya dengan jelas, menunjukkan betapa pentingnya kedudukan gadis itu di matanya.
Wu Da menelan ludah secara refleks. Matanya membelalak sedikit di balik topeng ketangguhannya. Bukan main! Gadis ini mendapat perlakuan istimewa tingkat tinggi! Disediakan kamar terbaik di sayap timur, setara dengan tamu kerajaan atau tetua senior! Itu adalah kehormatan yang sangat besar! Tapi Wu Da langsung paham. Jika Kaisar sendiri yang memerintahkannya dengan cara seperti itu, berarti gadis ini memiliki kedudukan yang sangat spesial di hati pemimpinnya. Ia tidak berani bertanya banyak, tidak berani berprasangka buruk.
"Siap, Tuan! Segera dilaksanakan! Hamba akan memastikan kamar itu bersih, hangat, wangi, dan nyaman seperti surga! Tidak ada debu sehelai rambut pun yang akan ada di sana! Hamba janji!" Jawab Wu Da dengan hormat maksimal.
"Baik, sekarang, tunjukkan jalan ke tempat Ayah dulu." Ucap Ye Chen singkat dan tegas, matanya memancarkan ketenangan namun penuh harap untuk segera bertemu dengan orang tuanya.
"Aku ingin menemuinya secepat mungkin. Sudah terlalu lama kita berpisah, dan ada banyak hal penting yang harus aku bicarakan berhadapan langsung dengannya." Lanjut Ye Chen dengan suara berat dan penuh makna, matanya memancarkan ketulusan dan kesungguhan yang tak tergoyahkan.
Mereka berjalan melewati koridor-koridor megah yang panjang dan gelap. Dinding-dindingnya dihiasi oleh ukiran-ukiran misterius dan lilin-lilin besar yang memberikan cahaya remang-remang yang misterius. Suasana di sini hening, agung, dan penuh dengan sejarah panjang kekuatan gelap. Akhirnya, mereka sampai di sebuah bangunan tertutup yang terletak di bagian paling dalam, paling tenang, dan paling terpelihara dari seluruh Sekte Tianmo. Ini adalah area terlarang bagi orang biasa.
"Ini dia, Tuan muda. Tuan Tianhong sedang berada di dalam. Sepertinya beliau sedang duduk bermeditasi untuk memurnikan tenaga dalamnya." Bisik Wu Da pelan agar tidak mengganggu
"Kau tunggu di sini bersama Xiao Ling, jangan biarkan siapa pun mendekat ke area ini selama aku belum keluar." Perintah Ye Chen singkat.
"Siap, Tuan! Hamba mengerti!" Wu Da membungkuk dalam.
Xiao Ling juga mengangguk patuh, lalu berdiri diam di samping Wu Da dengan sopan. Ia merasa sangat terhormat bisa ikut sampai sejauh ini, meskipun ia harus menunggu di luar. Ye Chen lalu melangkah maju, mendorong pintu kayu besar yang kokoh itu perlahan. Suara engselnya terdengar pelan. Ye Chen masuk ke dalam ruangan itu, di dalam ruangan yang luas namun minim cahaya itu, suasana terasa sangat damai dan tenang. Berbeda dengan kesan ganas di luar, ruangan ini dipenuhi oleh aroma dupa kayu cendana yang menenangkan pikiran. Di tengah ruangan, duduklah seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang tegap dan kokoh. Pria itu duduk bersila di atas alas kulit naga, matanya terpejam erat. Meskipun hanya duduk diam, pria itu memancarkan aura yang sangat kuat namun terkendali sempurna. Aura itu bagaikan lautan yang dalam, tenang namun menyimpan kekuatan yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. Wajahnya tampan namun tegas, memiliki rambut hitam di beberapa bagian memberikan kesan kebijaksanaan yang mendalam. Itu adalah Tianhong, salah satu ahli terkuat di Sekte Tianmo, dan juga ayah kandung Ye Chen. Mendengar suara pintu terbuka, pria itu perlahan membuka matanya. Seolah ada kilatan cahaya emas yang muncul dari dalam bola matanya yang tajam. Tatapan itu mampu menembus jiwa siapa saja yang melihatnya. Namun, saat pandangan itu jatuh pada sosok muda di depannya, wajah tegas dan dingin itu langsung melembut seketika. Kerutan di wajahnya hilang, dan munculah sebuah senyum hangat yang sangat jarang dilihat oleh orang lain di luar sana.
"Chen'er... Kau akhirnya pulang," Suara Tianhong terdengar berat dan dalam, namun penuh dengan kasih sayang yang tulus dan hangat.
"Ayah," Ye Chen berjalan mendekat dengan langkah tenang, lalu ia membungkukkan badannya sedikit, sebuah tanda hormat yang sangat besar dari seorang anak kepada ayahnya.
"Maafkan aku yang baru sempat datang menemuimu setelah sekian lama pergi mengurus urusan-urusan besar di luar sana. Banyak hal yang harus aku selesaikan, sehingga waktu untuk berkunjung pulang menjadi terbatas." Ucap Ye Chen dengan nada rendah dan penuh hormat, menunjukkan rasa penyesalan yang tulus karena telah lama meninggalkan rumah demi tanggung jawabnya.
"Hahaha, tidak apa-apa, anakku. Ayah mengerti segalanya. Aku tahu putraku ini sekarang bukan lagi anak kecil biasa yang bermain-main dengan pedang." Ucap Tianhong dengan tawa hangat dan penuh pengertian, wajahnya memancarkan rasa bangga yang tak terhingga melihat kedewasaan putranya.
"Kau sekarang adalah seorang Kaisar. Kau memegang kendali atas ribuan nyawa, membangun kerajaan besar, dan mengatur takdir dunia. Tentu saja waktumu sangat berharga. Ayah tidak menuntut apa-apa, asalkan kau sehat dan selamat, hati Ayah sudah tenang." Ucap Tianhong dengan suara yang dalam dan penuh kasih sayang, matanya memancarkan ketenangan dan kebanggaan yang luar biasa.
"Ayah juga terlihat baik-baik saja. Kesehatan dan kekuatanmu tetap terjaga dengan sempurna. Bahkan sepertinya auramu semakin dalam dan kuat dari terakhir kali kita bertemu," Balas Ye Chen santai namun penuh pengamatan.
"Tentu saja, Chen'er. Selama aku tahu anakku sedang berjuang keras di luar sana, membangun nama besar dan membuka jalan bagi masa depan, Ayah tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menjadi beban bagimu." Ucap Tianhong dengan suara tegas namun penuh kasih, matanya memancarkan tekad baja untuk selalu menjadi sandaran yang kokoh bagi putranya.
"Aku harus tetap kuat di sini. Aku harus menjaga rumah ini, menjaga akar kekuatan kita, agar kau bisa pergi ke mana saja dengan tenang, dan agar kau punya tempat untuk pulang kapan pun kau mau. Selama Ayah masih bernapas, Sekte Tianmo akan tetap menjadi benteng terkuat yang tak bisa ditembus siapa pun!" Ucap Tianhong dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi sangat hangat dan penuh keakraban yang tulus. Di sini, di hadapan ayahnya sendiri, semua tembok dingin dan wibawa mengerikan yang biasa ditunjukkan Ye Chen runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi jarak pemisah antara seorang Kaisar dan bawahannya. Tidak ada aturan ketat, tidak ada rasa takut, dan tidak ada upacara kebesaran yang kaku. Yang tersisa hanyalah ikatan darah yang paling murni dan abadi, sebuah hubungan antara ayah dan anak yang saling menyayangi, saling memahami, dan saling mengisi dengan sempurna. Di mata Tianhong, Ye Chen tetaplah Chen'er, anak kecil yang dulu ia gendong. Dan di mata Ye Chen, Tianhong adalah sosok yang paling dihormati dan dicintai, pilar kekuatan yang tak tergantikan dalam hidupnya. Percakapan mereka mengalir begitu alami, lembut, dan menyentuh hati, seolah waktu berhenti berputar demi momen indah pertemuan keluarga ini.
"Duduklah yang nyaman, ceritakan padaku... apa rencamu kali ini? Kenapa tiba-tiba kau kembali membawa aura yang begitu dahsyat dan memancarkan ambisi yang begitu besar?" Tanya Tianhong dengan suara berat dan dalam, matanya menatap putranya tajam namun penuh hangat, penuh rasa ingin tahu akan langkah besar yang akan diambil sang anak.
"Dan... kudengar kau membawa seseorang bersamamu? Seorang tamu istimewa yang memiliki aura sangat bersih dan suci? Aura itu sangat kontras dengan lingkungan kita yang gelap ini. Siapa dia sebenarnya, Chen'er?" Tanyanya dengan nada menggoda, ia tentu saja sudah merasakan kehadiran Xiao Ling dari jauh sejak mereka mendarat tadi.
"Ya, Ayah. Banyak hal penting yang harus kita bicarakan hari ini. Banyak strategi besar yang perlu kita gabungkan kekuatannya." Ucap Ye Chen dengan nada serius dan penuh keyakinan, matanya memancarkan cahaya visi yang jauh ke depan.
"Dan tentang gadis itu..." Ye Chen berhenti sejenak, menatap jauh ke depan seolah membayangkan masa depan.
"Dia bukan sekadar tamu biasa. Dia adalah orang penting yang aku bawa dari jauh. Dia memiliki hati yang suci dan ilmu yang sangat dalam. Aku yakin... dia adalah orang yang tepat yang akan membawa angin segar dan keseimbangan besar bagi Sekte Tianmo juga, sama seperti apa yang telah dia lakukan di Sekte Langit." Ucap Ye Chen dengan penuh keyakinan dan ketulusan, matanya memancarkan pandangan jauh ke depan tentang masa depan yang gemilang.
"Begitu rupanya... Keseimbangan ya... Bagus. Sangat bagus. Kau memang selalu memiliki pandangan yang jauh melampaui zamannya, Chen'er." Gumam Tianhong pelan.
Tianhong lalu tersenyum lebar, kali ini senyumnya bukan lagi senyum seorang tetua yang bijaksana dan berwibawa. Wajah tegas dan dingin itu seketika berubah menjadi sangat hangat dan akrab, memancarkan aura seorang ayah yang penuh dengan rasa ingin tahu dan sedikit menggoda, seolah-olah ia telah menemukan sesuatu yang sangat menarik untuk diobrolkan.
"Tapi... hei, Chen'er. Jujur pada Ayah..." Tianhong mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya merendah seolah membocorkan rahasia.
"Gadis bernama Xiao Ling itu... dia bukan sekadar bawahan atau teman biasa kan? Aura kalian berdua saat berdiri bersama... terasa sangat cocok dan menyatu. Apakah dia... calon menantu yang akan kau bawa untuk dikenalkan pada Ayah?" Tanya Tianhong dengan nada bercanda namun matanya berbinar penuh harap.
Mendengar pertanyaan yang begitu langsung dan tajam itu, Ye Chen yang biasanya selalu tenang, dingin, dan sulit digoyahkan emosinya pun seketika terlihat sedikit tertegun. Gerakan tangannya berhenti sejenak, dan matanya yang tajam berkedip beberapa kali seolah tidak menyangka ayahnya akan bertanya sejujur itu. Ia lalu perlahan menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum kecil yang sangat langka, sebuah senyum yang menunjukkan ketulusan dan kelembutan hatinya yang tersembunyi. Bahkan, di bawah cahaya remang ruangan itu, pipi pria yang gagah dan berwibawa itu tampak sedikit memerah padam, menampakkan rasa malu yang manis dan sangat jarang bisa dilihat oleh siapa pun di dunia ini.
"Ayah ini... terlalu banyak berpikir," Jawab Ye Chen santai namun ada nada senang di dalamnya.
"Dia memang orang yang sangat istimewa, Ayah. Tapi untuk saat ini, biarlah segala sesuatu berjalan sesuai alurnya. Fokus kita sekarang adalah memperkuat kekuatan dan menyatukan kedua sekte ini. Urusan hati... bisa kita bicarakan lain waktu." Ucap Ye Chen dengan nada lembut namun tegas, matanya memancarkan ketenangan dan visi besar yang jauh ke depan.
"Hahaha, baiklah baiklah! Ayah tidak akan memaksa. Tapi Ayah bisa melihatnya dengan jelas, Chen'er. Mata Ayah tidak pernah salah. Gadis itu memandangmu dengan tatapan yang penuh kekaguman mendalam dan ketulusan yang murni. Dia sangat menyayangimu... itu terlihat jelas dari sorot matanya!" Ucap Tianhong sambil tertawa lepas dan bahagia, matanya berbinar-binar penuh arti melihat getaran cinta di antara mereka.
"Jika dia benar-benar orang baik dan kuat seperti yang kau katakan, maka ayah sangat mendukung. Bunga suci dari utara yang mekar di tengah sarang naga... itu akan menjadi kisah legendaris yang indah!" Ucap Tianhong penuh semangat.
"Kalau begitu, istirahatlah dulu. Pulihkan tenagamu. Nanti sore, kita akan panggil semua tetua. Biarkan mereka melihat dengan mata kepala sendiri... bahwa pemimpin mereka telah kembali, dan masa depan yang lebih gemilang telah menanti!" Ucap Tianhong dengan suara tegas dan penuh semangat, matanya berkilat penuh antisipasi akan perubahan besar yang akan terjadi.