Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Keberangkatan
Hari keberangkatan pun tiba.
Pagi itu langit tampak cerah dan bersih, seolah ikut merestui perjalanan yang akan ditempuh Alden.
Dengan penampilan yang sudah ia siapkan dengan cermat, pakaian rapi berwarna cerah, rambut yang tertata lebih baik, serta senyum yang ia upayakan agar terlihat meyakinkan, Alden melangkah keluar dari rumah.
Di balik penampilan itu, tidak ada yang benar-benar tahu betapa bergejolaknya hatinya.
Di dalam tas dan kopernya tersimpan segala hal yang tidak terlihat, yakni harapan yang ia genggam erat, ketakutan yang ia sembunyikan, penyesalan yang belum selesai, dan cinta yang selama ini ia pendam sendiri.
Perjalanan itu akhirnya benar-benar dimulai.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di Bandar Udara Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Dan begitu roda pesawat menyentuh landasan, ada sesuatu di dalam diri Alden yang ikut tiba di tempat itu, lebih dulu daripada tubuhnya sendiri.
Udara siang yang hangat dan lembap khas Kalimantan langsung menyapa saat pintu pesawat dibuka, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa haru yang menyelimuti hati Alden.
Ia melangkah keluar dengan bantuan Ranti yang memapahnya secara hati-hati dan tidak mencolok. Sebab saat bangkit dari kursi penumpang tadi, setelah perjalanan udara yang cukup panjang, tubuhnya sempat oleng sesaat.
Ia menarik napas pelan, berusaha menstabilkan diri sebelum kembali melangkah.
Dengan sisa tenaganya, ia mencoba menampilkan langkah yang tegap dan percaya diri, meski rasa lelah mulai menjalar perlahan di sekujur tubuhnya.
Di belakangnya, Bu Susi berjalan selangkah lebih jauh. Ia tampil rapi seperti penumpang biasa, dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca, namun matanya tetap sigap memperhatikan kondisi Alden tanpa henti.
Tidak ada satu pun orang di sekitar mereka yang akan menyangka bahwa wanita sederhana itu adalah seorang tenaga kesehatan berpengalaman yang sengaja didatangkan untuk satu tugas penting, menjaga stabilitas kondisi seorang pasien dalam perjalanan ini.
Di mata orang lain, ia hanyalah kerabat jauh yang ikut menemani keluarga. Sebuah peran yang sudah disepakati bersama demi menjaga agar semuanya tetap berjalan wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Pak Armanto dan Ranti berjalan di sisi kiri dan kanan Alden, seolah menuntun seorang anggota keluarga yang hanya tampak sedikit lemah secara fisik karena kelelahan biasa. Namun tidak ada satu pun yang berani menebak seberapa berat kondisi yang sebenarnya ia tanggung.
Di balik langkah yang terlihat tenang itu, keduanya terus berjaga dalam diam. Tatapan mereka sesekali bertemu, tanpa kata, namun penuh pengertian yang sama bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa.
Di dalam hati, doa tidak pernah berhenti mereka panjatkan. Agar setiap langkah Alden tetap kuat, agar tubuhnya tidak menyerah di tengah jalan, dan agar tujuan yang sudah ia perjuangkan dengan sisa tenaganya itu bisa benar-benar sampai pada akhirnya.
Dari bandara, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil rental yang sudah disiapkan sebelumnya. Perjalanan darat menuju homestay di kawasan yang tenang dan asri memakan waktu kurang dari dua puluh menit.
Sepanjang jalan, Alden menatap keluar jendela tanpa berkedip. Matanya mengikuti setiap sudut kota Banjarbaru yang terasa rapi dan teduh dipenuhi pepohonan hijau yang rindang, jalanan yang tertata, dan udara yang tampak lebih bersih dibandingkan yang biasa ia hirup di kota asalnya.
Di dalam hatinya, ia terus bergumam pelan.
Di sini dia tinggal.
Di kota yang tenang ini, Anjani tumbuh dewasa, menjalani hari-harinya, bekerja, dan membangun kehidupannya selama bertahun-tahun terakhir.
Pikiran itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak di waktu yang sama. Aneh, namun menenangkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jarak di antara mereka tidak lagi berupa bayangan atau ingatan.
Sekarang mereka berada di tempat yang sama.
Dan itu saja sudah cukup membuat Alden merasa bahwa langkahnya kali ini bukan lagi sekadar pencarian, melainkan sebuah pertemuan yang perlahan semakin dekat menjadi nyata.
Sesampainya di homestay, Alden langsung diantar ke kamar yang paling luas dengan sirkulasi udara terbaik.
Ia perlu segera beristirahat. Tubuhnya yang rapuh tidak bisa terus dipaksa, meski pikirannya justru sedang berada dalam kondisi sebaliknya. Penuh energi dan ketegangan yang sulit ia redam.
Bu Susi segera membantu Alden berbaring dengan hati-hati. Begitu ia memastikan Alden cukup nyaman, ia mulai memeriksa kondisi vitalnya secara tenang dan tidak mencolok, seolah hanya bagian dari perhatian biasa seorang pendamping keluarga.
Jarum kecil di alat ukur menunjukkan angka yang ia amati dengan saksama.
Hasilnya masih dalam batas aman.
Meski begitu, ada sedikit peningkatan pada denyut nadi Alden. Tidak berbahaya, tetapi cukup jelas menunjukkan bahwa tubuhnya sedang bekerja lebih keras dari biasanya, kemungkinan besar akibat campuran rasa gugup, antusiasme, dan tekanan emosional yang ia tahan sendiri.
Bu Susi tidak langsung berkata apa-apa. Ia hanya merapikan kembali alatnya, lalu menatap Alden dengan tenang.
"Mas Alden perlu istirahat dulu," ucapnya pelan, lebih seperti pengingat daripada perintah.
Alden mengangguk kecil, meski matanya sulit benar-benar tenang.
Di balik dadanya yang masih berdebar, satu hal tetap sama yakni pikirannya tidak benar-benar berada di kamar itu.
Ia sudah terlalu dekat dengan tujuan yang selama ini hanya hidup dalam bayangan.
Alden sempat duduk beberapa menit di tepi tempat tidur setelah tiba di kamar.
Meski tubuhnya terasa lelah akibat perjalanan, matanya belum menunjukkan tanda-tanda ingin beristirahat.
Pikirannya terlalu penuh.
Sesekali ia melirik ke arah jendela kamar yang menghadap halaman depan homestay.
Dari sana terlihat beberapa pohon yang bergerak pelan tertiup angin sore.
Suasana di sekitar tempat itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan Jakarta.
Tidak banyak suara kendaraan.
Tidak ada hiruk-pikuk yang saling bertabrakan.
Semuanya berjalan lebih lambat.
Lebih damai.
Ketenangan itu justru membuat perasaannya semakin tidak menentu.
Karena setiap kali mengingat alasan keberadaannya di kota ini, dadanya kembali dipenuhi berbagai emosi yang sulit dijelaskan.
Harapan.
Ketakutan.
Kerinduan.
Dan penyesalan yang telah ia bawa selama bertahun-tahun.
Tangannya perlahan meraba saku tas kecil yang sejak tadi tidak jauh darinya.
Di dalam sana tersimpan sebuah benda yang sudah lama ia jaga.
Foto Anjani.
Alden hanya menatap tas itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Ia tidak lagi bertanya apakah pertemuan itu akan terjadi.
Kini yang tersisa hanyalah menunggu kapan pertemuan itu benar-benar tiba.
"Mas Alden, kami keluar dulu ya... mau keliling sebentar, sekalian cari tahu lokasi rumahnya Bu Rahayu lebih pasti lagi," ucap Ranti lembut, suaranya tenang dan penuh perhatian.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan sambil mengelus lengan Alden pelan.
"Mas Alden istirahat aja di sini ya. Jangan dipaksakan bangun kalau belum kuat."
Alden mengangguk pelan, menunjukkan kepatuhan meski matanya masih tampak berat. "Iya, Bu."
"Oiya, untuk makan siang nanti Ibu pesankan online saja. Kamu harus makan."
"Bu Susi, tolong perhatikan makan Alden," tambah Pak Armanto.
"Baik, Pak," jawab Bu Susi singkat, tenang.
Akhirnya, Pak Armanto dan Ranti meninggalkan Alden bersama Bu Susi di homestay.
Begitu pintu tertutup, suasana ruangan menjadi lebih hening.
Bu Susi segera menyiapkan obat-obatan yang harus dikonsumsi Alden sesuai jadwal, lalu membawakan segelas air putih hangat.
"Minum dulu ya, Mas Alden. Biar kondisinya tetap terjaga. Nanti kalau ada apa-apa, jangan ragu panggil saya, kapan pun itu," ucap Bu Susi dengan nada lembut yang sudah mulai akrab di telinga Alden selama beberapa hari terakhir.
"Terima kasih, Bu Susi. Maaf merepotkan Ibu sejauh ini," jawab Alden lirih sambil menerima obat-obatannya dan menelannya satu per satu dengan bantuan air minum.
"Jangan bicara begitu," sahut Bu Susi cepat namun tetap tenang. "Ini sudah tugas saya. Yang penting Mas Alden bisa tetap stabil dan kuat selama di sini."
Alden mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke bantal.
Ada jeda singkat sebelum ia memejamkan mata, bukan karena mengantuk, tetapi karena tubuhnya memang perlu beristirahat.
Di sisi lain ruangan, Bu Susi tetap duduk dengan posisi yang mudah mengawasi, memastikan tidak ada perubahan kecil sekalipun yang terlewat dari kondisi pasiennya.
Sementara itu, di balik ketenangan kamar homestay itu, waktu berjalan pelan. Mengantar Alden semakin dekat pada momen yang selama ini hanya hidup dalam harapannya.
Bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏