"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Malam yang Terlalu Sunyi
Valerika malam itu diguyur hujan tipis.
Bukan badai yang mengamuk seperti beberapa minggu terakhir, melainkan hujan yang turun perlahan dan konsisten, menciptakan suara lembut di balik dinding kaca The Obsidian.
Untuk pertama kalinya setelah rentetan kejadian yang berkaitan dengan Proyek Aurora, malam terasa... tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru karena itulah Alea tidak bisa tidur.
Jam digital di meja samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 02.17 dini hari.
Alea membuka mata.
Napasnya memburu.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Keringat dingin membasahi tengkuk dan pelipisnya.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar yang gelap sambil mencoba membedakan mana kenyataan dan mana mimpi.
Namun bayangan itu masih terasa begitu nyata.
Terlalu nyata.
George Corisand berdiri di dalam gudang tua yang mereka temukan.
Pria tua itu mengenakan setelan jas hitam.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu Aurora.
Kotak yang sama.
Kotak yang mereka buka beberapa hari lalu.
Dalam mimpi itu George tidak berbicara.
Hanya menatap Alea.
Lalu perlahan menunjuk ke arah belakangnya.
Ke arah kegelapan.
Ke arah seseorang yang berdiri di sana.
Seseorang yang wajahnya tidak bisa Alea lihat.
Namun sebelum ia sempat mendekat...
Suara tembakan terdengar.
George jatuh.
Darah menyebar ke lantai.
Dan Alea terbangun.
Ia mengusap wajahnya.
Berusaha menenangkan diri.
"Hanya mimpi."
Bisikannya terdengar lemah.
Namun anehnya.
Mimpi itu meninggalkan perasaan sesak yang tidak mau pergi.
Alea turun dari tempat tidur.
Berjalan menuju jendela besar kamarnya.
Kota Valerika terlihat sunyi dari ketinggian.
Lampu-lampu gedung berkelip seperti bintang.
Biasanya pemandangan itu mampu menenangkan pikirannya.
Malam ini tidak.
Pikirannya terlalu penuh.
Tentang Aurora.
Tentang George.
Tentang arsip 17.
Tentang penyusup yang berhasil lolos.
Tentang fakta bahwa hidupnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Dan yang paling mengganggunya...
Tentang Adrian.
Alea menghela napas panjang.
Dulu semuanya sederhana.
Ia hanya perlu fokus pada perusahaan.
Membangun Corisand Group.
Membuktikan dirinya layak menjadi pewaris.
Lalu datanglah pernikahan kontrak itu.
Dan sekarang...
Entah sejak kapan Adrian menjadi bagian dari setiap pikirannya.
Pria itu menyebalkan.
Kaku.
Perfeksionis.
Terlalu logis.
Dan terkadang sangat arogan.
Namun setiap kali keadaan menjadi berbahaya...
Orang pertama yang ia cari adalah Adrian.
Kesadaran itu membuat Alea semakin sulit tidur.
Ia memutuskan keluar kamar untuk mengambil air minum.
Koridor penthouse gelap dan tenang.
Hanya lampu malam redup yang menyala.
Saat melewati ruang tengah, Alea terkejut melihat cahaya tipis dari balkon utama.
Seseorang sedang duduk di sana.
Sendirian.
Menghadap kota.
Alea langsung tahu siapa itu.
Adrian.
Pria itu mengenakan kaus hitam sederhana dan celana santai.
Jauh dari citra CEO dingin yang biasa dilihat dunia.
Rambutnya sedikit berantakan.
Sebuah cangkir kopi hangat berada di tangannya.
Ia tampak sedang berpikir keras.
Alea hampir kembali ke kamar.
Namun sebelum sempat berbalik...
"Kalau kau terus berdiri di sana, lantainya bisa berlubang."
Suara Adrian terdengar tanpa menoleh.
Alea mendengus.
"Ternyata kemampuan analisismu masih berfungsi jam dua pagi."
"Sayangnya iya."
Alea akhirnya berjalan ke balkon.
Duduk di kursi sebelah Adrian.
Tidak terlalu dekat.
Namun juga tidak terlalu jauh.
Beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara hujan.
Keheningan yang aneh.
Namun tidak terasa canggung.
"Kau juga tidak bisa tidur?"
Tanya Adrian akhirnya.
Alea mengangguk pelan.
"Mimpi buruk."
Adrian menoleh.
Untuk pertama kalinya malam itu.
Tatapannya tidak dingin.
Tidak tajam.
Hanya penuh perhatian.
"Mengenai Aurora?"
Alea terdiam beberapa detik.
Lalu mengangguk lagi.
"Aku bermimpi tentang Kakek George."
Suara Alea lebih pelan dari biasanya.
"Aneh sekali. Seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu."
Adrian tidak menyela.
Membiarkannya berbicara.
Dan Alea menyadari betapa jarangnya seseorang melakukan itu.
Mendengarkan tanpa memotong.
Tanpa memberi solusi.
Tanpa menghakimi.
Hanya mendengarkan.
"Aku terus berpikir..."
Alea menatap hujan.
"Bagaimana jika semua ini sebenarnya salah kita?"
"Kita?"
"Ya."
Alea tersenyum tipis.
"Pernikahan ini."
"Kontrak ini."
"Aurora."
"Semuanya."
"Bagaimana jika sejak awal keluarga kita hanya ingin melindungi kita, sementara kita malah menganggap mereka menyembunyikan sesuatu?"
Adrian terdiam cukup lama.
Kemudian menyesap kopinya.
"Kalau memang begitu, mereka memilih cara yang sangat buruk."
Alea tertawa kecil.
Tawa pertama yang muncul secara alami setelah beberapa hari.
Dan Adrian mendapati dirinya menyukai suara itu.
Terlalu menyukai suara itu.
"Aku serius."
Alea menggeleng.
"Aku hanya membayangkan wajahmu saat mengatakan itu."
"Aku sedang berbicara serius."
"Itulah yang lucu."
Untuk beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu sama-sama tertawa kecil.
Dan entah kenapa.
Beban yang selama ini terasa menyesakkan menjadi sedikit lebih ringan.
Hujan terus turun.
Malam semakin larut.
Namun tidak satu pun dari mereka berniat masuk ke dalam.
"Aku penasaran."
Suara Adrian kembali terdengar.
"Apa?"
"Jika kita tidak dipaksa menikah."
Alea mengangkat alis.
"Lalu?"
"Apakah kau akan mau berkencan denganku?"
Alea hampir tersedak udara.
Ia menatap Adrian tidak percaya.
"Maaf?"
"Aku hanya bertanya secara hipotetis."
"Kau tidak pernah bertanya sesuatu secara hipotetis."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku."
Alea memelototinya.
Kemudian memalingkan wajah.
Berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai menghangat.
"Aku tidak tahu."
"Itu jawaban diplomatis."
"Itu jawaban yang aman."
Adrian mengangguk pelan.
"Lalu menurutmu?"
Kini giliran Alea menyerang.
"Jika kita bertemu dalam keadaan normal."
"Apa kau akan mengajakku berkencan?"
Adrian berpikir beberapa detik.
Kemudian menjawab dengan jujur.
"Tidak."
Alea langsung mendengus.
"Nah kan."
"Tapi bukan karena aku tidak tertarik."
Alea membeku.
Adrian menatap kota.
"Bukan karena itu."
"Aku hanya terlalu sibuk."
"Terlalu fokus pada pekerjaan."
"Terlalu yakin bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun."
Suaranya tenang.
Namun ada kejujuran yang jarang ia tunjukkan.
"Aku mungkin bahkan tidak akan memberi diriku kesempatan untuk mengenalmu."
Alea tidak tahu kenapa.
Tapi jawaban itu justru membuat dadanya berdebar lebih kencang.
Karena untuk pertama kalinya Adrian tidak berbicara sebagai CEO.
Tidak sebagai pewaris.
Tidak sebagai ahli strategi.
Hanya sebagai seorang pria.
Dan malam itu, Alea mulai melihat sisi Adrian yang selama ini tersembunyi di balik logika dan ketegasan.
Sisi yang manusiawi, sisi yang lelah, sisi yang kesepian.
"Aku juga mungkin tidak akan menyukaimu."
Ucap Alea akhirnya.
Adrian tertawa kecil.
"Karena aku arogan?"
"Itu salah satunya."
"Aku akan mencatatnya."
"Silakan."
Keheningan kembali turun.
Namun kini terasa hangat.
Tanpa sadar.
Jarak di antara kursi mereka semakin dekat.
Tidak ada yang menyadarinya.
Atau mungkin keduanya menyadari.
Namun memilih berpura-pura tidak tahu.
Di luar sana.
Hujan masih turun.
Lampu kota masih berkelip.
Aurora masih menyimpan banyak rahasia.
Penyusup misterius masih berkeliaran.
Dan ancaman yang lebih besar mungkin sedang menunggu mereka di depan.
Namun untuk malam ini.
Untuk beberapa jam yang tenang ini.
Adrian dan Alea tidak memikirkan konspirasi.
Tidak memikirkan dokumen rahasia.
Tidak memikirkan keluarga mereka.
Mereka hanya duduk berdampingan.
Menikmati kesunyian.
Dan tanpa mereka sadari.
Sebuah perubahan kecil sedang terjadi.
Bukan pada misteri Aurora.
Melainkan pada hati mereka.
Karena untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai...
Mereka tidak lagi merasa seperti dua orang asing yang kebetulan terikat dalam sebuah kesepakatan.
Mereka mulai merasa seperti dua orang yang memilih untuk tetap tinggal.
Bersama.
Meski dunia di luar sana terus mencoba memisahkan mereka.