Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf...
Mendengar perkataan Gavin, jantung Hazel rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Ia langsung mencengkeram jemarinya sendiri lebih erat, "Kapten, Anda tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada saya. Itu urusan pribadi Anda, dan saya sama sekali tidak berhak tahu," potong Hazel cepat, mencoba memotong kalimat Gavin sebelum hatinya kembali sakit mendengarkan kenyataan pahit.
Gavin mengembuskan napas pendek, rahangnya mengetat. "Bisa tidak, jangan potong omonganku dulu?" sergahnya dengan nada suara yang sedikit memberat dan membuat Hazel langsung terdiam.
Gavin meredam emosinya sejenak sebelum kembali berbicara dengan suara yang lebih rendah, "Tika itu bukan siapa-siapa. Dia cuma anak dari Dokter Dion, teman Ayahku. Selama aku ditempatkan di perbatasan, Dokter Dion sering mengajakku mampir ke rumahnya dan dari sana Tika mulai... menggangguku," ucap Gavin.
Gavin menjeda kalimatnya, matanya menatap Hazel dan mencoba menyalurkan kebenaran lewat tatapannya. "Aku sudah berulang kali menolaknya dan menegaskan batasan kalau aku sama sekali tidak tertarik, semalam dia datang karena nekat setelah mendengar kabar evakuasi dari Ayahnya. Di mataku, dia tidak lebih dari sekadar orang asing yang kebetulan aku kenal. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh," lanjut Gavin.
Hazel tertegun, penjelasan yang keluar dari bibir Gavin barusan benar-benar di luar dugaannya. Ada rasa lega luar biasa yang mendadak membuncah di dalam dadanya, meruntuhkan rasa sesak yang sempat menyiksanya sejak semalam. Namun, Hazel dengan cepat mencoba menepis rasa bahagia itu, ia mengingatkan dirinya sendiri tentang posisi mereka saat ini.
"Kenapa... kenapa Kapten harus menjelaskan semua ini kepada saya?" tanya Hazel dengan suara yang sedikit bergetar, matanya menatap Gavin penuh tanya.
"Empat belas tahun sudah berlalu, Kapten. Siapa pun wanita yang dekat dengan Anda, atau apa pun status Anda sekarang, itu sudah bukan urusan saya lagi. Bukankah Anda sendiri yang bilang kalau kita harus melupakan masa lalu dan menganggap pertemuan kita adalah hari sial?" lanjut Hazel.
Mendengar hal itu, Gavin menurunkan kedua tangannya dari dada. Ia melangkah satu kali lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga Hazel bisa mencium aroma maskulin yang begitu kuat dari tubuh pria itu. Gavin membungkukkan sedikit tubuhnya, menumpu kedua tangannya di sandaran lengan kursi yang diduduki Hazel, mengunci wanita itu dalam kuasanya.
"Kamu benar-benar menganggap kata-kataku serius, Hazel?" bisik Gavin dengan suara baritonnya yang terdengar serak dan sarat akan luka yang tertahan.
Hazel menahan napas, tubuhnya bersandar penuh pada sandaran kursi dan terkesiap karena posisi mereka yang terlalu dekat, wajah Gavin kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Kalau aku benar-benar menganggap pertemuan kita adalah hari sial, aku tidak akan sudi menggenggam tanganmu di helikopter semalam," ucap Gavin, matanya bergerak menatap manik mata Hazel bergantian.
"Kalau aku benar-benar membencimu, aku tidak akan peduli tubuhmu menggigil di atas truk, aku tidak akan peduli kakimu lecet dan aku tidak akan menyuruh orang mengantarkan makanan untukmu!" lanjut Gavin.
Air mata yang sudah Hazel kunci rapat-rapat sejak pagi, mendadak mendesak ingin keluar. Sudut matanya mulai memerah menahan gejolak emosi.
"Lalu aku harus bagaimana, Gavin?" tanya Hazel akhirnya lepas kendali, ia tidak lagi menggunakan panggilan formal karena pertahanannya sudah jebol sepenuhnya.
"Kamu bersikap dingin, memuntahkan semua kemarahanmu lalu sedetik kemudian kamu bersikap manis seolah tidak terjadi apa-apa! Kamu membuatku bingung!" tambah Hazel, air mata Hazel akhirnya luruh satu tetes dan membasahi pipinya yang mulus.
Melihat air mata itu, sorot mata Gavin yang tadinya mengintimidasi seketika melunak total. Perlahan, ia mengangkat satu tangannya dan menggunakan ibu jarinya untuk menyeka air mata di pipi Hazel dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, seolah takut menyakiti wanita itu.
"Maaf...," ucap Gavin lirih, kali ini benar-benar tulus tanpa ada sekat gengsi lagi.
"Aku hanya... bingung bagaimana caranya bersikap di depanmu, empat belas tahun aku memupuk rasa benci dan kecewa karena kepergianmu. Tapi begitu melihatmu lagi di sini, dalam kondisi sekacau ini, semua benteng yang kubangun itu mendadak runtuh tidak bersisa. Aku marah pada diriku sendiri karena ternyata, aku masih belum bisa melupakanmu, Hazel," ucap Gavin.
Hazel terdiam seribu bahasa, dadanya naik turun mengatur napas yang mendadak sesak. Bukan karena marah, melainkan karena getaran hebat yang merambat dari sentuhan tangan Gavin di pipinya. Rasa hangat yang sangat familier itu kembali merayap, menegaskan bahwa perasaan yang mereka miliki empat belas tahun lalu sebenarnya tidak pernah benar-benar mati, melainkan hanya tertidur dan tertimbun oleh luka.
Gavin menjauhkan tangannya perlahan dari wajah Hazel, lalu menegakkan kembali tubuhnya. Ia berbalik dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah lapangan pos luar yang gersang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sendiri.
"Kembalilah, pikirkan baik-baik apa yang kukatakan. Kita masih punya banyak waktu di sini untuk menyelesaikan apa yang belum selesai di antara kita," ucap Gavin setelah beberapa saat keheningan merayap kembali. Suaranya sudah kembali tenang, meski tidak sedingin sebelumnya.
Hazel menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya yang masih sedikit gemetar. Ia bangkit berdiri dari kursi, merapikan pakaiannya lalu menatap punggung tegap Gavin untuk yang terakhir kalinya sebelum melangkah keluar.
"Terima kasih untuk penjelasannya, Kapten," ucap Hazel pelan, kembali menggunakan panggilan formalnya sebagai bentuk perlindungan diri, lalu melangkah keluar dari ruang komando dan menutup pintu dengan perlahan.
Begitu pintu tertutup, Hazel menyandarkan punggungnya di dinding luar ruangan. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang, ada senyum tipis yang tanpa sadar terukir di bibirnya di tengah sisa-sisa air mata yang mengering. Setidaknya, malam ini ia bisa tidur dengan tenang karena penjelasan Gavin tadi.
"Apa sih Hazel, masa kayak gitu aja udah salah tingkah," gumam Hazel dengan senyuman yang semakin lebar, lalu ia pun pergi ke barak media.
Sementara di dalam ruangan, Gavin membalikkan badannya begitu mendengar pintu tertutup. Ia menatap jaketnya yang terlipat rapi di sudut meja lalu mengambilnya, aroma parfum Hazel samar-samar tertinggal di sana dan membuat senyum tipis akhirnya benar-benar lolos dari sudut bibir sang Kapten yang terkenal dingin itu.
"Hazel, sepertinya aku memang benar-benar tergila-gila padamu. Aku tidak tahu apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak, aku hanya mengikuti kata hatiku yang ingin kembali bersamamu seperti empat belas tahun lalu. Aku aku sadar, jika benteng pembatas antara kita sangat kuat yaitu Ibumu, aku tidak bisa melawan Ibumu. Tapi, aku akan berjuang, aku tidak akan membiarkan kamu pergi seperti dulu lagi, aku akan membuktikan jika perasaanku tulus, Ibumu salah menilaiku, maka aku akan mengubah cara penilaiannya. Ini janjiku, aku akan membawamu kembali kesisiku," gumam Gavin.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak