NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Minimarket, Gosip, dan Ancaman Si Bedak Tembok

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar Melan, tapi kali ini suasananya beda.

Bukan lagi ketegangan hutan atau debu perjalanan, melainkan aroma teh melati hangat yang disediakan Lin. Melan meregangkan tubuhnya sampai terdengar bunyi di punggungnya.

“Duh, kasur istana emang nggak ada lawan. Empuknya pas, nggak kayak akar pohon kemarin yang bikin punggung gue berasa dipukulin warga,” gumam Melan dalam hati sambil bangkit.

Lin masuk dengan wajah yang sudah jauh lebih ceria. “Yang Mulia, Anda sudah bangun? Saya sudah siapkan air mandi dengan kelopak bunga mawar paling segar. Oh ya, Tuan Jaka sudah menunggu di paviliun bawah sejak tadi. Katanya ada progres penting soal toko kecil yang Anda minta.”

Mata Melan langsung berbinar. “Jaka sudah datang? Bagus. Suruh dia tunggu sebentar, saya mandi kilat dulu.”

“Tapi Yang Mulia, sarapan Anda—”

“Sarapan sambil rapat saja, Lin! Uang tidak akan menunggu orang sarapan tenang-tenang!”

____________

Dua puluh menit kemudian, Melan sudah duduk di paviliun dengan rambut yang masih agak basah, menghadapi tumpukan kertas di meja.

Di depannya, Jaka tampak rapi meski aura kuli proyeknya tetap belum hilang sepenuhnya.

“Jadi bagaimana, Jaka? Lokasi yang dicari Lin kemarin sudah Anda cek?” tanya Melan sambil mengunyah roti lapisnya.

Jaka mengangguk mantap. “Sudah, Yang Mulia. Ada satu ruko tua di persimpangan jalan utama menuju pasar pusat.

Lokasinya sangat strategis, semua orang yang mau ke istana atau ke pasar pasti lewat situ. Pemiliknya sedang butuh uang karena usahanya bangkrut, jadi harganya miring.”

“Cakep! Pas banget momennya,” batin Melan senang.

“Langsung bayar uang mukanya pakai dana yang saya titip ke Baron kemarin. Saya mau konsepnya beda. Jangan seperti toko kelontong di sini yang gelap dan berdebu. Saya mau raknya rapi, barangnya dikelompokkan, dan yang paling penting... pakai label harga!”

Jaka menggaruk kepalanya. “Label harga? Maksudnya harganya pas, Yang Mulia? Tidak bisa ditawar?”

“Tepat! Biar tidak ada drama tawar-menawar yang membuang waktu. Kita berikan pelayanan cepat. Oh ya, stok barang dari Negeri Binatang bagaimana? Baron sudah mengurus pengangkutannya?”

“Sedang jalan, Yang Mulia. Tapi ada sedikit masalah...” Jaka ragu sejenak.

“Nona Fek Fe... dia sering mondar-mandir di sekitar lokasi ruko itu. Katanya, dia tidak suka ada bangunan aneh yang merusak estetika jalan menuju istana.”

Melan mendengus kencang sampai remah rotinya terbang. “Estetika pala lo peyang!” batinnya dongkol.

“Katakan padanya, kalau dia tidak suka, tutup mata saja saat lewat. Memangnya dia siapa? Pemilik tata kota?”

____________

Baru saja Melan mau lanjut membahas soal desain interior, suara langkah kaki yang anggun tapi menyebalkan terdengar dari arah koridor.

Siapa lagi kalau bukan Fek Fe, lengkap dengan kipasnya dan dua dayang yang wajahnya tampak tertekan.

“Aduh, Kakak Permaisuri... pagi-pagi sudah sibuk dengan rakyat jelata,” sindir Fek Fe sambil mengibaskan kipasnya.

“Apa Anda tidak capek? Baru saja pulang dari hutan, bukannya istirahat agar auranya kembali, malah mengurusi dagangan.”

Melan menyandarkan punggungnya, menatap Fek Fe dari atas ke bawah.

“Aura gue mah tetep oke, Fe. Yang hilang itu justru ketenangan gue tiap liat muka lo pagi-pagi,” cibir Melan dalam hati.

“Aura saya baik-baik saja, Fek Fe. Ada keperluan apa? Anda mau minta sumbangan bedak? Katanya kemarin bedak Anda rontok banyak saat menyambut saya?” ujar Melan dengan senyum sopan tapi menusuk.

Wajah Fek Fe langsung berubah warna. “Anda! Kasar sekali bicaranya! Saya ke sini hanya ingin memperingatkan. Yang Mulia Raja itu tidak suka wanita yang terlalu ambisius apalagi sampai jualan di pinggir jalan. Itu merusak martabat kerajaan!”

Melan tertawa kecil. “Martabat kerajaan itu urusan Nolan, bukan urusan Anda. Lagipula, Nolan saja tidak protes saat saya minta modal. Lebih baik Anda urus gorden kamar Anda saja, katanya mau diganti warna merah muda agar sama dengan selera Anda yang... unik itu?”

“Kurang ajar!” Fek Fe menghentakkan kakinya.

“Lihat saja nanti! Saat minimarket sampah Anda itu buka, saya pastikan tidak ada satu pun bangsawan yang mau mampir ke sana!”

“Oh, silakan,” tantang Melan tenang. “Target pasar gue bukan cuma bangsawan sombong kayak lo, tapi semua orang yang punya duit,” batinnya.

“Percayalah, orang akan lebih memilih tempat yang bersih dan harganya jujur daripada toko yang penjualnya hobi menyindir.”

Fek Fe pergi dengan langkah menghentak-hentak, meninggalkan aroma parfum yang terlalu menyengat di paviliun.

___________

Malam harinya, saat Melan sedang asyik mencoret-coret desain logo tokonya, pintu kamarnya diketuk. Bukan ketukan lembut Lin, tapi ketukan berat yang sudah sangat ia kenali.

“Masuk,” ujar Melan tanpa menoleh dari kertasnya.

Pintu terbuka, dan aroma cendana langsung menyerbu ruangan.

Nolan masuk dengan pakaian santai, rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat sangat tampan sebuah fakta yang sulit diakui Melan.

“Masih belum tidur?” tanya Nolan. Suaranya tidak sedingin biasanya.

“Sedang tanggung, Nolan. Sedikit lagi desain untuk toko pertama kita selesai,” sahut Melan sambil tetap fokus.

Nolan berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Melan dan mengintip ke arah kertas itu. “Apa ini? 'Indo-Valerius'? Nama yang aneh.”

“Itu nama minimarketnya! Bagus, kan?” Melan menoleh ke atas, wajahnya sangat dekat dengan dada Nolan.

Nolan terdiam sejenak, menatap mata Melan yang berbinar penuh semangat. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pundak Melan yang terasa tegang.

“Fek Fe mengadu kepada saya tadi sore. Katanya Anda menghinanya di depan umum.”

Melan memutar bola matanya. “Dih, tukang ngadu. Emang bener kok bedaknya rontok,” batinnya.

“Dia memang bicara seperti itu. Dia bilang toko saya merusak martabat kerajaan. Menurut Anda bagaimana? Apa Anda malu punya istri yang pandai mencari uang?”

Nolan perlahan memijat bahu Melan. Gerakan itu membuat Melan hampir saja menjatuhkan pensilnya.

“Saya tidak peduli soal martabat yang dia bicarakan. Selama Anda senang dan tidak diculik lagi, lakukanlah apa pun yang Anda mau. Tapi...”

“Tapi apa?”

Nolan menundukkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Melan. “Jangan terlalu lelah. Saya tidak mau memeluk tubuh yang hanya tinggal tulang saat tidur nanti malam.”

Blush!

Wajah Melan langsung panas sampai ke ubun-ubun. “Siapa juga yang mau tidur sama lo?!” batinnya histeris.

“Siapa yang mau tidur dengan Anda?! Bukankah saya sudah memasang bel di pintu?”

Nolan terkekeh rendah. “Bel itu sudah saya suruh Baron copot tadi sore. Kamar ini adalah milik Raja, ingat?”

Melan hanya bisa mematung. “Nolan... Anda ini makin hari makin tidak jelas sifatnya. Di mana sosok kaku yang dulu dan bagaimana dengan kutukan itu?”

“Sosok itu sedang mencair, Melan. Gara-gara istrinya terlalu hobi bermain api di luar sana, kutukan itu tetap ada dan tidak pernah hilang” sahut Nolan sambil melepaskan pijatannya dan berjalan menuju tempat tidur.

“Selesaikan pekerjaan Anda dalam sepuluh menit, atau saya akan menggendong Anda paksa ke tempat tidur.”

Melan melongo. “Ini ancaman atau ajakan, sih?” “Satu menit sudah lewat,” tambah Nolan santai.

Melan buru-buru membereskan kertas-kertasnya. Meski mulutnya terus mengomel pelan, ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.

Hidup di dunia ini ternyata jauh lebih seru daripada sekadar jadi kasir. Di sini dia punya bisnis besar, punya asisten setia, dan punya suami raja yang... yah, meski menyebalkan, tapi pijatannya lumayan enak.

“Oke, oke! Saya tidur! Dasar Raja Posesif!” teriak Melan sambil berlari menuju tempat tidur, mencoba mengabaikan tatapan intens Nolan yang sudah menunggunya di sana.

Malam itu, Melan sadar bahwa tantangan terbesarnya bukan hanya membangun Mall, tapi juga menjaga hatinya agar tidak benar-benar jatuh ke pelukan pria itu.

“Duh Kinan, inget... fokus cuan, jangan fokus baper!” batinnya mengingatkan diri sendiri sebelum memejamkan mata.

1
Wak Ngat
cuan cuan cuan dan cuan😄
Wak Ngat
si bedak rontok ada az memang melan
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!