NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XXVI—Aridius

......................

...BAB II : ARIDIUS, Pemimpin Yang Patah...

Angin tidak lagi membawa aroma gandum yang matang atau wangi bunga lili dari taman istana. Angin itu kini membawa bau tembaga dari darah yang mengering dan bau busuk daging yang terbakar. Di tengah-tengah alun-alun kerajaan yang dulunya megah, berdiri seorang pria dengan jubah kebesaran yang kini compang-camping, bersimbah darah yang bukan miliknya.

Nama pria itu adalah Aridius. Dahulu, nama itu diteriakkan dengan penuh rasa syukur oleh ribuan rakyatnya. Ia adalah perwujudan dari kepemimpinan yang sempurna. Di bawah naungannya, Kerajaan Aethelgard berkembang menjadi mercusuar kemakmuran. Tidak ada perut yang lapar, tidak ada atap yang bocor, dan tidak ada ketimpangan yang menciptakan kasta antara si kaya dan si miskin. Aridius menarik pajak dengan sangat bijak, memastikan kas negara cukup untuk pembangunan tanpa mencekik leher para petani. Baginya, setiap penduduk adalah darah dagingnya sendiri. Keadilan adalah napasnya, dan kebijaksanaan adalah detak jantungnya.

Aethelgard adalah bangsa yang religius. Aridius memimpin rakyatnya untuk bersujud setiap subuh di kuil-kuil emas, mempersembahkan hasil bumi terbaik bagi para Dewa. Mereka percaya bahwa kedamaian yang mereka nikmati adalah berkat dari langit. Keyakinan mereka begitu murni, begitu kokoh, seolah-olah doa-doa mereka adalah benteng yang tak kasat mata.

Namun, langit ternyata punya selera humor yang begitu kejam.

Tanpa peringatan, gerbang neraka seolah terbuka di perbatasan. Pasukan iblis dan monster-monster mengerikan menyerbu dengan kecepatan yang tak masuk akal entah karena apa mereka menyerang secara tiba-tiba. Pedang baja para prajurit Aethelgard patah di hadapan taring monster, dan tembok-tembok benteng runtuh oleh api neraka.

Aridius tidak tinggal diam. Ia mengenakan baju zirahnya, memimpin di garis depan, sambil terus merapalkan doa kepada para Dewa. “Wahai Penguasa Langit, lihatlah anak-anakmu! Bantulah kami membasmi kegelapan ini!” serunya di tengah denting senjata.

Rakyatnya ikut berdoa, bahkan saat pedang iblis berada di leher mereka. Mereka menanti keajaiban. Mereka menanti awan terbelah dan malaikat turun membawa pedang cahaya.

Dan malaikat utusan para dewa turun.

Di tengah pembantaian yang kian brutal, cahaya menyilaukan turun dari langit. Pertempuran terhenti sejenak. Aridius berlutut, matanya berbinar penuh harapan. Namun, sosok bersayap putih bersih yang turun itu tidak menghunuskan pedang ke arah monster. Ia hanya berdiri dengan wajah datar yang dingin.

“Hentikan doa-doamu, Aridius,” suara malaikat itu menggelegar, namun hampa akan empati. “Para dewa telah menetapkan bahwa hari ini adalah waktu kehancuran Aethelgard. Takdir tidak bisa diubah. Sekalipun kami membantumu hari ini, esok atau lusa kehancuran yang lebih besar akan tetap menjemput. Inilah siklus yang telah digariskan para dewa.”

Aridius tertegun. Dunia seolah berhenti berputar. “Apa katamu? Kami telah mengabdi seumur hidup kami! Anak-anak ini... wanita-wanita ini... mereka tidak bersalah sama sekali! Mengapa kalian membiarkan mereka dibantai jika kalian punya kekuatan untuk mencegahnya?”

Malaikat itu tidak menjawab. Ia kembali terbang menembus awan, meninggalkan keheningan yang mencekam sebelum teriakan iblis kembali pecah. Harapan Aridius mati saat itu juga. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana permaisurinya dibunuh, bagaimana anak-anaknya yang masih kecil dikoyak oleh monster, dan bagaimana rakyat yang ia cintai berubah menjadi tumpukan mayat yang tak berharga.

Aethelgard runtuh. Yang tersisa hanyalah tumpukan abu dan Aridius yang berdiri sendirian di atas bukit mayat.

Kemarahan yang belum pernah dirasakan manusia manapun meledak di dalam dadanya. Bukan kepada iblis, karena iblis memang diciptakan untuk menghancurkan yang dipimpin oleh para raja iblis, tetapi kepada para Dewa yang mereka sembah dengan tulus namun mengkhianati mereka di saat paling genting.

“Jika langit menolak menjadi pelindung, maka bumi akan bangkit sebagai pembalas,” bisik Aridius. Suaranya kini parau, dalam, dan bergetar karena kekuatan hitam yang mulai merayap di nadinya.

Ia mengambil sebuah naskah kuno yang selama ini terkunci di ruang rahasia istana, sebuah mantra terlarang yang ditakuti bahkan oleh para penyihir paling gila sekalipun. Aridius tahu konsekuensinya. Ia akan kehilangan kemanusiaannya. Ia akan mengutuk jiwanya sendiri. Tapi ia sudah tidak peduli.

“Bangkitlah!” teriaknya, menghentakkan pedangnya ke tanah yang basah oleh darah. “Bangkitlah, wahai mereka yang dikhianati oleh takdir! Bangkitlah”

Udara di sekitar Aridius mendingin secara ekstrem. Tanah berguncang. Dari balik tanah, tulang-belulang yang masih terbalut sisa daging mulai merangkak keluar. Ribuan prajuritnya yang telah tewas bangkit kembali. Namun, mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah skeleton dengan api ungu yang menyala di rongga mata mereka.

Perubahan itu juga menimpa Aridius. Kulitnya mengering dan rontok, dagingnya lenyap ditelan api kutukan, menyisakan kerangka yang tinggi besar dan kokoh. Jubah rajanya berubah menjadi jubah hitam pekat yang memancarkan aura kematian. Mahkota emasnya kini menyatu dengan tengkoraknya. Ia telah menjadi Sang Raja Skeleton.

Hanya satu hal yang tidak ia bangkitkan, keluarganya dan rakyat sipil. Ia masih memiliki setitik belas kasihan untuk membiarkan mereka beristirahat, meskipun dalam kehampaan.

Aridius menatap barisan pasukan tulang yang berdiri kaku di hadapannya. Ia merasa bersalah. “Maafkan aku, kawan-kawanku... saudara-saudaraku,” suaranya kini terdengar seperti gesekan batu kubur. “Aku telah merenggut istirahat tenang kalian. Aku telah memaksa kalian kembali ke dunia yang busuk ini.”

Secara serentak, ribuan skeleton itu berlutut. Tidak ada suara, namun Aridius bisa merasakan kesetiaan mereka yang mutlak melalui hubungan batin yang gelap. Salah satu jenderal skeleton maju dan menundukkan kepala, menunggu perintah. Mereka tidak marah sama sekali mereka menghormati keputusan raja mereka yang selalu adil, bahkan dalam kematian.

“Dengarlah!” Aridius berseru kepada pasukannya. “Musuh kita bukan hanya iblis yang sedang berpesta di luar sana. Musuh sejati kita adalah mereka yang duduk di singgasana awan. Para Dewa adalah pemusnah kita yang sejati! Mereka membiarkan kita mati hanya karena alasan 'takdir'. Maka, kita akan mendatangi mereka. Kita akan meruntuhkan langit!”

“Apakah itu keputusan akhirmu, Aridius?”

Sebuah suara tenang memecah suasana mencekam itu. Aridius tersentak. Di gerbang istana yang hancur, berdiri seorang pemuda manusia. Penampilannya sangat biasa, namun keberadaannya di tempat ini, di tengah ribuan monster mayat hidup adalah sesuatu yang mustahil.

Aridius terkekeh, suara tawa yang kering dan mengerikan. “Siapa kau, manusia pemberani? Kau datang untuk mati di tangan raja yang telah kehilangan segalanya ini?”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Aku datang untuk menawarkan sesuatu. Jika keputusanmu adalah menghancurkan para Dewa, ayolah berjalan bersamaku. Akan kutuntun kau ke tempat di mana kau bisa merobek leher para Dewa, bahkan menghapus keberadaan iblis sekalipun.”

Aridius merasa terhina oleh ketenangan pemuda itu. Ia yang baru saja mendapatkan kekuatan luar biasa tidak akan tunduk pada seorang bocah. “Berani sekali kau bicara sombong padaku! Pasukan! Hancurkan dia!"

Atas perintahnya, ratusan skeleton bergerak serentak, menerjang pemuda itu dengan pedang tulang dan tombak karat. Namun, pemuda itu tidak bergerak. Ia hanya menggumamkan sesuatu yang tak terdengar.

Tiba-tiba, sebuah gelombang energi yang tak terlihat menghantam seluruh alun-alun. Dalam sekejap mata, seluruh pasukan skeleton yang baru saja dibangkitkan Aridius hancur berkeping-keping. Tulang-tulang mereka menjadi debu, terbang tertiup angin.

Aridius terbelalak. Kekuatannya, pasukannya, harapannya untuk balas dendam, semuanya lenyap dalam satu detik. Tubuh skeletonnya bergetar. Ia mencoba bangkit, namun kakinya terasa lemas. Ia terjatuh, berlutut pasrah di hadapan pemuda itu.

“Bagaimana mungkin...” gumam Aridius. “Siapa kau sebenarnya?”

Pemuda itu berjalan mendekat. Langkah kakinya sangat ringan. Ia berhenti tepat di depan Aridius yang tertunduk, lalu mengulurkan tangannya yang tampak rapuh namun menyimpan otoritas yang tak terbayangkan.

“Angkatlah kepala tengkorakmu itu, Aridius,” ucap pemuda itu dengan nada yang menghibur. “Lihatlah ke belakangmu!.”

Aridius menoleh. Secara ajaib, debu-debu tulang tadi mulai menyatu kembali. Pasukannya bangkit lagi, lebih utuh dan lebih kuat dari sebelumnya. Api ungu di mata mereka menyala lebih terang, seolah-olah kekuatan pemuda ini telah menyempurnakan mantra terlarang milik Aridius.

“Mereka masih hidup. Mereka menunggumu,” lanjut pemuda itu. “Jangan habiskan kemarahanmu di sini dengan sia-sia. Ayo ikut aku. Bersamaku, harapan itu masih ada. Kau akan bisa membunuh poara dewa dan para iblis sekalipun, langit akan gemetar saat mendengar kehancuran mereka semua”

Aridius menatap tangan yang terulur itu. Ia merasakan aura yang jauh lebih pekat dan lebih kuno daripada Dewa manapun yang pernah ia sembah. Tanpa keraguan lagi, Sang Raja Skeleton meraih tangan pemuda itu.

Kegelapan menelan mereka semua, membawa Aridius meninggalkan reruntuhan Aethelgard menuju tugas barunya sebagai penjaga di puncak menara yang tak tertembus, menunggu hari di mana ia bisa melaksanakan pembalasan yang telah dijanjikan.

......................

1
ラマSkuy
lanjut thor👍
ラマSkuy
agak lambat alurnya tapi seru Thor , lanjutkan 👍
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
Yikkii: Terimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!