Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
019
Hal pertama yang dilakukan oleh Mary ketika tiba di kota terdekat yakni membuat gawai cerdasnya kembali berfungsi.
Setelah hampir satu bulan lamanya ia hidup tanpa menggunakan gawai cerdasnya.
Mary segera mengakses sosial media miliknya guna mendapatkan informasi terbaru.
Seperti berita tentang mantan bosnya yang mengadakan peragaan koleksi busana terbaru, membuka cabang terbaru dari butiknya, hingga mendapat penghargaan sebagai salah perancang busana berpengaruh dalam industri fashion tanah air.
L’Mode by Madelin Lume.
Mary pernah bekerja untuk Madelin Lume selama lima tahun sebagai asisten wanita itu. Mary merasa banyak berkontribusi dengan memberikan ide-ide segar dalam rancangan Madelin hingga wanita itu bisa berada di posisi puncak seperti saat ini.
Harusnya Mary yang menerima penghargaan itu karena rancangan Mary yang diklaim oleh Madelin sebagai karyanya.
Madelin semakin berada di puncak sementara Mary hanya bisa memandang dari posisi terbawah.
Mary bahkan tak tahu, apakah ia masih bisa bangkit untuk menjadi seorang perancang busana yang ingin karyanya bisa terkenal melampaui Madelin.
“Mawary! Mawary!”
Mary terkejut mendengar namanya dipanggil berkali-kali oleh Roseo.
“Eh, ya?”
“Kita sudah sampai,” kata Roseo.
Mary melihat sekelilingnya, ia sudah berada di pusat kota terdekat yang berjarak delapan jam jalur darat.
“Oh, maaf, aku terlalu sibuk membaca berita, jadi aku tidak perhatikan,” Mary menyeringai.
“Hmm, ya, aku melihatmu begitu,” sahut Roseo.
“Baiklah, kalau begitu, aku turun di sini,” kata Mary.
“Tunggu, bagaimana jika kita pergi bersama saja? Daripada kita berpencar seperti ini, bukankah nanti akan sulit bagi kita jika kita sampai terpisah,” kata Roseo.
“Ros, apa kau punya nomor telepon yang bisa kuhubungi?” Tanya Mary.
“Ada,” jawab Roseo.
“Sebutkan nomormu,” kata Mary.
“Aku tidak hafal,” jawab Roseo.
Mary mendelik gusar, bagaimana pria ini bisa tidak hafal nomor teleponnya sendiri?
Oh! Itu pasti karena nomor ponselnya bukanlah nomor cantik.
“Berikan ponselmu,” kata Mary.
Roseo mengeluarkan ponsel yang membuat Mary terperangah. Ponsel zaman dulu yang hanya berfungsi untuk menerima pesan SMS dan panggilan telepon. Ponsel dengan bentuk candy bar yang terkenal dengan logo tangan bersalaman.
“Haha! Astaga Ros, ponsel ini jadi mengingatkanku pada ponsel pertamaku dua puluh tahun yang lalu, dan kau masih menggunakannya. Haha,” Mary tertawa.
“Yang penting masih bisa digunakan,” sahut Roseo.
“Wah, wah, aku yang pengangguran saja selalu berusaha agar gawai cerdasku haruslah yang seri terbaru. Kau yang juragan kebun sayuran, harusnya memakai boba tiga seri terbaru dan tertinggi,” ceroxosMary.
“Gawai cerdasmu itu, secanggih dan secerdas apapun tidak akan berguna kalau tidak ada sinyal!” Sahut Roseo.
“Haha,” Mary tertawa sambil menepuk lengan Roseo dengan gemas.
Dasar laki-laki sialan!
“Aku rasa sebaiknya kita tetap bersama. Aku hanya perlu pergi ke supplier pupuk selebihnya, terserah padamu,” kata Roseo.
“Tidak, Ros! Lebih baik kita berpencar agar lebih efisien, sesuai dengan yang sudah kita rencanakan sebelumnya,” sahut Mary.
“Bagaimana jika kita makan…”
Belum sempat Roseo menyelesaikan perkataannya Mary sudah turun dari mobil dan bergegas pergi.
Roseo masih tetap memerhatikan Mary hingga bayangan Mary menghilang dari pandangannya.
***
Mary bergegas menuju ke restoran ayam cepat saji untuk makan siang.
Mary benar-benar sangat rindu menyantap ayam goreng dengan kulit yang renyah.
Ayam kaepsi yang menjadi makanan kesukaannya.
Restoran cepat saji itu tidak ada di kampung Mary meski pedagang ayam geprek sudah banyak.
Mary berdiri di depan restoran yang antriannya sudah sampai keluar gedung saking ramainya pengunjung restoran tersebut.
Yang pasti Mary harus selektif dalam memilih menu. Ia tak punya waktu untuk menyantap makanannya lebih lama karena terbatasnya waktu yang ia miliki.
Ia juga harus berbelanja untuk keperluan pribadinya. Membeli baju-baju baru harus jadi prioritas utama, mengingat ia tidak memiliki baju lain selain yang saat ini menempel di tubuhnya.
Berbelanja baju pasti benar-benar menyita banyak waktu dan tentunya akan sangat menguras tabungan Mary yang saldonya sudah mengkhawatirkan.
Mengingat Mary harus punya bekal untuk memulai hidup pasca menyelesaikan kontraknya dengan Roseo.
“Lho, Kak Mary!”
Mary menoleh saat terdengar sapaan untuknya.
“Bian! Gea! Astrid!”
Ketiga junior Mary di L’Mode seketika langsung berangkulan memeluk Mary.
“Kak Mary, apa kabar! Sudah begitu lama tidak bertemu!”
“Aku seperti biasanya, tetap seperti ini!” Sahut Mary seraya tersenyum cerah.
“Kak, kita nongkrong yuk, sudah lama tidak bertemu, kita mau tahu kabar Kak Mary,” kata Astrid.
“Ya, ya, yuk, sekalian makan siang bersama,” ajak Bian.
“Kalau bisa yang daerah sekitar sini saja ya, biar tidak makan waktu,” usul Mary.
Akhirnya mereka berempat mengunjungi sebuah kafe yang lokasinya tidak terlalu jauh dari restoran ayam goreng itu.
Di jam makan siang kafe tersebut ramai dikunjungi pengunjung.
“Kak Mary, sudah lama kita tidak bertemu, berapa bulan ya, Kak Mary langsung menghilang tanpa kabar,” kata Gea.
“Hmm, sepertinya sudah delapan bulan,” sahut Mary.
“Wah, kalau ibu hamil bulan depan sudah melahirkan,” ceplos Bian.
“Haha,” Mary tertawa.
“Kak Mary, sedang apa di sini?” Tanya Gea.
Mary masih tersenyum lebar, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada para juniornya.
Ia yang dulu dikenal sebagai team leader tidak mungkin harus mengaku saat ini sedang luntang-lantung sebagai pengangguran tak produktif.
“Aku ada urusan bisnis di sini,” jawab Mary berbohong.
“Wah, Kak Mary hebat sekali, keluar dari L’Mode sudah punya bisnis sendiri,” puji Astrid.
Hah? Bisnis? Mary terperangah.
“Bisnis apa Kak Mary? Kalau bisa daring, aku mau join,” Kata Bian.
“Lumayan bisa buat nambah-nambah uang jajan,” lanjut Bian.
“Oh itu bisnis yang masih dalam tahap merintis, jadi masih belum tahu ke depannya seperti apa,” sahut Mary.
Bisnis menyewakan rahim mana bisa daring, Bian! Lagipula, aku juga belum tahu, apakah bulan depan sudah hamil atau belum! Batin Mary.
Yah, semoga saja aku langsung hamil, jadi tidak perlu tidur dengan pria itu lagi, Mary kembali membatin.
“Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Di kota ini bahkan belum ada cabang L’Mode”.
Mary segera mengalihkan topik pembicaraan. Cukup sudah info tentang dirinya yang selama ini menghilang dari pergaulan pasca menjadi pengangguran.
“Oh, kami dapat tugas untuk melakukan pemotretan bersama talent lokal, proyek pemerintah kota ini,” sahut Bian.
“Iya, sekarang Madelin merambah koneksi hingga ke ibu-ibu pejabat di lingkungan pemerintahan yang kini menjadi klien tetap L’Mode,” sambung Astrid.
“Oh, wah, luar biasa sekali,” komentar Mary.
“Begitulah, ibu-ibu pejabat setanah air lho,” kata Gea.
“Haha, ya, ya, para ibu-ibu pejabat bahkan lebih glamor daripada selebriti,” Mary tertawa.
Mary mungkin bisa tertawa seperti ini, namun dalam hati, ia benar-benar kecewa terhadap dirinya karena kegagalan dalam berkarir.
“Oh, ya, ngomong-ngomong, apa Kak Mary tahu, Madelin sudah bertunangan dan akan segera menikah,” kata Astrid.
“Benarkah? Siapa pria beruntung yang akan menikah dengan Madelin?” Tanya Mary.
Gea menunjukan gawai cerdasnya, memperlihatkan foto yang diunggah oleh Madelin di sosial media wanita itu.
“Luke Abram! Tampan sekali!” Gea bersorak histeris.
Sementara itu Mary hanya mematung dan tak percaya apa yang dilihatnya.
Luke Abram, sang mantan kekasih akan menikah dengan Madelin?!
***
Hai pembaca setia author
Dimana pun kalian berada
Terima kasih sudah membaca sampai bab ini.
Dukung terus ya, sampai bab terakhir.
Selalu bahagia ya..