bukan novel terjemahan!!!
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelakuan Lin yan yang ugal-ugalan
Pukul 06.00 pagi. Matahari baru saja terbit, menyinari puncak Gunung Qingcheng dengan cahaya keemasan. Burung-burung berkicau di taman, ayam-ayam di kandang mulai berkokok, dan Bibi Li sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
Tapi di lantai tiga kastil, Lin Yan masih berguling-guling di ranjang.
Sudah setengah jam ia berguling. Dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri, lalu melingkar seperti kucing yang tidak bisa tidur. Rambut pendeknya sudah seperti sarang burung, bantal sudah penyok, selimut sudah terlempar ke lantai.
【Ini sudah setengah jam. Apa yang kau lakukan?】
"Berguling."
【Aku lihat. Tapi kenapa?】
"Bosan."
【Bosan guling? Atau bosan hidup?】
"Keduanya." Lin Yan berhenti berguling. Ia menatap langit-langit dengan mata kosong. "Sistem, aku ingin memotong sesuatu."
【...JANGAN.】
"Tapi aku bosan. Zombie level 4 kemarin rasanya... kurang. Dia mati terlalu cepat."
【Karena kau terlalu kuat. Itu masalahmu.】
"Bukan masalahku. Masalah mereka." Lin Yan duduk, rambutnya berdiri ke segala arah. "Aku butuh hiburan. Misi yang lebih seru. Atau zombie yang lebih banyak. Atau..."
【Atau kau bisa sarapan. Bibi Li sudah masak bubur ayam kampung. Wanginya sampai ke sini.】
Lin Yan mencium udara. Benar. Aroma bubur ayam dengan daun bawang dan bawang goreng menguar harum. Perutnya keroncongan.
"Baik. Sarapan dulu. Nanti aku pergi."
【Ke mana?】
"Cari hiburan."
Setelah menghabiskan dua porsi bubur ayam kampung, satu piring lumpia basah, dan segelas susu kedelai hangat, Lin Yan berdiri dari meja makan. Bibi Li yang sedang membereskan piring bertanya, "Tuan mau ke mana? Sepertinya bersemangat."
"Bermain, Bibi Li."
"Jangan pulang larut. Nanti makan malam aku masak iga sapi."
"Baik."
Lin Yan melambai malas, lalu keluar kastil. Di halaman, Li Mei sedang berlatih memukul pohon dengan tinju. Pohon itu sudah penyok di beberapa bagian, tapi Li Mei belum puas.
"Li Mei, kalau mau latihan efektif, pukul zombie. Bukan pohon."
Li Mei menoleh, sedikit tersinggung. "Tuan, aku tidak sekuat Tuan. Kalau aku coba pukul zombie level 3, tanganku bisa patah."
"Ya sudah. Latihan dulu." Lin Yan sudah berjalan ke arah gerbang.
"Tuan mau ke mana?"
"Mencari hiburan."
Lin Yan muncul di atap gedung parkir bertingkat di kota selatan. Dari ketinggian, ia bisa melihat pemandangan yang familiar: jalanan hancur, mobil terbengkalai, toko-toko porak-poranda, dan di mana-mana, zombie berkeliaran.
Tapi hari ini, ia tidak ingin pakai es. Tidak ingin pakai pedang. Tidak ingin pakai tombak atau panah.
Hari ini, ia ingin menggunakan tangan kosong.
"Sistem, berapa banyak zombie di area ini?"
【Deteksi: sekitar 200 zombie level 2, 50 zombie level 3, dan 2 zombie level 4. Tersebar di radius 2 kilometer.】
"2 zombie level 4? Bagus. Aku ingin lihat apakah mereka lebih kuat dari yang kemarin."
Lin Yan melompat turun, mendarat di tengah jalan. Beberapa zombie level 2 langsung mendekat, mata merah menyala, mulut menganga.
Lin Yan tidak bergerak. Ia menunggu hingga zombie pertama hampir menyentuhnya, lalu tangannya mencengkeram leher zombie itu.
KRAK!
Leher zombie patah, tapi tidak mati, zombie level 2 masih hidup. Lin Yan melemparnya ke tembok, lalu membalikkan badan, menendang zombie kedua hingga terbang 10 meter. Ia berjalan ke zombie pertama, mengangkat kakinya, dan menginjak kepala zombie itu hingga hancur seperti buah semangka.
"Kurang seru."
Ia berjalan lebih jauh ke dalam gang. Di sana, sekelompok zombie level 3 sedang mengerumuni sesosok mayat. Mereka menoleh saat mendengar langkah kaki, dan melihat seorang pemuda dengan kaos hitam dan celana olahraga biru berdiri di ujung gang, permen lolipop di mulut.
Zombie-zombie itu menggeram. Salah satu yang paling besar maju, mencoba mengintimidasi.
Lin Yan tersenyum. "Kalian mau main? Ayo."
Dia berlari ke arah mereka.
Aksi brutal pun dimulai.
Lin Yan tidak menggunakan kekuatan es sama sekali. Hanya tangan, kaki, dan kadang kepalanya. Ia mencengkeram kepala zombie level 3, membantingnya ke dinding hingga tengkoraknya pecah. Ia menendang zombie lain hingga tubuhnya terbelah dua. Ia mematahkan lengan zombie, lalu memukulkan lengan itu ke wajah zombie di sampingnya.
Darah hitam memercak ke mana-mana, membasahi kaos hitamnya, wajahnya, rambutnya. Tapi Lin Yan tidak berhenti. Ia tertawa kecil di tengah kekacauan.
"HAHAHA! SERU!"
【...Kau terlalu psikopat, kan?】
"Iya. Tapi seru tau."
Setelah membersihkan gang itu sekitar 15 zombie level 3 Lin Yan berdiri di tengah tumpukan mayat, menghela napas puas. Tapi belum cukup. Ia masih punya energi.
"Zombie level 4 di mana?"
【Satu di dalam supermarket lantai 2. Satu lagi di basement gedung perkantoran sebelah.】
"Bagus. Aku mulai dari supermarket."
Supermarket itu sudah porak-poranda. Rak-rak tumbang, makanan berhamburan, dan di sudut ruangan, seekor zombie level 4 sedang duduk di kursi kasir. Ukurannya lebih kecil dari zombie level 4 kemarin mungkin 1,8 meter, tapi tubuhnya ramping dan gerakannya lincah.
Matanya hitam dengan pupil emas, sama seperti yang kemarin. Tapi zombie ini tidak menyerang begitu melihat Lin Yan. Ia berdiri, memiringkan kepala, mengamati.
"Pintar," gumam Lin Yan.
Zombie itu menggeram bukan geraman mengancam, tapi seperti komunikasi. Lalu, dari belakangnya, bayangan hitam merambat di lantai, membentuk duri-duri tajam yang siap menusuk.
"Bayangan lagi? Bosen."
Lin Yan melompat ke atas rak, menghindari duri bayangan. Di udara, ia menciptakan pedang es pendek di tangannya bukan untuk membunuh, tapi untuk mempermainkan. Ia mendarat di belakang zombie, lalu menebas tangannya.
Pluk! Lengan zombie terputus. Darah hitam menyembur. Zombie itu berbalik dengan cepat, bayangannya menyerang dari segala arah.
Lin Yan menghindar dengan lompatan-lompatan kecil, sesekali memotong bagian tubuh zombie tangan, kaki, telinga. Ia seperti anak kecil yang sedang membongkar mainan.
"Satu lengan lagi. Satu kaki. Satu telinga."
Zombie itu mulai kehilangan keseimbangan. Ia jatuh, merangkak, tapi bayangannya masih menyerang. Lin Yan menghindar dengan santai, lalu berdiri di depan zombie.
"Aku bosan. Selamat tinggal."
Ia mengangkat kaki, lalu menginjak kepala zombie hingga hancur. Pupuk emas di matanya padam.
【Satu level 4 selesai. Masih satu lagi di basement.】
"Ke sana."
Basement gedung perkantoran gelap dan lembap. Lampu-lampu sudah mati sejak lama, hanya cahaya dari ponsel Lin Yan yang menerangi jalan. Tapi ia tidak butuh cahaya, indranya sudah seperti predator.
Di sudut ruangan, zombie level 4 lainnya sedang berdiri membelakangi. Ukurannya besar sekitar 2 meter dan dari punggungnya, tumbuh duri-duri tulang yang tajam.
Zombie itu menoleh. Matanya hitam dengan pupil emas. Ia menggeram, lalu duri-duri di punggungnya melesat seperti anak panah.
Lin Yan menghindar dengan geseran kecil. Duri-duri itu menancap di dinding beton, meninggalkan lubang dalam.
"Oh, kemampuan baru." Lin Yan tersenyum. "Seru."
Ia berlari ke arah zombie, menghindari duri-duri yang terus melesat. Di tengah jalan, ia melompat, berputar di udara, dan mendarat di punggung zombie. Tangannya mencengkeram duri terbesar di punggung zombie, lalu menariknya dengan keras.
"AARRRGGGHHH!" Zombie itu menjerit bukan erangan, tapi jeritan sakit. Duri itu tercabut dari punggungnya, meninggalkan lubang berdarah.
Lin Yan turun, memegang duri itu seperti pedang. "Pinjam ya."
Ia menggunakan duri zombie itu sendiri untuk membunuhnya. Satu tusukan ke kepala, zombie itu roboh. Pupuk emas padam.
【Selesai. Dua level 4. Sekarang?】
"Masih ada zombie level 3. Aku bersihkan sekalian."
Dua jam kemudian, Lin Yan berdiri di tengah jalan kota selatan, dikelilingi tumpukan mayat zombie. Kaos hitamnya sudah tidak bisa dikenali lagi penuh darah hitam, robek di sana-sini. Wajahnya belepotan, rambutnya kaku oleh darah kering. Tapi matanya bersinar puas.
【Statistik: 187 zombie level 2, 43 zombie level 3, 2 zombie level 4. Semua mati dengan cara... tidak manusiawi.】
"Senang."
【Kau benar-benar gila.】
"Iya."
Lin Yan mengeluarkan permen lolipop baru dari saku untungnya masih bersih, karena disimpan di kantong terpisah. Ia memasukkan ke mulut, menikmati rasa stroberi di tengah bau darah.
【Pulang?】
"Pulang. Bibi Li masak iga sapi."
Ia memejamkan mata, memvisualisasikan balkon kastilnya. Tubuhnya bergetar, lalu lenyap.
Sesampai di kastil, Lin Yan tidak langsung masuk. Ia berdiri di halaman, melihat ke bawah kaosnya berantakan, lengannya berlumuran darah. Ia memutuskan untuk masuk lewat pintu belakang, langsung ke kamar mandi lantai satu, sebelum Bibi Li atau Lin Feng melihatnya.
Tapi gagal.
"JIE! KAU DARI MANA?!" teriak Lin Feng yang sedang membawa jemuran. Matanya membelalak melihat penampilan kakaknya. "KAUS HABIS PERANG?!"
"Bermain."
"BERMAIN APA?! MAIN POTONG ZOMBIE?!"
"Ya." Lin Yan berjalan melewati adiknya. "Bibi Li masak iga sapi, kan?"
"JIE! JELASIN DULU!"
Tapi Lin Yan sudah masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Lin Feng menghela napas panjang, lalu memukul pintu kamar mandi. "JIE, KALAU KAU TERUS BEGINI, AKU LAPOR KE BIBI LI!"
"Jangan. Nanti dia takut."
"MAKANYA JANGAN PULANG DARAH-DARAHAN!"
"Biar."
Lin Feng menyerah. Ia berbalik, membawa jemuran ke belakang. Di dapur, Bibi Li mendengar keributan dan bertanya, "Ada apa, Tuan Muda?"
"Tidak ada, Bibi Li. Kakakku... sedang bermain."
"Ooh, Tuan Lin Yan memang suka bermain. Semoga dia cepat pulang. Iga sapi sudah hampir matang."
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya bisa menggeleng.
Setelah mandi dan berganti pakaian kaos hitam baru, celana olahraga hitam Lin Yan turun ke ruang makan. Rambutnya masih basah, wajahnya segar, tidak ada bekas darah sama sekali. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Bibi Li menyajikan iga sapi rebus dengan kuah kental, ditambah sambal hijau dan lalapan mentimun. Aroma sedap memenuhi ruangan.
"Tuan, makanan sudah siap. Biar pulih tenaganya."
"Makasih, Bibi Li."
Lin Yan makan dengan lahap. Lin Feng duduk di seberangnya, masih memasang wajah cemberut.
"Jiejie."
"Hm?"
"Lain kali kalau mau main, ajak aku."
Lin Yan menatap adiknya sebentar. "Kau tidak kuat."
"TAPI AKU BOSAN DI KASTIL TERUS!"
"Kau bisa masak, bersih-bersih, bantu Li Mei latihan, bantu Profesor Chen di lab, bantu Bibi Li di dapur..."
"ITU BUKAN BERMAIN!"
"Itu kerja. Orang dewasa kerja."
"JIE! AKU MASIH 16 TAHUN!"
Lin Yan mengangkat bahu, kembali menyantap iga sapi. Lin Feng menghela napas, mengalah.
Bibi Li yang mendengar hanya tersenyum. "Tuan Muda, sabar. Tuan Lin Yan pasti punya alasan."
"Alasannya karena dia egois, Bibi Li."
"Tidak egois. Hanya... melindungi."
Lin Feng diam. Ia menatap kakaknya yang sedang fokus makan. Di balik sikap dingin dan gilanya, ia tahu Lin Yan selalu memikirkan keselamatannya.
"Jie."
"Hm?"
"Makasih."
Lin Yan menatap adiknya, lalu tersenyum kecil salah satu senyum langka yang tidak menyeramkan. "Iya. Sama-sama, besok jie bawa keluar."
"hore!!"
Malam harinya, Lin Yan duduk di balkon lantai tiga, permen lolipop rasa jeruk di mulut. Di bawah, lampu-lampu taman menyala, apartemen dan laboratorium terlihat rapi. Bibi Li masih di dapur, menyiapkan teh jahe untuk semua orang. Lin Feng sedang berbincang dengan Li Mei di taman.
【Hari ini seru?】
"Iya. Zombie level 4 yang kedua punya duri di punggung. Kemampuan baru."
【Aku catat. Mungkin level 4 punya variasi kemampuan.】
"Besok aku cari lagi. Tapi di kota lain."
【Jangan lupa, kau punya tanggung jawab di sini. Xiao Ming sudah mulai bangun ruang medis. Butuh pengawasan.】
"Suruh Li Weiguo yang awasi. Dia mantan kolonel, pasti bisa."
【...Kau benar-benar malas.】
"Makasih."
Lin Yan mengisap permennya, menikmati angin malam. Di kejauhan, bintang-bintang bersinar terang.
【Lin Yan.】
"Iya?"
【Kau sadar kau sudah berubah?】
"Berubah bagaimana?"
【Dulu kau hanya peduli pada adikmu. Sekarang kau punya Bibi Li, Li Mei, Li Weiguo, Xiao Qiang, Xiao Ming, para ilmuwan... Mereka semua bergantung padamu.】
Lin Yan diam. Ia menatap ke bawah, melihat cahaya-cahaya dari jendela apartemen. Di dalam, orang-orang yang ia "pungut" sedang menjalani hidup baru. Makan, tidur, bekerja, tertawa.
"Aku tidak berubah. Aku masih malas. Masih psikopat. Masih suka memotong zombie."
【Tapi kau mulai peduli.】
"...Mungkin."
Lin Yan berdiri, meregangkan tubuh.
"Tapi untuk sekarang, aku mau tidur. Besok aku cari zombie level 4 lagi."
【...Selamat malam, Lin Yan.】
"Selamat malam, sistem."
Ia masuk ke kamar, menutup pintu balkon, dan menjatuhkan diri di ranjang. Di luar, bulan bersinar terang. Di dalam, Lin Yan tertidur pulas, memimpikan duri-duri zombie yang ia gunakan sebagai pedang.
semangat kak