NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24.

Angin lembut masih berhembus di sekitar air terjun saat Zee menatap kolam ikan itu untuk terakhir kalinya.

Suara gemericik air dan kilauan danau biru, semuanya terasa damai.

Namun Zee tahu, untuk saat ini... Dia tidak bisa terlalu berlama-lama di sana. Masih ada tempat lain yang ingin Dia lihat.

Masih ada perubahan yang ingin Dia pastikan. Zee menarik napas pelan, lalu memejamkan matanya.

Dalam sekejap, tubuhnya menghilang kembali. Ketika Dia membuka matanya kembali, langsung terdengar suara ombak langsung menyambutnya.

Aroma air laut yang khas memenuhi udara. Zee kini berdiri di atas kapal pesiarnya yang berlabuh di pelabuhan Desa Pesisir. Sudah lama sekali Dia tidak datang di tempat ini.

Langit mulai gelap, namun cahaya dari Desa di kejauhan terlihat jelas, berkelip hangat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Zee melangkah turun dari kapal. Kakinya menyentuh beton pelabuhan yang keras, Dia berjalan perlahan menuju ke Desa, mengikuti jalan setapak yang dulu pernah Dia lewati.

Tapi... beberapa langkah kemudian, Dia berhenti. Matanya sedikit melebar, pemandangan di depannya berbeda.

Rumah-rumah yang dulu sederhana kini berdiri rapi dan kokoh. Bangunannya seragam, bersih, dan terlihat jauh lebih layak di huni dari pada sebelumnya.

Rumah gratis yang Dia berikan untuk warga... Kini benar-benar sudah selesai.

Lampu-lampu menyala di setiap rumah. Suara tawa terdengar dari dalam. Beberapa anak kecil terlihat berlarian di halaman, sementara para orang tua duduk di teras.

Zee berdiri diam, memperhatikan semuanya, sehingga membuat hatinya terasa hangat.

Dia melangkah lebih jauh ke dalam desa. Dan perhatiannya tertarik pada satu titik. Di samping rumah Pak Sam, sebuah toko kecil yang dulu pernah Dia usulkan tampak ramai.

Lampunya terang, dan di depannya terlihat ramai oleh warga. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, dan bahkan ada beberapa pria dewasa yang terlihat berkumpul, sebagian antre, dan sebagian lagi sedang berbincang sambil memegang barang belanjaannya.

Zee sedikit terkejut dengan keramaiannya, walaupun Dia sudah tahu pasti akan ramai.

Dia mendekat perlahan. Dari luar, terlihat rak-rak sederhana yang dipenuhi barang kebutuhan sehari-hari.

Wajah-wajah warga yang tampak ceria, jauh dari kesan kekurangan yang dulu begitu terlihat.

Seorang anak kecil keluar dari toko sambil membawa sesuatu di tangannya dengan senyum lebarnya.

"Ibu! Aku dapat permen!" serunya riang.

Dan terlihat Ibunya yang tersenyum sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.

Sementara itu, di dalam toko, suara Pak Sam terdengar jelas.

"Sabar, satu-satu ya! Semuanya akan kebagian!" ucapnya dengan semangat.

Zee berdiri dengan santai di luar, sambil memperhatikan semuanya tanpa ikut mengantri.

Senyum perlahan muncul di wajahnya. Dan toko kecil itu... bukan hanya tempat jual beli saja, tapi telah menjadi pusat kehidupan baru di Desa Pesisir.

Mungkin juga menjadi tempat orang-orang berkumpul, harapan tumbuh, dan menjadi tempat kebagian sederhana tercipta.

Zee mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Desa Pesisir yang dulu sunyi dan terasa suram, kini terasa sangat hidup.

Angin laut kembali berhembus, membawa suara tawa, percakapan, dan langkah kaki yang saling bersahutan.

Zee menatap semua itu dalam diam, di dalam hatinya, Dia tahu... perubahan yang Dia buat ini, perlahan telah menjadi kenyataan.

Tapi ini semua baru awal dari perubahan yang Dia buat. Masih ada banyak hal yang akan di lakukan untuk Desa Pesisir ini.

Beberapa saat kemudian, Zee melangkah mendekati toko kecilnya Pak Sam. Semakin Dia dekat, suasana rumah itu semakin terasa jelas. Suara tawa anak-anak, percakapan para Ibu, dan kesibukan jual beli yang hangat.

Di balik meja sederhana itu, Zee melihat sosok yang Dia kenal.

Doni, anak kecil itu berdiri dengan penuh semangat. Tangannya lincah mengambil permen dari toples dan memberikannya kepada anak-anak lain yang membeli.

"Nih... ini buat kamu," ucap Doni ceria sambil tersenyum lebar.

Anak-anak yang menerima permen itu langsung tersenyum senang.

"Terima kasih, Kak Doni!"

"Iya, sama-sama!" jawab Doni bangga.

Tak jauh darinya, Bu Yati sibuk melayani pembeli. Tangannya cetakan mengambil barang, sementara mulutnya tak berhenti berbicara melayani dengan ramah.

Sedangkan Pak Sam, seperti biasa, berdiri di sisi lain, melayani dengan penuh kesabaran.

Zee berdiri beberapa langkah dari sana. Namun karena semua orang begitu sibuk... tak ada satu pun yang menyadari kehadirannya.

Zee hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu.

Hingga akhirnya...

"Selanjutnya... mau beli apa? eh, Neng Zee?!"

Suara Bu Yati mendadak berubah, tangannya yang semula bergerak cepat kini terhenti di udara.

Zee tersenyum lembut, "Iya, Bu."jawabnya tenang.

Doni yang mendengar itu langsung menoleh. Sesaat dia terdiam, lalu wajahnya berubah cerah seketika.

"Kak Zee!" serunya lantang.

Dia langsung berlari keluar dari toko menghampiri Zee, senyumnya lebar tanpa bisa disembunyikan.

"Akhirnya Kak Zee datang juga! Sudah lama sekali Kakak tidak datang berkunjung!" ucapnya penuh semangat.

Zee sedikit menunduk, menatap Doni dengan hangat. "Iya, Doni. Maaf ya, kakak banyak kerjaan." ujarnya lembut.

Doni mengangguk-angguk cepat, meski matanya masih berbinar.

Sementara itu, Pak Sam yang sedang melayani pembeli terakhir ikut menoleh. Wajahnya langsung berubah serius... lalu perlahan tersenyum lebar penuh rasa hormat.

"Neng Zee sudah datang..." gumamnya.

Tapi Dia tetap menyelesaikan pelayannya terlebih dahulu.

"Ini pesanannya, Pak," ucapnya pada pembeli.

Lalu dengan suara yang sedikit lebih keras, dia menambahkan, "Nanti tolong kamu sampaikan ke warga yang lain... katakan kalau Neng Zee sudah datang ya."

Pembeli itu tampak terkejut, lalu segera mengangguk. "Baik, Pak Sam! Saya akan segera sampaikan!"

Dia pun pergi dengan langkah cepat, seolah takut kalau nanti Zee pergi lagi.

Tak butuh waktu lama, suasana mulai berubah. Beberapa warga yang masih di sekitar toko mulai saling berbisik.

"Neng Zee sudah datang?"

"Yang membangun kita rumah gratis itu ya?"

"Iya benar"

Zee yang sudah di ajak duduk oleh Doni di tempat duduk samping toko mereka. Dia sedikit terdiam melihat reaksi mereka.

Sementara itu, Bu Yati sudah benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebentar. Dia melangkah mendekati Zee, matanya sudah berkaca-kaca.

"Terima kasih banyak, Neng..." ucapnya lirih.

Zee menggeleng kepala pelan. "Tidak perlu, Bu, semua ini memang pantas untuk Desa Pesisir."

Namun sebelum menjadi terlalu haru. Doni menarik ujung baju Zee dengan pelan.

"Kak Zee... nanti kalau pergi jangan lama-lama lagi ya..." ucapnya polos.

Zee menatapnya sejenak, lalu tersenyum. "Iya," jawabnya singkat, tapi penuh arti.

I kejauhan, suara berbincang-bincang dan suara kaki mulai terdengar semakin banyak.

Kabar kedatangan Zee telah menyebar ke seluruh warga Desa Pesisir.

Mereka semua ingin ketemu langsung dengan sosok yang telah mengubah hidup mereka.

Langit malam mulai turun perlahan, namun Desa Pesisir justru semakin ramai.

Kabar tentang kedatangan Zee menyebar begitu cepat, dari satu orang ke orang lain, dari satu rumah ke rumah berikutnya. Tak butuh waktu lama, warga desa mulai berdatangan, langkah mereka tergesa namun penuh harap.

Di depan rumah Pak Sam, halaman yang luas itu perlahan di penuhi oleh orang-orang. Mulai dari laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga para lansia... semuanya berkumpul.

Zee yang tadinya duduk, seketika berdiri di tengah-tengah mereka. Dan untuk sesaat, Dia terdiam melihat tatapan mereka yang berbeda.

Mata yang sudah berkaca-kaca, wajah yang penuh haru, dan perasaan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Tiba-tiba ada seorang Ibu maju selangkah ke depannya, dengan tangan sedikit gemetar.

"Terima kasih, Neng...," ucapnya lirih.

Lalu di susul oleh yang lain.

"Terima kasih banyak Neng, sudah membangun rumah kami."

"Kami... kami sudah tidak tahu harus membalas semua kebaikan Neng ini dengan apa..."

suara mereka saling bersahutan. Ada yang menunduk, ada yang mengusap air mata, ada pula yang hanya berdiri sambil menggenggam tangan satu sama lain.

Zee masih memandang mereka semua dalam diam. Hatinya terasa sesak, bukan karena sedih, tapi karena terlalu banyak rasa campur aduk yang memenuhi hatinya.

Dia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Lalu melangkah sedikit maju ke depan mereka.

"Tidak perlu membalas apa pun, Bapak dan Ibu sekalian dengan selalu menjaga rumah dan ketentraman Desa Pesisir ini sudah lebih dari cukup." ucapnya tenang, namun jelas terdengar oleh semua orang.

Suasana yang tadinya ramai, seketika menjadi hening sejenak.

"Bagaimana kalau kita adakan syukuran saja." tambah Zee.

Beberapa warga saling pandang. "Syukuran?" ulang seseorang pelan.

Zee mengangguk mendengar ucapannya. "Seperti membaca doa bersama untuk Desa Pesisir dan setelah itu kita makan bersama."

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa.

Wajah-wajah yang tadinya penuh haru kini mulai berubah cerah. Ada harapan, dan kebahagiaan yang perlahan muncul.

"Benar juga, kita belum adakan syukuran untuk rumah baru kita dan perubahan di Desa ini."

"Betul, sudah lama sekali kita tidak adakan acara seperti ini lagi."

Suara-suara kecil kini mulai terdengar, mereka saling berdiskusi.

Tiba-tiba, seorang bapak-bapak maju selangkah ke depan Zee. Wajahnya tegas, namun sorot matanya hangat.

"Neng," ucapnya mantap. "Saya mau menyumbangkan satu ekor sapi."

Dan seketika pandangan semua orang tertuju padanya.

"Sapi itu baru tadi pagi saya dan anak saya dapat dari hutan." lanjutnya

Suasana yang tadi hening sejenak itu, lalu berubah menjadi riuh penuh rasa kagum.

"Wah... Pak Wan baik banget ya..."

"Luar biasa banget, akan makan banyak nih."

Zee menatap Pak Wan dengan sedikit terkejut. tapi sebelum Dia sempat menjawab, warga lain mulai berdiskusi untuk membawa apa saja nanti.

"Saya bawa beras!"

"Saya bawa sayur!"

"Kami bantu masak saja!"

"Kami siapkan peralatan masaknya."

Suasana menjadi sangat riuh, tak ada yang mau diam, tidak ada yang hanya mau makan saja. Semuanya ingin ikut berkontribusi dan semua juga ingin memberi.

Zee cuman bisa memperhatikan mereka semua, dan seketika senyum tipis muncul di wajahnya.

Tanpa menarik perhatian mereka, Dia mengambil ponselnya di sakunya, Dia mulai membuka aplikasi AetherShop.

Jemarinya bergerak cepat, memesan satu ekor sapi berat sekitar dua ratus kilogram, berbagai buah-buahan segar dalam jumlah besar, beras 20 kilo 5 karung, wajan besar 3 buah, panci besar 3 buah, piring, sendok dan gelas.

*Pesanan sedang di proses.

Zee menatap warga desa yang masih sibuk berdiskusi dengan penuh semangat.

Dia tahu... apa yang mereka siapkan bukan sekedar acara makan bersama saja.

Namun ini adalah perayaan atas kehidupan mereka yang mulai perlahan berubah, perayaan atas kebersamaan yang kembali tumbuh, dan perayaan atas harapan yang kini tidak lagi terasa jauh.

Angin malam berhembus lembut, membawa suara tawa, dan semangat yang memenuhi udara.

Di bawah langit malam Desa Pesisir, sebuah kebahagiaan sederhana perlahan mulai terbentuk.

1
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!