Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 27: "Kisah Sang Kekasih dan Pelukan di Sepertiga Malam"
Hujan deras kembali mengguyur Kediri sore itu, menyisakan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu rumah mungil Zain dan Shania. Suara rintik yang menghantam atap seng menciptakan irama monoton yang menenangkan. Di dalam kamar, aroma minyak kayu putih dan teh melati menyeruak, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan cuaca di luar.
Shania berbaring miring, menyandarkan kepalanya di lengan kekar Zain yang dijadikan bantal darurat. Setelah seharian membantu Ummi Zainab menyortir beras untuk sedekah jumat, tubuh Shania terasa cukup lelah. Namun, matanya enggan terpejam, ia justru merasa haus akan sesuatu yang lebih dari sekadar istirahat fisik.
"Mas," panggil Shania lirih.
Zain yang sedang memegang sebuah kitab kecil di tangan kirinya menoleh, menutup kitab itu dengan perlahan.
"Ya, Sayang? Kakinya pegal lagi?"
Shania menggeleng, ia membenarkan posisi kepalanya agar bisa menatap wajah tenang suaminya.
"Bukan. Aku... aku ingin mendengar Mas bercerita. Tapi bukan soal kuis atau godaan-godaan Mas yang ajaib itu."
Zain menaikkan sebelah alisnya, tersenyum tipis.
"Lalu? Mau dengar soal teori hukum ekonomi syariah?"
"Ih, bukan!"
Shania mencubit perut Zain gemas.
"Ceritakan tentang, Rasulullah. Aku, ingin mendengar kisah hidup beliau, tapi dari sudut pandang, Mas. Dari beliau kecil, saat bertemu Sayyidah Khadijah, sampai diangkat jadi Nabi. Boleh?"
Zain terdiam sejenak. Tatapannya melembut, ada binar kekaguman yang selalu muncul setiap kali nama Sang Nabi disebut. Ia meletakkan kitabnya di nakas, lalu membawa Shania ke dalam pelukannya yang lebih erat, menyelimuti tubuh istrinya dengan kain sarung besar miliknya.
"Bintang yang Bersinar di Padang Pasir"
"Dengarkan baik-baik, 'singa' kecilku."
Zain memulai dengan suara baritonnya yang berat namun lembut, nada yang selalu berhasil membuat Shania merasa terhipnotis.
"Kisah ini dimulai dari sebuah kesunyian yang agung. Muhammad lahir sebagai yatim, Shania. Beliau tidak pernah melihat wajah Ayahnya, Abdullah. Saat bayi, beliau tidak dibesarkan di kemewahan kota, melainkan dikirim ke pedalaman padang pasir bersama Halimah As-Sa'diyah. Kenapa? Agar beliau menghirup udara yang murni, agar lisannya fasih dengan bahasa Arab yang paling asli, dan agar hatinya sekuat batu karang di gurun."
Shania memejamkan mata, membayangkan bayi kecil yang kelak menjadi manusia paling berpengaruh di dunia itu sedang digendong di bawah langit bertabur bintang.
"Beliau tumbuh dalam kehilangan demi kehilangan," lanjut Zain, jemarinya mengusap lembut dahi Shania.
"Setelah yatim, beliau ditinggal Ibunda Aminah saat usianya baru enam tahun. Lalu kakeknya, Abdul Muthalib. Bayangkan betapa sunyinya hati seorang anak kecil yang terus kehilangan sandaran dunianya. Tapi Allah ingin menunjukkan satu hal, bahwa sandaran Muhammad hanyalah Dia. Itulah kenapa beliau tumbuh menjadi pemuda yang sangat mandiri, jujur, dan dijuluki Al-Amin—orang yang paling terpercaya."
"Pertemuan Dua Cahaya: Muhammad dan Khadijah"
Suara hujan di luar seolah menjadi musik latar yang pas saat Zain mulai masuk ke bagian yang paling Shania nantikan.
"Lalu, datanglah masa di mana beliau mulai berdagang. Kejujurannya terdengar sampai ke telinga seorang wanita mulia, pengusaha sukses, dan janda terhormat di Mekkah... Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Khadijah terpesona, bukan karena ketampanan Muhammad semata—meski beliau adalah pria tertampan yang pernah ada—tapi karena akhlaknya. Saat Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke Syam, beliau tidak pernah mengambil satu sen pun yang bukan haknya."
Zain menunduk, mencium puncak kepala Shania sebelum melanjutkan.
"Khadijah, adalah wanita yang cerdas. Ia tidak menunggu, ia yang memulai langkah. Melalui perantara sahabatnya, ia meminang Muhammad. Dan tahukah kamu, Shania? Pernikahan mereka adalah lambang cinta sejati yang paling islami."
"Benarkah, Mas?" tanya Shania tanpa membuka mata.
"Iya. Muhammad berusia 25 tahun, Khadijah 40 tahun. Tapi perbedaan usia itu luntur oleh rasa hormat. Muhammad mendapatkan rumah yang ia impikan sejak kecil, dan Khadijah mendapatkan cahaya yang menerangi hatinya. Mereka hidup bahagia, saling menguatkan, sampai tiba saat yang akan mengubah dunia selamanya."
"Rahasia di Gua Hira dan Selimut Penenang"
Zain menarik napas panjang, nada bicaranya berubah menjadi lebih khidmat.
"Saat usia beliau mendekati 40 tahun, Muhammad sering merasa gelisah melihat kerusakan moral di Mekkah. Beliau mulai sering menyepi ke Gua Hira. Di sana, di tengah kesunyian malam, beliau ber-tahannuts, mencari hakikat penciptaan. Sampai pada suatu malam di bulan Ramadan... Malaikat Jibril datang."
Shania bisa merasakan detak jantung Zain yang stabil namun kuat.
"Jibril, memeluknya dengan sangat erat sampai Muhammad merasa sesak, seraya berkata, 'Iqra' Ya Muhammad'—Bacalah wahai Muhammad! Muhammad gemetar, beliau ketakutan, badannya menggigil hebat saat pulang ke rumah. Dan di sinilah peran wanita sehebat Khadijah terlihat."
Zain mengusap pundak Shania, seolah sedang memperagakan adegan itu.
"Muhammad, masuk ke rumah dengan tubuh yang gemetar hebat, berteriak, 'Zammiluni! Zammiluni!'—Selimuti aku! Selimuti aku! Khadijah, tidak bertanya 'apa yang terjadi' dengan nada panik. Ia tidak menghakimi suaminya. Ia langsung menyelimuti Muhammad, memeluknya dengan ketenangan seorang istri yang menjadi pelabuhan."
"Setelah Muhammad tenang, Khadijah mengucapkan kata-kata yang paling indah dalam sejarah. 'Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, dan memuliakan tamu.' Khadijah, adalah orang pertama yang percaya saat seluruh dunia meragukan suaminya. Ia adalah pilar pertama dakwah Islam."
"Cinta yang Melampaui Maut"
Zain mengakhiri ceritanya dengan sebuah helaan napas yang dalam. Kamar menjadi hening, hanya ada suara hujan yang kini mulai mereda menjadi gerimis kecil.
"Itulah kenapa, sayang... setelah Khadijah wafat pun, Rasulullah selalu mengenangnya. Bahkan saat Sayyidah Aisyah merasa cemburu, Rasulullah tetap mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan posisi Khadijah di hatinya. Khadijah mencintainya saat orang lain membencinya. Khadijah, memberinya harta saat orang lain menghimpitnya secara ekonomi. Dan Khadijah memberinya keturunan."
Shania membuka matanya, menatap Zain dengan mata yang berkaca-kaca.
"Indah sekali, Mas. Ternyata romantisnya Islam itu bukan soal kata-kata manis semata, tapi soal siapa yang tetap memeluk kita saat dunia sedang membuat kita menggigil ketakutan."
Zain tersenyum, tangannya bergerak menyentuh pipi Shania yang hangat.
"Tepat sekali. Itulah kenapa saya ingin kita meneladani mereka. Saya, mungkin bukan pria setangguh Rasulullah, dan kamu mungkin bukan wanita sedewasa, Khadijah. Tapi saya ingin, saat saya 'menggigil' karena beban tanggung jawab saya sebagai imam, kamulah yang menjadi 'selimut' yang menenangkan, saya. Dan saat kamu merasa dunia terlalu keras padamu, sayalah yang akan memelukmu sampai kamu merasa aman."
Shania terharu, ia menyurukkan wajahnya ke dada Zain.
"Terima kasih, Mas. Ceritanya jauh lebih bagus daripada film-film drama yang sering aku tonton."
"Tentu saja. Karena ini adalah kisah nyata yang ditulis dengan tinta takdir oleh Allah," bisik Zain.
"'Kuis' yang Berubah Menjadi Doa"
Zain melirik jam di dinding, lalu kembali menatap istrinya dengan tatapan jahil yang mulai muncul kembali.
"Nah, karena ceritanya sudah selesai, dan hati kamu sudah tenang... bagaimana kalau kita praktikkan teori 'selimut' itu?"
Shania langsung mendongak, matanya menyipit.
"Mas! Baru saja ceritanya sedih dan mengharukan, masa sudah mau mulai lagi?"
Zain terkekeh, ia menarik selimut tebal mereka hingga menutupi dada.
"Lho, Rasulullah pun mengajarkan kita untuk selalu membahagiakan istri. Dan saya merasa, 'selimut' ini akan jauh lebih hangat kalau kita... sedikit lebih dekat lagi."
Zain merunduk, membisikkan sesuatu yang membuat pipi Shania kembali memerah sehebat kepiting rebus.
"Ingat kan, kuis malam ini belum selesai? Tadi saya tanya soal Umar bin Khattab, sekarang saya mau tanya, apakah Shania siap menjadi Khadijah-nya Zain untuk beberapa jam ke depan di bawah selimut ini?"
"Mas Zain, ih! Ujung-ujungnya selalu ke sana!"
Shania memukul dada Zain pelan, namun ia tidak menolak saat bibir Zain mendarat lembut di keningnya.
"Satu hal lagi, Shania," bisik Zain di tengah keheningan yang mulai memanas itu. "Setiap detak jantung kita malam ini, setiap rasa syukur yang kita bagi, semoga dicatat Allah sebagai doa untuk menghadirkan 'Muhammad kecil' atau 'Khadijah kecil' di tengah-tengah kita nanti."
Shania tertegun, lalu ia tersenyum tulus. Ia melingkarkan tangannya di leher suaminya, menariknya lebih dekat.
"Aamiin, Mas. Aamiin."
Malam itu, di bawah langit Kediri yang basah, mereka tidak hanya berbagi kehangatan fisik, tapi juga menyatukan doa-doa yang terinspirasi dari kisah manusia agung. Di sela-sela tawa kecil karena godaan Zain dan bisikan-bisikan romantis yang islami, mereka membangun peradaban kecil di dalam kamar itu. Peradaban yang dasarnya adalah cinta karena Allah, dan tujuannya adalah surga-Nya.
Dan seperti Khadijah yang menjadi selimut bagi Muhammad, malam itu Shania belajar bahwa menjadi istri bukan hanya soal melayani, tapi soal menjadi tempat paling nyaman bagi sang suami untuk meletakkan seluruh beban dunianya.
Bersambung ....
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething