Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membelah Kosmos & Jantung Sang Penenun
Lokasi: Zona Batipelagik (Tengah Malam), Laut Banda.
Waktu: 13.40 WIT.
[DEPTH: 2.050 Meters…]
Jaring cahaya perak itu membentang di atas mereka bagaikan tirai guillotine raksasa. Benang-benangnya bergetar, mengubah air laut di sekitarnya menjadi gelembung ketiadaan.
Sarah menarik tuas kemudi sekuat tenaga, memiringkan hidung Baruna-01 hingga empat puluh lima derajat. Gaya gravitasi meremukkan dada mereka ke kursi. Kaca viewport akrilik kini berhadapan langsung dengan jaring maut tersebut. Jarak tabrakan tersisa dua detik.
“Dimas! Sekarang atau kita jadi konsep abstrak!” Jerit Sarah.
Dimas tidak berkedip. Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke permukaan silinder logam purba itu. Ia menyalurkan seluruh sisa tenaga dalam murninya, memanggil paksa memori saat ia mengaktifkan benda itu di bunker obsidian.
“Buka!” Raung Dimas.
Silinder logam itu merespons resonansi jiwa Dimas. Benda itu mendadak terbuka, memekar seperti bunga teratai mekanis, kembali ke wujud aslinya: Alat Tenun Lemuria. Ribuan jarum kristal mikroskopis di dalamnya berputar dengan kecepatan cahaya, mengeluarkan dengungan frekuensi tinggi yang membuat gigi mereka ngilu.
Alat itu tidak menembakkan laser atau proyektil. Benda itu memancarkan Gelombang Anti-Realita—sebuah distorsi spasial yang melesat menembus kaca akrilik kapal selam tanpa merusaknya.
Gelombang itu bertabrakan dengan jaring perak Sang Penenun.
ZZZRRAASSHH!!
Bukannya memotong dengan paksa, frekuensi dari Gunting Lemuria itu mengurai benang-benang perak tersebut. Persis seperti benang wol yang ditarik dari rajutan sweater, jaring cahaya yang mematikan itu terurai mundur menjadi untaian partikel tak berbahaya. Sebuah lubang bundar berdiameter sepuluh meter tercipta tepat di tengah jaring raksasa itu.
“Tembus!” Sarah memekik kegirangan, matanya menyala penuh kemenangan.
Baruna-01 melesat bagai peluru kuning melewati lubang tersebut, lolos dari penghapusan eksistensi hanya dengan selisih jarak beberapa sentimeter dari lambung kapal.
Namun, kemenangan mereka hanya bertahan satu tarikan napas.
“Sar…” suara Dimas tertahan, matanya terbelalak menatap lurus ke depan. “Rem kapalnya. Rem sekarang.”
“Aku nggak bisa! Momentum Emergency Blow nggak bisa dibatalkan sampai—“
Perkataan Sarah terputus saat ia melihat ke atas.
Lolos dari jaring perak bukan berarti mereka aman. Mereka baru saja melewati garis pertahanan terakhir. Di atas mereka, menutupi seluruh pandangan, adalah Inti Sang Penenun. Bongkahan daging cahaya berbentuk Tesseract merah berdenyut raksasa itu berada tepat di jalur lintasan mereka.
Kecepatan naik kapal selam yang mencapai 100 meter per detik membuat mereka tidak bisa menghindar.
“BERPEGANGAN!” Teriak Sarah, menyilangkan tangannya di depan wajah.
BLAAAAMMMMM!!!
Baruna-01 menabrak inti entitas kosmik tersebut.
Tapi tidak ada suara besi remuk atau kaca pecah. Kapal selam itu tidak hancur menabrak dinding fisik. Alih-alih membentur benda padat, Baruna-01 tertelan hidup-hidup ke dalam tubuh Sang Penenun, seperti jarum suntik yang menembus gumpalan jeli bercahaya.
Lokasi: Di Dalam Inti Sang Penenun (Dimensi Kantong/Pocket Dimension).
Waktu: ERROR.
[DEPTH: NULL]
Hening.
Bukan hening laut dalam yang mencekam, tapi hening absolut dalam ruang hampa. Getaran mesin kapal berhenti total. Cahaya lampu kabin mati, digantikan oleh pendaran merah menyala dari luar jendela.
Dimas dan Sarah perlahan membuka mata, menurunkan tangan mereka yang tadi bersilang menutup wajah.
Layar instrumen di dasbor Sarah menjadi gila. Jarum altimeter berputar tanpa arah. Suhu air menunjukkan angka ERROR, dan jam digital di pojok layar berkedip-kedip pada angka 00.00.00 yang tidak beranjak.
“Sistem navigasi mati. Mesin mati,” lapor Sarah dengan suara gemetar. Ia menatap ke luar jendela viewport. “Dim… kita ada di mana?”
Di luar sana, air laut telah menghilang.
Mereka mengambang di dalam ruang tanpa batas yang dipenuhi oleh kabut merah bergulung-gulung dan serpihan-serpihan memori visual yang melayang seperti pecahan cermin. Dimas melihat bayangan Candi Trowulan yang terbakar melayang di sebelah kiri kapal. Sarah melihat potongan memori ruang kerjanya di Depok melayang di sebelah kanan. Geometri tempat ini tidak masuk akal, melengkung dan melilit ke dalam dirinya sendiri.
Mereka berada di dalam perut Sang Penenun—pusat di mana realita dicerna dan dirajut ulang.
“Tamu yang lancang…”
Suara itu tidak terdengar di telinga, melainkan langsung meresap ke dalam materi otak mereka. Suaranya seribu kali lipat lebih kuat daripada saat diluar tadi. Hidung Dimas dan Sarah serentak meneteskan darah segar akibat tekanan mental yang luar biasa.
“Kalian memotong kainku dengan mainan purba itu. Tapi kalian hanyalah debu. Kalian hanyalah memori. Dan memori… bisa diurai.”
Tiba-tiba, Gunting Lemuria di tangan Dimas berhenti berputar. Cahaya kristalnya meredup. Ruang dimensi di dalam kabin kapal mulai melengkung.
Kabin titanium Baruna-01 perlahan-lahan memudar, berubah menjadi transparan.
“Sar! Jangan lepaskan sabuk pengamanmu!” Dimas mencoba berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Udara di sekitarnya terasa lenyap.
Realita mereka mulai dihapus secara real-time.
[Ilusi Penghapusan Eksistensi - Sudut Pandang Sarah]
Sarah merasa dirinya tidak lagi berada di kursi pilot. Ia berdiri di tengah ruang sidang disertasi kampus. Namun wajah para dosen pengujinya kosong tanpa mata. Tumpukan kertas penelitian Sarah terbakar menjadi abu perak.
“Logika adalah kebohongan,” bisik Sang Penenun di kepalanya. “Kau bukan ilmuwan. Kau bukan penemu. Kau hanyalah ketakutan yang bersembunyi di balik angka-angka. Jika sejarahmu dihapus, kau tidak akan pernah ada.”
Cincin kawin di jari manis Sarah perlahan meleleh menjadi debu. Memori tentang Dimas, tentang tawa mereka, tentang perdebatan mereka… mulai terhapus dari hard drive otaknya. Kepanikan murni mencengkeram logika Sarah. Jika ia lupa, maka ia akan lenyap menjadi ketiadaan.
[Ilusi Penghapusan Eksistensi - Sudut Pandang Dimas]
Di sisi lain, Dimas berdiri di tengah reruntuhan kerajaan yang hancur. Keris-keris pusaka miliknya patah menjadi dua. Buku-buku arsip sejarah yang ia hafal mati mendadak halamannya kosong putih bersih.
“Sang Pengarsip yang rapuh,” cemooh entitas itu. “Kau menyimpan sejarah untuk mencari makna hidup. Tapi lihatlah, sejarah itu mudah sekali digunting. Kau tidak memiliki kekuatan. Kau hanyalah orang yang mencatat kekalahan orang lain.”
Dimas melihat tangannya sendiri mulai memudar, berubah menjadi piksel-piksel cahaya perak yang berterbangan ditiup angin. Rasa putus asa yang sangat pekat, yang usianya jutaan tahun, mencoba menenggelamkan jiwanya.
[Perlawanan]
Tapi Sang Penenun melakukan satu kesalahan fatal. Ia mencoba mengurai mereka sebagai individu, lupa bahwa mereka telah membentuk rajutan baru yang jauh lebih kuat.
Di dunia fisik (di dalam kabin yang memudar), meski pikirannya sedang dihancurkan, tubuh Dimas bergerak murni karena insting protektif. Tangan kirinya meraba-raba konsol yang tak terlihat, mencari-cari di tengah kebutaan dimensi.
Ia menemukan tangan Sarah yang gemetar hebat.
Dimas menggenggam tangan istrinya dengan erat, mengunci jari-jari mereka.
Sentuhan fisik itu—kehangatann kulit, denyut nadi yang tak teratur, keringat dingin—menjadi jangkar realitas yang paling absolut bagi mereka berdua. Sentuhan itu adalah bukti empiris bahwa mereka ada.
Di dalam ruang ilusinya, logika Sarah berdetak kembali. “Tidak. Kalor dan gesekan ini nyata. Aku eksis karena aku merasakannya!”
Di ruang ilusinya, jiwa Dimas menyala kembali. “Sejarahku bukan sekedar tulisan. Sejarahku adalah orang yang sedang kugenggam tangannya saat ini!”
Dengan paksaan kemauan yang bisa mengalahkan gravitasi, Dimas dan Sarah membuka mata mereka serentak. Ilusi ruang hampa itu retak seperti kaca yang dipukul palu. Kabin Baruna-01 kembali berwujud padat.
Keduanya terengah-engah, berlumuran keringat dingin dan darah dari hidung, namun mata mereka menyala penuh perlawanan. Mereka telah menolak penghapusan.
“Dimas!” Sarah berteriak, meneteskan air mata kemarahan. “Gunting itu! Pakai sekarang!”
Gunting Lemuria yang tadi meredup di pangkuan Dimas kembali menyala terang benderang, dipicu oleh lonjakan emosi murni dari ikatan mereka berdua.
“Kamu mau ngurai kami, Hah?” Raung Dimas menatap ke arah luar jendela yang merah menyala. “Coba telan ini, Sialan!”
Dimas tidak merapalkan mantra penolak. Ia merapalkan Aji Rahajing Jiwo (Mantra Pengikat Jiwa), memadukannya dengan Gunting Lemuria. Namun alih-alih menyuruh alat itu memotong… Dimas menyuruhnya Menjahit.
“Jahit kembali realita ini! Tarik benang merahnya!” Perintah Dimas, menempelkan kedua tangannya ke alat purba tersebut.
Jarum-jarum kristal mikroskopis pada Alat Tenun Lemuria itu berputar ke arah yang berlawanan. Alat itu bertindak seperti pusaran magnet raksasa.
Di luar kapal, dimensi kantong merah itu mulai bergejolak ganas. Gunting Lemuria itu secara paksa menyedot energi merah dari Inti Sang Penenun, menarik “benang-benang ketiadaan” sang entitas dan menjahitnya menjadi materi padat di dalam Gunting tersebut.
Sang Penenun menjerit.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kosmiknya, sang dewa laut dalam merasakan rasa sakit. Ia tidak sedang dihancurkan; ia sedang dikompresi. Alat Lemuria itu memaksa entitas raksasa itu menyusut ke dalam dimensi fisiknya.
“TIIIDAAAKKK!!! KAIN INI… MILIKKU!!!”
Jeritan telepati itu begitu keras hingga kaca viewport akrilik Baruna-01 setebal 15 sentimeter mulai retak. Jaring-jaring retakan putih mulai menyebar di kaca depan.
“Dim! Kacanya pecah!” Teriak Sarah, menutupi telinganya.
“Sedikit lagi! Tarik semuanya!” Dimas menahan rasa sakit di kepalanya yang serasa mau pecah. Gunting Lemuria di tangannya kini memanas hingga membakar telapak tangannya.
Dimensi merah di luar jendela menyusut dengan kecepatan kilat, ditarik masuk ke dalam silinder Lemuria.
Dalam satu detik terakhir yang menyilaukan mata, seluruh sisa kabut merah dan dimensi kantong itu tersedot masuk ke dalam alat purba tersebut. Mekanisme logamnya tertutup berdesis, menyegel Sang Penenun ke dalam penjara silinder yang tak lebih besar dari botol minum.
Begitu dimensi itu kolaps… hukum fisika normal kembali mengambil alih.
BAM!
Baruna-01 dimuntahkan kembali ke laut nyata. Kegelapan dan suhu dingin Laut Banda kembali menampar mereka.
Layar altimeter yang tadinya ERROR kini berputar kembali. Mereka telah dimuntahkan di kedalaman 1.500 meter.
Momentum sisa dari Emergency Blow yang tadi tertunda, kini kembali berlanjut. Kapal selam itu melesat naik menembus sisa jarak menuju permukaan laut, didorong oleh sisa gelembung udara di tangkinya.
Kaca depan kapal mengerang menahan tekanan yang memudar, namun retakannya tidak menyebar. Mereka berhasil selamat.
Dimas menyandarkan punggungnya ke kursi, napasnya habis. Gunting Lemuria—yang kini berwarna merah darah dan panas disentuh—tergeletak di lantai kokpit, menyimpan dewa kiamat di dalamnya.
Sarah menatap layar radarnya yang kini sepenuhnya bersih dari anomali. Ia tertawa pelan, tawa histeris penuh kelegaan, lalu menangis sambil mencengkeram kemudi.
“Kita menang, Profesor,” isak Sarah, menyeka darah di hidungnya. “Kita bener-bener nangkep dia.”
“Ya…” Dimas menoleh, tersenyum lelah menatap istrinya. “Kita jahit mulutnya sekalian.”
Satu setengah kilometer di atas mereka, cahaya matahari siang mulai terlihat menembus air biru. Permukaan laut menunggu kepulangan para pahlawannya.