Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Biarkan Mereka Merasa Aman
Tapi sebelum sempat berkata apa pun, tiba-tiba tubuhnya terangkat.
“Are!” pekiknya refleks, tangannya otomatis melingkar di leher pria itu.
Are melirik ke arah pintu yang tak tertutup rapat. Senyum tipis muncul di bibirnya.
BRAK.
Dengan kakinya, Are mendorong pintu hingga tertutup rapat.
Di luar, Desti yang sedang mengintip hampir terlonjak kaget.
"Sial!" umpatnya dalam hati. Tapi ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan telinganya di lubang kunci.
Are membawa Zelia ke ranjang dan merebahkannya, lalu...menggelitik.
“Are! Hahaha—apa yang kau lakukan—ha…ha…!”
“Menghukum,” jawabnya tenang sambil terus menggelitik.
“Ampun—ha…ha…!”
Tawa Zelia memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian Are berhenti. Ia menoleh sekilas ke arah pintu.
“Ada yang mengintip,” katanya rendah.
Zelia langsung terdiam. “Siapa?”
“Pura-puralah mendesah.”
Zelia membeku beberapa detik. “Apa?!”
“Percaya padaku.” Ada kilatan nakal di mata Are.
Zelia menelan ludah. Baiklah. Ia memutuskan bermain. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke bahu Are, seolah bersembunyi. Lalu—
“Aah…”
Lembut. Tipis. Sengaja dibuat ambigu.
Di luar pintu, napas Desti tercekat.
Zelia melanjutkan, kali ini lebih dramatis.
“Are… pelan-pelan…”
Nada suaranya setengah tertahan, setengah manja.
Are yang awalnya tenang mendadak kaku.
Zelia terlalu menghayati. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kerah kemeja Are.
“Aku gak kuat…” lanjutnya, hampir berbisik.
Di luar, wajah Desti kehilangan warna. Dadanya terasa panas. Campuran iri dan marah yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia menjauhkan telinganya dari pintu, lalu mundur selangkah. Selangkah lagi, lalu berbalik pergi.
Sementara di dalam kamar, Are kini benar-benar menegang. Permainan ini terlalu realistis.
“Cukup,” bisiknya pelan, suaranya berubah lebih berat.
Zelia membuka mata. Tatapan mereka bertemu. Jarak terlalu dekat. Napas mereka bercampur.
Kini, keheningan di antara mereka bukan lagi akting. Bukan permainan.
Are menegakkan tubuhnya, mundur setengah langkah. “Dia sudah pergi.”
Zelia masih menatapnya. Wajahnya memerah, bukan karena tertawa tadi. “Kau yang menyuruhku,” gumamnya pelan.
Are menghela napas pendek, berusaha mengembalikan kendali. “Lain kali jangan terlalu serius berakting.”
Zelia tersenyum kecil. “Kenapa? Takut?”
Are menatapnya lama. “Fokus pada sidang,” jawabnya akhirnya. Tapi suaranya tidak lagi setenang tadi.
Di luar kamar, Desti menuruni tangga dengan tangan terkepal. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
Dan kali ini, rasa tertarik itu lebih berbahaya karena telah menjelma menjadi obsesi.
***
Hari ini sidang kembali digelar. Ruang sidang dipenuhi keheningan yang tegang
Zelia duduk di kursinya dengan punggung tegak. Tim legal berada di sisi kanan dan Atyasa di sisi kirinya.
Dan seperti biasa, Are berdiri di belakangnya. Bukan sejajar. Bukan duduk. Berdiri. Seolah itu memang posisinya.
Atyasa melirik ke arah pria itu. Tatapan Are tipis, sulit ditebak.
*Sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka miliki? Mengapa Are melindungi Zelia seolah mereka telah bersama jauh sebelum pernikahan itu diumumkan?"
Selama ini Atyasa selalu mengawasi putrinya. Setiap langkah. Setiap pertemuan. Tidak pernah ada pria seperti itu di dekatnya.
Namun kini, hubungan mereka terlihat terlalu solid untuk disebut kebetulan.
Atyasa menghela napas pelan. Ia tidak tahu dari mana Are muncul. Dan itu yang paling mengganggunya.
Majelis hakim masuk. Semua yang hadir berdiri.
Tak ada bisik-bisik kali ini. Hanya napas yang terasa berat.
Suara lembaran kertas terdengar jelas di ruang yang terlalu sunyi. Ruang sidang dipenuhi keheningan yang menegang.
Hakim membuka berkas putusan.
“Dalam perkara antara penggugat dan tergugat, majelis telah mempertimbangkan seluruh alat bukti, saksi, dan fakta persidangan.”
Suara hakim datar. Stabil.
“Majelis menilai bahwa penggugat terbukti tidak memiliki itikad baik dalam hubungan kerja sama sebagaimana diatur dalam perjanjian para pihak.”
Wajah Fero menegang.
“Dengan demikian, gugatan penggugat mengenai penalti kontrak dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.”
Hening. Bukan karena tidak terdengar. Tapi karena semua sedang mencerna.
Kata-kata itu jatuh seperti vonis yang sudah lama menunggu waktu.
Hakim melanjutkan tanpa jeda panjang.
“Terhadap gugatan balik yang diajukan tergugat, majelis mempertimbangkan adanya kerugian materiil dan immateriil yang timbul akibat gugatan yang tidak berdasar dan tindakan penggugat.”
Jantung beberapa orang di ruang sidang seolah berhenti.
“Majelis mengabulkan gugatan balik tergugat untuk sebagian.”
Zelia tidak bergerak. Bahkan tidak berkedip.
“Menghukum penggugat untuk membayar ganti rugi materiil sebesar—”
Hakim menyebut angka. Beberapa wartawan langsung menunduk cepat, mengetik.
“—serta membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.”
Suara hakim tetap tenang.
“Tergugat dinyatakan tidak berkewajiban membayar penalti kontrak sebagaimana dituntut penggugat.”
Tok!
Palu diketuk.
“Putusan selesai dibacakan. Sidang dinyatakan selesai.”
Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan. Hanya satu hal yang terasa jelas, permainan telah berbalik.
Fero duduk kaku. Tangannya perlahan terlepas dari meja. Kini… ia terlihat kecil di dalam ruang sidang ini.
Zelia berdiri. Tatapannya lurus. Tidak menang, tidak membalas. Hanya selesai. Dan itu jauh lebih menyakitkan.
***
Pintu utama pengadilan baru saja terbuka. Kamera para wartawan langsung menyala. Lampu flash menyilaukan bertubi-tubi.
“Bu Zelia! Apakah ini kemenangan mutlak?”
“Benarkah ada rencana penguasaan aset sejak awal?”
“Apakah Anda akan menuntut pidana berikutnya?”
Suasana nyaris ricuh. Headline sudah terbentuk bahkan sebelum semua orang turun tangga.
— Gugatan Penalti Ditolak
— Rekaman Skandal Jadi Bukti Hukum
— Pengusaha Fero Kalah Telak
Zelia berjalan tenang diapit Are dan pengacaranya. Wajahnya stabil. Profesional. Nyaris dingin.
Atyasa berjalan di belakangnya. Wajahnya tetap terkendali. Tapi mata pria itu tidak lagi setenang biasanya.
Sementara beberapa meter di belakang—
Saat Fero keluar, suasana langsung berubah. Sorotan kamera berpindah cepat.
“Pak Fero! Apakah Anda akan banding?”
“Bagaimana tanggapan Anda soal itikad tidak baik?”
Pertanyaan datang seperti hujan.
Rahang Fero mengeras. Ia tidak menjawab. Tatapannya lurus. Terlalu lurus.
Narasi sudah kalah.
***
Di Ruang Kerja Fero
BRAK!
Pintu ditutup keras.
Fero menyapu berkas di meja hingga jatuh berserakan. “Tidak mungkin!” suaranya pecah. “Itu hanya rekaman pribadi!”
Tak ada kamera. Tak ada saksi. Hanya Atyasa dan amarah yang tak lagi terkendali.
Atyasa tetap berdiri. Tenang. Terlalu tenang. “Majelis tidak peduli itu pribadi atau tidak,” katanya pelan. “Mereka melihat itikad.”
“Karena video itu!” Fero membentak.
“Karena mereka menggunakannya dengan tepat,” koreksi Atyasa.
Fero berbalik. Dadanya naik turun. “Dia tidak mungkin berani sendiri.”
Atyasa tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud.
“Are,” ucap Fero dingin.
Nama itu kini bukan sekadar pria asing. Ia adalah variabel. Dan variabel yang tak terhitung selalu berbahaya.
“Jika mereka merasa menang hari ini…” Atyasa berkata pelan, hampir seperti berpikir keras.
Fero menatapnya. “Maksud Om?”
Atyasa akhirnya tersenyum tipis. Dingin. “Biarkan mereka merasa aman dulu.” Ia merapikan jasnya perlahan. “Orang yang terlalu percaya diri… paling mudah dijatuhkan.”
...✨“Kemenangan paling berbahaya adalah yang membuatmu lengah.”...
...“Palu sudah diketuk. Tapi papan catur belum dibalik.”...
...“Ia berdiri di belakang. Tapi semua orang tahu, ia bukan bayangan.”...
...“Ia kehilangan kendali atas putrinya. Dan itu lebih menyakitkan dari kekalahan hukum.”...
...“Orang yang merasa aman, jarang menyadari kapan dirinya mulai dibidik.”...
...“Sidang telah selesai. Tapi perang baru saja dimulai.”✨...
.
to be continued
Sekarang Are menjadi tidak tenang dengan sikap Zelia saat ini.
Are berada di kamar Zelia sudah larut malam. Dilihatnya Zelia sudah tertidur.
Are sudah berada di atas ranjang. Apa yang dilakukan Are, Zelia terbangun. Ada penolakan dari Zelia
Are datang di ruang kerja Zelia - tidak ada respon yang sesuai Are harapkan.
Langkah yang diambil Are - semakin membuat adanya jarak di antara mereka. Zelia tidak menolak maupun setuju dengan langkah itu.
Zelia membiarkan Are menyelesaikan masalah dengan langkah yang Are ambil.
Sepertinya Zelia benar hamil ini. Bumil mudah emosi.
Zelia seperti ada rasa kecewa pada Are. Yang dia lihat - sejak awak Are tidak merasa perlu meluruskannya.
Are dibiarkan di ruang kerja - ditinggal Zelia meeting.
Are jadi kepikiran setelah mendapatkan laporan dari Wina tentang Zelia.
Ditambah pikirannya tentang Viola. Komentar publik. Tentang Zelia sebagai istri yang belum diumumkan.
Are jadi tidak tenang - Zelia memutus pembicaraan yang belum selesai.
Di apartemen, Zelia yang sedang tidak baik-baik saja pikirannya.
Perut Zelia terasa mengencang. Banyak pikiran bisa jadi berefek ke perut. Apa Zelia hamil tapi tidak tahu ?
Staff senior yang memberi tahu Zelia tentang yang terjadi di acara Gala amal - ternyata suruhan Viola.
Zelia masih di ruang kerjanya. Ponselnya bergetar, Are menghubungi.
Percakapan mereka berakhir - Zelia yang mengakhiri. Dengan alasan - dia harus memeriksa beberapa berkas lagi.
Sepertinya Zelia kecewa dengan Are.
Viola setiap bicara kalimatnya panjang - Are menanggapi dengan singkat-singkat. Tapi mengena.
Mereka berdua jadi perhatian beberapa orang yang hadir.
Viola sepertinya menikmati situasi - dimana beberapa orang bisik-bisik.
Are juga tahu itu. Lebih memilih meninggalkan Viola.
Zelia jadi tahu dari staf senior yang semalam menghadiri Gala amal - dulu ada rencana perjodohan. Are dan Viola.
Viola punya maksud.
Zelia sepertinya siap untuk bermain. Dia tahu lawannya tidak sederhana.
Zelia dan Viola kembali bertemu untuk kedua kalinya.
Mereka berdua duduk berhadapan di ruang meeting kecil.
Zelia minta dijelaskan pada halaman klausul distribusi.
Viola - kira-kira lawan mainmu seimbang atau di atasmu.
Viola merasa sudah cukup tahu siapa Zelia.
Nyatanya setelah berhadapan langsung, Zelia lebih dari yang dia tahu.
Viola menanyakan pada Zelia, yang harusnya tanpa bertanya pun Viola sudah tahu jawaban Zelia.
Viola harus berpikir keras untuk bisa menang dari Zelia dalam permainan yang dia ciptakan.
Viola pandai memainkan kata-kata. Pembawaannya tenang - percaya diri penuh.
Ada yang tidak sinkron. Ada pergeseran kecil dalam mekanisme distribusi tanggung jawab.
Zelia tahu apa itu artinya.
Are dalam posisi sedang rapat ketika Zelia menghubungi.
Are menerima kiriman file proposal dari Zelia.
Viola kebusukannya sudah terdeteksi lebih awal.
Desti disuruh cari kerja. Dian yang tidak pernah bekerja, kalau masih ingin hidup enak harus kerja.
Atyasa kini sadar telah mendapatkan hasil dari perbuatannya.
Are tahu - ini bukan sekedar kerja sama dalam bisnis. Ada tujuan lain dari Viola.
Rapat dewan dengan agenda - evaluasi kepemimpinan Zelia sebagai CEO. Tidak ada tidak ada Are.
Kepemimpinan Zelia dinilai stabil.
Dian mulai tak bisa menerima hidup susah.
Desti juga kesulitan cari kerja.
Dian yang mengunjungi Atyasa mengeluh hidupnya berantakan. Uang sudah habis, rumah sudah di jual. Dian dan Desti tinggal di tempat yang tidak layak disebut rumah.
Kenyataan yang harus dihadapi Dian dan Desti - mereka harus mulai dari nol. Itu yang diucapkan Atyasa.