Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Asap dari mesin efek visual masih tersisa tipis di udara, berbaur dengan aroma tanah kering di sekitar lorong belakang studio yang sepi.
Xander Hayes-Stone masih berdiri tegak di posisi semula, menatap lurus ke arah koridor kosong tempat Tiffany baru saja melarikan diri dengan tubuh gemetar.
Jemari tangan kanannya yang tadi mencengkeram leher aktris itu bergerak lambat, merapikan kerah kemeja katun hitamnya sendiri yang masih tersemat rapat hingga ke batas jakun—sebuah kepatuhan mutlak atas perintah posesif Alceena siang tadi.
Aura kejam khas Chicago yang sempat mendominasi seluruh sendi tubuhnya perlahan-lahan menyusut, berganti kembali dengan ketenangan dingin yang biasa dia pamerkan di depan sang diva.
Namun, Xander tidak menyadari bahwa sepuluh meter di balik tumpukan kotak properti kayu, asisten produksi magang yang merekam siluetnya tadi sedang menahan napas dengan jantung yang berdegup laksana ditabuh palu.
Pria magang bernama Kevin itu menatap layar ponselnya dengan mata melebar.
Di dalam video berdurasi tiga puluh detik itu, posisi tubuh Xander yang raksasa dan tegap tampak menutupi sebagian besar tubuh Tiffany yang mengenakan gaun merah ketat.
Sudut pengambilan gambar dari belakang tubuh Xander membuat cengkeraman maut di leher itu terlihat sangat ambigu—laksana sepasang kekasih yang sedang terbuai gairah hebat, di mana sang pria mengunci sang wanita ke dinding pembatas sebelum menundukkan kepala untuk melumat bibirnya secara kasar dan dominan.
Ditambah lagi, posisi akhir Tiffany yang merosot lemas dengan napas ngos-ngosan dan wajah berantakan semakin memperkuat narasi visual yang salah alamat tersebut.
"Demi Tuhan... ini skandal besar," bisik Kevin dengan jemari yang gemetar hebat.
Sebagai pekerja magang yang digaji rendah di industri hiburan Hollywood yang kejam, dia tahu persis berapa nilai sepotong video intim yang melibatkan orang-orang di lingkaran terdalam Alceena Brox Riccardo.
Pria asing bermata heterochromia itu baru saja memicu kemarahan Alceena di luar set, dan kini dia tertangkap kamera sedang 'berciuman panas' dengan rival utama Alceena di dalam film ini.
Kevin dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jinsnya, lalu melangkah mundur dengan terburu-buru, menyelinap di antara kerumunan kru yang mulai berkemas pulang.
...----------------...
Sementara itu, di dalam ruang makeup pribadi yang bernuansa putih bersih, Alceena masih duduk diam di depan cermin besar.
Botol air mineral di tangannya sudah kosong setengah. Suara langkah kaki yang teratur dari arah luar membuat sang diva menoleh, dan sedetik kemudian, pintu kayu terbuka menampilkan sosok Xander yang kembali dengan ekspresi wajah yang teramat tenang—seolah-olah dia baru saja menyelesaikan jalan-jalan sore yang menyenangkan, bukan baru saja hampir mencabut nyawa seorang wanita.
Alceena menyipitkan sepasang mata indahnya, menilai setiap jengkal penampilan simpanannya itu dari balik kacamata hitam yang sengaja dia turunkan ke ujung hidung.
Tatapan matanya langsung tertuju pada kemeja hitam Xander.
"Lama sekali kau di luar, Xander," sindir Alceena, suaranya kembali datar dan angkuh, mencoba menutupi rasa malu yang sempat membakarnya akibat lelucon Shireen beberapa menit lalu.
"Kau benar-benar tidak memanfaatkan waktu luangmu untuk menebar pesona pada asisten produksi di luar sana, kan?"
Xander melangkah mendekat, lalu berhenti tepat dua langkah di samping kursi rias Alceena.
Dia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan mutlak pada batasan status mereka.
"Tidak, Ceena. Aku hanya menerima telepon dari Braxton dan juga mengenai beberapa dokumen properti di Chicago, lalu memastikan kotak makan siangmu sudah dibereskan oleh kru," jawab Xander, suaranya baritonnya terdengar begitu halus dan patuh, tanpa ada sisa geraman kejam seperti saat dia menghadapi Tiffany.
Alceena mendengus pelan, namun matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Ada sedikit noda debu putih di bagian bahu kemeja hitam Xander—sisa dari gesekan kain kemeja pria itu saat menyudutkan Tiffany ke dinding beton studio.
Alceena bangkit berdiri, mengabaikan rasa lemas yang sempat menggelitik lututnya akibat kelelahan fisik.
Dia melangkah maju hingga dada rampingnya hampir bersentuhan dengan kancing teratas kemeja Xander.
Tangan rampingnya yang dihiasi cat kuku merah bergerak cepat, menepuk-nepuk bahu kekar Xander dengan kasar untuk membersihkan debu tersebut.
"Kau jorok sekali. Mengapa ada debu dinding di bahumu?" tuntut Alceena dengan kening berkerut halus.
"Jangan merusak pakaian yang kupilihkan untukmu, Xander. Kau adalah aset pribadiku di rumah ini, jadi penampilanmu harus tetap bersih."
Xander menatap jemari Alceena yang bergerak di bahunya dengan binar mata yang melunak.
Rasa senang kembali merayap di dadanya saat menyadari bahwa wanita ini begitu memperhatikan detail terkecil dari dirinya.
"Maaf, Ceena. Tadi aku sempat bersandar di dinding koridor luar saat berbicara dengan Braxton," bohong Xander dengan wajah tanpa dosa.
"Terserah," sahut Alceena ketus. Dia menarik kembali tangannya, lalu berbalik menuju meja rias untuk mengambil tas tangan mewah miliknya.
"Pekerjaanku hari ini sudah selesai. Shireen sedang mengurus draf jadwal cuti untuk minggu depan di bagian logistik. Kita akan pulang sekarang. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat yang penuh dengan mata wanita kelaparan ini."
"Baik, Ceena. Mobil sudah kusiapkan di depan pintu keluar VIP," ucap Xander patuh, langsung meraih mantel bulu milik Alceena yang tergantung di kapstok dan membawakannya dengan sikap seorang pengawal pribadi yang teramat setara.
Alur takdir sore itu membawa mereka kembali membelah jalanan Los Angeles yang mulai dipadati oleh kendaraan jam pulang kantor.
Di dalam mobil sport hitam yang melaju membelah semburat jingga matahari terbenam, keheningan kembali tercipta.
Namun, kali ini keheningan itu terasa berbeda. Ada arus bawah emosi yang mengalir semakin dalam di antara mereka berdua—sebuah kenyamanan tak kasatmata yang mulai tumbuh dari balik dinding ego masing-masing.
Alceena bersandar di kursi penumpang, matanya menatap keluar jendela, mengamati deretan pohon palem yang bergerak mundur.
Pikirannya tidak bisa lepas dari rencana keberangkatan mereka ke Chicago minggu depan.
Menghadiri pernikahan Nora—wanita yang selama empat tahun ini menjadi pusat semesta seorang Xander Stone—adalah sebuah langkah nekat.
Namun, entah mengapa, ada bagian dari diri Alceena yang merasa tertantang.
Dia ingin membuktikan kepada dunia, dan terutama kepada masa lalu Xander, bahwa pria raksasa yang tangguh ini kini telah memilih untuk berlutut di bawah kendalinya.
Di sisi lain kemudi, Xander sesekali melirik ke arah Alceena melalui sudut matanya. Sepasang manik heterochromia-nya memancarkan tekad yang semakin bulat.
Pengakuannya tadi pagi—bahwa dia mungkin telah jatuh cinta pada wanita cerewet ini—bukanlah sebuah bualan instan.
Setiap kali dia melihat bagaimana Alceena bertingkah posesif, memarahinya karena terlalu tampan, atau bahkan mengancam akan menggigitnya, Xander merasa seluruh rongga dadanya dipenuhi oleh kehidupan baru yang jauh lebih nyata daripada seluruh sejarah empat tahunnya di Chicago yang berakhir tragis.
Mobil akhirnya memasuki pelataran parkir bawah tanah gedung penthouse mewah Alceena.
Begitu mesin mobil dimatikan, keheningan di dalam kabin mewah itu mendadak terasa semakin intim.
Alceena tidak langsung membuka pintu. Dia melepaskan kacamata hitamnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Xander.
"Xander," panggilnya dengan nada suara yang merendah, kehilangan sebagian besar keangkuhan divanya.
"Ya, Ceena?" Xander melepaskan sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Alceena, memberikan perhatian penuh.
"Tentang Chicago..." Alceena jeda sejenak, jemarinya meremas tali tas tangannya sendiri.
"Kau benar-benar sudah siap melihat wanita itu bersanding dengan sepupumu di atas altar? Jangan sampai saat kita tiba di sana, kau kembali bertingkah seperti pria sekarat yang meracau di bar VIP. Jika kau mempermalukanku di depan keluarga Stone, aku bersumpah akan meninggalkanmu disana."
Xander menatap mata Alceena dengan tatapan yang teramat dalam dan serius.
Tidak ada keraguan, tidak ada sisa patah hati yang menyala di manik matanya.
Pria itu mengulurkan tangannya perlahan, menempatkan telapak tangan besarnya di atas lutut Alceena yang terbalut kain gaun satin, memberikan kehangatan yang menenangkan.
"Aku sudah selesai dengan masa lalu itu, Alceena," ucap Xander, suaranya bergaung rendah dan mantap di dalam kabin mobil yang sempit.
"Kehadiranku di sana bukan untuk meratapi kehilangan Nora. Aku datang untuk menunjukkan pada duniaku yang lama bahwa aku telah menemukan kebebasanku. Dan kebebasan itu... ada di sini, di bawah kendalimu. Kau adalah satu-satunya hal yang kupedulikan saat ini. Jika ada orang yang akan kupermalukan di sana, itu adalah mereka yang meremehkan statusmu di sampingku."
Mendengar penegasan yang begitu dalam dan sarat akan komitmen itu, jantung Alceena kembali berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.
Dia menatap tangan Xander yang berada di atas lututnya, merasakan kehangatan yang menjalar masuk hingga ke dalam ulu hatinya, meruntuhkan sisa-sisa kemarahan akibat bentakan pagi kemarin.
"Baguslah kalau kau sadar diri," bisik Alceena, suaranya mendadak menjadi sangat parau.
...Dia tidak menarik lututnya dari bawah telapak tangan Xander, sebuah persetujuan bisu yang membuat senyuman tipis kembali terukir di bibir tegas pria Stone itu....
...Namun, kenyamanan yang mulai terbangun di dalam penthouse mewah itu terancam pecah bahkan sebelum malam sepenuhnya turun. ...
...****************...
Di tempat lain, di sebuah bar kecil yang terletak beberapa blok dari studio syuting, Kevin—si asisten produksi magang—sedang duduk di sudut remang-remang bersama seorang pria paruh baya yang mengenakan topi pet rendah.
Pria itu adalah salah satu jurnalis paparazzi paling terkenal di Los Angeles, yang dikenal sering membeli informasi gelap dengan harga selangit.
"Kau yakin video ini asli?" tanya si jurnalis dengan suara berbisik, matanya menatap tajam ke arah Kevin dari balik gelas birnya.
"Jika ini hanya rekayasa digital, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bekerja di industri ini lagi, Anak Muda."
"Demi Tuhan, Sir! Aku merekamnya sendiri dengan ponselku sepuluh menit setelah jam makan siang selesai!" seru Kevin dengan nada mendesak, dia mendorong ponselnya ke depan wajah pria itu.
"Lihat sendiri! Pria bermata aneh itu adalah orang yang mengantar-jemput Alceena Riccardo menggunakan mobil mewah pribadinya. Dan wanita berbaju merah itu adalah Tiffany, lawan mainnya! Mereka berciuman panas di lorong sepi belakang set!!"
Si jurnalis meraih ponsel tersebut, menekan tombol play, dan memperhatikan rekaman video berdurasi tiga puluh detik itu dengan saksama.
Di bawah pencahayaan lorong yang temaram, siluet Xander yang mengunci tubuh Tiffany ke dinding beton benar-benar terlihat laksana sebuah adegan perselingkuhan yang sarat akan gairah liar.
Sisi gelap dari manipulasi media visual bekerja dengan sempurna di sini—sebuah kebenaran objektif tentang ancaman pembunuhan dari Xander, terdistorsi sepenuhnya menjadi skandal pengkhianatan cinta yang panas.
Sebuah seringai licik terbit di wajah keriput jurnalis tersebut.
Dia tahu persis berita seperti ini akan meledakkan internet dalam hitungan detik.
"Alceena Riccardo: kekasih barunya Tertangkap Kamera Berciuman dengan Rival Filmnya!"—sebuah judul yang akan menghasilkan jutaan klik dan meruntuhkan reputasi sang diva dalam semalam.
"Bagus sekali," ucap jurnalis itu sambil mengeluarkan segepok uang tunai dari dalam tasnya dan melemparkannya ke atas meja.
"Video ini menjadi milikku sekarang. Besok pagi, duniamu yang tenang akan berubah menjadi neraka, Nona Riccardo."
Malam pun semakin larut di Los Angeles, membawa awan hitam tak kasatmata yang siap menumpahkan badai baru di atas atap penthouse Alceena, tepat di saat sang majikan dan simpanannya baru saja mulai berdamai dengan hati mereka sendiri.