NovelToon NovelToon
My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Balas Dendam
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.

Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.

Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

"Clara apa yang sedang kamu lakukan?" tanya nya setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali.

"Sabar lagi ganti baju," kata Clara yang kemudian berjalan pergi membukakan pintu.

Seketika Zidan terdiam melihat Clara yang dengan croboh mengunakan celana pendek sepaha dan juga kaos yang terlihat sedikit ketat.

"Kenapa kamu pakai pakaian mini seperti ini?" kata Zidan mengerut keningnya.

"Lah? Kenapa kan ini pakaian rumahan, lagian gak ada kepala pelayan dan pelayan di sini, jadi Clara bebas dong mau pakai apa aja, lagian baju-baju udah banyak yang kotor di sini gak ada laundry ya pak?" ucap Clara dengan polos nya.

"Jadi kamu sama sekali tidak menganggap saya seorang pria dewasa?" Zidan memperhatikan lekuk tubuh Clara terutama dada nya yang terlihat bulat sempurna dengan kaos ketat itu.

Sebagai seorang laki-laki normal wajar jika Zidan sedikit terpancing dengan Clara yang ukurannya serba besar.

"Lah, bukan gitu maksudnya," ujar Clara tak tau lagi apa yang harus dia katakan.

"Sudah lah, ayo ke dapur, saya lapar saya mau kamu bantuin saya masak," ujar Zidan yang kemudian berjalan pergi menuruni tangga sambil geleng-geleng kepala.

"Kenapa wajah pak Zidan agak merah ya? Aneh banget," tau ah bodo amat, oh ya? Masak? Masak apaan gue gak gak bisa masak, tu cowok tua ada aja deh tingkah nya," kata Clara yang mau tidak mau mengikuti Zidan ke dapur karena dirinya juga sebenarnya sudah kelaparan.

Setibanya di dapur terlihat Zidan yang tengah berkutat dengan daging ayam yang baru dia keluarkan dari dalam kulkas.

"Lihatin apa? Ayo cepat bantuin," kata Zidan sambil menoleh ke arah Clara.

Clara pun mendekati Zidan dan melihat Zidan yang sedang mengiris-iris dada ayam, hal ini membuat Clara ngilu.

"Ini mau di bikin apa sih pak? Kok di potong-potong gini?" tanya Clara tidak mengerti.

"Mau buat sup," jawab Zidan singkat.

Clara pun mengangguk kecil pertanda ia mengerti dengan apa yang di ucapkan Zidan.

"Sekarang saya harus ngapain?" tanya Clara bingung.

"Ambil wortel dan beberapa jenis sayur lainya yang biasanya di campur ke dalam sup ayam," kata Zidan.

"O-oke," Clara pun berjalan menuju kulkas, ia memilih sayur-sayuran yang biasanya ia makan di dalam sup buatan sang mama, dan juga bahan utama nya adalah daun seledri.

"Ini kan ya?" Tanya Clara lagi sambil memperlihatkan apa yang dia ambil kepada Zidan.

"Benar sudah ada perkembangan," jawab Zidan kembali fokus.

"Sekarang di apain?" Lagi-lagi Clara bertanya.

"Di racik abis itu di cuci," jawab Zidan dengan sabar.

"Apa? Tapi pak, saya tidak pernah megang pisau apalagi motongin sayuran," Clara kembali merengek karena dirinya takut dengan pisau dapur.

Zidan yang kesal pun akhirnya berhenti memotong ayam dan kemudian menatap Clara, ia kemudian mengambil sebilah pisau dapur yabg lain lalu meletakkan nya di genggaman tangan Clara.

"Sampai kapan kamu tidak bisa ini itu? Makanya belajar, ayo cepat," ungkap Zidan tak mau mendengarkan alasan apapun dari Clara.

"Tapi pak," kata Clara takut.

Bukan nya menjawab Zidan malah memelototi Clara lagi.

"Iya-iya,"jawab Clara tak mau di plototi lagi ia pun mulai melakukan pekerjaan nya meksipun sedikit kikuk karena tidak pernah melakukan nya.

"Awhhh," Leguh Clara saat tanpa sengaja ia mengiris ujung jari telunjuk nya sendiri, ia yang melihat darah keluar seketika melepaskan pisau tersebut.

"Astaga," Zidan segera mengambil tangan Clara dan memasukkan nya ke dalam mulutnya.

Lalu meludah keluar darah yang ada di tangan Clara, ia segera kembali memasukan jari Clara ke dalam mulutnya nya beberapa kali untuk meredam rasa sakit dan perih yang di rasakan Clara.

Sementara itu Clara terdiam menatap Zidan yang kini memegang tangan nya.

"Kenapa kamu sangat ceroboh, ayo cepat duduk, saya akan ambilkan kotak obat," kata Zidan menuntun Clara untuk duduk di kursi dan kemudian mengambil kotak p3k yang ada di dalam laci dapur.

"Perih banget," lirih Clara saat Zidan mengoleskan obat ke jari nya dengan hati-hati.

"Tahan sedikit," kata Zidan lagi, ia terus mengoleskan obat.

"Ahhh, pak sakit banget udah dikit aja sakit banget," racau Clara sambil memegang lutut Zidan untuk menjadi tempat nya menyalurkan rasa perih.

"Kamu mau nantinya luka ini infeksi? Tahan dulu," Kata Zidan memaksa.

Mau tidak mau Clara pun menuruti Zidan ia mengigit bibir bawah nya untuk menahan rasa sakit, sampai beberapa menit kemudian Zidan membalut kan hansplast ke luka nya.

"Udah enakan?" ujar Zidan sambil meniup-niup luka Clara.

Clara menatap suaminya dengan tatapan berbeda, kepedulian Zidan ternyata begitu besar, diq yang dingin dan cuek ternyata juga bisa menjadi laki-laki selembut ini. Hal ini membuat Clara sadar kalau tidak semua yang terlihat tidak bagus di luar itu dalam juga tidak bagus, yang ia rasakan malah kebalikan dari itu.

Zidan menatap Clara yang saat ini tenaga menatap wajah nya, ia melepaskan tangan Clara dan kemudian berdiri dari duduknya lalu kembali melakukan pekerjaan nya.

"Mau di bantuin lagi pak?" ujar Clara.

"Tidak perlu, duduk saja, luka mu tidak boleh terkena air, aku bisa menyelesaikan nya sendiri," jawab Zidan yang kemudian mulai kembali memasak.

Satu jam pun berlalu, kini sudah sudah selesai masak dan mereka juga sudah selesai makan siang, Clara selalu merasa kalau masakan Zidan sangat lah enak lebih enak dari masakan koki di rumah nya.

"Pak Zidan, kenapa bapak bisa masak makanan seenak itu?" tanya Clara sambil berjalan mengikuti Zidan dari belakang.

"Karena saya tidak malas dan selalu berusaha hidup mandiri," jawab Zidan terdengar sedikit menyindir.

"Pak saya suka makanan, lain kali saya bakal lebih giat lagi deh belajar masak nya," ungkap Clara yang sudah kerasukan makanan enak nya Zidan.

"Bagus, kalau begitu jangan ganggu saya, saya mau kerja dulu, kamu juga jangan malas-malasan seminggu lagi ada ujian kenaikan kelas, kamu harus belajar dengan tekun," ujar Zidan sambil menaiki tangga.

"Iya-iya paham ngerti," kata Clara seketika mood nya hilang karena Zidan membahas soal ujian.

Zidan melirik Clara sekilas dan kemudian masuk ke dalam kamar nya, ia mulai mengerjakan pekerjaan nya yang membuat banyak macam soal ujian untuk minggu depan, hal ini selalu membuat kepala nya pusing karena ia mengajar begitu banyak mata pelajaran.

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!